Pilihan Kelas 2017-10-13T17:14:19+00:00

Pilihan Kelas TPN 2017

Pastikan Anda HANYA memilih 1 kelas pada setiap sesi

S1K101 – Belajar Seasyik Bermain

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang prinsip dan cara mengubah pelajaran menjadi seasyik bermain.

Nunuk Riza Puji

SMA Negeri 1 Petungkriyono

Duplikasi Games Pokemon-Go dalam Proses Belajar

“Siapa bilang game hanya disukai anak-anak? Tidak ada yang tidak suka games (permainan). Semua orang menyukai game. Dari anak PAUD hingga orang tua, semua suka bermain sebuah permainan. Game mampu menyingkirkan kejenuhan dan mengubahnya menjadi keseruan.

Pokemon-Go, sebuah permainan digital berbasis smartphone yang fenomenal, beberapa waktu lalu telah berhasil mencuri perhatian dunia. Dengan teknologi augmented reality yang diusungnya, Pokemon-Go mampu membius jutaan orang untuk memainkan game yang dijalankan dengan smartphone ini.

Bayangkan bagaimana serunya sebuah kegiatan belajar yang dipadukan dengan bermain game “”mencari pokemon”” ala Pokemon-Go. Kelas ini akan mencoba memberikan alternatif model pembelajaran seru dan menyenangkan dengan menduplikasi games Pokemon-Go tersebut. Ketika diimplementasikan di SMA Negeri 1 Petungkriyono, Kab. Pekalongan, Jawa Tengah, model belajar ini mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran serta meningkatkan kemampuan motorik siswa. Pembelajaran juga berjalan dengan lebih seru, menyenangkan, dan pastinya kekinian.


Bagus Putra Wahyu Santoso

Sekolah Cikal Surabaya

Mission-X : Permainan Perkalian ala Gamers

Pada suatu tahun ajaran baru, saya mendapat amanah untuk menjadi wali kelas 5 SD dengan jumlah siswa 50 anak. Seperti biasa di awal tahun ajaran saya melakukan pemetaan siswa (Student Mapping) untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dan mendeteksi siswa yang mengalami kesulitan belajar. Ketika saya memberikan soal – soal perkalian hampir separuh siswa mendapatkan nilai jauh di bawah rata – rata. Kurangnya kemampuan dalam mengerjakan perkalian menjadikan siswa menjadi kurang antusias dalam pelajaran matematika. Di sisi lain, saya mendapatkan masukan dari orang tua yang mengeluh mulai maraknya anak – anak yang kecanduan dengan games pada gadget. Dari sini saya mencoba untuk bagaimana membawakan pembelajaran matematika yang lebih interaktif, menantang, edukatif, dan tak kalah serunya dengan games pada gadget.

Tantangan yang saya hadapi adalah siswa kurang antusias terhadap pelajaran matematika, siswa belum mengetahui teknik menghitung perkalian, dan terbatasnya fasilitas pembelajaran di sekolah. Menghadapi 30 – 50 siswa dalam 1 kelas seorang diri sering kali mendatangkan berbagai tantangan dalam mengajar. Misalnya : siswa gaduh, pembelajaran kurang efektif, hingga terabaikannya siswa yang terlambat mengikuti pelajaran.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengenalkan konsep perkalian terlebih dahulu kepada siswa. Setelah mengetahui konsep perkalian, siswa diajarkan bagaimana cara menghitung cepat dengan metode jarimatika maupun mengahafal tabel perkalian tergantung gaya belajar yang disukai oleh siswa (differensiasi). Ketika siswa sudah memahami maka dimulailah permainan Mission-X. Yakni salah satu bentuk permainan perkalian yang menerapkan sistem level (tingkatan) dan leaderboard (papan pemimpin). Contoh : Level 1 berarti siswa mampu mengerjakan perkalian 1 digit dengan 1 digit (contoh : 5 x 6, 7 x 9), Level 2 berarti pekalian 2 digit dengan 2 digit (contoh : 12 x 34, 45 x 63), Level 3 berarti perkalian 3 digit dengan 3 digit, dan seterusnya. Yang menarik dalam permainan ini adalah guru menata meja dengan deret level, jadi apabila siswa mampu menjawab 10 pertanyaan level 1 maka siswa tersebut berhak duduk di bangku level (deret) 1, jika mampu menjawab 5 pertanyaan level 2 maka berhak duduk di bangku level 2, dan seterusnya. Apabila siswa telah mencapai level 3 maka dia akan mendapatkan gelar (emblem) Challenger, jika mencapai level 4 maka dia bergelar Climber, apabila siswa telah mencapai level 5 maka siswa tersebut akan mendapat gelar Master dan berkesempatan menjadi mentor bagi temannya yang kesulitan dalam mengerjakan perkalian.

Dengan games Mission-X dalam 2 bulan siswa sudah banyak siswa yang telah mencapai level 4 dan terlihat lebih percaya diri dalam mengerjakan soal – soal perkalian. Peningkatan kemampuan perkalian siswa mendatangkan kebahagiaan dan kebanggan tersendiri bagi orang tua siswa ketika melihat anak – anak mereka mahir menghitung perkalian saat membantu orang tuanya berjualan di pasar. Sekarang pelajaran matematika menjadi pelajaran yang mereka nantikan karena guru menyajikan berbagai permainan yang menarik dengan strategi Game-based Learning.


Anggayudha Ananda Rasa

Ibad Ar Rahman Islamic Boarding School

Penerapan Strategi Gamifikasi dalam Pelajaran Kimia

Hasil studi OECD PISA tahun 2015 menunjukkan bahwa indeks kenyamanan siswa dalam bidang sains (eksakta) sangat rendah, hanya 0,65 dari skala 1 (Programme For International Student Assessment result, OECD, 2015). Data tersebut merupakan cerminan dari apa yang terjadi pada siswa kelas XII Madrasah Aliyah Ibad Ar Rahman, Pandeglang. Siswa cenderung kurang responsif dalam proses pembelajaran saat jam belajar kimia. Rendahnya responsivitas ini menjadi tantangan yang harus dihadapi sekaligus permasalahan yang harus diselesaikan oleh para guru eksakta khususnya guru kimia. Diperlukan serangkaian strategi mengajar yang tepat untuk meningkatkan responsivitas siswa dalam mata pelajaran kimia. Gamifikasi atau penerapan elemen-elemen permainan dalam proses pembelajaran merupakan salah satu strategi yang paling efektif dalam meningkatkan interaksi serta responsivitas siswa dalam belajar (Karl M. Kapp, 2012). Oleh karena itu penulis mencoba menerapkan strategi gamifikasi dalam proses pembelajaran kimia di kelas XII Madrasah Aliyah Ibad Ar Rahman, Pandeglang. Adapun elemen-elemen gamifikasi yang digunakan antara lain: penetapan tujuan (goals), peraturan permainan, struktur penghargaan, konflik, kompetisi dan atau kooperasi.  Setelah mengimplementasikan strategi gamifikasi dalam pembelajaran selama 12 pertemuan didapatkan bahwa daya serap terhadap materi pelajaran meningkat sebanyak 79%. Hasil angket menunjukkan bahwa 97% siswa cenderung lebih menyukai metode pembelajaran dengan pendekatan gamifikasi dibandingkan metode ceramah. Namun demikian salah satu konsekuensi dari penerapan metode ini adalah durasi belajar hingga tiga kali lebih panjang dibandingkan metode ceramah. Kedepannya diperlukan riset yang lebih mendalam agar efektifitas serta efisiensi waktu pembelajaran dapat mencapai titik optimal menggunakan metode gamifikasi.



S1K102 – Belajar bersama Kearifan Lokal

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang merancang proses belajar dengan menggunakan kearifan lokal.

Aryni Ayu W, S.Pd

SMA Negeri 3 Jember

BUDAYA PANDHALUNGAN SEBAGAI CULTURAL HERITAGE MELALUI MODEL KREATIF-KRITIS PEMBELAJARAN SOSIOLOGI

Pembelajaran sosiologi menjadi penting bagi penanganan perubahan-perubahan social yang terjadi dalam masyarakat. Soiologi yang lahir atas jawaban perubahan Industri di awal modernisasi Eropa, mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia dari tradisionalitas menjadi modern. Perkembangan sosiologi di Indonesia tidak lepas dari peranan penjajahan Belanda. Ilmuwan Belanda seperti Van Leur, Souck H, dan lainnya tertarik mempelajari kondisi multicultural di Indonesia, dilanjutkan para ilmuwan pribumi.

Sosiologi secara kontinyutas berperan besar sebagai ilmu dasar untuk melestarikan ketahanan budaya di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi keragaman etnis merupakan peninggalan yang harus diwariskan melalui pembelajaran di sekolaha-sekolah menengah. Di daerah Jember, hibrida cultural antara budaya Jawa dan Madura merupakan peninggalan dari tradisi masyarakat migrasi. Dibuktikan dengan adanya budaya ‘dhalung’ menjadikan masyarakat Jember berbahasa Jawa dialek Jember, dan tradisi lainnya. Impelementasi kearifan local dengan mata pelajaran menarik perhatian penulis untuk mengkaji Budaya Pandhalungan sebagai Cultural Herritage dalam sosiologi. Hal ini dapat menjadi potensi bagi kecintaan tanah air generasi muda, sehingga dapat berfokus pada kemajuan bangsa Indonesia. Kata kunci : budaya, pandhalungan, pembelajaran berbasis proyek, sosiologi.


Gilang Nandiaputri

SD Yasporbi 3

Menumbuhkan nilai-nilai kebaikan pada anak dengan menggunakan media wayang orang

Seorang anak bernama Dee yang ada dikelas baru saya, begitu berkesan diawal pertemuan. Saat itu upacara Bendera di awal tahun ajaran baru, saya mengawasi anak-anak didik saya yang baru. Seorang anak terlihat begitu aktif dan terlihat bosan dengan ritual upacara pagi itu. Ia mondar-mandir, berjongkok bahkan tidak mau mengikuti tata cara upacara.

Di kelas, ia mengamuk melempari karpet-karpet, merusak lemari dan menendangi loker karena kalah dalam suatu permainan. Dihari berikutnya ia berkelahi dengan kakak kelasnya. Ia melempari kakak kelasnya dengan tutup tempat sampah dan bersikeras memukuli kakak kelasnya dengan tongkat pel karena ia anggap kakak kelasnya itu bermain curang saat tanding bola.

Ketika saya konfirmasi dengan wali kelas sebelumnya dan orang tuanya, ternyata Dee masih belajar me-manage emosinya. Ia belum bisa mencurahkan emosinya dengan baik. Sulit rasanya jika menasehatinya dengan kata-kata apalagi melulu dengan hukuman/konsekuensi. Dee terlihat sudah bosan jika lagi-lagi dipanggil dan diberi nasehat. Teman-temannya pun merasa takut untuk menasehati Dee dan kami harus saling memotivasi untuk terus berbuat kebaikan.

Bagaimana menasehati dan mengajarkan Dee bahwa perbuatannya itu salah dan perlu dirubah. Perlu ada contoh-contoh dikehidupan sehari-hari yang sangat mengena dengan kehidupan anak-anak. ringan namun bermakna dalam.

Wayang orang digunakan sebagai karakter dalam sebuah cerita. Cerita dikemas ringan, jenaka namun mampu memancing anak-anak untuk membuat penilaian apakah perilaku yang dimainkan oleh karakter boneka wayang tersebut baik atau tidak. Kasus Dee dimainkan dalam cerita wayang orang. Dee menanggapinya dengan lebih santai. Bahkan ia bisa mengoreksi dan berkomentar tentang aksi dan karakter salah satu tokoh wayang orang yang karakternya mirip dengan Dee (emosional). Teman-temannya yang lain pun saling memberikan pendapat. Dee menyadari dengan beriskap emosional ia tidak bisa menyelesaikan suatu masalah melainkan malah membuat masalah semakin sulit.


Fenti Inayati

SMPN 2 Tarogong Kaler

Meningkatkan kemampuan membaca permulaan melalui model MASAGI (Maca Sakali Ngarti)

Abstrak: Meningkatkan kemampuan membaca permulaan melalui model MASAGI (Maca sakali Ngarti). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan membaca permulaan dan kemampuan literasi siswa kelas I,II dan III sekolah dasar karena proses pembelajaran hanya berfokus pada guru. Model Masagi sebagai salah satu alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan efektifitas penerapan model masagi terhadap kemampuan membaca permulaan dan kemampuan literasi.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian lapangan (field research) menggunakan metode Partisipatory Action Research (PAR) sehingga dapat menjawab setiap persoalan yang terjadi dalam kurun waktu dan daerah tertentu. Penelitian ini menjadi penting dalam merumuskan model pemecahan masalah. Penelitian sebagai awal pendahuluan model menggunakan metode kombinasi (mix method) antara pendekatan quantitative analysis dan qualitative analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model masagi efektif terhadap kemampuan membaca permulaan, dan meningkatkan kemampuan literasi siswa. Model Masagi sebaiknya digunakan agar berkembang kemampuan literasi dasar siswa dengan baik.


Dina Marta Aulianingrum

SMK N 1 Kedungwuni

Stategi Pembelajaran Bahasa dengan Permainan Tradisional (Jengklek)

Pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi majas seringkali menjadi momok tersendiri bagi siswa. Pasalnya banyak siswa yang mengatakan bahawa mereka merasa terbebani untuk menghafalkan macam-macam majas serta pengertian majas. Kondisi ini diperparah dengan stategi guru yang mengajar hanya dengan memberikan catatan ke siswa dimana nantinya menyuruh siswa untuk belajar sendiri di rumah. Banyak siswa yang tidak merdeka karena harus belajar sesuai dengan buku. Akhirnya siswa enggan untuk belajar majas. Permasalahan tersebut saya temui di kelas yang kemudian saya menyimpulkan, bahwa siswa belajar majas itu dengan cara menghafal.

Dari permasalah yang saya temui di kelas, saya mencoba untuk melakukan perbaikan. Saya berusaha menemukan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga memudahkan siswa untuk belajar majas bukan menghafalkannya. Strategi tersebut yaitu Pembelajaran Bahasa dengan Permainan Tradisional . Awal mula ide itu muncul karena saya prihatin dengan permainan tradisional yang saat ini semakin dilupakan. Dari permainan tradisional jengklek saya mengkolaborasikan dengan materi majas.

Awalnya saya membagi kelas menjadi beberapa kelompok dimana satu kelompok terdiri dari lima orang. Kemudian saya memberikan kertas HVS warna untuk masing-masing kelompok sesuai dengan jumlah majas. Setiap siswa mencari dan memahami materi tentang majas dari berbagai sumber. Selanjutnya siswa menuliskan kembali materi majas yang sudah dibaca dan dipahami ke kertas HVS dengan menggunakan kalimat sendiri. Setelah semuanya selesai saya menyuruh setiap kelompok untuk menggabungkan kertas HVS tersebut untuk dijadikan sebuah buku dengan diikat oleh pita. Sebelum tugas dikumpulkan setiap kelompok diberi kesempatan 10 menit untuk bertukar informasi dengan anggotanya mengenai materi majasyang sudah dikerjakan. Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa akan majas, saya mencoba memberikan permainan tradisional (jengklek) ke siswa. Sebelum permainan dimulai sisawa membuat permainan jengklek tersebut di lantai menggunakan lakban. Setiap kotak diberi beberapa pertanyaan mengenai majas. Perkelompok maju kedepan kelas untuk bermain jengklek. Saat bermain jengklek siswa mengambil satu pertanyaan yang harus dijawab sesuai dengan pemahaman mereka.

Diakhir pembelajaran kita melakukan refleksi bersama. Banyak siswa yang antusias dan senang dengan stategi yang saya terapkan. Siswa mengatakan dengan belajar seperti itu menjadi paham akan materi majas karena siswa belajar dengan cara memahami bukan menghafal. Siswa juga menuturkan mereka seperti sedang tidak belajar dan mereka juga belajar melestarikan permainan tradisional.



S1K103 – Belajar Mengelola Sekolah Inklusi

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang pengelolaan kelas dan sekolah inklusi.

Pia Adiprima

Sekolah Cikal

Praktik Sekolah Inklusi

Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Dan kami di sekolah Cikal, sangat percaya dengan itu. Sebagai sekolah yang sadar betul bahwa tahap perkembangan anak sangat penting untuk dijadikan tolak ukur pembelajaran, Sekolah Cikal menerima anak dengan kebutuhan khusus semenjak pertama sekolah berdiri. Dari mulai memberikan pendampingan, menyusun program kelas khusus sampai akhirnya sekarang memiliki divisi khusus yang menangani anak dengan kebutuhan khusus.

Apakah mudah menjalankannya? Tentu tidak. Tantangan terbesar dalam menjalankannya adalah sumber daya yang mumpuni dan dukungan dari semua pihak. Sumber daya yang dimaksud adalah tenaga-tenaga pendidik yang paham dan terlatih menangani anak dengan kebutuhan khusus belum banyak, sehingga ada masanya sulit mendapatkan tenaga pendidik yang tepat. Selain sumber daya, lingkungan pembelajaran juga harus mendukung, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Untuk sebuah sekolah lingkungan sosial yang dimaksud adalah sesama siswa, orangtua siswa lain dan anggota pendidik di sekolah tersebut. Tidak semua orangtua paham tentang anak berkebutuhan khusus dan karena ketidaktahuannya cenderung melabel anak tersebut bermasalah. Sering kali ketidaktahuan ini direfleksikan dengan tidak memperbolehkan anaknya untuk berinteraksi dengan anak kebutuhan khusus tersebut atau bahkan meminta untuk pindah kelas. Tim pendidik di sekolah kita sendiri juga perlu paham tujuan kita menjadi sekolah inklusi dan perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar mengenai anak dengan kebutuhan khusus. Tim pendidik yang tidak paham akan menganggap anak tersebut tidak dapat mengikuti kegiatan dan memiliki masalah tanpa tahu harus membantu dengan cara apa.

Langkah awal yang harus dilakukan untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut adalah memberikan edukasi yang tepat dan konsisten ke semua pihak. Tim pendidik di sekolah harus diberikan ilmu dan keterampilan yang cukup untuk dapat memberikan pembelajaran yang maksimal baik untuk anak berkebutuhan normal maupun khusus. Tanamkan kepada para pendidik bahwa sudah tugas kita memberikan pendidikan yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak, atau dengan kata lain diferensiasi. Orangtua juga diberikan ilmu dan pengetahuan tentang tahap perkembangan anak untuk memahami apa kebutuhan anak berkebutuhan khusus dan apa manfaat anak mereka berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus. Anak-anak pun perlu diberikan pengetahuan dasar bahwa ada temannya yang membutuhkan penanganan khusus dan perlu dukungan sosial, sehingga mereka akan muncul rasa empati.


Ermawaty

Care&Reach

Menghargai Perbedaan dalam Kelas Inklusi

Awal

Kelas terdiri dari murid berkebutuhan khusus dan tidak berkebutuhan khusus. Tujuan dari kelas adalah menunjukkan rasa kepedulian dan tolong menolong

Tantangan

Kondisi anak berkebutuhan khusus yang menunjukkan perilaku tidak biasa sehingga menakutkan bagi sebagian anak tidak berkebutuhan khusus

Aksi

Menciptakan kondisi dimana anak berkebutuhan khusus dan tidak berkebutuhan khusus harus bekerja sama menyelesaikan sebuah tugas, bisa berupa karya seni ataupun pekerjaan rumah tangga

Perubahan

Anak anak saling belajar untuk mengenal perbedaan yang ada pada diri masing masing, lalu dengan dibimbing, mereka belajar berteman, bukan mem-bully

Saya belajar bahwa strategi apapun yg dipakai utk mengajar, tidak ada satupun akan berhasil jika saya tidak menjadi contoh, yg peduli dan mengasihi tiap anak didik yang berbeda-beda perangainya.


Haryanti Jaya Harjani

Komunitas Guru Belajar Solo Raya

Model Terapi Perilaku dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Anak (Penelitian dan Pengembangan di TK Inklusi Jakarta Tahun 2016-2017)

Penelitian ini menerapkan model terapi perilaku dalam pembelajaran untuk memperoleh gambaran tentang kemampuan interaksi sosial anak di TK A inklusi. Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan buku panduan bagi guru pendidikan anak usia dini kelompok A inklusi. Langkah penelitian dan pengembangan menggunakan metode Dick and Carey. Evaluasi yang digunakan menggunakan evaluasi formatif atau uji kelayakan dan evaluasi sumatif atau uji efektifitas. Media dalam penelitian ini menggunakan media instruksi, menara gelang, media kartu angka, dan kartu gambar. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat peningkatan kemampuan interaksi sosial anak di PAUD A inklusi secara signifikan antara sebelum dan setelah diberi model terapi perilaku dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan interaksi sosial anak.


Jo Poppy Yuniarti

Center of Hope

Pengalaman Mengajar Murid Down Syndrome

Simulasi dan Penjelasan Berulang Dalam Mengenal Mata Uang Rupiah Terhadap Siswa/i Down Syndrome. Sekarang saya mengajar siswa/i Down Syndrome ( 84 % dari jumlah siswa). Mereka berusia 22 – 39 tahu, tempat kami lebih mirip sebagai tempat pelatihan agar kelak siswa/i bisa hidup mandiri. Sebagaimana telah diketahui kemampuan berpikir mereka kurang dibanding orang pada umumnya. Untuk belajar apapun, mereka butuh waktu yang lama. Kali ini saya akan mengulang pembelajaran tentang uang ribuan. Sebenarnya, mereka sudah pernah belajar tentang uang, dulu ketika di sekolah khusus (bahkan lulus SMA) tuna grahita. Namun sampai sekarang pemahaman tentang uang ribuan masih kurang. Dalam perjalanan KBM, saya menemukan kesulitan- kesulitan siswa/i dalam:

* mengenal macam – macam uang ribuan dalam mata uang Rupiah.

* menulis uang ribuan.

Dari kesalahan – kesalahan yang mereka buat pada materi penukaran uang dalam mata uang Rupiah , saya melakukan tes untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mereka.

SIMULASI dan PENGULANGAN YANG DETAIL inilah yang saya lakukan dalam menghadapi hal ini. Simulasi pengenalan uang dengan uang tiruan, biasanya uang untuk mainan anak – anak. Kami bermain jual beli barang. Simulasi ini melatih daya ingat Siswa /i tentang nama – nama benda dan macam – macam mata uang Rupiah. Pengulangan yang detail dilakukan dalam menulis uang ribuan dalam mata uang Rupiah. Penjelasan lebih dulu dilakukan, lalu tes secara dikte untuk mengetahui perkembangan siswa/i setiap harinya. Tes dikte melatih pendengaran dan daya ingat siswa/i , selama ini mereka hanya terlatih untuk menyalin. Simulasi dan pengulangan yang detail dilakukan secara bergantian agar siswa/i tidak jenuh.

Perlu diketahui, kemampuan mengingat mereka tidak sempurna. Hari ini mereka bisa, besok lupa. Atau hari ini ingat a, b, _ , besok yang mereka ingat a, _ , c. 

Keberhasilan mengajar 50% sudah harus membuat saya bahagia.



S1K104 – Pendidikan Budi Pekerti: Mengembangkan Kesadaran Murid

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang pentingnya dan cara membangun kesadaran diri pada murid. Kesadaran diri yang akan memandu murid berpikir mengenai tindakan yang efektif bagi dirinya maupun masyarakatnya.

Kania Ayunintyas

Sekolah Cikal Cilandak

Penggunaan Metode Mindfulness di Dalam Kelas.

Di dalam kelas ini, peserta akan melihat beberapa contoh metode Mindfulness, strategi dan praktik meditasi yang telah banyak diterapkan oleh sekolah-sekolah di dunia. Metode ini berfokus pada perhatian dan pelatihan kesadaran di dalam kelas.
Mindfulness mengajarkan anak bagaimana menyadari apa yang terjadi pada mereka di masa sekarang, baik secara fisik (seperti pernapasan) dan mental (seperti emosi).
Pendekatan mindfulness kepada anak bertujuan untuk mengurangi kecemasan, mengatur stres, membangun rasa percaya diri, menumbuhkan empati anak kepada lingkungan sekitarnya sehingga dapat menjadi pembelajar dengan kualitas hidup yang baik.


Usman Djabbar

KGB Makassar

Tingkat Efikasi Diri Siswa melalui Modeling Simbolis

Penelitian ini mengkaji tingkat efikasi diri siswa melalui modeling simbolis, penerapan film tokoh masyarakat lokal. Tujuan penelitian adalah, 1). Mengetahui gambaran efikasi diri sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. 2). Mengetahui pengaruh penerapan model simbolis melalui film tokoh masyarakat lokal.

Desain penelitian ini adalah eksperimen, menguji secara langsung variabel model simbolis terhadap variabel efikasi diri. Sebanyak dua puluh sampel dipilih secara acak kemudian dibagi ke dalam dua kelompok: sepuluh kelompok kontrol, selebihnya kelompok eksperimen.

Hasil penelitian menunjukkan: 1). Efikasi diri peserta didik sebelum perlakuan berada pada kategori rendah baik pada kelompok kontrol ataupun eksperimen. Hasil yang berbeda setelah perlakuan, pada kelompok eksperimen menunjukkan efikasi diri berada pada kategori tinggi, sementara kelompok kontrol tetap kategori rendah. 2). Pada kelompok eksperimen, terdapat pengaruh positif penerapan modeling simbolis melalui film tokoh masyarakat lokal, tetapi tidak terjadi pada kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan.


Yayuk Rahayu

TK Dedikasi Edukasi Kualiva Padang


Penanaman Nilai -Nilai Kejujuran Pada Anak Usia Dini
Awal
Kesadaran pentingnya menumbuhkan nilai-nilai kejujuran sedini mungkin . Sebagai pendidik bukan hal yang gamapang untuk menjerlaskan pentingnya nilai-nilai tersebut. Karena hal tersebut dampaknya akn kelihatan setelah mereka dewasa.apakah pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran itu berhasil agar terbentengi hingga mereka dewasa. semakin banyak koruptor itu merupakan akumulasi kebohongan yang mereka pelajari sejak kecil mulai dari kasus kentut didalam kelas yang takut kalau jujur.Cerita mereka kalau saudaranya berbohong, atau mama atau papanya yang berbohong.
Tantangan:
Anak adalah peniru ulung mereka akan mencontoh apa yang dilakukan orang dewasa. Tapi disini bagaimana kita membentengi anak bahwa jujur adalah perbuatan mulia dan mereka harus bangga menjadi orang jujur. Pembelajaran karakter jujur harus kita lakukan sedini mungkin kita kenalkan dengan berbagai cara dan terus menerus.
Aksi
Dunia Anak adalah dunia bermain. setiap pengembangan nilai-nilai karakter anak tak lepas dari dunia bermain.Maka sebagai pendidik kita harus melakukan hal tersebut sesuai dengan dunianya. agenda yang saya lakukan bisa dengan permaianan board games tentang nilai-nilai kejujuran , dalam sebuah board terdapat gambar beberapa makanan.ada 4 orang pemain disitu dijelas kalau anak berhenti pada gambar makanan orang lain tidak boleh diambil.Tapi kalau dadu berhenti pada makanan dirinya boleh diambil.artinya anak dari usia dini sudah dikenalkan kalau bukan hak kita jangan diambil.Setelah itu kita bisa dilakukan dengan lagu yang bermakna kejujuran kalau mencontek bukan anak pintar,anak jujur banyak temannya.Bermain peran.Bercerita.da itu dilakukan secara kontinu. Pujian akan selalu kita berikan untuk anak yang berbuat jujur.
Perubahan/Pelajaran
Yang cukup membanggakan Orang tua ada yang bercerita ada saudaranya yang berbohong si adek langsung menyanyi”kata bu guru bohong itu dosa , mama papa juga tidak suka anak yang jujur banyak temannya ,anak yang jujur disayang semua.Jadi dengan kata lain anak pun bisa menjadi filter orang yang disekelilingnya. Aak -anakpun selalu berkata kalau ada yang bohong “Berani Jujur hebat. seanadainya anak-anak Indonesia sudah kita tanamkansecara terus menerus maka akan terwujud Indonesia bebas korupsi.



S1K105 – Penggunaan Teknologi dalam Pendidikan : Dari, Melalui, dan Untuk Belajar

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang penggunaan teknologi dalam pendidikan secara lebih luas, lebih dari sekedar alat untuk mengunduh konten.

Marsaria Primadonna

Sekolah Cikal

Transformasi Teknologi dalam Dunia Pendidikan

Transformasi = perubahan.

Perubahan, terutama dalam bidang teknologi, sangatlah cepat. Dan sekolah tentunya harus melakukan banyak penyesuaian dan adaptasi menghadapi perubahan teknologi yang teramat dinamis. Komputer, internet, kursus online, smart phone, kamera, dan berbagai perangkat teknologi lainnya, memiliki andil dalam memperbaiki, dan tentunya berperan penting dalam perubahan di bidang pendidikan. Peralihan peran teknologi dalam pembelajaran sudah dipastikan akan terjadi, dan apabila kita sebagai pendidik dapat menggunakan perangkat teknologi tersebut dengan bijak, akan membantu membuat sekolah, pendidikan dan pembelajaran lebih efektif dan tepat guna.

Namun, teknologi bukan sulap. Teknologi tidak menjadikan guru-guru menjadi punya super power seketika. Dengan atau tanpa teknologi, sekolah tetap butuh guru-guru yang berkualitas, kreatif, keterbukaan dan fleksibilitas dalam berpikir dan siap menghadapi perubahan.

Teknologi dianggap sebagai pembawa masalah, namun juga bisa menjadi pembuka peluang. Disaat yang sama, anak-anak abad 21 sudah lagi tidak membaca koran dan menonton TV, melainkan memilih berita atau acara TV melalui internet. Pilihan, menjadi terbuka banyak sekali bagi anak kita. Arus informasi, seolah tak terbendung dengan batas-batas virtual dan maya yang semakin absurd. Sekolah dan guru, mau tidak mau berhadapan dengan generasi Z, anak-anak yang sekarang duduk di bangku sekolah SD, yang 20 tahun lagi akan menghadapi profesi kerja yang sama sekali berbeda dengan profesi-profesi kerja yang ada sekarang.

Siapkah kita sebagai pendidik, menyambut transformasi teknologi dalam dunia pendidikan?

Awal.

Kondisi awal kelas di awal proses belajar atau sebelum suatu strategi mengajar dipraktikkan. Tujuan belajar yang ingin dicapai

Tantangan.

Suatu tantangan yang harus diatasi untuk mencapai tujuan belajar

Aksi.

Serangkaian tindakan yang dilakukan dalam mempraktikkan suatu strategi mengajar

Perubahan/Pelajaran.

Kondisi akhir yang mengalami perubahan setelah menjalankan suatu strategi mengajar. Umpan balik dari pelajar atau orangtua terhadap strategi mengajar itu. Refleksi dari pendidik terhadap strategi mengajar itu.

Kondisi awal:

sekolah dan guru yang berhadapan dengan generasi Z, anak-anak yang sekarang duduk dibangku sekolah SD maupun SMP, dimana sudah lagi tidak membaca koran dan menonton TV, melainkan memilih berita atau acara TV melalui internet. Pilihan, menjadi terbuka banyak sekali bagi anak kita. Arus informasi, seolah tak terbendung dengan batas-batas virtual dan maya yang semakin absurd.

Tantangan:

Perubahan, terutama dalam bidang teknologi, sangatlah cepat. Dan sekolah tentunya harus melakukan banyak penyesuaian dan adaptasi menghadapi perubahan teknologi yang teramat dinamis. Komputer, internet, kursus online, smart phone, kamera, dan berbagai perangkat teknologi lainnya, memiliki andil dalam memperbaiki, dan tentunya berperan penting dalam perubahan di bidang pendidikan. Peralihan peran teknologi dalam pembelajaran sudah dipastikan akan terjadi, dan apabila kita sebagai pendidik dapat menggunakan perangkat teknologi tersebut dengan bijak, akan membantu membuat sekolah, pendidikan dan pembelajaran lebih efektif dan tepat guna.

Aksi:

strategi mengajar menggunakan teknologi yang diterapkan, maksimalisasi penggunaan smart phone dan gawai-gawai lainnya, perangkat lunak yang digunakan, aplikasi-aplikasi seperti Google Apps for Education, QR code sebagai assessment, Kahoot, dan lainnya.

Perubahan/Pelajaran:

Belajar menjadi pengalaman yang menarik bagi siswa, dengan keterampilan dasar yang sebenarnya sudah dimiliki oleh siswa abad 21, dikembangkan oleh guru menjadi alat belajar, memberikan wadah yang mendukung keingin tahuan, memfasilitasi pembelajaran berbasis inkuiri dengan mencari, menemukan dan menganalisa informasi dengan berbagai perangkat digital, tentunya mengasah keterampilan literasi digital.


ASEP RUDINI SETIAWAN

SD ISLAM TERPADU ALIYA

Penggunaan aplikasi Class123 dan Plickers Pembelajaran memerlukan berbagai titik fokus. Atensi siswa perlu terus diupayakan teralih secara kreatif. Dimulai dari briefing, proses sampai dengan debriefing. Poin menjadi salah satu kekuatan untuk mengendalikan siswa. Pemberian bintang pun demikian. Kekhasa n yang menarik diperlukan untuk siswa di kelas bawah. Guru perlu ekstra kerja keras membuat kartu apresiasi, kadang fokus bebera menit digunakan hanya untuk menghitung poin dan memberikan bintang ataupun asessment yang begitu lama untuk hal yang digunakan sebagai cara untuk menguji sekilas daya serap siswa. Guru dapat memanfaatkan android dalam mencapai ketidakramahan teknis yang ada di atas. Melalui aplikasi Class123 dan Plickers. Aplikasi lengkap untuk mengetahui attendace, pemberian apresiasi sikap bahkan resiko, kembali melakukan pemusatan konsentrasi, menulis materi, melakukan pengelompokan dan games LuckyDraw untuk keadilan pemilihan siswa, bisa juga sebagai sarana pemusatan konsentrasi yanh efektif dan bernuansa kompetitif plus ajang untuk secara singkat ketahui daya serap siswa dalam hitungan detik. Kedua pemanfataan aplikasi mampu menjawab permasalahan guru dalam pengelolaan kelas dan pengendalian dalam pembelajaran di kelas.


FIRMANSYAH,S.Pd

SDN 120 BERRU

PENINGKATAN KETERAMPLIAN MEMBACA PUISI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VIDEO MOVIE MARKER DAN MODEL PEMBELAJARAN COOVERATIVE SCRIPT PADA SISWA KELAS V SDN. 120 BERRU KABUPATEN SOPPENG (Tahun 2016)

Penulisan ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca puisi pada siswa kelas V SDN. 120 Berru. Penelitian dilaksanakan sebanyak 2 siklus. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa skor rata-rata keterampilan membaca puisi mengalami peningkatan. Pada siklus I skor rata-rata hasil belajar bahasa Indonesia yaitu 64 masuk kategori sedang dan pada siklus II terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar bahasa Indonesia yaitu 81 berada pada kategori tinggi. Secara kualitatif terjadi peningkatan aktivitas siswa. Pada siklus I skor rata-rata aktivitas belajr 51 masuk kategori sedang dan pada siklus II mengalami peningkatan 91 berada pada kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa dengan penerapan media video movie marker dan model pembelajaran cooperative script dapat meningkatkan keterampilan membaca puisi. Kata Kunci : Keterampilan Membaca Puisi, Media Video Movie Maker, Model pembelajaran cooperative Script, penelitian tindakan kelas.


Vendyah Trisnaningtyas

Program Studi Pascasarjana Teknologi Pendidikan UNIPA Surabaya

SOFTWARE DEVELOPMENT METHOD DEMONSTRATION BASED LEARNING FOR STUDENTS COOKING CLASS KIDS AT MULTI CREATIVE HOME LEARNING SIDOARJO

This study aims to produce learning tools such as syllabus, lesson plans and handouts meode demonstration based on the material the student Cooking Class Cooking for Kids. In addition, this study also was conducted to determine the feasibility of the quality of syllabus, lesson plans and handouts produced by the aspect of validity, practicality and effectiveness. This type of research is the development of research. Products developed in the form of syllabus, lesson plans and handouts on the material Cooking Pancake Batter Batter Berries Kids Cooking Class for students with learning method demonstration. The study was designed to follow the development stages ADDIE development model, namely the stage of analysis, design, develop, implementati and evatuati. The instrument used in this study is the assessment sheet syllabus, lesson plans and handouts for expert lecturers and teachers Cooking for aspects of validity, sheet student assessment and evaluation sheets teachers to handout to aspects of practicality, as well as about achievement test with 10 questions stuffing and 10 about the description to aspects of effectiveness. The results showed the quality of the products produced by the aspect of validity syllabus meets both criteria with a total average of 85, RPP meet the criteria very well with an average total votes Handout validator is 135.6 and meets both criteria with an average score validator ratings 152.6. Aspects of practicality based on the assessment of students meet the criteria for a good while practicality aspect based on the assessment of teachers meet the criteria very well. Meanwhile, for the aspects of effectiveness based learning completeness percentage is 92%, so that the resulting product effectively used. Keywords: Methods Demonstration, development of learning tools, cooking class kids.



S1K106 – Merdeka Matematika: Strategi Kreatif untuk Melibatkan Siswa

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang beragam cara bermain yang menguatkan kemampuan anak usia dini untuk siap belajar matematika.

Anastasia Sita Ginig

Sekolah Cikal

BERMAIN MATEMATIKA DENGAN ANAK USIA DINI (4-5 tahun)

Ketika jaman sekolah dulu, apa yang terbersit di benak Bapak/Ibu ketika mendengar kata “Matematika”? Kalau yang saya rasakan adalah takut, malas-malasan dan tidak tertarik, bahkan sampai merasa kalua guru saya dulu itu galak. Seiring berjalannya waktu sebagai pendidik, saya menyadari bahwa anak didik saya jangan sampai merasakan apa yang saya rasakan dulu..apalagi sampai dianggap galak oleh anak didik saya sendiri. Sampai akhirnya saya terus belajar mencari strategi belajar dan bermain matematika yang menarik dan menyenangkan pada anak usia dini.
Di Sekolah Cikal, strategi tersebut sangat bermanfaat selama proses belajar mengajar, yaitu lewat bermain. Apalagi paada anak usia dini yang masih benyak melakukan kegiatan belajar melalui bermain. Gaya belajar sambil bermain nyatanya sangat membantu terutama bagi siswa yang malu-malu dan tidak percaya diri. Salah satu strategi bermain matematika ketika unit pembelajarannya tentang “Mengelompokkan benda sesuai dengan ukuran” adalah dengan cara bermain memancing ikan. Melalui permainan ini di kelas, guru dapat menyiapkan karpet yang akan dijadikan sebagai media sungai, menyiapkan juga bentuk-bentuk ikan yang besar dan kecil, tak lupa alat pemancing buatan dan baskom untuk wadah hasil pancingan anak. Sambil diiringi musik yang menyenangkan, guru dapat mengamati kemampuan siswa dalam memahami konsep mengelompokkan benda sesuai dengan ukurannya dengan memberikan instruksi kepada siswa untuk berpura-pura memancing di sungai, setelah itu meminta siswa menempel ikan-ikan tersebut di papan tulis sesuai dengan kolom yang tersedia dan menanyakan kepada siswa alasan dia menempel di kolom-kolom tersebut.
Strategi lainnya, misalnya ketika unit pembelajaran akan membahas tentang berhitung 1-20 pada anak usia dini dapat dilakukan dengan cara mengajak anak menghitung teman-teman yang ada di kelas atau mengitung benda nyata yang ada di sekitar kelas, agar siswa dapat memahami konsep pembilang dan objek nya.
Berkegiatan di luar kelas juga dapat merangsang minat anak mengenal matematika yang menyenangkan. Misalnya untuk unit pembelajaran Mengenal Lambang Angka Sederhana dapat dilakukan lewat permainan ‘Mencari Harta Karun’. Kegiatan ini dilakukan setelah guru menyimpan beberapa benda di sekitar area luar kelas. Siswa diinstruksikan untuk mencari benda-benda (sebagai harta karun pura-pura) tersebut sampai bel berbunyi sebagai tanda waktu mencari harta karun sudah selesai. Setelah siswa menemukan ‘harta karun’ tersebut, lalu berkumpul lagi bersama guru sambil menghitung jumlah harta karun dan menempelnya di papan karton lalu meminta siswa mencari simbol angka tersebut dan menempelnya di samping ‘harta karun’ yang sudah ditempel lebih dulu.
Tentunya masih banyak lagi strategi pembelajaran lewat permainan yang saya yakin dapat membuat belajar matematika menjadi lebih menyenangkan dan membuat siswa tidak menyadari bahwa melalui permainan mereka juga sudah belajar.


NURUL KIPTIYAH, S.Pd

Raudlotul Atfhal “KARTINI”“MEMANFAATKAN TUTUP BOTOL BEKAS SEBAGAI ALAT PERAGA EDUKATIF BERMAIN DAN BELAJAR SIMBOL ANGKA 1-10 UNTUK SISWA RA/TK”

AWAL

Pendidikan diperlukan untuk mengasah kemampuan intelektual dan spiritual manusia. Anak – anak usia dini memiliki pemahaman secara holistic dan bersifat kongkret. Sehingga dalam setiap penyampaian materi harus dapat melibatkan semua perkembangan anak pada usia dini. Sesuai dengan teori Piaget bahwa usia 7 – 11 tahun perkembangan kognitif anak disebut Stadium operasional konkret. Dimana anak anak menggunakan potensi visual,verbal dan psikomotoriknya untuk menerima informasi. Guru haruslah membawa anak dalam dunia nyata, atau membawa dunia nyata ke hadapan anak ketika menyampaikan materi. Sesuai dengan teori Piaget di atas bahwa dalam pembelajaran diperlukan suatu media sebagai alat memecahkan masalah khususnya pada mengenalkan benda benda di sekitar anak, medianya dapat berupa benda konkret. Sehingga dengan menggunakan benda konkret anak mampu melakukan aktivitas logis dalam batas konkret, untuk memecahkan masalah.

Maka agar pembelajaran dapat menstimulasi dan menumbuh kembangkan potensi anak maka guru harus kreatif dalam pembuatan alat perada yang edukatif untuk menyampaikan suatu materi pada peserta didik. Dalam pembuatan alat peraga edukatif di upayakan ada proses belajar pemecahan suatu masalah. ( Learning based problem solving ) sehingga guru mengajak siswa untuk mengembangkan daya nalar yang sesuai dengan pola pikir anak.

TANTANGAN

Terkadang keterbatasan media sering menjadi wacana kendala dalam melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan dan memerdekaan anak. Apalagi jika berada di sekolah yang masuk kategori minim fasilitas. Padahal sebenarnya inilah tantangan tersendiri bagi Guru. Agar lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran.

Tantangannya adalah bagaimana membuat Alat peraga yang mudah didapat dan bisa digunakan untuk belajar dan bermain siswa dalam mengenal symbol symbol angka 1-10. Sekaligus bisa menanamkan rasa peduli lingkungan siswa.. Mengingat di daerah kami kesadaran dalam memanfaatkan limbah terutama sampah plastik masih rendah. Melihat kenyataan tersebut, maka merupakan tantangan yang menyenangkan jika bisa memanfaatkn limbah atau sampah plastic untuk pembelajaran.

AKSI

Kami memilih tutup botol bekas sebagai alternative alat peraga edukatif. Karena tutup botol ini selain memiliki warna warna yang menarik siswa juga mudah untuk digunakan dan sangat familiar bagi anak anak. Botol nya juga bisa digunakan alat bermain yang menyenangkan

Proses daur ulang sampah terdiri dari tiga tahap yaitu pengumpulan sampah, pemilahan sampah dan terahir pemrosesan. Disini kami kumpulkan tutup botol bekas untuk diolah menjadi alat peraga dalam proses pembelajaran di RA. Alat Peraga pembelajaran adalah semua hal yang dapat di gunakan sebagai menghadirkan dunia/materi secara nyata tentang materi yang disampaikan guru kepada siswa untuk merangsang fikiran , perasaan, perhatian dan minat serta perhatian anak sehingga proses belajar terjadi dengan melibat seluruh potensi indrawi. Ketika dibawakan beberapa tutup botol bekas tersebut anak anak antusias memainkan tutup botol bekas yang telah dicuci bersih. Kemudian menyusun menjadi bentuk bentuk unik termasuk juga berlatih bermain pola warna. Disinilah kesatuan kognitif dan motoric anak berjalan seiring dalam pembelajaran. Dan pembelajaran mengenal symbol angka terasa menyenangkan karena dilakukan dengan bermain

PERUBAHAN/PELAJARAN

Ternyata keterbatasn media dapat diatasi dengan memanfaat berbagai benda di sekitar kita. Bahkan barang yang sudah tidak terpakai sekalipun. Tutup botol bekas dapat dimanfaatkan sebagai alat peraga edukatif siswa RA/TK . Sehingga pembelajaran akan menyenangkan karena melibatkan anak secara langsung dan aktif.

Kegiatan belajar mengajar dengan system kelompok dalam memanfaatkan tutup bekas merupakan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini dimana mereka lebih banyak menggunakan gerak fisiknya dengan cara berpindah kelompok

Selain dapat digunakan sebagai alat peraga bermain symbol angka dengan memanfaatkan tutup botol bekas kita juga memberikan pembelajaran dan pendidikan ramah lingkungan serta menstimulasi anak untuk kreatif, mengenal warna dan memenuhi kebutuhannya secara fisik motorik”


Ferry Sulistiyono

SD Nasional Plus Tunas Iblam

KITORANG PUNYA CERITA

SD Yapis Lopintol, Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat merupakan tempat pengabdian pertama kali pasca lulus Sarjana Pendidikan prodi PGSD di Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2014 melalui program SM3T angkatan IV. Pertama kali mengajar di sana langsung diposisikan sebagai guru kelas 1 dan 2. Kondisi awal kelas 1 dan 2 di sana masih dalam kategori memprihatinkan, banyak anak-anak yang masih belum dapat membaca maupun berhitung. Mereka lancar membaca sebatas apa yang mereka dengar, ketika mereka dites untuk membaca teks lain, mereka sama sekali tidak paham. Jangankan membaca, untuk anak-anak kelas 1 dan 2 ketika saya awal di sana, mereka masih bingung, keliru bahkan masih ada yang tidak tahu huruf dan menulisnya. Kemapuan berhitung mereka juga masih minim, mereka masih lemah dalam berhitung meski masih ada satu dua siswa yang menonjol daripada teman-temannya. Selain itu, kebiasaan mereka akan menjaga kebersihan diri masih minim, masih banyak anak-anak disana bertani kutu di rambut mereka.

Keadaan seperti itulah yang saya alami di awal pengabdian, hal tersebut merupakan sebuah tantangan yang harus saya hadapi dan tangani selama setahun pengabdian di Raja Ampat. Selain tantangan dalam hal calistung, seiring berjalannya waktu pengabdian saya, anak-anak saya di sana malas dengan namanya memotong kuku mereka. Salah satu upaya yang saya lakukan ketika itu yaitu dengan cara pendekatan kontekstual serta pendekatan akan karakteristik anak-anak di daerah pesisir pantai. Saya awali menyanyi di awal pembelajaran saya, menyanyi hanyalah lagu abcd untuk mereka menghafal abjad, selanjutnya diteruskan dengan kartu huruf secara perlahan dan akan dipercepat seiring berjalannya waktu. Selain itu, saya juga melakukan pendekatan individu dengan cara mengajari mereka bagaimana menulis huruf, menyusun kata hingga menyusun sebuah kalimat dengan cara langsung memegang tangan mereka untuk memberikan arahan yang benar akan menulis sebuah huruf. Metode driil juga saya lakukan untuk anak-anak yang sudah mulai mengerti dan paham akan huruf untuk mempermudah mereka belajar menulis dan membaca, supaya mereka tidak sebatas menghafal teks tapi mereka memang tahu. Untuk pengajaran berhitung biasanya saya mulai dengan sebuah dongeng untuk mengawali pelajaran berhitung. Nanti dalam dongeng tersebut saya munculkan angka-angka yang nantinya dipergunakan untuk pembelajaran berhitung. Pada dongeng tersebut, pasti juga saya selipkan budi pekerti maupun nilai-nilai kehidupan yang berguna bagi mereka.

Pernah saya bercerita ketika waktu istirahat sekolah usai, saatnya aku masuk ke kelas (kelas I dan II) untuk melanjutkan pelajaran bersama anak-anak dengan mendongeng sebuah cerita seperti biasanya. Hari ini, ku putuskan mengambil sebuah cerita untuk anak-anak dengan judul Monyet dan Katak. Tentunya cerita ini sudah tidak asing bagi yang pernah mendengarnya, inti dari ceritanya adalah persahabatan mereka rusak karena keserakahan si Monyet yang tidak mau berbagi makanan. Cerita pun usai, aku beri kesempatan anak-anak didikku untuk bercerita bebas untuk melatih keberanian mereka dalam berbicara serta untuk menambah kedekatanku dengan anak-anak didikku . Entah mengapa anak-anak didikku bercerita mengenai “Setan kuku panjang”, setan ini sering diceritakan oleh anak-anak di SD ini, entah kelas rendah maupun kelas tinggi. Pada dasarnya mereka takut dengan setan maupun hantu disini, ada setan kuku panjang, setan mata merah, terus suwanggi. Oke, lanjut ke setan kuku panjang, mereka bercerita kalau setan itu memiliki kuku yang panjang dan mempunyai mata merah. Hmm.. .. aku bilang gini saja ke anak didikku,” coba kalian kalau lihat setan kuku panjang, kalian ambil pemotong kuku terus potong kuku setan itu dan pasti setan itu lari karena takut dipotong kukunya.” Nila berkata, “Iyo kah pak guru?” “Iya Nila, kalau dia tidak takut kukunya dipotong berarti dia tidak akan lari. Maka itu jangan piara kuku kalian biar tidak jadi setan kuku panjang. Kalian mau jadi setan kuku panjang?” ujarku. “Tara (tara=tidak) mau pak guru”, ujar serempak anak-anak kelas 1dan 2. Dan reaksi paling takut dan gelisah itu murid kelas I yang bernama Aril dia bilang sambil berteria-terik “Pak Guru potong sudah kuku sa (sa=saya), sa tara mau jadi setan”. Selain itu Aril sempat teriak takut saat sa bercerita mengenai setan kuku panjang yang tak mau potong kuku tadi. Aril paling takut sendiri karena kuku tangan Aril paling panjang dan dari kemarin-kemarin saya potong kukunya tidak mau. Dan saya pun kasih tahu kepada anak-anakku, “Besok sudah pak guru bawa pemotong kuku baru pak guru potong”. Arilpun mengangkukkan kepalanya. Hmmmm.. ..bukan maksudku untuk menakuti mereka, tapi hal ini ku jadikan ajaran untuk anak didikku agar rajin merawat dan menjaga kebersihan kuku. Saya menekankan akan pentingnya kebersihan diri, karena tingkat kebersihan diri untuk anak-anak di sana masih sangatlah kurang. Mereka masih perlu pembiasaan untuk merawat diri. Hal yang pernah saya lakukan diantaranya mengajari mereka untuk memotong kuku, mencari kutu rambut mereka, mandi dan masih banyak lainnya. Salah satu kebiasaan yang sampai saat ini masih terpantau diantaranya kebiasaan mereka untuk memotong kuku mereka, mereka sudah mulai terbiasa untuk memotong kuku mereka ketika kuku merka sudah mulai panjang dan kotor. Lain halnya dengan kuku setan panjang, anak-anak kelas 1 dan 2 di sana banyak kutu yang bersarang di rambut mereka, saya tak sungkan pula untuk mengajari mereka memanen kutu rambut mereka agar tidak lagi ada kutu rambut yang bersarang di rambut mereka. Saya pernah juga ketularan kutuan karena saking dekatnya dengan anak untuk mngejari mereka menulis dan bermain. Selain menyisipkan materi berhitung pada dongeng, saya juga menggunakan alam sekitar untuk belajar berhitung mereka. Saya menggunakan batu, lidi, daun bahkan hasil laut untuk media mereka belajar berhitung. Tak segan juga belajar saya lakukan di luar ruangan untuk mereka lebih mengenal kekayaan alam mereka. Karakteristik anak-anak di sana lebih menyukai kegiatan fisik dibandingan kegiatan non fisik, jadi di sana saya perlu menggabungkan dua aktivitas tersebut, salah satu halnya dengn bermain lempar bola dan kemudian ketika bola ditangkap anak akan mendapatkan sebuah pertanyaan. Tantangan yang saya hadapi ketika mau mengubah permasalahan di kondisi awal yaitu dari pribadi anak-anak sendiri, mereka mayoritas masih malas dan belum sadar kan pentingnya belajar. Pernah suatu ketika terjadi hujan di pagi hari, hanya terdapat dua murid saja yang dating di kelas saya. Hal tersebut tidak mematahkan semangat saya, saya kunjungi ruamah anak sat persatu dan saya tunggui mereka hingga selesai mandi dan siap untuk berangkat sekolah. Kegiatan belajar mengajar yang biasanya dimulai pukul 7.30, saat itu dimulai pukul 9.00 karena hal tersebut.

Perubahan yang terjadi selama saya setahun di sana, anak-anak mulai mengerti huruf, kata dan kalimat. Ada beberapa progress anak yang sangat pesat, salah satunya yaitu siswa kelas 2 Fitriani Daam ketika saya di sana pertama kali dia buta huruf sama sekali, setahun berlalu saya di sana, dia bisa membaca lancar dan kemampuan berhitungnya sangat baik dibandingkan teman-temannya yang lain. Selain Ftriani Daam, juga terdapat siswa kelas 1 bernama Wulan Kasyan awalnya dia juga buta huruf tapi setelah setahun berlalu, dia sudah bisa membaca meskipun masih terbata-bata, untuk ukran siswa di kampong pengabdian saya itu sudah termasuk bagus. Di akhir pengabdian saya anak-anak masih enggan melepas saya untuk kembali ke tanah Jawa, sampai-sampai mereka pernah mengatakan “Pak Guru, baru kalo pak guru balik Jawa, kitorang (kita orang) siapa yang ngajar?” dengan ekspresi berkaca-kaca. Untuk respon dari pihak orang tua murid sangat merespon dan perhatian dengan guru-guru bantu yang hadir di tengah-tengah mereka.”



S1K107 – Ragam Belajar Membaca di Sekolah Menengah

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang cara mengoptimalkan kemampuan membaca pada murid sekolah menengah.

Rizky Satria

Sekolah Cikal Serpong

Kegiatan Membuat Buku sebagai Upaya Mengembangkan Minat Literasi Siswa

Seringkali kita menemui kondisi di mana kemampuan literasi siswa masih belum terbangun dengan baik. Mereka tidak senang membaca, apalagi menulis. Mengingat kemampuan literasi sangat penting dimiliki oleh setiap orang untuk mengoptimalkan proses belajar dalam hidup mereka, kondisi rendahnya kemampuan ini menjadi hal yang perlu guru carikan solusinya.

Kemampuan literasi terkait dengan –dan merupakan olahan lanjut dari– kemampuan berbahasa, yang pada umumnya dibagi ke dalam 4 level dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks, yakni: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam hal ini, guru kerap berpandangan bahwa; pertama, kegiatan meningkatkan kemampuan literasi hanya bisa diolah, dan menjadi tanggung-jawab, dari seorang guru bahasa, bukan guru di bidang studi yang lain; kedua, menulis adalah kemampuan tingkat tinggi, sehingga akan sulit dicapai jika kemampuan siswa masih rendah dalam hal menyimak, berbicara, dan membaca.

Oleh karenanya, sebagai seorang guru IPS, setiap kali hasil evaluasi menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa di sebuah kelas masih belum terbangun dengan baik, saya selalu mencoba berkolaborasi dengan guru bahasa untuk merancang program yang langsung bertujuan mengembangkan kemampuan menulis melalui kegiatan membuat buku.

Di awal kegiatan, setelah mengajak siswa untuk berefleksi tentang pentingnya kemampuan literasi dalam kehidupan, saya menantang mereka untuk membuat sebuah buku kolaborasi kelas. Melalui metode Pembelajaran Berbasis Proyek, para siswa diarahkan untuk menjadi pembelajar mandiri yang dapat mengatur kegiatan belajarnya sendiri. Kegiatan dimulai dari pembentukan panitia penyusunan buku, penentuan langkah kegiatan, proses mengolah konten (riset sumber pustaka), menulis, mempresentasikan tulisan, menyelenggarakan rapat-rapat redaksi, hingga merancang acara untuk merilis buku di sekolah. Selama proses tersebut, guru hanya berperan sebagai konsultan yang akan membantu setiap proses yang mereka kerjakan, terutama dalam hal memberikan umpan balik dalam proses mengolah konten, editing tulisan, dan mekanisme pencetakan buku.

Dampaknya, selain kegiatan menjadi lebih hidup karena diolah siswa secara mandiri, kemampuan literasi mereka juga dapat meningkat karena proses menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dapat terakomodasi dengan baik selama proses kegiatan pembuatan buku ini berjalan. Karena sejauh ini kegiatan tersebut selalu berjalan dengan cukup efektif, saya berharap pengalaman ini dapat saya bagi dengan guru-guru lain yang ingin membantu meningkatkan kemampuan literasi siswa-siswinya. Wallahu a’lam bishawab.


MUSYAFIAH

SMK N 1 KARANGDADAP

Membaca Tanpa Terpaksa

Membaca atau reading merupakan salah satu dari empat skill yang dipelajari dalam pelajaran bahasa. Namun, seringkali seorang guru menemukan masalah ketika memberikan teks bacaan pada siswa. Ketika disuguhi teks bacaan, siswa terlihat mengeluh panjang, meletakkan kepala di meja, atau bersikap seolah penuh semangat tetapi sesungguhnya mereka hanya menonton teks, bukan membaca. Jika teksnya berbahasa Inggris, respon semacam ini lebih banyak terlihat. Permasalahan yang terjadi adalah, membaca di kelas sangat berbeda dengan membaca di kehidupan nyata. Misalnya saja, di kehidupan nyata, setelah kita membaca menu, yang akan datang di hadapan kita adalah makanan lezat yang kita pesan. Namun di kelas, alih-alih mendapatkan makanan lezat siswa disuguhi dengan soal yang memusingkan.

Oleh karena itu, saya mencoba sebuah strategi dalam membaca agar siswa membaca tanpa terasa. Strategi ini berlandaskan pada prinsip EEK (Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi) pada kurikulum KTSP. Ada tiga langkah yaitu pre reading activity, whilst reading activity dan post reading activity. Kurang lebih, langkah pembelajarannya sebagai berikut:

  1. Pre reading activity
  2. a) Guru memperkenalkan kosakata yang diperlukan untuk memahami teks.
  3. b) Guru melakukan drill kosakata kepada siswa. Selain itu, guru juga menggambarkan kosakata dengan peragaan.
  4. c) Siswa menebak kosakata berdasarkan peragaan guru.
  5. Whilst reading activity
  6. a) Guru membagikan potongan paragraf kepada siswa.
  7. b) Siswa mencari potongan paragraf lain, lalu menyusunnya menjadi sebuah paragraf. (Guru mengiringi aktivitas ini dengan memutarkan musik)
  8. c) Guru memberikan bacaan yang benar. Siswa memeriksa jawaban. Jika jawaban mereka benar, mereka merayakan keberhasilan.
  9. d) Siswa membaca teks dalam hati. Kemudian, membaca dengan suara lantang.
  10. Post reading activity
  11. a) Secara berpasangan, siswa melakukan wawancara sesuai dengan isi teks.
  12. b) Guru memberikan potongan kertas berisi pertanyaan atas jawaban yang akan diberikan.
  13. c) Guru memberikan pertanyaan. Siswa yang memiliki kertas jawaban maju ke depan.
  14. d) Guru memberikan follow up project untuk membaca teks lain yang terkait dengan materi.

Dengan melakukan pembelajaran semacam ini siswa lebih aktif dan termotivasi dalam pembelajaran karena kegiatannya bervariasi. Mereka mengetahui lebih banyak kosakata baru dan ingatan ini lebih bertahan lama. Yang tak kalah pentingnya, mereka melakukan kegiatan dengan riang gembira. Mereka membaca tanpa terasa.


Ghina Ratih Wulandari

SMA Islam Pekalongan

Kue Cucur untuk Mengembangkan Kegemaran Membaca

Sejak pertama kali menjadi guru disini, saya langsung menuju ruang perpustakaan. Saya ingin tahu sejauh mana kegiatan membaca dan menulis di sekolah ini. Menurut saya, selalu ada kaitan perpustakaan sekolah dengan membaca dan menulis. Jika siswa yang gemar membaca maka dia akan sering perpustakaan, jika siswa gemar menulis maka dia akan pergi ke perpustakaan pula, jika perpustakaannya nyaman banyak koleksi buku yang sesuai ‘era’ mereka maka perpustakaan akan menjadi tempat favorit mereka. Di dalam mata pelajaran bahasa Indonesia ada empat kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa yaitu, Bicara, Menulis, Membaca dan Mendengar. Namun, ada 2 kompetensi dasar yang menurut siswa paling membosankan yaitu, membaca dan menulis. Untuk sekedar menulis memo saja malas, apalagi menulis materi pelajaran. Untuk sekedar membaca cerpen saja malas, apalagi membaca buku pelajaran bahkan belajar. Hal seperti ini saya temukan di sekolah ini dan diperkuat ketika saya pertama kali memberikan materi pelajaran. Ketika saya tanya ke salah satu anak, “Nak, menurut kamu pelajaran bahasa Indonesia ngapain aja?” Jawaban yang sama selalu terulang ketika saya mengajukan pertanyaan ini. “Paling gitu-gitu doang, Bu. Nyatet pelajaran, nulis, disuruh ke perpus, membaca koran, resensi, ah.. gitu doang Bu, nggak ada serunya, lagian nggak ada pelajaran bahasa Indonesia pun kita otomatis udah bisa berbahasa Indonesia kok Bu.” Mendengar jawaban anak-anak seperti itu hati ini bagaikan di tusuk belati. Sangat perih. Sakit hati awalnya. Namun, jika ini kubiarkan lama-lama akan menjadi turunnya semangat mengajar dan mendidikku, otomatis persepsi anak-anak tentang bahasa Indonesia akan tetap seperti itu. Dibalik jawaban seperti itu sebetulnya mereka berteriak,“Tolong kami, bantu kami untuk gemar membaca dan menulis!” Ya, mereka butuh pertolongan. Jawaban mereka menjadikan aku semakin tertantang. Ada apa dengan sekolah ini? Ada apa dengan pembelajaran bahasa Indonesia sebelumnya? Ada apa dengan perpustakaan sehingga gagal menjadi tempat favorit mereka? Siapakah anak-anak ini? Apa yang mereka mau?

Beribu pertanyaan muncul dipikiranku. Saya harus memecahkan ini semua. Pertanyaan-pertanyaan ini bermuara pada bagaimanakah menumbuhkan gemar membaca dan menulis untuk anak usia SMA? Langkah pertama saya harus mengenal mereka. Apa yang dimau mereka harus saya kabulkan karena saya adalah gurunya dan mereka adalah siswanya. Saya adalah pelayan dan mereka adalah customernya. Jadi di dalam pengertian ini saya tekankan, pertama, perlunya guru untuk mengetahui karakteristik siswa sebelum memulai pembelajaran. Yang kedua adalah perlunya kesepakatan dengan anak untuk mengetahui apa yang mereka mau. Bukan selalu anak menuruti kemauan guru, anak tidak tahu akan belajar yang seperti apa. Karena anak bukanlah kerbau yang dicocok hidungnya untuk mengikuti penggembala. Jadi harapan saya ketika pembelajaran berlangsung suasana merdeka belajar sangat terasa.

Berawal dari itu, akhirnya saya menemukan ide untuk menolong mereka. Di awal masuk kelas, seperti yang sudah dilakukan, saya tidak memulainya langsung dengan pelajaran. Saya membuat kesepakatan kelas dengan mereka. Dari beberapa kesepakatan tersebut saya tawarkan ke mereka adalah proyek Kue Cucur. Saya tuliskan di whiteboard dengan huruf kapital semua. Tak sedikit anak yang menertawakannya. Saya pilih nama Kue Cucur karena akronim dari Kowe Curhat Jucur. Kowe berasal dari kata bahasa Jawa yang artinya kamu, Curhat merupakan akronim dari curahan hati dan Jucur berasal dari kata jujur yang saya plesetkan menjad jucur. Agar pas aja sih.. hahahah. Jadi di dalam proyek ini siswa menulis bebas dan harus jujur.

Anak anak tertawa melihat tulisan tersebut lalu saya menjelaskan, “Menurut kalian menulis itu penting nggak sih? Kita bisa tahu sejarah Indonesia, tahu biografi tokoh, tahu pemikiran-pemikiran orang hebat, itu semua dari mana? Dari tulisan kan? Coba bayangkan, jika tidak ada tulisan di negeri ini, apa yang akan terjadi? Coba bayangkan jika kalian tidak diajari menulis sejak kecil, apakah kalian bisa duduk disini?”

Seorang siswa duduk di meja pojok bertanya, “Berarti tulisan itu penting banget ya bu?”

Saya mencoba membukakan pikiran mereka,”Indonesia bisa merdeka salah satunya lewat tulisan. Coba kalian bayangkan jika pemimpin negeri ini waktu itu tidak mengenal tulisan, tidak akan ada yang namanya teks proklamasi.”

“Saya mau tanya deh, pernah nggak sih kalian merasakan ingin ngomong sesuatu tapi bingung gimana cara ngomongnya terus kalian luapkan lewat tulisan?”, pancingku. Serentak mereka menjawab, “pernaaaaah”.

“Biasanya tentang apa?” tanyaku kembali.

“Tentang suasana hati bu”

“Kalo lagi bête biasanya nulis”

“daripada ngomong keluarnya nggak terarah mending aku tulis”

“Kalo lagi berantem sama pacar bu, nulis di diary”

Bermacam-macam jawaban mereka keluarkan. Disini saya nggak memberi batasan untuk menjawab. Menjawab, bagi saya, adalah salah satu ketrampilan berbicara. Jadi, saya tidak akan melarang anak untuk menjawab apapun selagi konteksnya masih dalam aturan sekolah. Lagi-lagi, masih dalam empat kemampuan dasar berbahasa. Berdasarkan pengamatan saya, jika anak diberi keterbatasan dalam menyampaikan pendapat atau jawaban maka dia akan menjadi pribadi yang tidak terbuka. Saya ingin murid-murid terbuka dengan saya sehingga membuat saya mudah masuk ke dalam dunia mereka.

“Abis nulis biasanya kalian baca-baca lagi nggak?” tanyaku.

“Baca lagi bu” jawab seorang anak.

“Emangnya kenapa sih kalian baca lagi?”, aku kembali bertanya

“Seru aja bu, jadi kenang-kenang buat aku, ternyata aku pernah mengalami hal itu”, jawab anak.

“Nah, di proyek Kue Cucur ini saya minta semua anak membuat tulisan, tulislah dibuku khusus, boleh buku diary atau buku apapun, bebas. Kalian boleh menuliskan suasana hati kalian, curahan hati, boleh banget nulis lagi nggak suka sama guru siapa, lagi nggak suka pelajaran apa. Apapun yang ingin kalian tulis, tulislah. Saya tidak akan melarang dan menyalahkan.” Jelasku.

“Tapi kan rahasia bu”

“Tenang aja, insha Allah saya amanah, kecuali kalo kalian ingin menunjukkan tulisanmu kepada seseorang maka akan saya tunjukkan” Mereka menyetujui kesepakatan itu.

Berawal dari proyek ini mereka akhirnya terbuka dengan saya. Menganggap saya adalah teman, sahabat, kakak mereka. saya anggap ini adalah bonusnya, terkadang teman-teman guru heran, saya yang notabene guru baru di sekolah ini tapi anak-anak nyaman dengan saya. Tak jarang pula saya ceritakan pengalaman-pengalaman di kelas dengan sesama guru.

Harapan saya sebagai guru membuat proyek ini supaya mereka mau menulis dan membaca. Tidak perlu yang muluk-muluk, di awali dengan menulis pengalaman sehari-hari kemudian membacanya kembali. Saya yakin ini bisa menumbuhkan gemar menulis dan membaca. Proyek ini juga membantu menuliskan ide-ide mereka. Mereka masih di usia remaja, saya yakin ide-ide mereka sangat liar, kreatif dan inovatif. Sayang sekali jika tidak di abadikan lewat tulisan.


Indah Nova Ida Manurung

SPK SMPK/SMAK 8 BPK PENABUR Jakarta

Empat Strategi Belajar Membaca

Banyak yang salah kaprah karena telah menganggap bahwa pelajaran membaca hanya diperuntukkan bagi siswa untuk mengeja kata dan kalimat. Namun, membaca sejatinya bukanlah hal yang sulit pula. Penelitian UNESCO menyatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Tentu fakta ini adalah sumbangsih dari guru selaku motor penggerak di ruangan kelas.

Apa langkah yang bisa dilakukan dalam pelajaran membaca? Ada empat yang akan saya kemukakan. Pertama, pengintegrassian keempat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, menulis). Kedua, kerja sama antarbidang studi. Ketiga, kerja sama dengan Pustakawan Sekolah. Keempat, kontekstualisasi pelajaran membaca dengan kehidupan dan isu-isu terkini. Seluruhnya akan dirangkum menjadi proyek pembelajaran.



S1K108 – Pelibatan Orangtua dalam Pendidikan

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang cara melibatkan orangtua dalam pendidikan anak

Hesti Wulandari Andi Djiwa

KGB Sorowako

Membaca bersama Orangtua

Saya mengajar kelas 1 SD yang banyak murid dalam sekelas 32 anak. Untuk kemampuan membaca saya membagi mereka dalam 3 kelompok besar berdasarkan hasil pengamatan selama dua minggu pertama: lancar, bisa belum lancar, dan belum bisa. Saya pertama-tama mencoba menumbuhkan minat membaca dulu dengan melakukan beragam aktivitas bersama seperti pojok baca yang aktif, membacakan buku cerita, dan menempelkan kartu kata di beberapa benda di sekitar kelas. Saya kemudian mengadakan proyek membaca bersama orang tua yang sebelumnya saya sosialisasikan dahulu pada orang tua. Harapannya anak-anak tertarik, gemar dan paham isi bacaan. Selain itu, intervensi diharapkan menguatkan ikatan dan kedekatan antara orangtua dan anak. Saya termasuk yang meyakini peran orangtua sangat besar pada kemajuan belajar anak.

Anak-anak dan orangtuanya yang mengikuti proyek membaca bersama orangtua ini terlihat lebih percaya diri dalam membaca dan memahami bacaan dengan menceritakan kembali isi cerita dalam buku memakai bahasa mereka sendiri. Dari komentar orangtua, anak termotivasi untuk membaca dan mulai berani dan percaya diri tampil ke depan kelas.


Arif Budi Prayitno

Yayasan Tunas Lestari Sejahtera

Sinergi Para Guru dan Orangtua dalam Pembentukan Karakter Siswa

Yayasan Tunas Lestari Sejahtera merupakan salah satu program bakti pendidikan dari Karyamas Adinusantara, yakni sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Saat ini sekolah kami berada di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesti Tengah yang berjumlah 9 Sekolah Dasar dan 2 Sekolah Menengah Pertama. Secara geografis, sekolah kami berada di daerah perbatasan dan pedalaman dengan karakteristik siswa yang beragam suku dan tingkatan SES B dan C. Sebagai sekolah yang letaknya jauh dari keramaian kota, bisa dipastikan tantangan utama kami adalah infrastruktur, baik dalam hal seperti akses jalan dan tentunya akses informasi. Sebagai contoh, sekolah kami SD Tunas Sejahtera Khatulistiwa yang berada di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat harus menempuh sedikitnya 2 jam perjalanan ke kota kecamatan Semitau untuk akses internet yang mumpuni. Tantangan lainnya adalah pendidikan dan latar belakang orang tua, di mana banyak yang berpendidikan akhir SD dan merupakan pendatang sebagai tenaga AKAD (antar kota antar Daerah). Selain itu juga benturan budaya dengan penduduk setempat yakni suku Dayak kerap terjadi. Ketika sekolah kami didirikan pada tahun 2016 lalu, para siswa yang sebelumnya bersekolah di luar area perkebunan berperilaku bebas tidak terkontrol, tidak mau belajar, enggan bersekolah dan hanya ingin terus menerus bermain serta kurang rasa hormat dengan guru dan orang tua. Tantangan tersebut, membuat kepala sekolah kami yakni Pak Arif Budi Prayitno berpikir bahwa hal pertama yang harus diprioritaskan adalah pembentukan karakter anak. Hal ini tentunya juga sesuai dengan spirit yayasan kami.

Akhirnya Pak Arif dan para guru selama 1 semester awal pembentukan sekolah fokus pada pembiasaan-pembiasaan yang menunjang pembentukan karakter seperti turun dan naik bus jemputan dengan rapih dan antri, upacara bendera dengan rapih, cuci tangan sebelum dan sesudah makan, sikat gigi setelah makan, memberikan perkataan bijak dan positif dari tiap wali kelas, pada siang hari bagi yang muslim melaksanakan solat Dzuhur berjamaah dan di waktu yang sama para siswa yang beragama Kristen, Katholik dan Hindu melaksanakan ibadahnya didampingi oleh guru yang beragama sama. Juga para siswa diajarkan memanfaatkan lahan dengan menanam sayuran dan ketika panen akan dimasak dan dimakan bersama-sama. Sehingga para siswa dapat memahami proses dari mana makanan berasal dan menghargai jerih payah orang tua dan pihak-pihak yang berkontribusi hingga akhirnya sebuah makanan dapat terhidang di piring kita.

Dari pembiasaan yang konsisten dilakukan di sekolah, para siswa pun membawanya ke rumah. Ketika di sekolah biasa melakukan cuci piring sesudah makan, maka di rumah pun siswa juga melakukannya. Di sekolah juga diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua,sehingga terbentuk juga di rumah bagaimana anak berbicara santun dengan orang tuanya. Perubahan perilaku ini dirasakan oleh orang tua salah satunya adalah driver perkebunan, “anak saya selama bersekolah di SD Tunas Sejahtera Khatulistiwa menjadi lebih rajin di rumah, baik itu membantu kita untuk tugas rumah maupun belajar. Sekarang semangat sekali kalau pergi ke sekolah”.

Pembentukan karakter juga tentunya harus disinergikan dengan peran orang tua dan lingkungan sekitar. Salah satu program dari perusahaan adalah dengan melibatkan komite sekolah dan membuat program Bakti Wiyata yakni kelompok relawan yang terdiri dari orang tua siswa untuk mengajarkan materi budi pekerti, kesehatan diri dan pelestarian lingkungan. Kegiatan dilakukan satu bulan sekali pada hari sabtu selama 90 menit per sesi kelas. Sebelum pengajaran, para relawan dibekali materi melalui training pengajaran oleh fasilitator program Bakti Wiyata. Salah satu materi training adalah pembiasaan penggunaan kata ajaib yakni tolong, maaf dan terima kasih. Dari program ini para orang tua juga turut belajar lagi tentang bagaimana pendidikan karakter dimulai dari lingkup keluarga. Salah seorang relawan, yakni ibu Alpinco mengatakan “kita sering meminta anak untuk berkata sopan, tapi apakah kita sendiri juga berperilaku yang sama? Apakah kita kalau minta tolong diambilkan sesuatu juga menggunakan kata ajaib tersebut? Program ini juga menjadi introspeksi kita bahwa kita orang tua lah yang juga berperan penting dalam pembentukan karakter anak.



S1K109 – Ragam Strategi Belajar Berkelompok

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara belajar berkelompok yang efektif

Isdiati Agustriani

Sekolah Cikal

Strategi Melakukan Diskusi Kelas yang Efektif

Kondisi awal kelas adalah diskusi yang dipimpin oleh guru dengan siswa duduk dilantai. Guru dan siswa membicarakan bermacam-macam seni ekspresi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi tersebut. Tujuan belajar adalah mendapatkan pemahaman bersama mengenai materi garis pembelajaran UOI Bagaimana Mengekspresikan Diri Kita dengan melakukan diskusi kelas.

Tantangan dalam melakukan diskusi kelas adalah menghidupkan diskusi kelas dengan melibatkan seluruh siswa yang ada di dalam kelas. Cara menggali informasi, opini, atau ide dari siswa-siswi yang cenderung pasif, introvert dan kurang percaya diri Cara mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang hasil diskusi yang dilakukan.

Melakukan kegiatan ‘Gallery Walks’ class discussion. Pengajar mempersiapkan beberapa gambar serta pertanyaan utama yang berkaitan dengan gambar tersebut untuk di diskusikan. Gambar-gambar tersebut ditempelkan di dinding kelas dengan jarak tertentu. Kemudian, pengajar membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil lalu memberikan tugas berupa pertanyaan yang harus didiskusikan. Kelompok siswa kemudian berkeliling menuju gambar-gambar tersebut dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh pengajar.

Siswa dapat lebih aktif mengungkapkan ide atau opininya dan terlibat secara menyeluruh dengan diskusi yang dilakukan bersama teman kelompok maupun bersama guru. Siswa dapat berpikir secara kritis setelah melakukan diskusi dengan teman kelompoknya dan dapat mempertahankan opininya dengan didukung oleh gambar yang disediakan. Siswa yang sebelumnya tidak terlalu aktif mengungkapkan pendapatnya menjadi lebih berani dan mampu mengeluarkan ide yang dia miliki karena berada di dalam kelompok kecil dimana ia merasa nyaman berada didalamnya. Dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya, siswa menjadi lebih teratur dan dapat mengelola waktunya dengan baik untuk mengerjakan tugas yang sudah diberikan disetiap pos.


Campin Veddayana

SMKN 5 Malang

PENERAPAN METODE “ASGUR” (ASISTEN GURU) SEBAGAI SOLUSI MENINGKATKAN MINAT PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMKN 5 MALANG

Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan produk berupa strategi AREMANIA (Amati, Rencanakan, Maju, dan Nilai) dalam pembelajaran membawakan acara. Strategi AREMANIA dikemas dalam bentuk buku panduan untuk guru dengan bahasa komunikatif, tampilan menarik, dan berisi konsep strategi AREMANIA, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan penerapan strategi AREMANIA di SMP kelas VIII. Produk tersebut menunjukkan kriteria valid dan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran kompetensi dasar membawakan acara dengan bahasa yang baik, benar dan santun. Hal tersebut dapat diketahui berdasarkan uji produk terhadap ahli bahasa, ahli pembelajaran, praktisi, dan siswa.

Meskipun buku panduan strategi AREMANIA dirancang untuk pembelajaran membawakan acara, tetapi dalam penerapannya guru dapat menggunakan strategi AREMANIA untuk materi kompetensi berbicara yang lainnya. Guru sebagai fasilitator, perlu memilih video membawakan acara sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kemampuan siswa. Guru sebagai fasilitator dapat menerapkan strategi AREMANIA dengan cara yang kreatif dan inovatif, seperti penggunaan media pendukung yang kreatif, pemanfaatan lingkungan sekolah, atau penataan bangku kelas yang membentuk huruf ‘U’.

Kedua, penelitian pengembangan ini merupakan salah satu pijakan dalam pembelajaran berbicara, khususnya pembelajaran membawakan acara. Oleh karena itu, pada penelitian lebih lanjut disarankan agar dapat mempelajari dan memanfaatkan produk strategi AREMANIA sebagai pijakan untuk mengembangkan produk strategi pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif. Selain itu, diharapkan juga agar pengembangan lebih lanjut dapat mengujikan kemenarikan dan efektivitas produk.


Dian Misastra

SDN 1 Cisarua

Sasakolahan: Bermain Peran sebagai Guru

Kemampuan belajar serta mood siswa tidak merata, hal ini bisa dipengaruhi oleh lingkungan, pola makan serta kondisi keluarga. Tidak setiap siswa memiliki mood belajar yang sama. Kondisi tidak stabil. Ini sering dialami oleh guru. Siswa membutuhkan adanya variasi dalam belajar, salah satunya bisa disiasati yaitu dengan sasakolaan(bahasa sunda) atau dalam bahasa Indoneaia bisa disebut sekolah bohongan. Pertama kita membagi siswa dalam kelompok kecil dengan mengambil perwakilan siswa (dianggap lebih memahami mapel) untuk berperan sebagai guru. Tempat belajar serta mapel bebas bagaimana pilihan mereka. Selanjutnya guru memantau kegiatan siswa. Dengan begitu mereka akan lebih hidup dalam belajar. Namun kendalanya hal semacam ini tidak bisa dilakukan secara terus menerus. Hasilnya dapat kita lihat dari hasil presentasi siswa yang menjadi guru untuk melaporkan kegiatan mereka diakhir pembelajaran. Jika memungkinkan sebaiknya dilakukan diluar ruangan karena siswa akan lebih santai.


Annisa Ariyani

SMKN 1 Singosari

Strategi Batman (bertanya antar teman) dan percokan (perhatikan, coba, dan lakukan) Untuk Menumbuhkan Ide kreatif dan Rasa Ingin Tahu Siswa


Kondisi kelas yang nyaman, aktif, dan kondusif merupakan kelas yang selalu menjadi idaman semua guru. Namun, kenyataan yang terjadi di kelas yang saya ajar sangat berbeda jauh atau dapat dikatakan sangat tidak sesuai dengan harapan. Awal mula masuk kelas mereka masih belum menunjukkan permasalahan. Akan tetapi, beberapa hari kemudian mereka mulai menunjukkan sikap apatis, ramai, sering keluar kelas, tidur, hingga masalah perundungan, seperti mengkambinghitamkan teman, saling mengolok-olok, dan suka menang sendiri. Semua permasalahan kelas yang kompleks tersebut akan saya hadapi selama satu lahun lamanya.
Selain permasalahan di atas. Ada lagi permasalahan yang mulai tampak saat pembelajaran dimulai. Setelah saya selesai menjelaskan materi, mereka senyap apa lagi dengan pertanyaan umum yang sering dikatakan guru mereka.
“Ada pertanyaan?”
“Tidak ada bu!”
“Semua paham?”
“Ya”
Kenyataannya sangat bertolak belakang dengan apa yang telah mereka katakan. Mereka banyak kesulitan saat saya menyuruh mereka mengerjakan tugas yang telah saya berikan. Lantas, saat saya mulai mengoreksi nilai mereka tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan. Saya bergeming di dalam hati bagaimana cara membuat kelas ini menjadi kelas aktif dan produktif.
Keesokkan harinya saya berikan strategi yang paling sederhana, yakni strategi batman (bertanya antar teman). Strategi ini saya terapkan saat apersepsi awal pembelajaran dengan cara menceritkan kisah inspiratif yang telah mereka alami sendiri.
“Ada banyak kisah insiratif yang dilahirkan dari orang hebat, terutama orang hebat yang berasal dari kelas ini. Nah, jika kalian merasa orang hebat silahkan kalian ceritakan kisah inspiratif kalian di depan kelas!”
“Saya, Bu” dengan penuh keyakinan ia mengacungkan tangan kanannya dan mulai melangkahkan kaki maju ke depan.
“Dari kisah temanmu tadi, apakah ada yang ingin ditanyakan?”
Satu persatu mereka saling mengangkat jari telunjuk. Kelas akhirnya aktif dengan saling bertanya kepada teman tentang masalah perjuangan hidup yang telah mereka alami. Setelah selesai saya tutup dengan hikmah apa yang bisa kita ambil dari pelajaran hidupnya? Satu persatu mereka menjawab dengan percaya diri.
Beberapa menit kemudian, saya mulai menyiapkan strategi percokan yakni perhatikan, coba, dan lakukan. Strategi ini saya terapkan dalam pelajaran bahasa Indonesia, khususnya pada kompetensi dasar menulis teks prosedur. Saya siapkan bahan dan alat yang ingin saya gunakan, seperti balon, cuka, soda, sendok, mangkok kecil, gunting/ cutter, botol kaca. Semua siswa penasaran dengan alat dan bahan yang telah saya bawa.
“Bu, mau buat apa, Bu?”
“Kue ya?”
“Siapa yang ingin membantu saya?”
“Saya, Bu. Saya Bu, Saya” semua berteriak dan angkat tangan mereka antusias ingin membantu. Saya tunjuk tiga siswa untuk membantu saya. Siswa yang pertama saya beri tugas untuk meniup balon. Siswa kedua saya beri tugas untuk menyiapkan serangkaian percobaan seperti, menyiapkan 8 sendok makan soda kue untuk dimasukkan ke dalam balon dan menyiapkan pula 19 sendok makan cuka untuk dimasukkan ke dalam botol. Mereka saling membantu saya untuk memasukkan satu persatu. Selesai memasukkan, saya tempelkan ujung bibir balon ke bibir botol. “Kira-kira apa yang akan terjadi, jika saya kocok balon yang berisi cuka dengan botol yang berisi cuka?”
“Mengembang, Bu”
“Balonnya bisa meletus, Bu”
“Oke, ada yang penasaran ingin mengocok?”
“Saya kocokkan, Bu”
Setelah balonnya mengembang besar. Mereka mulai penasaran bagaimana dan mengapa balon bisa mengembang.
“Jika ada pertanyaan silahkan tulis di papan tulis” tidak disangka yang bertanya mulai beruntun. Kurang lebih ada 10 pertanyaan terkait dengan balon. Setelah itu saya bagi kelompok untuk menemukan jawaban dari pertanyaan mereka. Setelah selesai berkelompok dan membahas bersama-sama. Selanjutnya fokus pada materi menulis teks prosedur. Siswa pertama yang meniupkan balon saya suruh untuk menuliskan perasaannya saat meniup balon sebagai pernyataan umum alam teks prosedur. Setalah itu, siswa lain saya suruh untuk menuliskan tujuan, alat dan bahan, langkah-langkah, serta penutup teks prosedur sesuai dengan percobaan yang telah dilakukan tadi.
Sebelum saya menginjak kompetensi dasar menulis prosedur saya beri tugas kepada siswa untuk membawa barang bekas. Setelah selesai. Mereka kembali ke kelompoknya untuk meneruskan kembali misi tugas selanjutnya yakni merakit barang bekas yang telah mereka bawa menjadi suatu barang yang memiliki nilai seni dan harga yang tinggi. Hasilnya perkelompok menciptakan barang yang kreatif dan inovatif , seperti membuat lampion berbahan dasar dari topls, piring, dan mangkok; lampu tidur dari kaleng bekas yang dikombinasikan dengan cash hp sebagai penghantar listrik; asbak dari kresek; vas bunga dari botol; pot bunga wanita berbentuk laki-laki dari toples; tempat pensil dari kaleng; dan botol dan gelas plastik. Semua yang mereka ciptakan benar-benar di luar pemikiran saya. Melalui barang bekas mereka mampu menciptakan hal-hal baru yang kreatif dan inovatif.
Berdasarkan kedua strategi di atas yang saya terapkan saat pembelajaran di kelas. Sekarang saya dapat mengetahui bahwa setiap anak pasti memiliki keunikan masing-masing. Keunikan inilah yang harus guru asah, sehingga siswa mampu melejitkan kreativitas dan rasa ingin tahu siswa tanpa mematikan ide dan kreativitas yang mereka punya. Selain itu, strategi “percokan” bisa jadi siswa pemalu mempunyai segudang pertanyaan dalam otak mereka, sehingga mampu merangsang daya pikir siswa untuk berpikir kreatif dalam menginovasikan suatu objek sebab pola pikir remaja adalah pola pikir yang penuh dengan ide-ide kretif dan kritis. Maka jika ada sesuatu yang baru yang belum pernah mereka lihat, maka bagi mereka itu dunia asik yang perlu untuk digali.
Sekali lagi kegiatan bertanya bukanlah sebuah hal baru, kita sebagai guru harus mampu menginovasikan hal-hal kecil hingga menjadi sesuatu yang besar. Mengingat setiap pribadi anak itu adalah unik, maka guru harus mampu mengembangkan dan menumbuhkan kreatifitasnya tanpa harus mengurangi siapa identitas siswa yang sebenarnya. Dengan begitu guru mampu menerbitkan bibit-bibit kreatif dan inovatif yang mampu menjawab tantangan zaman.



S1K110 – Belajar Agama yang Bermakna : Memahami, Bukan Menghafal

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara belajar agama yang bermakna, lebih dari menghafal saja.

Mirwan Abdul Aziz

Sekolah Cikal

Belajar agama untuk memahami

Pelajaran Agama Islam biasanya tak lepas dari menghafal. Baik itu ayat Al-Quran, doa maupun hadits. Hafalan, bukanlah tujuan dari pembelajaran. Hafalan adalah suatu jembatan untuk mendapatkan pemahaman.

Contoh konkrit dari hal ini adalah ketika murid belajar memahami QS. Al-Kaafiruun. Tujuan dari memahami surat tersebut adalah siswa memahami makna toleransi terhadap orang lain yang berbeda agama. Bagaimana mereka dapat meresapi ayat demi ayat beserta maknanya. Bagaimana mereka dapat lebih mengamalkan apa yang menjadi tujuan diturunkannya surah tersebut. Mereka bisa menjelaskan hikmah suatu ayat atau surat bagi diri mereka sendiri, kemudian mengaplikasikannya. Begitu pula dengan surat-surat lain, bahkan Al’quran pun akan bisa kita resapi maknanya, tidak hanya dengan menghapal, tapi mengerti maknanya.


Syahril

Sekolah cikal cilandak

Belajar Agama Melalui Seni

Dewasa ini pelajaran agama sering dianggap kurang menyenangkan. Banyak peserta didik yang merasa bosan ketika pelajaran agama. Biasanya para guru pada umumnya menyampaikan materi dengan cara yang sifatnya monoton (menggunakan metode ceramah). Belajar agama bisa melalui seni contohnya belajar mengenai kisah nabi melalui wayang. Atau belajar rukun Islam dengan lagu. Bahwa belajar agama, bisa menyenangkan melalui seni.


Ragwan Alaydrus

IIUM

Pedadogi Hikmah untuk Mata Pelajaran Agama

Di madrasah, mata pelajaran agama terkesan lekat dengan aktivitas menghafal dan doktrinasi nilai-nilai agama kepada siswa. Terkadang guru kurang memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis, seakan kritis selalu memiliki konotasi negatif, yakni kesangsian pada pelajaran yang diberikan. Padahal, berpikir kritis juga bermakna menemukan hikmah dari sebuah dalil/ajaran agama dan mengaitkannya pada kenyataan sehari-hari. Akan tetapi, mengajarkan berpikir kritis juga memerlukan tahapan. Anak perlu dibimbing untuk memahami ayat Al-Qur’an secara bertahap sesuai dengan tingkat kesiapan mereka. Dari pengalaman kekeliruan saya dalam mengajarkan hikmah melalui ayat Al-Qur’an, saya mencoba untuk merumuskan beberapa pilihan pendekatan untuk menuntun anak menggali hikmah Al-Qur’an dengan mudah.


AHMAD FAOZAN

Kementerian Agama Kabupaten Indramayu

PEMBELAJARAN AGAMA YANG BERMAKNA

Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki tuntutan kompetensi dasar dengan konten yang kadang abstrak dan tidak mudah dipahami peserta didik, utamanya di SD. Sehingga pembelajaran PAI lebih banyak dikemas guru dalam bentuk hafalan. Di Kelas 4, misalnya, kompetensi dasar yang ingin dicapai yaitu (1) meyakini adanya Allah Swt. Yang Maha Melihat, (2) menunjukkan sikap hati-hati sebagai implementasi dari pemahaman makna al-Asmau al-Husna : al-Basir, (3) memahami makna al-Asmau al-Husna : al-Basir dan (4) membaca al-Asmau al-Husna : al-Basir.

Ini merupakan tantangan bagi guru PAI. Menemukan strategi pembelajaran PAI yang bermakna sesuai konteks kekinian dan kondisi peserta didik. Mengemas pembelajaran dengan multimethod. Membuat pembelajaran yang abstrak menjadi konkret dan sesuai dengan kehidupan keseharian peserta didik.

Untuk mencapai kompetensi dasar seperti di kelas 4 di atas, saya menerapkan multimethod, yaitu strategi simulasi, inquiry learning, drill dan drawing. Pembelajaran dimulai dengan meminta peserta didik menyiapkan kertas kosong dan menuliskan nama. Selanjutnya mereka mendapat instruksi untuk menuliskan salah satu angka 1-9, dengan syarat tidak ada siapa pun yang melihat. Peserta didik boleh menulis / tidak menulis angka dan mengumpulkan kertas tugas (dengan dilipat). Sebagai selingan, saya meminta salah satu peserta didik mengambil satu kertas dan menebak angka yang ditulis. Peserta didik menyampaikan argumentasi tentang alasan menuliskan / tidak menuliskan angka. Sebagai penguatan, saya bertanya “apakah kalian yakin tidak ada yang melihat angka yang ditulis?” dan memberi penjelasan singkat tentang makna al Bashir (Maha Melihat). Pembelajaran dilanjutkan dengan berkelompok (4-5 anak). Mereka mencari contoh dalam kehidupan sehari-hari tentang perilaku yang menunjukkan sikap hati-hati sebagai implementasi pemahaman makna al-Asmau al-Husna : Al-Basir. Peserta didik melafalkan kata al-Basir dan artinya. Diakhiri dengan membuat kaligrafi al-Asmau al-Husna : Al-Basir.

Pembelajaran PAI akhirnya tidak sekedar hafalan (kognitif). Pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna. Tentu, untuk menemukan kebermaknaan pembelajaran dengan konsep abstrak, guru Pendidikan Agama Islam perlu lebih banyak menambah wawasan.



S1K111 -Mengembangkan Kurikulum Efektif : Intervensi Desain dan Praktik

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara marancang desain dan asesmen belajar yang efektif.

Isabella Paskahrani

Sekolah Kembang

Penggunaan Matrix Multiple Intelligence dan Taxonomy Bloom dalam Meningkatkan Kemampuan Belajar di Sekolah Dasar

Salah satu harapan besar yang dimiliki guru adalah memastikan setiap murid terlibat dalam kegiatan pembelajaran dan mencapai standar belajar yang ditetapkan. Pada kenyataannya, murid memiliki keterlibatan yang berbeda pada setiap kegiatan sehingga seringkali berdampak pada pencapaian mereka. Untuk memahami keadaan tersebut, diperlukan kepekaan guru dalam melihat setiap murid sebagai pribadi yang unik sehingga memiliki minat, perkembangan kemampuan dan kebutuhan yang berbeda dalam belajar. Hal tersebut semakin menantang ketika sekolah membuka diri menjadi sekolah inklusi. Bergabungnya murid berkebutuhan khusus di kelas, semakin memperkaya keragaman minat dan kebutuhan murid.

Berdasarkan keadaan di atas, kelas tradisional dengan pembelajaran satu arah dan instruksi seragam, dinilai tidak lagi menjawab keragaman kebutuhan murid. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan guru untuk membuat murid terlibat dan memahami materi salah satunya differentiated instruction. Di Sekolah Kembang, para guru sadar bahwa memfasilitasi kebutuhan murid yang beragam merupakan suatu tantangan yang tidak dapat dihindari. Kamipun menerapkan strategi differentiated instruction (DI) dalam proses belajar di kelas.

Untuk menerapkan DI, guru melakukan observasi pada minat anak, kami mulai merancang kegiatan dengan menggunakan multiple intelligence (MI). Sepanjang proses belajar, kami menemukan hal lain yang terkait dengan keragaman kebutuhan murid. Kami mengamati bahwa murid bekerja dalam level kecerdasan yang berbeda. Untuk menjawab kebutuhan berpikir murid, kami menggunakan dasar Taxonomy Bloom. Kombinasi antara MI dan Taxonomy Bloom kami jadikan dasar pemilihan kegiatan. Murid mendapat sebuah tabel tabel yang menyusun kegiatan berbasis multiple intelligence secara vertikal sementara kegiatan berbasis Bloom’s taxonomy disusun secara horizontal. Tabel berisi instruksi sederhana yang menjelaskan tugas dari setiap kegiatan multiple intelligence dalam tingkatan berpikir yang berbeda. Murid dapat memilih tugas yang akan mereka kerjakan, selama sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat bersama.

Kami mengamati banyak perubahan positif dari penggunaan model ini. Keterlibatan murid dalam kegiatan kelas meningkat. Murid bekerja dengan bersemangat karena mendapat kepercayaan dan kebebasan untuk memilih. Kebebasan tersebut tidak mengurangi rasa tanggung jawab, murid menyelesaikan tugas sampai selesai. Murid juga dapat mengenal dan menantang dirinya untuk menjadi lebih baik. Bagi orang tua, hal ini mengedukasi bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Anak juga dapat berdaya ketika dipercaya oleh orang dewasa di sekitarnya. Bagi guru, model ini memberi kesempatan luas untuk melatih kemampuan observasi murid. Guru juga dapat membantu murid memaksimalkan potensinya dengan lebih tepat. Hal lain, dalam mempersiapkan model pembelajaran ini, guru ditantang untuk mencari beragam kegiatan yang bermakna dan mengajak anak berpikir di tingkat tinggi. Dengan banyaknya kegiatan yang disajikan oleh model ini, maka guru juga dituntut untuk melakukan persiapan yang ekstra saat proses belajar.


Ignatia Widhiharsanto

Sekolah Kembang

MENGEMBANGKAN RENCANA BELAJAR BERBASIS BUKU CERITA ANAK DI TK DENGAN METODE PEMBELAJARAN SENTRA

Tahun 2015, TK Kembang mengalami perubahan mendasar dari metode pembelajaran klasikal ke metode pembelajaran sentra. Setelah pemahaman akan praktik dan metode sentra semakin mendalam, guru-guru merasakan kejenuhan memakai tema-tema yang telah bertahun-tahun digunakan. Untuk mendatangkan perubahan yang menyegarkan maka kami mulai mencoba mengembangkan rencana belajar berbasis buku cerita anak pada tahun ajaran 2016/2017. Di tingkat SD, guru-guru Sekolah Kembang sudah cukup sering menyusun rencana belajar berbasis buku (novel). Menerapkannya pada tingkat TK yang menggunakan metode pembelajaran sentra kemudian menjadi tantangan tersendiri.

Kita telah mengenal berbagai manfaat membacakan buku cerita pada anak usia dini secara rutin, mulai dari membangun hubungan yang kuat dengan orang yang membacakan cerita, memperbanyak kosakata, memberi fondasi kuat bagi keterampilan baca-tulis di kemudian hari, membangun logika berbahasa dan berpikir, sampai dengan memperpanjang rentang perhatian dan fokus anak. Lalu bagaimana dampaknya ketika buku cerita digunakan sebagai basis pengembangan rencana belajar di TK?

Setelah menggunakan beberapa buku cerita, terlihat perubahan yang signifikan dalam dinamika kelas. Keterlibatan anak-anak meningkat dalam kegiatan kelas karena mereka membangun hubungan emosional dengan tokoh-tokoh di dalam cerita. Mereka mengidentifikasi diri mereka sebagai teman tokoh dan seringkali berefleksi menggunakan pengalaman tokoh. Belajar menjadi proses mengenal diri sendiri dan kedalaman ini meninggalkan jejak yang bermakna di tiap anak, seperti misalnya ketika membaca buku “Aku, Meps dan Beps” tentang Soca yang merasa fisiknya mirip sekali ibunya tapi sifatnya lebih mirip ayahnya, anak-anak kemudian diajak mengenali diri sendiri, baik secara fisik maupun karakter. Diskusi pun berlanjut kepada keragaman penampilan fisik dan karakter anggota keluarga dan teman-teman sekelas. Tokoh Soca tanpa mereka sadari menjadi teman belajar yang selalu ada di tiap kegiatan.

Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain pemilihan jenis buku. Buku yang dipilih haruslah memiliki bahasa sederhana dan mudah dipahami anak, namun juga cukup ‘kaya’ dan mendalam untuk dikembangkan menjadi rencana belajar yang bermakna bagi anak. Walaupun semakin banyak buku cerita anak hasil karya penulis dan penerbit Indonesia yang berbahasa baik, ‘kekayaan’ dan kedalaman cerita masih jarang ditemui. Tantangan selanjutnya adalah kejelian dan kreativitas guru untuk ‘mengolah’ topik-topik yang ditemukan untuk keperluan perencanaan sentra maupun kegiatan bersama di kelas, misalnya menggunakan bagian buku “Aku Suka Caramu” yang membahas ulang tahun Ali untuk membahas pancaindra. Guru menyajikan beberapa hidangan dalam cerita untuk bermain tebak-tebakan makanan dengan mata tertutup di sentra sains. Kreativitas yang tinggi juga dibutuhkan karena tak jarang guru harus mengembangkan cerita yang telah ada untuk memenuhi kebutuhan kelas.


Yaumil Asridh

Sekolah Cikal

Makna Dari sebuah unit Pembelajaran

Apakah sebenarnya yang kita inginkan dari murid murid kita setelah selesai belajar? Hafal semua teori? Mendapatkan nilai bagus?bisa membaca lancar?. Apakah hanya hal-hal ini yang menjadi pusat perhatian kita? ataukah sebenarnya ada hal lain yang lebih penting untuk kita tanamkan pada anak-anak kita?.

Setelah melakukan perenungan atas pertanyaan-pertanyaan diatas, mungkin akan terbesit keinginan untuk melakukan perubahan. Namun tentunya tidaklah mudah untuk melakukan perubahan tersebut. Kenyataan bahwa masih banyak orang tua atau bahkan mungkin rekan kerja kita sendiri yang masih menganggap bahwa nilai adalah segalanya. Penilaian terhadap budi pekerti pun hanya dinilai seadanya saja. Tantangan lain yang mungkin juga dihadapi adalah permasalahan waktu. Diantara banyaknya tuntutan materi pelajaran yang harus dikuasai anak-anak, apakah masih ada waktu untuk mengajarkan nilai-nilai tersebut secara mendalam.

Lalu apa yang dapat kita lakukan? Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah mencari nilai-nilai yang terkandung dalam unit pembelajaran itu sendiri yang bisa diterapkan oleh anak-anak dalam kehidupan sehari-harinya. Setelah itu, kita masukkan nilai-nilai tersebut ke dalam agenda kegiatan sejak awal. Mengapa harus nilai-nilai yang berhubungan dengan unit yang sedang dipelajari? Mengapa harus sejak awal? Hal-hal ini sebenarnya merupakan jawaban untuk tantangan yang dipaparkan diatas.

Di kelas, sayapun mencoba untuk menerapkan kegiatan memaknai sebuah unit pembelajaran secara lebih mendalam. Saya mencari tahu sebenarnya nilai apa yang bisa saya dan murid ambil, maknai dan pada akhirnya bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu peristiwa yang membuat saya merasa terkesan adalah ketika murid-murid saya menjadi lebih menghargai makanan dengan memutuskan untuk menghabiskan makanannya dan mengingatkan temannya untuk menghabiskan makanan yang ia bawa setelah kami mempelajari tentang proses produksi distribusi dan konsumsi makanan.

Dengan berusaha memaknai sebuah unit pembelajaran, anak-anak akan mendapatkan sisi lain dari sebuah pembelajaran yang bisa ia terapkan dalam kehidupannya. Perubahan sikap yang kita tanamkan sedari kecil diharapkan akan terus bertahan dan nantinya anak-anak asuhan kita dapat menjadi generasi penerus yang berguna untuk nusa dan bangsa.


Ades Marsela, S.Pd

Sekolah Guru Indonesia

Asesmen Otentik

“Penilaian otentik merupakan konsep besar yang meliputi sistem pengukuran hasil belajar dalam bentuk “produk intelektual yang bernilai, signifikan, dan bermakna”. Bilamana guru menerapkan model penilaian otentik untuk menghimpun informasi mengenai prestasi siswa, maka guru menerapkan berbagai kriteria yang berkenaan dengan konstruksi ilmu pengetahuan, disiplin dalam melakukan penelitian, serta nilai-nilai yang dapat siswa kuasai sesuai dengan harapan sekolah (Wikipedia, 2010)
Penerapan model penilaian otentik ini dilatarbelakangi karena banyaknya guru-guru yang tidak bisa menilai secara objektif kegiatan belajar siswa baik proses belajar maupun hasil belajar siswa. Sehingga ada siswa-siswa yang terzolimi akibat penilaian subjektif dari guru tersebut.
Menerapkan model penilaian otentik berpotensi mendatangkan berbagai manfaat dan keuntungan. Menurut Diane Hart, dalam pengantar yang sangat baik pada : A Handbook untuk Pendidik menyatakan berbagai kelebihan penggunaan model penilaian otentik, yaitu:
1. Siswa berperan aktif dalam proses penilaian. Pada fase ini dapat mengurangi rasa cemas, takut mendapatkan nilai jelek yang dapat menggganggu harga dirinya.
2. Penilaian autentik berhasil digunakan dengan siswa dari berbagai latar belakang budaya, gaya belajar, dan kemampuan akademik.
3. Tugas yang digunakan dalam penilaian otentik lebih menarik dan mencerminkan kehidupan sehari-hari siswa.
4. Sikap yang lebih positif terhadap sekolah dan belajar dapat berkembang.
5. Penilaian otentik mempromosikan pendekatan yang lebih berpusat pada siswa untuk mengajar.
6. Guru memegang peran lebih besar dalam proses penilaian selain melalui program pengujian tradisional. keterlibatan ini lebih mungkin untuk memastikan proses evaluasi mencerminkan tujuan dan sasaran program.
7. penilaian otentik menyediakan informasi yang berharga kepada guru pada kemajuan siswa serta keberhasilan instruksi.
8. Orang tua akan lebih mudah memahami penilaian otentik dari persentil abstrak, perangkingan, dan pengukuran lain tes standar.
9. penilaian autentik baru untuk kebanyakan siswa. Mereka mungkin curiga pada awalnya, tahun pengkondisian dengan paper tes, mencari jawaban yang benar tunggal, tidak mudah dibatalkan.
10. penilaian otentik memerlukan cara baru untuk merasakan bahwa dia sedang belajar dan dievaluasi.
11. Peran guru juga berubah. Tugas khusus, baik dalam bentuk pekerjaan maupun dalam bentuk pengasaan pengetahuan dan keterampilan haru harus diidentifikasi secara jelas di awal.
12. Dengan cara itu maka siswa dapat memulai sesuatu yang berbaik skala kecil dan dari awal.

Pelatihan assement autentik ini tujuannya supaya peserta dapat membuat model Penilaian Otentik Berbasis Kelas (POBK) dan menerapkannya di kelas masing-masing. Ada beberapa kompetensi yang akan dimiliki peserta setlah mengikuti pelatihan ini, antara lain peserta mampu menjelaskan hakekat POBK dan fungsinya dalam pembelajaran, mendeskripsikan beberapa teknik penilaian otentik, dan menerapkannya di kelasnya.
Berikut gambaran proses pembelajaran:
– Kegiatan pelatihan ini dimulai dari pembicara memberikan stimulus ke peserta, untuk menarik simpati peserta trainer membacakan sebuah puisi secara unik (lucu). Seolah-oleh trainer adalah anak SD kelas 3 yang sedang membaca puisi dengan ekspresi penuh keluguan. Selanjutnya setiap peserta (atau beberapa perwakilan peserta) diminta untuk memberikan penilaian dengan skala 0 -100. Hasil penilaian dari peserta tentu berbeda-beda, maka jelaskan bahwa ini adalah contoh penilaian yang belum otentik karena masih bersifat subjektif dan tidak valid.
– Kemudian trainer memberikan rubrik Penilaian sikap sesama peserta, jadi peserta menilai peserta yang lain. Hal ini sebagai hiden dari penilaian otentik. (penilaian sikap).
– Trainer menjelaskan beberapa jenis penilaian otentik di slide presentasi.
– Trainer membagikan kertas yang berisi rubrik penilaian gambar
– Peserta diminta untuk melihat dua buah gambar anak SD kelas 2 yang bernama Ara yang ditampilkan di slide. Peserta lalu melakukan penilaian terhadap gambar tersebut dengan menggunakan form penilaian yang baru saja dibagikan tersebut. Peserta juga menghitung skor yang telah didapat. Hasil penilaian dari peserta kemudian dikumpulkan oleh fasilitator. Trainer kemudian menjelaskan bahwa penilaian yang baru saja dilakukan merupakan contoh dari penilaian otentik (produk).
– Trainer menutup sesi dengan kesimpulan, dan kata-kata semangat (motivasi) serta mengingatkan peserta agar mau dan mampu menerapkan materi yang telah didapat selama mengikuti pelatihan POBK.

Penerapan model penilaian otentik berimplikasi pada desain pembelajaran. Menguasai pengetahuan yang dinilai dengan model tes pilihan ganda. Pembelajaran harus dikembangkan sehingga menghasilkan produk belajar dalam bentuk pengetahuan dan ketrampilan menerapkan pengetahuan pada kehidupan nyata. Produk belajar siswa bersifat kontekstual.”



S1K112 – Belajar Memahami Anak

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang prinsip dan cara memahami anak sehingga guru bisa mengembangkan proses belajar yang efektif

Yulita Patricia Semet

Sekolah Cikal

Anak berulah di kelas, perlukah langsung dibawa ke psikolog?

Dalam kehidupannya sehari-hari, anak dapat mengalami berbagai isu. Isu tersebut bisa bersifat ringan atau pun berat, ia sadari atau bahkan tidak sadari. Namun umumnya isu ini dapat terlihat dari perilakunya sehari-hari. Padahal, isu ini dapat mempengaruhi berbagai aspek perkembangannya. Salah satunya adalah aspek akademik. Misalnya anak yang baru saja mengalami kematian orang tua dapat menampilkan perilaku sering menangis, tidak semangat belajar, tidak fokus, dan pasif.

Guru, sebagai orang dewasa terdekat dengan anak di lingkungan sekolah, memiliki posisi yg penting untuk membantu mengidentifikasi isu yang sedang dialami anak. Dengan menggunakan metode observasi yg sederhana, guru dapat melihat anak secara lebih obyektif. Lalu membantu menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan anak untuk selanjutnya diselesaikan secara mandiri atau dievaluasi lebih lanjut oleh psikolog.


BETTA NORA ALJUMNI

ALIFA KIDS

Memahami Anak untuk Proses Belajar Efektif

Awal

Kondisi awal kelas Tk B. Dimana Ananada dari kelas Tk A berpindah kelas ke Tk B, sebagian Ananda mampu mandiri, bertanggungjawab dan telah menemukan jati diri (percaya diri yang lebih baik) dan sebagaian Ananda lainnya masih perlu dibimbing dari segi mandiri dan percaya diri dalam melakukan sesuatu.

Tantangan :

– Ada Anak ABK

– Anak aktif (berbicara dan bergerak)

– Anak yang memiliki kecerdasan tubuh

– Anak yang pasif

Aksi :

  1. Akan mengidentifikasi Ananda baik dalam kebiasaan di kelas, interaksi ke teman dan di rumah melalui ngobrol dengan orang tuanya apa saja yang disukai oleh Ananda pada saat di rumah
  2. Saya mencoba membuat kesepakatan di dalam kelas, dan mendiskusikan kesepakatan kepada Ananda serta mendengarkan pendapat Ananda
  3. Mengajak Ananda untuk dapat terlibat aktif saat proses belajar dengan cara bermain tebak-tebakkan
  4. Memberi ruang gerak kepada Ananda yang memiliki kecerdasan tubuh dengan bermain sebelum masuk kegiatan inti pada hari itu
  5. Memberi kesempatan kepada Ananda berkebutuhan khusus untuk dapat mengekspresikan bakat yang dimilikikannya saat kegiatan seni atau memberi kesempatan untuk anak berkebutuhan khusus sebagai pemimpin

Perubahan

Ananda akan mendapatkan perubahan suasana kelas yang sangat kondusif dan tumbuhnya rasa empati terhadap sesama teman. Dengan anadanya pemimpin bergantian maka Ananda merasa di hargai keberadaannya di dalam kelas tersebut


Ela Susilawati

TK Alifa Kids

Mengembalikan Keceriaan Ananda yang Mogok Sekolah

Latar belakang

Tidak sedikit kasus mogok sekolah ini terjadi setiap tahunnya, dan ini cukup membuat resah guru dan orangtua. Akar masalahnya pun perlu dicari agar mendapat solusinya. Guru perlu menerapkan berbagai strategi untuk menyelasaikan kasus ini. Tidak lepas kerjasama dari orangtua pun dilakukan demi tercapainya tujuan bersama yaitu anak tidak mogok sekolah lagi bahkan merasa senang jika berada di sekolah.

Pertanyaan penelitian

  1. Apa yang menjadi penyebab anak mogok sekolah?
  2. Karakter/kecerdasan majemuk apa yang dimiliki anak?
  3. Apa yang menjadi kesukaan atau yang tidak disukai anak? Hal ini diperlukan sebagai celah mengenali anak.
  4. Merumuskan strategi apakah yang akan dipakai untuk solusinya?

Tinjauan teori

Setelah mengenali anak, lakukan pendekatan dengan anak, tak lupa kerjasama dengan orangtua pun perlu dibangun dengan menjalin komunikasi agar orangtua dapat menerapkan disiplin positif di rumah. Dengan disiplin positif, orangtua diminta untuk membuat kesepakatan di rumah agar ananda dapat memilah mana yang boleh atau yang harus dilakukannya.

Hasil riset

Dari beberapa kasus anak mogok sekolah, penerapan beberapa rangkaian solusi diatas ternyata cukup berhasil dalam menangani ananda yang mogok sekolah. Kuncinya adalah penerapan disiplin positif pada anak dilakukan secara konsisten di rumah maupun di sekolah.

Kesimpulan dan saran

Dari riset yang dilakukan pada kasus anak mogok sekolah ternyata beragam alasan dan penyebabnya. Letak solusi ada ditangan orangtua dan guru. Kerjasama kedua pihak ini menentukan keberhasilan tujuan yang ingin dicapai agar ananda kembali ceria pergi ke sekolah.


Putri Anthi Kurniawan

Madrasah TechnoNatura

Mendampingi Anak Menemukan Tujuan Keren Bersekolah

Persoalan yang ingin diselesaikan adalah memandu siswa menemukan tujuan keren bersekolah sehingga siswa yang tadinya sering datang terlambat menjadi bangga bila hadir ke sekolah tepat waktu.

Tujuan dan manfaat bagi peserta kelas, semoga bisa menularkan semangat menjadi guru detektif yang senang meneladankan kehadiran tepat waktu dan menganalisa penyebab siswa terlambat hadir dengan cara yang menyenangkan dan berdampak. Sebab selama ini hukuman fisik atau menasehati siswa seakan-alan adalah cara baku yang digunakan oleh banyak guru dan sekolah untuk menakut-nakuti siswa dan membuat efek jera. Kompetensi yang dipelajari dalam kelas ini adalah cara berdiskusi presisi menggunakan meta model dengan siswa yang sering hadir terlambat. Kemudian dikombinasikan dengan siklus guru merdeka belajar. Gambaran proses belajarnya kurang lebih menjelaskan apa itu meta model dan melakukan praktik meta model, dan mendiskusikan apa manfaat menerapkan siklus guru merdeka belajar di dalam kompetensi berdiskusi menggunakan meta model dengan siswa.


S1K113 – Menumbuhkan Minat Membaca

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara menumbuhkan minat membaca khususnya pada murid sekolah dasar

Lucia Astri Widyasih

Sekolah Cikal

Menumbuhkan Minat Baca Melalui Kegiatan Kelompok Literasi di Dalam Kelas

Kegiatan literasi seringkali berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis terutama apabila kegiatan literasi ini dilakukan di sekolah. Hal ini dikarenakan literasi tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Literasi yang dilakukan di sekolah diharapkan tidak hanya membaca dan menulis saja melainkan mampu mencakup keterampilan berpikir, memahami bacaan, berkomunikasi melalui gambar dan lisan.

Kegiatan kelompok literasi didalam kelas adalah salah satu proses penumbuhan minat baca pada anak mengingat bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, maka kegiatan literasi di dalam kelas ini perlu menerapkan strategi yang mampu merangkul semua kebutuhan dan keterampilan siswa.


Wawan Rudiyanto, S.Pd

SDN Ngadiluhur 1

Era digital yang terjadi saat ini tidak terlepas dari perkembangan tekhnologi informasi yang semakin tidak terbendung. Berbagai penemuan yang terkait TIK semakin memudahkan manusia untuk berhubungan dengan dunia yang tak terbatas. Informasi juga semakin deras bisa di akses dengan hanya sentuhan tangan. Yang lagi booming saat ini adalah smarthphone. Smartphone/android/gadet sudah menjadi “budaya” baru bagi kalangan masyarakat, tidak hanya di perkotaan tapi sudah sampai pelosok desa. Mulai orang dewasa sampai balita sudah tidak gagap lagi dengan smartphone. Seakan semua sudah tercukupi kebutuhan manusia dengan alat ini.

Perkembangan tekhnologi ini seperti pisau bermata dua. Disatu sisi, kemajuan ini sangat bermanfaat bagi manusia. Tapi di sisi lain juga membawa dampak sosial bagi masyarakat itu sendiri, terutama masyarakat pendidikan ( sekolah ). Salah satu yang paling kentara adalah digantikannya peranan buku dengan smartphone/android/gadet. Tapi sayangnya bagi kalangan pelajar tingkat dasar adanya gadget hanya dipakai sebagai sumber hiburan(game online dll) bukan sumber ilmu yang menggantikan buku. Akibatnya minat baca siswa sekolah dasar menurun drastis dan sangat berpengaruh terhadap proses belajar anak di kelas,

SDN Ngadiluhur I termasuk sekolah di lingkungan pedesaan yang juga merasakan imbas dari boomingnya era gadget ini. Banyak siswa yang tekun berjam-jam dengan gadgetnya daripada berada di perpustakaan untuk membaca. Pada saat ujian nasional, penulis merasa tersadarkan pengaruh dari rendahnya minat baca siswa terhadap hasil ujian. Bahkan selama proses belajar mengajar di kelaspun sudah terjadi. Banyak siswa ternyata kurang cakap dalam membaca (terbata-bata), kurang mampu memahami bacaan, kurang bisa menganalisa soal, rendahnya imajinasi siswa ketika disuruh membuat sebuah karya ( puisi, ringkasan cerita ataupun cerpen ) dan juga rasa kurang percaya diri ketika disuruh berbicara mengemukakan pendapatnya.

Dari permasalahan di atas, penulis akhirnya mengambil kesimpulan bahwa ketidakcakapan siswa dalam membaca maupun menganalisa soal dan yang lainnya disebabkan karena rendahnya minat baca. Maka penulis berinisiatif menjadikan budaya membaca sebagai sebuah kewajiban, yang nanti kedepannya diharapkan berubah menjadi kebutuhan siswa itu sendiri. Akhirnya penulis memutuskan menerapkan gerakan “Satu Murid Satu Buku Satu Minggu (SaMuSaBuSaMi)”. Sebuah cara untuk “memaksa” siswa kembali mencintai buku sebagai sebuah kebutuhan.

Teknis pelaksanaannya adalah sebagai berikut : 1) Siswa diwajibkan membaca satu buku non pelajaran dalam satu minggu; 2) Siswa membuat resensi buku/ringkasan dari buku yang dibaca secara sederhana; 3) Setelah satu minggu,Guru meminta siswa menyampaikan isi buku dari yang dibaca dan memberi umpan balik; 4) Membuat karya tulis dari apa yang dipahami siswa berupa antologi puisi, cerpen atau apapun sebagai penghargaan hasil belajar siswa tiap semester; 5) Mengajak orang tua dalam paguyuban kelas sebagai reading partner siswa di rumah.

Dari pelaksanaan kegiatan tersebut ternyata dapat melejitkan ke-4 aspek ketrampilan berbahasa siswa mulai dari menyimpulkan, berbicara, membaca, dan menulis. Sehingga berdampak langsung dengan hasil belajar siswa. Dan yang tidak kalah penting, peranan orang tua sebagai reading partner siswa di rumah berjalan sangat efektif dan kepercayaan orang tua terhadap proses belajar di sekolah juga meningkat.


Karin Karina

KinaryaGagas dan Sekolah GagasCeria

Program Pustakawan Cilik

Salah satu masalah yang dihadapi oleh pendidikan di Indonesia adalah kurangnya minat baca anak. Sehingga kemudian pemerintah pun mulai gencar menjalankan program GLS. Berbagai cara dilakukan untuk menjadikan baca sebagai budaya. Sebagai jantung sekolah, perpustakaan memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan budaya baca di sekolah.

Sebagai pengelola perpustakaan, sudah menjadi tanggungjawab kami untuk ikut berperan dalam peningkatan budaya baca ini. Salah satu cara agar anak mau membaca buku, adalah anak mau dekat dan berkunjung ke perpustakaan. Tidak cukup hanya dengan koleksi buku yang menarik, namun perpustakaan juga seyogyanya mengadakan berbagai kegiatan yang dapat memancing minat anak untuk berkunjung dan berkegiatan di perpustakaan.

Untuk itu, salah satu program yang kami adakan dalam upaya mendekatkan anak dengan perpustakaan dan buku adalah program PUSTAKAWAN CILIK (puscil). Dalam kegiatan ini, 12 anak kelas 3 – 5 yang terpilih dari form lamaran yang mereka kirim, diajak untuk mengenal profesi pustakawan, membantu pustakawan melaksanakan tugasnya, berkarya, merawat buku, berkegiatan dengan menggunakan buku selama 1 semester. Anak diajak untuk piket membantu pustakawan secara bergiliran dan berkegiatan rutin bersama seminggu sekali. Anak yang berhasil melakukan tugas dengan baik sebagai pustakawan, akan diajak jalan-jalan ke perpustakaan lain, atau ke tempat yang berkaitan dengan buku dan literasi.

Program puscil ini telah berjalan selama 4 tahun, dengan berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak dan perpustakaan. Tentunya kegiatan disesuaikan kapasitas pustakawan yang tetap berperan sebagai pendidik. Namun demikian, dari kegiatan ini, pustakawan belajar banyak dari anak, melalui tanggapan-tanggapan/reaksi positif dari yang diberikan pada saat kegiatan. Sedangkan anak belajar banyak hal dari perpustakaan. Bisa memberitahu temannya tentang cara mencari buku di perpustakaan, cara merawat buku, mengajak temannya ke perpustakaan, dan alangkah senangnya ketika kemudian mereka juga berminat kembali mendaftar untuk program pustakawan cilik ini di semester berikutnya.


SUHUD ROIS

SD PERADABAN INSAN MULIA CIMAHI

Menumbuhkan Minat Baca melalui Read Aloud

Menumbuhkan minat membaca, terutama di kelas bawah (kelas 1- 3 SD) mempunyai peran strategis untukmembentuk generasi yang literat. Sayangnya upaya menumbuhkan kecintaan kepada buku menjadi kegiatan yang membosankan.

Membosankan karena sedikit sekali inovasi di dalamnya. Anak disuruh membaca, itu saja. Kalau ada tindak lanjut, paling menuliskan rangkuman isi buku. Hal ini membuat kegiatan membaca jadi tidak menarik.

Salah satu cara menjadi budaya membaca lebih berdaya adalah dengan Read Aloud. Read Aloud bukan hanya membaca nyaring. Read Aloud mengajak anak memahami cerita secara utuh, sampai ke emosi tokoh dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Bahkan juga bisa mengeskplor semua konten buku, termasuk ilustrasinya.

Kegiatan setelah membaca juga sangat banyak, dan semuanya mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills). Anak-anak mendapat saluran berekspresi yang lebih beragam.



S1K114 – Menumbuhkan Murid Merdeka Belajar

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara membantu murid untuk tumbuh menjadi murid yang merdeka belajar: murid yang mengenali kebutuhan dan emosinya serta mampu mengatur sendiri perilakunya.

NUR AFNI DG NUSU

Sekolah Cikal

Mengajarkan kemampuan regulasi emosi pada anak

Kemampuan meregulasi emosi pada anak adalah kemampuan seorang anak dalam mengontrol emosi yang ada di dalam dirinya. Dalam hal ini emosi yang dimaksudkan bukan hanya marah, tapi juga saat mereka merasa senang, sedih, takut, kaget dll.

Pertanyaannya adalah apakah anak tidak boleh marah? tidak boleh sedih? tidak boleh takut ataupun kaget? Jawabannya “”boleh””, hanya saja yang dibutuhkan adalah bagaimana seorang anak mampu mengontrol diri agar tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan. Jika seorang anak mampu mengontrol dirinya agar tetap tenang dan tidak bereaksi secara berlebihan maka dapat dikatakan anak tersebut memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik.

Apakah kemampuan meregulasi emosi pada anak berdampak pada kegiatan belajarnya? Iya, karena anak akan mengalami kendala saat belajar ketika sedang marah, sedih, takut ataupun senang. Jika situasinya dalam kondisi belajar di kelas, maka akan berdampak pada diri anak itu sendiri dan juga lingkungannya. Sehingga setiap anak memerlukan kemampuan regulasi emosi yang baik agar proses pembelajaran berjalan secara efektif.


Amalia Jiandra Tiasari

Komunitas Guru Belajar

Merdeka Belajar dalam Belajar Naik Sepeda

Salah satu kegiatan untuk menstimulasi motorik kasar di usia dini adalah menaiki sepeda. Di lapangan ada beberapa kendala ketika melakukan kegiatan stimulasi ini. Salah satunya yang saya temui, seorang anak berbadan tinggi dan gemuk mengalami kesulitan ketika belajar naik sepeda. Guru sekolah anak usia dini pada umumnya mengajak belajar naik sepeda dengan di tuntun dan dipegangi dari belakang. Namun hal tersebut menjadi kendala ketika anak yang berbadan tinggi dan gemuk belajar naik sepeda.

Sebelumnya guru2 TK A anak tersebut bercerita betapa pegalnya ketika harus memegangi dari belakang ketika anak tersebut belajar naik sepeda saat TK A. Sedangkan anak tersebut belum bisa sama sekali sehingga menurut guru saat TK A harus dituntut pelan-pelan. Hal ini tantangan untuk saya mencari ide agar anak tersebut bisa belajar naik sepeda dengan mandiri sekaligus bisa belajar mengevalusi hasil belajar dan menentukan tujuan belajarnya sendiri.

Akhirnya saya membantunya belajar naik sepeda dengan media video. Sebelumnya saya ajak dia untuk mengamati temannya yang sudah bisa naik sepeda. Saya mengajak diskusi kira-kira apa langkah awal yang harus dilakukan ketika belajar naik sepeda. Proses selanjutnya saya sebagai fasilitator merekam setiap dia berlatih naik sepeda. Dari hasil rekaman tersebut, saya mengajaknya berdiskusi apa yang perlu diperbaiki dan besok akan belajar apa. Proses tersebut kami jalani setiap hari dan video tersebut dikirim kepada orang tua agar bisa dilanjutkan di rumah. Kurang lebih selama 1 bulan ananda bisa menaiki sepeda sendiri. Saya mengajak ananda refleksi apa yang dia rasakan dari awal tidak bisa sama sekali akhirnya bisa naik sepeda. Sekarang anak tersebut sudah kelas 1 SD. Hal tersebut masih diingat sampai sekarang dan menurutnya hal tersebut membuat dia tidak mudah menyerah ketika dia merasa tidak bisa pelajaran tertentu ketika di SD.


Sayidah Nafisah

Sekolah Islam Umar Harun

MENGEMBANGKAN KONTROL DIRI MELALUI PARTISIPASI DAN KESEPAKATAN

Tiga tahun yang lalu, sekolah kami, TPA-KB-TK Islam Umar Harun memulai langkahnya memberikan pelayanan pendidikan kepada masayarakat sekitar. Kami meyakini, setiap anak membawa potensi unggulnya masing-masing. Dalam pelatihan guru, kami diajarkan untuk tidak melalukan 3 M; tidak marah, tidak memaksa dan tidak menghukum murid.

Tahun pertama merupakan tahun terberat bagi kami. Suasana belajar saat itu masih terasa bagai sebuah tekanan. Tangisan, teriakan, dan pertengkaran antar murid menjadi hal yang kami temui setiap hari. Sebagai guru yang baru pertama kali mengajar, tentu hal ini sangat menguras tenaga. Sedikit-demi sedikit kami mulai membuat beberapa aturan dan pembiasaan yang kami sampaikan secara lisan. Seluruh pembuatan aturan kegiatan didominasi oleh guru, guru yang menentukan dan murid diharapkan untuk mengikuti. Namun pada kenyataannya, kebanyakan murid masih belum bersedia menerima aturan tersebut. Setelah melalui proses pendekatan dengan tetap berpegang pada aturan tidak melakukan 3 M tersebut, murid mulai bisa menerima aturan-aturan walau sebatas mengiyakan secara lisan. Sementara, untuk menjalankan aturan tersebut dengan baik, murid masih butuh pijakan secara terus menerus. Energi guru banyak terkuras untuk memberi pijakan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kami mencoba melibatkan murid dalam pembuatan sebuah aturan, sehingga aturan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama. Perubahan baikpun terjadi. Dengan partisipasi murid, rasa tanggung jawab dan kontrol diri mulai berkembang. Mereka bersedia menaati dan menjalankan kesepakatan tersebut dengan baik, bahkan tanggung jawab sosial pun mulai muncul, satu dan yang lain mulai saling mengingatkan. Mereka siap mengikuti kegiatan dengan baik. Melihat hal ini kami memberanikan diri untuk membuat penataan ruang dengan konsep kelas terbuka dan zonasi. Konsep ini kami lakukan dengan tujuan untuk membiasakan sikap tanggung jawab, disiplin, dan fokus pada pekerjaan dimanapun berada. Kami meyakini, kontrol diri dimulai dari hati dan pikiran, bukan dari batasan tembok dan pintu.


Ilham Fauzi

Sekolah CIkal

Penerapan Essential Agreement saat Shalat Berjama’ah

Murid-murid tidak fokus saat shalat. Banyak murid masih bercanda dalam shalat. Ada beberapa murid yang bercanda dan yang lainnya ikut bercanda. Ada murid yang melakukan kesalahan dan akhirnya ditertawakan membuat kondisi shalat tidak fokus. Ada murid yang memaksa menjadi Imam namun dia sendiri tidak fokus dan khusyu shalatnya

Murid belum bisa diajak kerja sama saat shalat karena jika satu ditegur yang lain bercanda. Beberapa murid hafalan shalatnya belum lancar menyebabkan dia bercanda. Murid – murid belum peduli pada temannya yang belum khusyu atau fokus shalatnya.

Di jam pelajaran agama murid diajak menonton video shalat berjama’ah. Lalu, diajak berdiskusi tentang keadaan shalat berjama’ah pada video itu. Hasil diskusi direfleksikan dengan kondisi shalat berjama’ah mereka dikelas. Hasil refleksi menjadi acuan kesepakatan atau Essential Agreement untuk shalat berjama’ah

Murid lebih tenang saat shalat berjama’ah dikelas. Dalam shalat berjama’ah dikelas makin berkurang yang bercanda dan tidak fokus saat shalat. Setelah shalat murid yang fokus mengingatkan murid yang masih bercanda atau tidak fokus saat sholat.



S1K115 – Ragam Strategi Belajar Anak Usia Dini

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara belajar untuk anak usia dini sambil mengeksplorasi alam sekitar.

Rolland C Padjoe

Sekolah Cikal

Strategi Mengajar Berbasis Inkuiri pada Anak Usia Dini

Apakah itu Inkuiri? Makna Inkuiri di Oxford Dictionary yakni enquiry yang berarti “Ask somebody for about something, investigation” atau “Act of asking question or collecting information about something or somebody”.

Apa kelebihan dan kekurangan inkuiri? Karena dalam setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan tetapi setiap guru memiliki cara dan strategi dalam melakukan proses pembelajaran

Bagaimana menggunakan strategi mengajar berbasis inkuiri pada usia dini?

Inkuiri adalah aktivitas yang menyenangkan untuk menggali kemampuan Anak untuk mencaritahu dan mencari jawaban dari setiap permasalahan dan guru adalah Fasilitator.

Inkuiri pada usia dini adalah bagian proses menambah kematangan Anak dalam menyelesaikan masalah secara mandiri dan menstimulasi strategi berpikirnya.


Anik Puspowati

Sekolah Alam Arridho

Belajar di Luar Kelas pada Anak Usia Dini

Masa prasekolah adalah masa yang sangat krusial dalam pendidikan seorang anak. Karena anak pada rentang usia 0-6 tahun tersebut banyak disebut orang sebagai masa emas perkembangan anak, karena otak anak mampu menyerap informaasi hingga 80 persen. Dan di masa-masa ini anak mulai terbentuk aspek perkembangannya: kognisi, bahasa, fisik-motorik, sosial emosi,moral, kemandirian, dan lain-lain.

Menghadapi hal tersebut maka saya sebagai guru ingin memaksimalkan aspek-aspek perkembangan anak didik saya secara menyenangkan dan bermakna. Belajar yang menyenangkan dan langsung pada objek pembelajaran membuat anak akan mampu mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang dimilikinya.

Metode yang saya gunakan adalah outing (belajar di luar kelas) atau Belajar bersama alam istilahnya. Ketika anak belajar tentang binatang ternak, saya ajak mereka untuk mengunjungi kandang kuda pacu yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Di sana anak bisa bereksplorasi dan bisa secara tidak langsung menumbuhkan aspek-aspek perkembangannya.

Dengan kegiatan belajar bersama alam ini anak-anak semakin mendapat pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.


Juliasih

SD GagasCeria

Belajar Berhemat Melalui Mendongeng
Di kelas 1 SD GagasCeria, Bandung

Bermula dari merebaknya musim squeeshy (mainan yang diremas dan akan segera kembali ke bentuk semula) di sekolah. Beberapa anak membawa dan memainkanya di sekolah. Pada
awalnya guru tidak begitu memperhatikan. Namun ketika salah satu anak mengatakan bahwa dia memiliki lebih dari 30 buah squeeshy dengan harga Rp 250-300 ribu, terhenyak lah kami. Dia pun mengatakan bahwa banyak anak yang memiliki koleksi tersebut.
Hal itu membuat saya sebagai guru merasa perlu mengajak mereka untuk hidup hemat dan menggunakan uang jajan dengan bijaksana. Saya merasa ini akan menjadi suatu tantangan mengingat sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga menengah ke atas.
Berhemat merupakan gaya hidup yang sebaiknya dimulai sejak kecil melalui pembiasaan karena ini akan berpengaruh pada masa depan anak. Bila buruknya nilai hidup konsumtif tidak ditekankan pada anak, maka anak akan tumbuh menjadi sosok yang boros dan tidak dapat menghargai nilai barang. Hal itu akan berdampak pula pada tumbuhnya sumber daya manusia yang kurang berkualitas.
Saya mengajar kelas 1 di SD GagasCeria. Saya mengajak mereka mendengarkan cerita “Mobil-mobilan Dido” dari buku Tunas Integritas KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang menceritaan tentang Dido yang menginginkan mobil-mobilan yang bagus tapi tidak mempunyai uang yang cukup untuk membelinya. Disini Dido menghadapi dilema. Apakah harus melakukan hal jujur atau tidak untuk mendapatkannya.
Setelah mendengarkan cerita, anak diajak melakukan refleksi dan ditanya apa yang akan dilakukan jika memiliki uang. Setelah itu, mereka diminta untuk menggambarkannya. Jawabannya sangat beragam di dalam gambar yang mereka buat. “Aku akan memberikannya pada yang butuh.”, “Akan menabung.”, “Aku akan membeli barang yang lebih dibutuhkan.”, “Uangnya akan dikasih ke mamah.” Saya sangat senang melihat ekspresi karya mereka. Terlebih mereka anak kelas satu yang baru belajar menulis. Saya melihat proses mereka ketika ingin menuangkan kata demi kata yang merupakan pemikiran mereka dan merangkaikannya dalam satu kalimat. Mereka melakukannya dengan luar biasa!


Semoga hal itu menjadi salah satu pembentuk mereka menjadi manusia yang berkualitas.
Aamiin.



S1K116 – Menjadi Sekolah Belajar

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara yang memotivasi dan memfasilitasi guru untuk terus menerus belajar.

Nadia

Sekolah Islam Umar Harun

Meningkatkan Kualitas Guru Melalui Kegiatan Refleksi dan Sharing Bersama

Tiga tahun yang lalu, Yayasan Umar Harun merintis pendirian lembaga pendidikan anak usia dini. Di awal tahap perencanaannya, kami tidak menyangka bahwa hal yang akan kami hadapi adalah hal yang serius dan besar. Dalam bayangan kami, lembaga pendidikan anak usia dini adalah sebuah lembaga non formal, lembaga pendidikan pra sekolah, tempat anak-anak berkumpul dan bermain, yang dapat berjalan dengan sendirinya tanpa pengelolaan yang rumit. Sebagai yayasan baru, kami menyadari pengalaman kami yang masih minim. Maka kamipun mencari informasi lebih dalam lagi mengenai lembaga pendidikan anak usia dini ini dengan membaca buku-buku parenting dan berkunjung ke lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang sudah lebih dulu memberikan baktinya untuk pendidikan anak bangsa. Dari proses pencarian informasi tersebut kami menemukan sebuah dunia baru yang sangat serius dan menantang, yaitu dunia anak dengan segala keunikan dan keunggulannya serta pentingnya mengenali, mengapresiasi dan mengembangkan semua potensi anugrah Tuhan tersebut.

Di tahun pertama, ada fenomena aneh di sekolah kami. Ada sekitar 15 anak yang dipercayakan kepada kami. Mereka didampingi oleh 2 guru tetap dan 50 an mahasiswa volunteer yang bergiliran melaksanakan tugas pendampingan. Hampir semua guru tidak memiliki latar belakang ilmu keguruan. Maka untuk membekali para guru, pihak yayasan mengirim beberapa guru ke sejumlah pelatihan dan magang, mengundang narasumber praktik pendidikan, dan bahkan menandatangani MoU dengan tim konsultan sekolah, kontrak kerjasama selama 1 tahun. Dengan melihat perbandingan jumlah pendidik yang lebih banyak daripada anak didiknya, dan juga melihat pelatihan-pelatihan guru yang telah dijalani, kami dari yayasan merasa semua akan baik-baik saja, tanpa masalah. Pembinaan dari yayasan lebih pada pengalaman menjadi wali murid. Yayasan mengelola sekolah ini lebih banyak dari sudut pandang orang tua wali murid. Beberapa praktik baik yang kami dapatkan dalam buku-buku bacaan dan pelatihan, kami terapkan semampu kami semaksimal mungkin. Tapi ternyata pengalaman langsung tak semudah teori dalam buku dan pelatihan. Suasana pembelajaran berlangsung melelahkan. Anak didik masih kental dengan suasana rindu rumah. Suara teriakan, tangisan dan pertengkaran antar anak didik terjadi setiap hari, hingga kadang meluluhkan semangat para guru kami. Kesalahpahaman antar guru pun kadang terjadi. Kerjasama sebagai sebuah tim pengemban amanah pendidikan mulai sedikit goyah. Segala macam kegiatan pembelajaran dilakukan dengan persiapan yang minim. Setelah pembelajaran, secara rutin kami melakukan evaluasi harian, tapi kegiatan ini lebih mirip mengevaluasi anak, mendudukkan anak sebagai objek pendidikan. Puncaknya pada saat penerimaan raport di semester pertama, laporan perkembangan anak belum sepenuhnya selesai dibuat padahal orang tua sudah antri menunggu. Ternyata banyaknya jumlah pendidik dan pelatihan yang diikuti tidak serta merta menunjukkan pendampingan dan bimbingan serta layanan pendidikan yang berkualitas.

Kami melakukan refleksi dan sharing bersama. Kami mulai menggali pertanyaan; Apa yang sudah kami dapatkan dari pelatihan? Apa yang sudah kami dapatkan dari buku-buku? Apa yang sudah dapat kami terapkan untuk anak didik kami? Apa yang sudah kami lakukan untuk anak didik kami? Apa perubahan baik yang sudah muncul dari anak didik kami? Apa yang ingin kami lakukan lebih untuk anak didik kami? Apa yang ingin kami tingkatkan? Apa yang ingin kami capai? dan pertanyaan-pertanyaan reflektif lainnya. Kami mencoba menggunakan pertanyaan-pertanyaan reflektif tersebut untuk mengawali kegiatan evaluasi harian sekolah. Kami jalin lagi kekuatan tim pendidik melalui kegiatan sharing bersama ini. Suasana kebebasan berpendapat, saling mendukung, memberi dan menerima saran, kemerdekaan berekspresi dan berkreasi mulai terbangun. Ide-ide kegiatan untuk meningkatkan kualitas guru mulai muncul. Tim guru mencoba merumuskan perencanaan dan target kegiatan tersebut. Diantara kegiatan-kegiatan up grading guru yang sudah berhasil dilakukan adalah mengundang narasumber pendidikan, pengiriman delegasi guru untuk mengikuti pelatihan, sharing materi pelatihan, program guru membaca, program guru menulis, program bedah buku, dan pelatihan untuk guru-guru dari sekolah lain. Walau tentu saja semua program itu masih berupa program awal, yang masih jauh dari kesempurnaan, tapi ada satu hal yang kami dapatkan, bahwa dengan komunikasi yang baik, refleksi yang bermakna, dan sharing bersama ini kami bisa menghadapi tantangan, membangun kerja tim yang solid, meningkatkan kualitas guru, dan bersemangat untuk berkarya bagi pendidikan generasi bangsa.


Muhammad Niamil Hida

MI Kranji 01 Kedungwuni Pekalongan

Obsesi: Menjalankan Hak Belajar Guru

Memenuhi Hak Belajar Guru sanagat penting dalam dunia pendidikan sekarang, dengan pesatnya perkembangan dunia yang juga berimbas pada perubahan berpikir, gaya hidup manusia. Perubahan itu juga berpengaruh pada dunia pendidikan, dimana pendidikan dituntut untuk bisa menyiapkan generasi penerus selanjutnya yang siap menghadapi tantangan zaman.

Saya yakin hampir semua guru sadar akan kondisi tersebut, akan tetapi peluang untuk bisa mengikuti pelatihan sangat terbatas. masalah waktu pelatihan juga sering menjadi hambatan sehingga guru tidak mendapat ijin dari pimpinan, karena meninggalkan kewajiban mengajar.

Untuk mengatasi permasalahan diatas, kami mencoba membuat iklim belajar di sekolah kami sendiri sebagai wujud usaha untuk memenuhi hak belajar guru, diantaranya:
1). OBSESI (OBrolan SEnin SantaI) kegiatan ini dilaksanakan setiap senin siang setelah jam pulang sekolah, pembahasnya meliputi:
a. Bedah Buku: dalam kegiatan ini setiap guru mempresentasikan strategi pembelajaran yang seru, yang menyenangkan dll. Yang bersumber beberapa buku strategi pembelajaran berbasis Multiple intelligent maupun yang lain.
b. Membahas Apersepsi dan evaluasi pembelajaran : selain strategi pembelajaran menurut kami hal ini juga sangat mempengaruhi keberhasilan sebuah proses pembelajaran. Diantara hasil diskusi yaitu guru bisa menciptakan suasana belajar yang seru seperti :
– apersepsi : perang kolosal (B.Indonesia- pengumuman)
– evaluasi/refleksi : dengan strategi dramatic, mencari harta karun, dll.
2). IHT dilaksanakan di jam setelah PTS waktu tersebut tidak mengganggu kewajiban guru. Pembahasan di IHT biasanya berkaitan dengan pelatihan ketrampilan guru yang lebih butuh waktu yang lebih banyak, seperti materi Public speaking, edit video dll. Yang pematerinya juga lebihlebihdari fokus dari guru kami sendiri seperti kegiatan OBSESI, dan beberapa kali mengundang pembicara dari luar jika diperlukan. Dengan harapan guru mampu menemukan dan memupuk karier guru.

Saya yakin walau dengan usaha kami dalam memenuhi hak belajar guru sudah “terlihat” terencana, kami merasa belum bisa memenuhi kebutuhan belajar guru, karena pesat dan banyaknya ilmu yang harus dipelajari guru, semoga kami bisa berkolaborasi dengan anda.


Mala Rejeki Manurung

“Kemerdekaan:Bagaimana Program Eksibisi dapat menjadi sarana pengembangan guru?
Tulisan ini awalnya dibuat dalam rangka menuliskan laporan akhir sebagai syarat akhir mengikuti Program Penataran Guru di Universitas Fukui, Jepang selama 1,5 tahun. Laporan ini adalah tulisan reflektif penulis menjadi Kordinator Primary Years Programme (PYP)/ Program Tingkat Dasar (PTD) di suatu Sekolah Dasar.

Penulis juga menambahkan beberapa saran yang dapat diaplikasikan dalam konteks yang dapat diterapkan bagi sekolah-sekolah umum yang tidak menerapkan program International Baccalaureate (IB). Pertanyaan utama yang mendasari tulisan ini adalah Bagaimana Program Eksibisi dapat menjadi sarana pengembangan guru?

Eksibisi merupakan suatu kejadian signifikan dalam kehidupan siswa dan sekolah PTD, yang menyatukan unsur-unsur esensial PTD dan membagikannya ke seluruh komunitas sekolah. Banyak hal yang dibukakan selama proses Eksibisi tersebut yang tidak hanya mengenai pembelajaran siswa, akan tetapi juga mengenai pembelajaran seluruh komunitas sekolah, diantaranya guru. Sebagai suatu pengalaman puncak, Eksibisi merupakan suatu kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan karakter profil pembelajar yang telah dikembangkan selama keterlibatan mereka dalam PTD.

Pada proses Eksibisi, kemerdekaan siswa dalam belajar difasilitasi oleh para guru. Pada awalnya guru yang dilibatkan adalah hanya guru kelas 5 SD. Pada perjalanannya, beberapa perwakilan guru dari mulai Tingkat Taman Kanak-Kanak sampai kelas 4 SD dilibatkan dalam proses Eksibisi sebagai pembimbing (mentor). Eksibisi juga menjadi kolaborasi dan refleksi para guru tidak hanya guru kelas lima tetapi juga guru yang mengambil bagian menjadi pembimbing (mentor) selama proses pembelajaran yang telah dilakukan.

 Hal-hal yang akan dijelaskan dalam presentasi nantinya adalah:
a. Awal Pelaksanaan: Proses Eksibisi saat hanya melibatkan guru kelas 5 SD.
Peran guru kelas 5 SD cukup berat dibandingkan guru-guru pada tingkat sebelumnya mengingat proses Eksibisi yang cukup menantang dalam prosesnya ,
b. Tantangan dalam melibatkan para pembimbing dari awal sampai tahun keempat .
Tahun pertama, peran pembimbing mulai dilibatkan dengan masih didominasinya keterlibatan guru kelas lima. Para pembimbing menyadari adanya beban lain selain tugas utama sebagai guru di kelas masing-masing.
Tahun kedua, mulai banyak kekuatiran dan penolakan dari pembimbing yang ditugaskan. Porsi beban peran pembimbing mulai ditingkatkan dari tahun sebelumnya. Adanya kebijakan menjadi pembimbing selama dua tahun juga ditetapkan mengingat pentingnya proses refleksi dan regenerasi para pembimbing.
Tahun ketiga, Kriteria Pembimbing diperluas dengan melibatkan tidak hanya guru kelas, tetapi juga guru bidang studi.
Tahun keempat, Para guru PTD sudah menerima kebijakan untuk menjadi pembimbing.
c. Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam proses melibatkan para guru
Sebagai contoh: Pengaturan Jadwal Pelajaran pada awal tahun ajaran, Sosialisasi program Eksibisi pada seluruh guru Sekolah Dasar, Rapat Koordinasi para pembimbing dan Guru Kelas, Pembagian peran guru kelas dan pembimbing, dll.
d. Perubahan/ Pembelajaran
Berdasarkan refleksi yang dilakukan, para pembimbing menyadari pentingnya peran sebagai fasilitator dalam eksibisi, pembelajaran yang mereka dapatkan, dan melihat bagaimana proses penilaian sumatif dalam PTD menolong para guru menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat.”


S1K117 – Mengembangkan Minat dan Bakat Murid

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara membantu murid sekolah menengah dalam mengasah kemampuan regulasi diri yang penting untuk mengembangkan minat dan bakat mereka.

Puti Almirsha Hamid

Sekolah Cikal Serpong


PI Time: Sebuah kesempatan berkreasi dan inovasi bagi para generasi langgas

Pernahkah anda bertemu dengan seseorang yang tidak menikmati pekerjaannya dan hanya melakukan rutinitas sehari-hari tanpa semangat? Atau pernahkah anda berbincang dengan teman yang terlihat tidak mengetahui apa yang menjadi minatnya dalam hidup? Saya yakin, anda pasti pernah satu atau dua kali menemui orang-orang tersebut. Saya pribadi juga pernah melihat hal tersebut dalam lingkungan sekolah. Siswa selalu dalam proses mempersiapkan diri untuk ujian demi ujian, tugas demi tugas, sampai pada waktu kelulusan dan para siswa tidak memiliki kesempatan untuk berefleksi dan mengetahui apa yang sebenarnya menjadi minat mereka. Terkadang, kita sebagai pendidik lupa bahwa ada siswa yang memiliki pemikirannya sendiri, memiliki kebutuhan untuk didengar dibandingkan “dicekoki” dengan konten yang harus dipelajari agar semua tujuan pembelajaran tercapai. Jiwa dan kesenangan dari proses belajar pun lama kelamaan menjadi sirna dan siswa hanya menjalankan rutinitas sehari-hari tanpa bisa mengambil makna dari pembelajarannya. Lalu bagaimana mengubahnya?

Kenalkan, “PI Time”.

Apa itu “PI Time”?. Dalam dunia pendidikan progresif, ada banyak sekali istilah lain dari konsep ini. Sebut saja “Genius Hour”, “20 Time Project” namun semua bermula dari satu ide yang diadopsi dari perusahaan Google yaitu memberikan alokasi waktu bagi karyawannya untuk mengeksplorasi dan mempelajari apa yang menjadi minat mereka. Hasilnya? Produktifitas meningkat! Konsep ini dinilai berhasil dalam meningkatkan rasa kepemilikan atas proses belajar para karyawan Google sehingga konsep inipun diadopsi ke bentuk sekolah.

Di Sekolah Cikal Serpong tempat saya mengajar, saya mencoba metode ini dan menamakannya dengan “PI Time” dengan kepanjangan Personal Inquiry Time. Sesuai dengan namanya, saya menyediakan waktu yang dialokasikan setiap minggunya agar siswa dapat melakukan proses belajar inkuiri secara personal. Personal disini adalah siswa dapat menentukan apa yang menjadi fokus utama dari risetnya lalu menyusun waktu belajarnya, dengan kecepatan belajar yang sesuai dengan dirinya yang pada akhirnya proses tersebut dapat dipertanggungjawabkan pada akhir semester. “PI Time” ini juga sebagai jawaban dari empat aspek yang sebaiknya disediakan oleh suatu sekolah bagi peserta didiknya yaitu; akses (access), prestasi (achievement), identitas (identity), wewenang (power).

Perjalanan “PI Time” kami pun dimulai dengan menggulirkan ide ini kepada orangtua dan siswa yang menyambutnya dengan penuh rasa semangat. Saya mengumpulkan beberapa guru SMP yang mempunyai minat yang sama dan bersama kami mengatur persiapan “PI Time” ini. Hingga saat ini, kami sudah memasuki minggu keempat dan setiap minggunya kami selalu dikejutkan dengan betapa terasa sekali semangat para siswa dan bagaimana mereka melampaui ekspektasi kami, para pendidik. Kami dapat melihat ambisi di mata para siswa, mereka dengan inisiatif mencari kami dan berkonsultasi dengan kami bahkan di luar waktu “PI Time”.

“Aku akan menyediakan berbagai kisah sukses perempuan dalam sejarah melalui website yang dapat diakses oleh sesama pelajar di Indonesia”

“Laut dan semua di dalamnya menjadi minatku, untuk itu aku akan menulis mengenai laut Indonesia dan bagaimana kita sebagai warga negara Indonesia dapat terus melestarikan laut Indonesia agar terus menjadi sumber kekayaan kita sampai masa mendatang”

“Aku tidak tahu apa-apa mengenai animasi, namun aku sangat suka melihat video animasi. Untuk itu, aku akan keluar dari zona nyamanku dan aku akan membuat satu video animasi.

Contoh diatas adalah sedikit kutipan yang saya ambil dari hasil percapakan saya dan siswa kelas 7 dan 8 mengenai project inkuiri personal mereka. Menakjubkan bukan?

Seringkali kita terlena dan melupakan kenyataan bahwa pada akhirnya, fokus utama dari tugas kita sebagai pendidik adalah para siswa. Merekalah yang menjadi alasan kita mendidik, mereka pula yang akan menjadi penerus bangsa ini. Saya pribadi ingin berkontribusi dalam membentuk generasi langgas yang memiliki kesempatan untuk eksplorasi, analisa dan menciptakan sesuatu yang memiliki makna bagi mereka. Dibandingkan meminta siswa untuk menulis esai mengenai makna dari sebuah novel yang dipilihkan oleh guru, mengapa tidak kita berikan mereka ruang untuk menulis drama, membuat lagu, berkolaborasi dalam menjelaskan konflik dari sebuah novel pilihan mereka? Dengan adanya “PI Time”, kita memberikan ruang bagi para siswa untuk menyuarakan pemikirannya, memberikan tantangan dan mendorong mereka untuk menggeluti subjek tertentu sesuai dengan minat mereka.


Ida Purwanti Styaningsih

INSPIRATOR INDONESIA

Sistem Rumah Passion

  1. A) LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan pilar suatu Bangsa untuk berdiri kokoh. Seiring berjalannya Zaman, peran pendidikan semakin digencarkan dan masyarakat mulai menyadari pentingnya pendidikan bagi setiap anak. Namun 12 tahun belajar menjadi pertanyaan sendiri apakah setiap materi yang disampaikan dapat dipahami oleh siswa dan dapat menunjang kehidupan siswa kedepan. Minat baca tentu memiliki korelasi terhadap mutu pendidikan di Indonesia. Kenyataannya Indonesia masih menduduki nomor dua terendah terhadap minat baca. Rendahnya daya tangkap siswa bukan mengindikasikan bahwa siswa tersebut bodoh karena saya percaya tidak ada siswa yang bodoh yang ada adalah ia belum menemukan guru yang tepat.Rendahnya daya tangkap siswa berkorelasi dengan rendahnya semangat belajar siswa tersebut. Saya sebut di Indonesia mengacupada pembelajaran segala arah. Pembelajaran yang segala arah ini diharapkan anak akan mengerti apa yang menjadi bakat, kemauan, dan kemampuannya. Lalu siswa mulai menentukan, berfikir keras dan bertanya “Apa yang menjadi bakatku dan program yang dapat menunjang hidupku kelak?” selepas SMP (umur 14-15 tahun) untuk siswa yang melanjutkan SMK dan penentuan menelusur bakat, minat, dan kemampuan saat menduduki di Kelas II SMA (umur 16-17). tentu waktu yang lama untuk kita bisa memaksimalkan kemampuan dan kemauan setiap siswa. Sehingga masa umur dibawah 15 tahun cenderung siswa mulai malas karena tidak adanya kesesuain kemauan dan kemampuannya. Selepas Kuliahpun kita sering dihadirkan tentang banyak mahasiswa yang merasa salah jurusan. Ia baru benar-benar mengerti apa itu Passion,minat, dan bakat seusia belasan atau bahkan 20an tahun. Kita memang bisa sukses tanpa harus ada passion, namun kita bisa sukses penuh makna dengan adanya Passion. Topik inilah yang ingin saya ambil bagaimana siswa mampu berfikir lebih cepat dari biasanya tentang hidupnya, kemana dia akan melangkah dan hal paling mudah adalah tentang apa passionnya.

  1. Program

Rumah Passion adalah program yang ingin di galakkan menghadapi persoalan rendahnya minat dan daya tangkap siswa terhadap materi pembelajaran. Rumah passion ini bukan semacam materi tambahan atau ekstrakurikuler namun rumah passion adalah sistem. Sistem untuk guru mengenal lebih jauh anak didik utamanya berkaitan tentang bakat yang dia miliki. Kemudian memisahkan kelas berdasarkan bakat yang dia miliki. Sehingga para siswa mampu menyerap setiap pelajaran dengan mudah dan cepat.

Kelas yang di tawarkan :

  1. kelas seni

dimana setiap siswa yang memilki ketertairkan terhadap seni digabungkan menajdi satu dan setiap pelajaran yang akan di pelajari di buat dalam bentuk seni, semisal Tabel Kimia yang dibentuk Nada,dsb

sehingga setiap kelas mampu menyerap materi

  1. Kelas Ilmuwan

dimana setiap mata pelajaran di hadirkan dan dibentuk dalam bentuk percobaan sekalipun itu materi sosial sehingga apa yang di pelajari mudah ditangkap oleh siswa.

  1. kelas Cerita

yaitu kelas yang setiap mata pelajarannya di hadirkan dalam bentuk cerita yang berkaitan dengan bakat minat di bidang bahasa bisa dalam bentuk pusii, dibuat cerpen ataupun di buat drama musical.

  1. kelas karya

yaitu kelas yang setiap mata pelajarannya di hadirkan dalam bentuk karya sehingga mereka mudah menegrti Menghadirkan penerapan kelas sesuai dengan minat dan bakat sehingga daya tangkap siswa dapat dikembangkan dan siswa mampu mengetahui minat dan bakatnya dengan lebih cepat 1. pembuatan Pemetaan potensi dan passion yang dimiliki peserta

  1. kemampuan berdayakan siswa dalam kelas
  2. menguasai tehnik dan metode pengembangan materi dengan baik

Sistem bertajuk Rumah Passion sudah tercapai di daerah Margahayu, Demak dengan nama program Rumah Pelangi



S1K118 – Mengembangkan LIterasi Pelajar

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara mengembangkan kemampuan literasi murid.

Feny Krisnasari

Sekolah Cikal

Equipping Students with Media Literacy Skills

Our goal as educators is to prepare our students to face the challenge of tomorrow. These days means ensuring they have the skills they need to succeed in 21st century. Media literacy is significant skills which students or everyone should have in order to literate any information or knowledge needed. Today there are shifting trends in journalism that teachers have to know how to help students to identify reliable sources whether they are fake or real news. Those things in media literacy should be parts of your teaching topics.

Do I have to teach this?….

There are so many reasons not to!….

So what should you do?

– Critical thinkers

– Global citizen

– Problem-solvers

– Future workers

– Future voters

– Future leaders

Children want to be informed to aware for what happened surrounding them. Therefore there are three ways to spot reliable sources :

– Find out who made the story/news

– Consider the proof!

– Search other sites/sources

However, just because someone says the news/information is phony does not mean that it is! We make sure the students know them indeed reliable and relevant. It is really important students know where the information comes from for anything they read. The information must come somewhere and it is not making it up for instance by having citation.

NAMLE (National Association of Media Literacy Education) has some tips to identify information in printed or online.

Tip #1 Start at Headline

Tip #2 Text Element

Tip #3 Consider Bias

So, how do we do this !

Integrate media literacy lessons into daily curriculum

Challenge your students to be critical of all content

Force them to be media creators at early age (YouTube,Blog,Vlog)

Ask peers/expert to analyze whether the content is reliable or not

Read any news everyday.


Dwi Firli Ashari

Singapore School, Pantai Indah Kapuk

Materi Otentik dalam Pengajaran Bahasa Indonesia: Penggunaan Informasi Orang Hilang dalam Mengajarkan Teks Deskripsi

Mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anak Indonesia yang sejatinya merupakan penutur jati (native speaker) adalah sesuatu yang tidak mudah. Sebelum strategi mengajar diterapkan, siswa terkesan bosan karena materi yang ditulis di buku langsung mengarah pada apa pengertian teks deskripsi, apa yang bisa di deskripsikan, bahasa yang digunakan dalam teks deskripsi, dll. Melalui strategi mengajar kali ini, saya berharap agar siswa dapat mengerti mengapa kita harus belajar menulis teks deskripsi dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam menerapkan strategi mengajar ini, terdapat suatu tantangan yang harus diatasi untuk mencapai tujuan belajar yaitu mencari sumber informasi otentik yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Hal tersebut memang tidak mudah tetapi dapat dilakukan dengan melakukan pencarian lebih teliti.

Saya memulai sesi tersebut dengan memberikan contoh informasi orang hilang dan memberikan ilustrasi sebuah kasus kehilangan orang tua terhadap putranya. Kemudian, siswa diminta menjawab pentingnya informasi orang hilang tersebut bagi yang membutuhkan. Siswa lalu membuat klasifikasi ciri-ciri dari informasi orang hilang yang saya sediakan sebagai contoh. Pada akhirnya, siswa dapat menulis teks deskripsi berdasarkan informasi tersebut (format: sur-el/e-mail dan pesan elektronik lainnya berupa: SMS atau WhatsApp).

Beberapa siswa yang saya wawancara setelah sesi berlangsung mengatakan penggunaan bahan serta materi otentik dapat memberikan mereka pengetahuan lebih akan mengapa topik bahasan tersebut layak dipelajari. Selain itu, menggunakan materi otentik dalam pelajaran dapat membuat siswa lebih semagat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.


Katrin Tara Charolina

Universitas Negeri Malang

Penggunaan Mind Mapping untuk Pengembangan Literasi Sains

Salah satu keterampilan abad 21 yang harus dimiliki individu untuk menghadapi segala tantangan abad 21 adalah literasi sains. Dimensi literasi sains yang mewakili dimensi lainnya adalah kompetensi. Model pembelajaran yang tepat untuk mencapai literasi sains kompetensi siswa ialah STM, karena model ini mengkaitkan sains, teknologi, dan masyarakat, sehingga melibatkan isu sehari-hari yang mendukung ketercapaian literasi sains kompetensi siswa. Kelemahan model STM adalah kesulitan yang akan didapatkan siswa dalam menghubungkan suatu unsur materi pelajaran dengan unsur materi pelajaran lainnya, untuk mengatasi kesulitan tersebut digunakanlah mind mapping, karena melalui mind mapping siswa dapat membuat hubungan keterkaitan antar unsur materi. Mind mapping dalam model pembelajaran STM terdiri dari empat sintak, yaitu: (1) invitasi berbantuan mind mapping, (2) ekplorasi, (3) eksplanasi dan solusi berbantuan mind mapping, (4) tindak lanjut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh mind mapping dalam model pembelajaran STM terhadap literasi sains kompetensi siswa pada materi fluida dinamis

Metode penelitian dalam penelitian ini adalah quasi experimental. Desain eksperimen semu mengacu pada pretest-posttest control group design dengan sampel purposivesampling. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMAN 1 Lumajang Kelas eksperimen berjumlah 26 siswa sedangkan kelas kontrol berjumlah 27 siswa. Instrument pengukuran literasi sains kompetensi siswa berupa 14 soal uraian dengan reliabilitas 0,71. Kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran STM berbantuan mind mapping, sedangkan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran STM saja. Literasi sains kompetensi siswa dianalisis menggunakan Independent Samples T Test (one-tailed).

Nilai signifikansi menunjukkan 0.000<0.05. Kesimpulannya, literasi sains komepetensi siswa dengan mind mapping dalam model STM lebih tinggi dibandingkan literasi sains kompetensi siswa dengan model STM saja. Rata-rata hasil posttest kelas eksperimen 73, 8 lebih tinggi dibandingkan rata-rata kelas konrol 62,5. Perbedaan tersebut dapat disebabkan karena siswa kelas eksperimen mendapatkan STM sebagai proses pendukung literasi sains kompetensi, mind mapping sebagai penguat ingatan dan pemahaman saat siswa membutuhkan. Saran untuk penelitian selanjutnya, lebih baik menggunakan aplikasi mind mapping karena mind mapping manual membutuhkan waktu yang cukup banyak, dengan aplikasi digital mungkin bisa lebih mempersingkat waktu.



S1K119 – Ragam Strategi Belajar Sains

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara belajar sains yang menyenangkan sekaligus bermakna dengan bantuan teknologi.

Natalia Woro Rahayu Setiyani

Sekolah Cikal

Saya memiliki 24 orang siswa yang sangat unik. Masing-masing siswa memiliki rasa ingin tahu yang berbeda. Saat itu saya sedang mencoba mengajarkan mengenai bagaimana pemahaman mengenai sains telah berkembang dan membentuk masa depan. Bagi kita yang dewasa mungkin ini mudah, tapi mencoba untuk memberi pemahaman ini pada siswa kelas 5 tentu sulit. Pada pembentukan pemahaman ini siswa juga diharapkan dapat melihat hubungan antara pemahaman scientific di masa lalu mendorong timbulnya inovasi baru dan cara hidup yang baru.

Lalu yang menjadi tantangannya adalah bagaimana proses belajar akan dilaksanakan. Bagaimana membuat pembelajaran menjadi menarik dan juga mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Tantangan terbesarnya adalah waktu yang disediakan cukup pendek. Saat itulah kemudian saya tercetus ide untuk menggabungkan pelajaran sains dengan matematika mengenai timeline, dan Bahasa Inggris mengenai presentasi dengan menggunakan sebuah website online untuk menceritakan sebuah proses secara kronologi. Saya jadikan tugas ini sebagai proyek.

Sebelum saya mengenalkan website ini pada siswa, terlebih dahulu saya otak-atik dan cek mengenai keamanan, manfaat dan fungsinya bisa digunakan oleh siswa. Setelah saya yakin, maka saya mulai mengajarkan cara dasar menggunakannya. Siswa terlihat antusias dalam menggunakan teknologi dalam tugas mereka. Proses awalnya saya minta siswa untuk melihat sekelilling mereka dan memilih sebuah benda yang menarik menurut mereka. Kemudian saya minta mereka untuk melakukan penelitian mengenai bagaimana awal barang tersebut tercipta, proses inovasinya, kelebihan dan kekurangannya. Saya fokuskan pada kekurangan benda tersebut dan saya minta siswa untuk menciptakan inovasi apa yang mereka bayangkan di masa depan, dan bagaimana benda tersebut membantu manusia.

Berikut contoh hasil kerja siswa:
https://www.sutori.com/story/the-innovation-of-cameras
https://www.sutori.com/story/the-history-of-computers-0c19


Intan Irawati, S.Pd., M.Si.
MAN 15 JAKARTA
LOMBA ROKET AIR: PENERAPAN PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS PROYEK

Tujuan penelitian adalah mengukur perbedaan hasil pembelajaran fisika pada pokok bahasan fluida sebelum dan sesudah pembelajaran proyek. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen one group pre-test post-test design. Penelitian dilakukan di MAN 15 Jakarta terhadap 24 siswa kelas XI IPA 1. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Lembar Kerja Siswa, instrumen penilaian roket air berbentuk rubrik dan Ulangan Harian berbentuk essay. Analisis data yang digunakan adalah uji-T.

Hasil penelitian menunjukkan adanya kenaikan hasil belajar siswa yang semula rata-rata skornya adalah 52,60 menjadi 81,88. Selain itu ditperoleh pula analisis nilai N-gain ternormalisasi rata-rata adalah sebesar 0.617 yang menunjukkan 0,3≤ g ≤ 0,7, maka N-gain yang dihasilkan termasuk kategori sedang. Hasil skor gain ternormalisasi didapatkan 6 siswa (25%) mendapatkan skor gain tinggi, 2 siswa (8,33%) memperoleh skor gain rendah dan sisanya 16 siswa (66,67 %) berada dalam kategori sedang. Analisis uji T menghasilkan bahwa rata-rata skor tes sebelum dan sesudah pembelajaran adalah berbeda. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa penerapan pembelajaran project based learning mempengaruhi jumlah skor tes fisika siswa. Penelitian ini juga menemukan bahwa pembelajaran berbasis proyek telah memberikan lingkungan yang kondusif bagi siswa dalam berkreasi dan mendesain produk teknologi. Siswa juga menjadi lebih aktif, antusias, kritis, kreatif dalam belajar fisika.

Kata kunci: fisika, hasil belajar, pembelajaran berbasis proyek, roket air, siswa


Dra ARNI IDAWATI MPd

SMA Negeri 2 Sinjai

STRATEGI MENGEMBANGKAN METODE PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING MATA PELAJARAN FISIKA

Gambaran terjadi di kalangan pelajar SMA Negeri 2 Sinjai adalah takut pada mata pelajaran fisika. Hal ini disebabkan materi penuh dengan rumus-rumus, tidak menyenangkan dan terkadang sulit diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi guru fisika yang mengajar menggunakan metode pembelajaran yang kurang menarik, sehingga minat peserta didik dalam belajar fisika berkurang karena tanpa diiringi kesadaran untuk menggali konsep lebih dalam yang sebenarnya dapat menambah wawasan ataupun mengasah keterampilan berfikir dan menganalisis.

Metode Creative Problem Solving (CPS) adalah suatu metode pembelajaran yang memusatkan pada pengajaran dan keterampilan pemecahan masalah, yang diikuti dengan penguatan kreativitas (Pepkin, 2004).Ketika dihadapkan dengan suatu pernyataan, peserta didik dapat melakukan keterampilan memecahkan masalah untuk memilih dan mengembangkan tantangannya.tidak hanya dengan cara menghafal tanpa dipikir, keterampilan memecahkan masalah dengan memperluas proses berfikir. Metode CPS merupakan respresentasi dimensi-dimensi proses yang alami, bukan suatu usaha yang dipaksakan.

Dalam pembelajaran ini peserta didik akan dibiasakan berinteraksi dengan peserta didik lain melalui belajar kelompok. Peserta didik belajar bersama-sama dalam kelompoknya yang terdiri dari berbagai macam tipe, artinya kelompok tersebut bersifat heterogen dan didalamnya terdiri dari peserta didik yang tergolong pandai, sedang dan lemah. Jika ada anggota kelompok yang tidak jelas maka anggota kelompok yang merasa mampu akan menjelaskan pada peserta didik tersebut. Dengan demikian pembelajaran akan menyenangkan dan berarti bagi peserta didik yang selanjutnya akan menimbulkan minat belajar peserta didik dan diharapkan penguasaan konsep peserta didik akan meningkat. Creative Problem Solving (CPS) merupakan variasi pembelajaran berbasis masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui Tanya jawab lisan, identifikasi permasalahan dan fokus-pilih, mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi, presentasi, dan diskusi.

Pada dasarnya sintaks CPS ini sama dengan sintaks pembelajaran berdasarkan masalah, hanya saja pada CPS ini masalah yang disajikan telah disusun secara sistematik dan terorganisir. Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah Tipe CPS .Tahap 1 : orientasi peserta didik pada masalah .Tingkah laku guru : guru menjelaskan tujuan pembelajaran, mengajukan fenomena atau fakta berupa demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah serta motivasi peserta didik untuk terlibat dalam penyelesaian masalah yang dipilih (fase-1 CPS) .Tahap 2 : Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar.Tingkah laku guru : Guru membimbing peserta didik melakukan identifikasi masalah dan merumuskan sebuah masalah autentik sesuai dengan materi yang diajarkan (fase-2 CPS).

Tahap 3 : Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok.Tingkah laku guru: Guru memotivasi peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen sehingga muncul gagasan orisinil untuk menemukan solusi (penyelesaian masalah) (fase-3 CPS). Tahap 4 : Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Tingkah laku guru : Guru membantu dan mengarahkan peserta didik dalam menyiapkan laporan persentase atau menyelesaiakn soal-soal yang relevan dengan materi (fase-4 CPS). Tahap 5 :Menganalisi dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah. Tingkah laku guru : Guru membimbing peserta didik dalam menganalisis dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah (fase-5 CPS). (Dimodifikasi dari model pembelajaran berbasis masalah).

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh kesimpulan bahwa Penerapan Metode pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) pada konsep Fluida statis dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik terutama peningkatan kemampuan konsep pada kelas XI. IA.2 SMA Negeri 2 Sinjai Utara. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya kemampuan konsep fisika dan aktifitas aktivitas belajar peserta didik.


Aldi Yudawan

SMP Islam Al Kautsar Klapanunggal

Penggunaan Fun Science Puzle (FSP)

Sistem gerak pada manusia ialah sistem dalam tubuh yang terdiri dari tulang-tulang, persendian, dan otot yang berguna untuk memberikan bentuk tubuh serta memudahkan manusia untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Materi ini dianggap oleh banyak siswa sebagai materi yang sulit karena banyaknya bagian yang harus dihafal. Saat guru monoton dalam penyampaian materi, siswa menjadi jenuh dan cenderung untuk tidak antusias dalam proses pembelajaran. Padahal meteri ini adalah salah satu sistem dalam tubuh yang sangat penting untuk dipahami karena berkaitan dengan fungsi tubuh.

Berdasarkan hal tersebut, saya berinisiatif untuk membuat sebuah media pembelajaran yang dapat merangsang antusiasme siswa dalam mempelajari materi sistem gerak. Media pembelajaran ini terbuat dari bahan yang mudah didapatkan dengan dibubuhi konsep permainan yang menyenangkan dan bermakna bagi anak, yaitu merangkai bagian-bagian benda (puzle). Media pembelajaran itu saya beri nama Fun Science Puzle (FSP). Saya terinspirasi dari kesenangan anak-anak dalam menyusun puzle menjadi bagian utuh suatu materi sehingga mudah untuk dipahami dan menyenangkan untuk dilakukan. FSP berisikan materi-materi yang ada dalam sistem gerak seperti rangka, jenis-jenis tulang, persendian, otot, dan kelainan dalam sistem gerak.

Siswa bekerja secara kelompok sehingga pekerjaan untuk menyusun FSP terasa ringan. Nama-nama kelompok harus berisi kearifan lokal seperti makanan khas daerah, tarian daerah, baju daerah, atau nama rumah adat suatu daerah. Dalam menyusun FSP, terkandung nilai-nilai karakter bangsa sekaligus nilai-nilai antikorupsi seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, mandiri, dan berani.

Dengan berbagai hal yang dipadukan mulai dari peran guru dalam membawakan pembelajaran (model pembelajaran), siswa yang diajak aktif (active learning), dan media pembelajaran yang tepat digunakan (FSP), diharapkan siswa terangsang untuk antusias dalam belajar. Selain itu, siswa terbiasa berkolaborasi, berkomunikasi, dan kreatif dalam pembelajaran.



S1K120 – Memberdayakan Konteks, Mengembangkan Belajar Bermakna

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara belajar yang memberi kesempatan pada murid untuk bekontribusi dan menjaga lingkungan sekitarnya.

Dina Febrina Ekasari

Sekolah Cikal

Aksi Nyata dari Tugas Siswa Sekolah Dasar

Seorang siswa, siswa SD melakukan aksi nyata? Apakah hal itu memungkinkan? Suatu pembelajaran merupakan suatu proses mengolah informasi yang pada akhirnya siswa diharapkan mempunyai ketrampilan, pemahaman konsep dan penambahan pengetahuan. Namun di melalui pembelajaran itu sendiri, seyogyanya munculah rasa kepemilikan dari hasil pembelajaran itu dalam diri para siswa.

Aksi nyata seorang siswa SD yang telah mempelajari tentang ekonomi yang berhubungan dengan teknologi, menghasilkan kartu yang dapat dipakai untuk melakukan aksi jual beli di kantin, untuk memudahkan transaksi. Berangkat dari pemahamannya tentang suatu konsep, melihat kebutuhan yang ada di sekitarnya, lalu menerapkan hasil pembelajarannya tersebut kepada sebuah aksi nyata yang memang dibutuhkan, adalah sesuatu hal dapat dilaksanakan. Dari aksi nyata tersebut, rasa kepemilikan siswa akan hasil pembelajarannya menjadi sangatlah terlihat.

Menemani siswa untuk melalui suatu proses pembelajaran hingga mereka melakukan suatu aksi nyata, adalah pengalaman yang menantang sekaligus juga memuaskan. Mendapat kesempatan untuk membawa siswa ke dalam suatu aksi nyata sangatlah berharga. Benar-benar bangga karena dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk dapat bermanfaat bagi orang lain, sesuai kapasitasnya sebagai seorang siswa.


Suminah, S. Pd.

SMPN 5 TANGGUL JEMBER

Menumbuhkan karakter kepedulian sosial pada siswa

Kepedulian pada siswa tidak serta merta terbawa sejak lahir. Tetapi dibentuk oleh lingkungan tempat kita tinggal. Sekolah merupakan lingkungan kedua setelah rumah. Dengan bahasa lain, sekolah merupakan rumah kedua bagi siswa. Dengan demikian sekolah punya kontribusi banyak dalam membentuk karakter siswa. Salah satunya adalah kepekaan atau kepedulian sosial.

Sebagai guru yang saya lakukan pertama kali setelah mengucapkan saya mengecek siapa saja yang tidak masuk hari itu. Jika ada siswa yang tidak masuk maka yang saya lakukan adalah mengajak seluruh siswa berdoa bersama. Bagi yang tidak masuk karena sakit kita doa bersama agar segera disembuhkan sehingga berkumpul lagi di kelas tersebut, karena mereka adalah saudara kita. Bagi yang ijin atau yang tanpa keterangan juga kita doakan agar bisa segera kembali sekolah dan dalam kondisi yang baik-baik saja. Lalu bersama sama iuran suka rela untuk menjenguk mereka yang tidak masuk. Karena kepedulian kita akan menciptakan solidaritas yang tinggi d kebersamaan yang akan dibawa sepanjang hayat.


Abd. Rohman Susanto

SMAK Kolese Santo Yusup Malang

Pembelajaran Melalui Praktik Respon Terhadap Limbah Lingkungan Sekitar yang Dapat Dibudidayakan Menjadi Sebuah Karya Seni Kriya yang Bermanfaat

Awal: Prakarya dan Kewirausahaan adalah sebuah mata pelajaran yang bersinggungan dengan pra (sebelum) dan karya (hasil kerja atau pekerjaan tangan) serta diberikan wawasan tentang berwirausaha.Tujuan atau Kondisi belajar yang ingin dicapai sesungguhnya berisi kegiatan pelibatan siswa untuk melatih kepekaannya terhadap lingkungan sekitar, dimana dalam berkegiatan mampu melihat celah dan peluang melibatkan rasa, atau merespon sesuatu yang tidak lagi dipakai seperti (batu, kayu, kain perca, kertas Koran dan majalah bekas, botol dan lain hal) yang dapat dikaryakan atau dipergunakan sebagai bahan untuk membuat sebuah karya kriya yang dapat dibuat sesuatu yang berguna untuk kehidupan sehari-hari. Yang paling utama adalah bagaimana melatih pikiran mereka dan kreativitas dalam membuat sesuatu dari apa yang mereka temukan dalam keseharian yang mereka sendiri tidak menyadari kegunaanya sebelumnya dan lebih menghargai barang – barang yang ada disekitar mereka sehari-hari.

Tantangan: Kondisi belajar yang terdapat di lingkungan Sekolah adalah berisi siswa yang status perekonomiannya berkecukupan dalam hal materi, dalam berjalannya pembelajaran memang kendala yang dihadapkan terhadap metode belajar adalah mengajak para siswa untuk bermain dengan media yang bahkan mereka belum familiar untuk memegangnya seperti batu, kayu, daun kering, kain perca bekas penjahit dan media pendukung lainnya. Serta belajar tanggung jawab terhadap pengawalan proses membuat sesuatu, dalam keseharian mereka lebih terbiasa membeli sesuatu dari pada mencoba membuat sesuatu yang harus diawali dari hal yang sepele atau hal – hal kecil terlebih dahulu.

Aksi: Dalam berstrategi untuk mencapai tujuan belajar serangkaian kegiatan mencoba untuk dilakukan demi terciptanya tujuan belajar yang berkesan dan memberikan dampak untuk memberi sudut pandang, jarak pandang, cara pandang baru dalam melihat sesuatu yang berada di sekitar mereka. Berkegiatan dengan mencoba mengenalkan pencapaian yang akan dicapai dalam satu semester dengan berkelompok kecil agar tercipta kerja sama antara teman dan membantu dalam bersosialisasi dengan baik untuk mengkrontruksi suatu tujuan yang ingin dicapai, mengenalkan produk yang sudah jadi kepada mereka dengan bahan – bahan yang terdapat disekitar mereka yang sebelumnya mereka belum pernah menyangka bahwa dari bahan tersebut dapat dibuat suatu karya yang baik dan jika sebuah media tersebut diberi sentuhan yang benar akan mempunyai value yang tinggi. Bersama dengan siswa mencari kacamata baru untuk merespon sesuatu media yang berda dekat dengan kehidupan sehari – hari untuk digunakan dalam berkarya, belajar membuat suatu rencana dan mulai melakukan percobaan dalam membuat sesuatu (berkegiatan trial and error/ belajar gagal sebelum menemukan jalan untuk berhasil serta belajar berevaluasi dalam belajar membuat sesuatu). Dan bercerita serta berbagi terhadap teman – teman bagaimana proses membuat suatu rancangan sampai dengan terciptanya suatu produk yang bermanfaat.

Perubahan/Pelajaran :

Beberapa kondisi yang sudah dilakukan bersama membuat bebeapa perubahan dari mulai mindset, perilaku dalam belajar, cara bekerja sama, rasa menghormati terhadap sesuatu barang yang dimiliki, kreativitas dalam merespon sesuatu, keberanian dalam bercerita, bersabar dalam meraih sesuatu, serta kebanggaan dalam keberhasilan atau pencapaian yang dilakukan bersama – sama.


Dimas Anom Pambudi

SMP Muhammadiyah 4 Petarukan

MENANAMKAN RASA CINTA KEPADA ALAM DAN SATWA

Pentingnya peduli akan lingkungan sudah mulai banyak dipublikasikan termasuk di dalamnya tentang pemanasan global dan efeknya pada lingkungan. Saya sebagai seorang guru yang juga peduli dengan lingkungan. Mempunyai keinginan untuk mulai mengajarkan pada anak-anak untuk peduli terhadap lingkungannnya.

Kalau dibiarkan terus menerus tidak adanya edukasi makin banyak anak anak yang melakukan kekerasan terhadap bintang merusak lingkungan alam, lingkungan akan terus memburuk. Bumi ini tergantung pada manusia maka dari itu saya ingin menanmkan kepada anak anak pentingnya menjaga lingkungan makhluk hidup dilingkungan dengan baik. Cara untuk mengajar anak peduli lingkungkan bisa diterapkan sejak anak usia dini dan ini juga membentuk moral, budaya dan kearifan si anak.

Peranan pendidikan adalah peran yang menentukan kualitas pendidikan seorang anak. Begitu juga dengan pengaruhnya terjadap karakter dan perkembangan psikis atau kepribadian dari seorang anak. pendidikan yang lebih santai dengan cara yang menyenangkan salah satunya dengan berman. Bermain merupakan bagian dari perkembangan anak yang tidak bisa lepas begitu saja sehingga perlu pendidikan yang didalam pembelajarannya menyenangkan yang mempunyai banyak kebermaknaannya.

Banyak kejadian yang terjadi kekerasan dan pembunuhan terhadap bintang, kerusakan alam dan lingkungan bahkan beberapa anak yang menggunggah hasil kekerasan, pembunuhan dan perburuannya di sosial media, bahkan menjadi viral di sosial media. Saya sangat prihatin bahkan miris melihat kejadian yang terjadi.

Melihat kasus diatas Ini yang membuat saya berfikir bagaimana saya membawa isu atau tema ini kedalam sebuah pembelajaran kelas yang mengedukasi akhirnya saya berfikir dan menemukan sebuah ide untuk melakukan edukasi dan sosilisasi terhadap anak anak, untuk menanamkan rasa cinta terhadap alam dan makhluk hidup yang ada dilingkungan sekitar.

Bagaimana saya membuat anak anak menarik dan pesan yang saya inginkan bisa sampai ke anak anak, kemudaian saya mencari sebuah vidio di youtube, dan menemukan vidio 100% indonesia berdurasi berapa menit yang isinya tentang kekayaan alam di indonesia “Nah… ini vidio mengena sekali untuk sebuah pengantar dalam pembelajaran”

Kemudian saya juga mengajak kerjasama dengan komunitas pencinta bintang, kebetulan saya juga pencinta binatang, karena saya membutuhkan berbagai macam binatang untuk saya kenalkan secara langsung kepada anak anak.

Segala sesuatunya sudah saya persipakan dengan baik, hari ini saya benar benar semangat hari ini tidak sabar untuk bertemu dengan anak anak. Sesampainya disekolah anak anak sudah ramai berkumpul. Di hadapan anak anak guru dan orangtua siswa, saya menyampaikan pesan pelestarian alam dengan memutarkan beberapa video. Suasana tampak riuh ketika satu persatu satwa yang muncul dalam video tadi coba ditebak oleh para siswa. Kemudian saya memperkenalkan satu persatu satwa yang saya bawa ke lokasi kegiatan melalui gambar dalam presentasi. Selain diperkenalkan, siswa juga jadi tahu tentang habitat, cara merawatnya dan makanan dari satwa-satwa tersebut. Setelah vidio selesai, saya bertanya kepada anak anak

“binatang binatang itu tadi seperti gajah, kera, jerapah, harimau hidupnya dimana ??”

Anak anak serentak menjawab “hutan”

“Kalau tiba tiba hutan itu dibakar terus satu persatu di tebang, biatang binatang itu mau tinggal dimana? Sedih tidak ??”

“gak punya rumah”

“sedih”

“nah… anak anak punya tanaman kan dirumah, kalau ada tanaman dirumah supaya biar tumbuh, berbunga harus diapakan ??”

“Disiram”

“Dikasih makan”

Anak anak begitu antusias mejawab pertanyaan demi pertanyaan kemudian saya bertanya lagi

“ada yang punya binatang dirumah??”

Semuanya tunjuk jari, dan menyebutkan bintang bintang yang anak anak pelihara dirumah dengan penuh antusias dan mencertakan kepada teman – temannya.

“Nah… yang punya binatang dirumah juga harus disayang ya dikasih makan dirawat biar binatang itu juga sayang anak anak”

Akhirnya para siswa pun dapat menyaksikan langsung beberapa satwa yang dibawa oleh saya dan teman teman salah satunya ada sugar glider, kucing, burung hantu, ular dll. Anak anak tidak hanya melihat binatang binatang yang ada di vidio saja tapi anak bisa langsung melihat berinterksi dengan bintang binatang yang saya bawa. Bisa dikatakan saya membawa kebun binatang kesekolah tapi binatang binatang yang saya bawa binatang peliharaan.

Kenapa saya ajak mereka berinteraksi langsung, saya memberikan contoh nyata ketika binatang disayang, bintang itu akan sayang sama anak anak. Ini diluar dugaan saya anak anak begitu antusias sekali bahkan banyak yang bertanya ingin tahunya besar sekali, rasa pnasarnnya tinggi. Yang tadinya takut dengan kucing bisa lebih berani pegang dan menyayanginya. Setelah semuanya berinteraksi saya ajak anak anak untuk menanam pohon, saya libatkan secara langsung anak anak, dari menggali kemudian menanamkan pohonya, dengan cara ini anak anak lebih mempunyai rasa tanggung jawab untuk merawatnya.

Untuk menanamkan kecintaan terhadap kelestarian lingkungan harus ditanamkan sejak dini. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengajarkan anak anak mencintai lingkungan hidup, baik secara formal di sekolah maupun dirumah. Akan lebih mudah membentuk pola pikir anak anak untuk mencintai lingkungan daripada mengubah pola pikir orang dewasa untuk melestarikan lingkungan.

S2K101 – Ragam Strategi Belajar Matematika

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara belajar matematika yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Dirayanti Bungawardani

Sekolah Cikal Serpong

Collaborative Learning untuk Belajar Matematika

Matematika selalu menjadi salah satu pelajaran yang kurang diminati oleh siswa, dalam contoh kasus saya siswa level SMP. Berbeda dengan sewaktu SD, mata pelajaran matematika SMP lebih menuntut pemahaman kepada materi lebih dari sekedar kemampuan berhitung.

Jika siswa memiliki kemampuan berhitung yang tidak sesuai dengan level usianya, itu akan menambah kesulitan siswa untuk memahami isi pelajaran matematika di level SMP. Siswa yang kurang memahami materi, akan kehilangan minatnya pada matematika karena menganggap mereka tidak mampu menyelesaikan persoalan matematika.

Di kelas saya, saya menerapkan collaborative learning pada kelas matematika untuk menjembatani kebutuhan anak yang memiliki kemampuan yang berbeda. Collaborative learning dipilih melalui diskusi dengan konselor sekolah, setelah mempertimbangkan kesulitan-kesulitan siswa saat mempelajari matematika.

Collaborative learning diterapkan dengan sistem memasangkan siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda untuk menyelesaikan persoalan matematika. Siswa-siswa tersebut harus menyelesaikan persoalan matematika dengan waktu yang ditentukan, diskusi kemudian dilakukan untuk memastikan bahwa semua siswa memiliki tingkat pemahaman yang sesuai.

Setelah collaborative learning dilakukan terlihat tumbuhnya ketertarikan siswa pada matematika, lewat sikap yang positif selama kelas berlangsung, juga tingkat ketuntasan tugas yang diberikan.


Ng Lesie

Life Community School

PENGUNAAN METODE BERMAIN PERAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR MATEMATIKA (DENGAN TOPIK PERKALIAN DALAM SOAL CERITA)

Siswa-siswi kelas 3 SD pada sekolah Life Community School selalu mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal cerita pada pelajaran Matematika, seperti juga pada topik perkalian. Walaupun hampir semua siswa dapat menghitung dan mengoperasikan perkalian dengan baik, namun ketika harus mengerjakan soal dalam bentuk cerita, siswa-siswi tidak dapat mengaplikasikan konsep perkalian tersebut. Hal ini terbukti dengan rendahnya nilai rata-rata yang didapati oleh siswa pada saat pre-test yaitu 23.25%

Sistem pembelajaran yang monoton dan hanya menekankan pada hasil selama ini, membuat siswa mengalami kesulitan untuk berpikir kritis, sehingga ketika harus mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari ke dalam kehidupan sehari-hari (yang ditemukan pada soal cerita) siswa-siswi tersebut mengalami kesulitan.

Dengan metode bermain peran, siswa bisa lebih aktif terlibat di dalam pembelajaran, karena siswa sendiri yang memainkan peran di dalam kelas. Teknik ini juga menekankan pada proses, di mana siswa dapat melihat secara langsung dan nyata proses yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang ada di dalam soal cerita tersebut. Aksi ini diberikan pada subjek yaitu, 8 orang siswa yang berusia 7-8 tahun dan 2 orang siswa berkebutuhan khusus berusia 9-10 tahun yang di tempatkan di dalam satu kelas.

Setelah diberikan perlakuan yaitu variasi bermain peran selama 6 kali pertemuan. Didapati bahwa terdapat pengaruh pada tingkat sedang kemampuan berpikir kritis siswa dengan nilai N-gain 0.65 dan terdapat pengaruh pada tingkat sedang terhadap prestasi belajar Matematika siswa dengan topik perkalian dalam bentuk soal cerita dengan nilai N-gain 0.62. Karena adanya pengaruh ini merubah kondisi siswa sehingga ketika melakukan post test nilai rata-rata siswa adalah 73%.



S2K102 – Memperluas Ruang Belajar

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara memperluas ruang belajar yang tidak sebatas pada ruang kelas.

Ari Wibowo

Sekolah Cikal

Integrasi kegiatan Pramuka dengan kurikulum Sekolah.


Mendengar kata PRAMUKA pasti yang terlintas di pikiran kita adalah sekelompok pelajar yang mengenakan seragam berwarna coklat sedang berlatih baris berbaris, bernyanyi riang gembira atau beradu kompak antar regu. Kegiatan Pramuka di Indonesia sudah berlangsung sejak lama dan sekarang ini malah dijadikan ekstrakurikuler wajib (kurikulum 2013). Bagi para pendidik di lingkungan sekolah nasional mungkin kegiatan Pramuka bukanlah suatu hal yang baru. Integrasi kegiatan Pramuka dengan kurikulum Sekolah janganlah hanya sebagai kegiatan mengisi luang saja namun diharapkan sebagai pelengkap kegiatan pembelajaran yang interaktif dan saling menguatkan kompetensi peserta didik.

Sebagai sekolah yang berbasis inkuiri, banyak unit pembelajaran yang bisa diintegrasikan dengan kegiatan kepramukaan. Sebagai contoh, materi pelajaran Matematika dengan topik bahasan mengenal jam analog dan digital. Di kelas guru mengenalkan konsep rentang waktu dan kaitannya dengan jam analog. Pramuka hadir mengintegrasikan kegiatan tersebut dengan bentuk kegiatan permainan atraktif secara visual pembelajaran waktu akan lebih menarik dan dapat dijadikan strategi pembelajaran bagi peserta didik yang memiliki gaya belajar bervariasi.


Tri Wahyudi

Tamansiswa

Seniman Mengajar di Tapal Batas

Pembangunan kebudayaan harus berfokus pada upaya pemberdayaan masyarakat melalui modal budaya yang telah tersedia. Salah satu modal budaya tersebut adalah tradisi kesenian, yang dapat berperan untuk memperkuat basis identitas masyarakat. Dalam realitas ke Indonesiaan yang bersifat bhineka secara cultural, diperlukan cara untuk menggunakan tradisi kesenian sebagai media untuk memperkuat integrasi sosial dan cultural, untuk mencapai target tersebut, Direktorat Kesenian meluncurkan program “Seniman Mengajar”.

Seniman mengajar adalah sebuah program yang ditujukan kepada seseorang yang berkontribusi dan bekerja didalam wilayah kesenian untuk mengajar dan memberikan pendidikan seni kepada warga dari semua kalangan usia yang penempatannya berada diwilayah sosial masyarakat kawasan 3T(Terdepan, Terluar, Tertinggal) dari kawasan Indonesia, dan dalam hal ini penulis mencoba memaparkan strategi pola pembelajaran dan pendidikan kepada masyarakat suku Dayak Iban di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, pertanyaannya adalah sejauh mana seniman memasuki wilayah pendidikan dalam pengajaran menggunakan media kesenian sebagai alat yang digunakan.

Merujuk kepada konsep pendidikan Tamansiswa yang didalam salah satu manifestonya mengatakan “Ambuka Suwara Angesti Wiji”, yang berarti Membuka Suara (Menembang, Menyanyi, melakukan kesenian) sebagai pepucuk daripada Angesti wiji (Mendidik), para seniman ini memasuki wilayah pengajaran didalam pendidikan yang tidak hanya mementingkan hasil pola berfikir yang dalam hal ini kita sebut intelektual, tetapi mencoba memasuki wilayah untuk memberikan pendidikan karakter dan budi pekerti yang bersumber dari kepekaan dan kehalusan batin yang dalam hal ini bersumber dari perasaan dalam hati tiap diri seseorang.

Hasil dari proses pengajaran dan pendidikan yang diberikan oleh seniman melalui medium “seni” tampak memberikan hasil dari naluri masyarakat yang semakin kreatif dan kritis dalam pola kehidupan sehari-hari berdasarkan nilai-nilai kebudayaan lokal yang ada. Kata Kunci: Seniman, Mengajar, Tapal Batas, Pendidikan Kesenian


Sari Astuti

Rumah Cerdas

UNDOKAI, FESTIVAL OLAH RAGA DAN KESENIAN SEKOLAH SEBAGAI SARANA PEMERSATU WARGA SEKOLAH (Oleh- oleh cerita dari negeri Sakura)

Ide dari tulisan ini berasal dari pengalaman saya mengikuti program beasiswa Teacher Training selama 1,5 tahun di Jepang. Saya melakukan penelitian sederhana yang berhubungan dengan sistem pendidikan dan organisasi pendidikan di Jepang. Dalam penelitian tersebut, saya menemukan undokai sebagai salah satu elemen pendidikan pemersatu bangsa Jepang yang dapat kita contoh dan dapat kita terapkan dalam kondisi bangsa kita saat ini.

Undokai adalah festival olah raga dan kesenian yang di lakukan oleh sekolah- sekolah di Jepang secara berkala setiap tahun. Umumnya kegiatan ini dilakukan pada musim semi atau musim gugur. Yang menarik dari kegiatan ini adalah keterlibatan semua warga sekolah secara aktif untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Warga sekolah tersebut meliputi guru, staf sekolah, siswa, dan orang tua siswa. Guru, staf sekolah dan orang tua menjadi panitia sekaligus pelaksana kegiatan dengan memberikan berbagai kontribusi sesuai dengan kemampuan mereka, misalnya, mempersiapkan acara, menyumbang minuman, membersihkan dan menata tempat pelaksanaan. Ketika saya berada di sana, saya menemukan sejumlah orang tua siswa tengah mengatur jalannya kegiatan dan menata urutan siswa yang akan bertanding dalam lomba lari. Orang tua yang lain sibuk membagikan minuman bersama dengan para guru dan staf sekolah. Setelah festival olah raga selesai, festival kesenian di mulai. Para guru, staf sekolah dan orang tua siswa pun kembali melakukan hal yang sama hingga hari penutupan festival tiba. Kegiatan tersebut sangat mengesankan bagi saya karena saya dapat melihat bagaimana nilai kebersamaan, kerja sama, toleransi, keterbukaan dan rasa saling menerima terwujud nyata dalam kegiatan tersebut. Seluruh warga sekolah dengan gembira menyatu untuk satu tujuan, menyukseskan Undokai. Setelahnya, efek luar biasa Undokai dapat terlihat dalam keseharian proses pendidikan masyarakat Jepang. Seluruh warga sekolah menyadari sepenuhnya tanggung jawab mereka untuk menyelenggarakan sebaik- baik pendidikan untuk anak- anak mereka. Sebagaimana dalam pelaksanaan Undokai, mereka pun terlibat aktif dalam proses kegiatan pendidikan dengan memberi sebaik- baik kontribusi yang dapat mereka lakukan.

Dunia pendidikan Indonesia saat ini tengah ramai dengan berbagai isu perpecahan. Kasus bullying antar pelajar, tidak sejalannya pemikiran pihak sekolah dan orang tua tentang pola asuh anak- anak didik mereka, remaja yang melawan guru dan orang tua mereka, tawuran antar pelajar, menjadi berita sehari- hari di layar kaca. Hal tersebut terjadi karena berbagai faktor yang keliru di fahami oleh pihak- pihak terkait. Kurangnya komunikasi yang efektif menjadi penyebab pertama gagal faham yang menimpa mereka. Kegiatan serupa Undokai di sekolah- sekolah kita dapat menjadi momen untuk membangun komunikasi sederhana yang berlanjut kepada terbukanya peluang baik untuk memupuk rasa kebersamaan, keterbukaan, kerjasama, toleransi dan rasa saling menerima.

Undokai dapat kita lakukan di sekolah-sekolah kita melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah menjalin komunikasi efektif dengan komite sekolah yang berlanjut kepada sosialisasi program Undokai kepada seluruh orang tua siswa melalui rapat antara wali kelas dengan wali siswa. Panitia kegiatan dibentuk dengan berisikan anggota perwakilan sekolah dan orang tua. Panitia anak- anak juga di bentuk di bawah pengawasan guru untuk membentuk karakter kepemimpinan dan tanggung jawab. Dalam kegiatan ini, seluruh siswa wajib mengikuti pertandingan. Jenis pertandingan olahraga ditentukan berdasarkan kesepakatan panitia. Pertandingan dilakukan antar tim. Jenis olahraga dapat berbentuk tim maupun perseorangan, namun pencapaian score merupakan pencapaian tim. Pertandingan pun dapat dilakukan oleh semua pihak, guru, staf sekolah, siswa maupun orang tua. Pada saat hari pelaksanaan undokai, semua orang tua wajib hadir untuk menyemangati anak- anak mereka bertanding, sekaligus berkontribusi aktif dalam kegiatan. Inti dari pertandingan olah raga ini bagi setiap individu, bukanlah kalah atau menang, namun melakukan yang terbaik dan berani menghadapi tantangan. Usai kegiatan olahraga, penutupan acara dapat dilakukan dengan menyajikan unjuk kesenian antar daerah, berdasarkan asal daerah para peserta didik. Beberapa sekolah di Jepang yang memiliki siswa dari berbagai negara asing, acara pagelaran seni menjadi ajang unjuk budaya antar bangsa. Bagi bangsa Indonesia yang berbudaya sangat majemuk, pagelaran seni dapat menjadi ajang unjuk budaya antar daerah.

Kegiatan festival olah raga dan kesenian sekolah ini hanya di lakukan satu tahun satu kali, umunya selama beberapa hari, namun memakan waktu persiapan yang cukup panjang. Hal terpenting dalam pelaksanaan kegiatan ini justru terjadi dalam proses persiapan, yaitu pembangunan komunikasi yang efektif dan semangat kerja sama. Dalam proses persiapan tersebut, pihak sekolah harus berkordinasi dengan siswa, orang tua bahkan dengan lingkungan sekitar sekolah. Setiap aspek kegiatan menjadi tanggung jawab bersama tanpa memandang status sosial, hal ini harus dilakukan untuk mencapai satu tujuan bersama, memberikan yang terbaik untuk kesuksesan acara. Prinsipnya adalah dari kita, oleh kita dan untuk kita. Dalam proses bekerja bersama tersebutlah, semua elemen pelaksana melatih rasa toleransi dalam menyikapi keterbatasan rekan, membangun rasa keterbukaan untuk memahami dan pada akhirnya saling menerima perbedaan yang ada dalam keberagaman kita.

Nilai- nilai positif dalam kegiatan ini dapat ditularkan dalam berbagai aspek kehidupan sekolah maupun bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Diharapkan setelah bekerja bersama, bertanding bersama, berlelah bersama, tertawa dan menangis bersama bahkan bertengkar bersama untuk kembali berangkulan bersama, setiap kita dapat memandang satu sama lain melalui sudut pandang yang selalu positif, berbaik sangka. Hal ini semoga dapat meminimalisir, bahkan menghilangkan kasus- kasus bullying, tawuran, pertengkaran antar guru dan orang tua, perselisihan antara orang tua dan anak- anak mereka dan menggantinya dengan semangat persatuan dan kasih sayang.

Catatan penting, nama kegiatan ini bisa diganti dengan nama tertentu sesuai kesepakatan bersama, disesuaikan dengan nilai- nilai budaya dan kebangsaan Indonesia.


Sally M. Magdalena

Sekolah Cikal

Memperkenalkan pop up museum Sekolah Cikal

Awal : memperkenalkan pop up museum di kalangan sekolah

Tantangan : mencari dan bekerjasama dengan instansi terkait serta menentukan isi konten museum yang hendak ditampilkan

Aksi : berbagi ilmu pengetahuan serta mencari informasi dari pameran dan museum

Perubahan : bagaimana pop up museum dapat menjadi salah satu sumber pembelajaran bagi siswa dan meningkatkan kecintaan dan minat siswa pada museum



S2K103 – Merdeka Belajar, Tujuan Belajar yang Bermakna

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang pentingnya murid terlibat dalam membuat tujuan belajar, sebagai salah satu komponen dari merdeka belajar

AINUN NAJIB

SMA ISLAM PLUS AL BAYAN

Merdeka Belajar dalam Pelajaran Agama

Yang saya tulis adalah pengalaman ketika mengajar di kelas XI pada semester yang lalu, yang sekarang mereka kelas XII. Kelas ini adalah kelas yang pada dasarnya terdiri dari siswa-siswa yang aktif. Dalam artian aktif berbicara, beberapa orang menyebutnya kelas yang siswa-siswanya cerewet. Kebetulah sekolah tempat saya mengajar adalah sekolah baru, jadi angkatan pertama masih terdiri dari satu kelas. Mereka suka berbicara, sayangnya kebiasaan tersebut cenderung negatif. Banyak guru mengeuh ketika mengajar malah anak-anak pada ngobrol sendiri. Saya mengajar Pendidikan Agama Islam yang pada semester yang lalu mendapat jam mengajar pada jam ke 6-7, waktu-waktu dimana anak mulai jenuh. Pernah ada anak yang tidur di kelas ketika saya mengajar. Sering juga anak-anak ‘glusuran’ dan bermalas-malasan ketika proses pembelajaran sedang berlangsung. Pendidikan Agama Islam tidak hanya menuju untuk mencapai tujuan belajar secara tekstual seperti yang tertera di RPP, tetapi lebih jauh dan lebih dalam lagi, dari mata pelajaran ini, sesungguhnya bisa didapat manfaat yang besar, karena ilmu atau materi yang ada di dalamnya sangat bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sayangya, untuk mencapai tujuan tekstual saja kadang susah dengan kondisi siswa dan keterbatasan yang ada seperti tidak adanya sumber belajar (buku) siswa.

Hal ini membuat saya harus terus berfikir mencari ide-ide menciptakan pembelajaran menarik agar mereka bisa mengikuti proses pembelajaran dengan maksimal. Ketika saya terapkan strategi yang menarik, mereka antusias dan senang mengikuti, sayangnya hanya bertahan pada satu jam pertama, satu jam berikutnya mereka seperti sudah mulai ogah-ogahan mengikuti pembelajaran. Saya sering melakukan evaluasi, strategi yang menarik menurut saya, ternyata belum tentu menarik secara keseluruhan bagi siswa. Maka hal ini menjadi tantangan bagi saya sebagai pendidik untuk terus mencari solusi dari setiap permasalahan yang muncul di kelas, baik oleh kondisi siswa, maupun keterbatasan sumber belajar, atau yang lainnya.

Akhirnya, setelah saya mengenal konsep Merdeka Belajar, saya menemukan satu hal yang selama ini tidak saya lakukan. Ya, saya lupa untuk ‘melibatkan siswa’ dalam pembelajaran. Hal ini saya lakukan ketika masuk bab Mengurus Jenazah, bab yang menurut beberapa siswa ‘nyeremin’. Saya ajak siswa bersama-sama menetukan tujuan apa yang ingin dicapai dari mempelajari bab Megurus Jenazah. Bukan hanya tujuan tekstual, tapi tujuan dalam kehidupan nyata baik saat ini atau dimasa mendatang. Saya juga meminta siswa bersama-sama menentukan bagaimana mereka akan mempelajari materi tersebut, sampai kepada seperti apa penilaian yang akan dilakukan. Hasilnya luar biasa, mereka sangat antusias dalam memberikan pendapat. Lebih jauh lagi, kita mendapatkan tujuan belajar hingga cara mempelajari yang disepakati bersama oleh siswa. Mereka ingin mempraktekkan bagaimana mengurus jenazah yang benar.

Pada pertemuan berikutnya dimana kita sudah sepakat akan diadakan praktik, saya terkejut dengan segala persiapan yang dilakukan siswa. Memang sebelumnya saya memberikan kebebasan pada siswa untuk mempersiapkan apa yang mereka butuhkan dan tugas-tugas anggota pada tiap kelompok. Kegiatan pembelajaran praktek mengurus jenazah mulai dari memandikan, mengkafani, hingga mensholatkan jenazah berlangsung dengan antusiasme tinggi dari siswa. Mereka terlihat aktif mengikuti pembelajaran. Saya belajar hal penting proses pembelajaran tersebut. Bahwa siswa akan lebih antusias belajar ketika kita bisa melibatkan mereka dalam belajar, jika kita bisa mberi ruang, kesempatan, dan hak untuk mereka. Membuat mereka ‘rela’ untuk belajar, belajar ranpa paksaan. Berbeda ketika pembelajaran yang saya terapkan seolah memaksa siswa mengikuti apa yang saya inginkan. Hasilnya siswa terlihat malas-malasan di kelas, bahkan ada yang tidur. Mungkin inilah proses yang disebut Memanusiakan Siswa, karena siswa bukan robot.


Abdurrakhman Hadiyanto

Universitas Pekalongan

Ini Impianku

“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya”

Ya itu adalah sebaris penggalan lagu yang sempat populer di era 2008, yang dibawakan oleh band bernama Nidji. Dalam lagu itu tersirat jelas betapa besar kekuatan impian dalam hidup. Lantas pertanyaanya, bagaimana jika impian itu hanya sekedar impian tanpa ada kesempatan untuk mewujudkanya ? bagaimana jika impian itu terdampar pada keadaan yang tak mendukung untuk terwujud ? nah kali ini saya akan bercerita tentang realita tentang “mimpi-mimpi yang terdampar”

Perkenalkan nama saya Abdurrakhman Hadiyanto, unit mengajar di Universitas Pekalongan tepatnya prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pengalaman mengajar saya belumlah banyak baru 4 semester saya mengajar ditempat tersebut namun sudah muncul beberapa keresahan yang saya rasakan. Dari mahasiswa yang apatis terhadap makul (baca: mata kuliah) tertentu, di kelas terlabeli trobelmaker, susah konsentrasi sampai mahasiswa yang memiliki pemikiran unik yang tak sama dengan mahasiswa pada umumnya. Tentunya perbedaan tiap mahasiswa terbentuk dari lingkungan mereka dan pengalaman mereka masing-masing sehingga kemajemukan dalam kelas tidak dapat terhindarkan.

Di tahun akademik 2016/2017 semester genap saya dipercaya mengampu mata kuliah Sintaksis Bahasa Indonesia, yah mata kuliah yang mengharuskan saya berteori ria karena memang mata kuliah ini menuntut mahasiswa untuk paham dan hafal teori-teori untuk menganalisis. Ini adalah pengalaman pertama saya dalam makul ini. Ini jadi tantangan untuk saya dalam menyampaikan materi yang menjenuhkan agar mahasiswa tertarik dengan mata kuliah saya. Untungnya kelas yang saya pegang adalah kelas yang tahun lalu sudah sempat saya ampu. Sehingga beberapa mahasiswa saya sudah kenal dan tahu sedikit, ya baru sedikit yang saya tahu (itupun baru tahu namun belum kenal karakter mahasiswa dalam satu kelas apalagi satu per satu).

Awal perkuliah seperti pengajar pada umumnya saya menyampaikan kontrak perkuliahan, yah, isinya sih standar dari identitas pribadi, riwayat pendidikan, kesepakatan perkuliahan (lebih tepatnya menurut saya sih ketentuan pengajarnya hahaha karena dulu saya belum melibatkan mahasiswa saya dalam kesepakatan baik dari tujuan pembelajara yang ingin dicapai metode yang akan digunakan atau cara penilainya). Semua sudah saya buat jauh hari sebelum pertemua awal dilakukan. Oke kembali ke jalan yang benar hehe, pertemuan awal berjalan seperti biasa 2 atau 3 pertemua saya lakukan dengan metode ceramah dan diskusi interaktif seperti biasa, namun ada yang menimbulkan keresahan dihati saya. Ya suasana ketika diskusi dilakukan, tidak seperti yang saya harapkan. Gaduh, tidak fokus dan ada seorang mahasiswa yang sampai dipertemua ke 5 belum masuk sama sekali di kelas saya padahal syarat untuk bisa ikut uts ataupun uas harus masuk minimal 70% dari total pertemuan pertemuan.

Masalah itu kian minggu membuat saya resah, dan akhirnya dipertengahan awal semester saya bertemu dengan komunitas guru belajar Pekalongan (selanjutnya: KGB). Awalnya saya kira yah paling komunitas guru-guru biasalah ga ada seru-serunya dan ternyata saya salah besar. Ikut temu pendidik (selanjutnya: mudik) pertama saya mendengar tentang pengalaman mengajar anggota KGB ternyata membuka wawasan saya bahwa disetiap jenjang pendidikan memiliki kendala masing-masing dan gurulah yang harus bisa menenukan solusi atas permasalahan dikelasnya. Singkat cerita saya ikut Pekan Pendidikan di Jogjakarta, nah disitulah titik tolak saya memahami pembelajaran yang bermakna dengan konsep Merdeka Belajarnya, bahwa setiap induvidu adalah makhluk yang merdeka dan berbeda maka perlakuanpun haruslah berbeda bahasa kerenya deferensiasi pendidikan. Dalam pekan disampaikan bahwa seorang dokter dalam bekerja memiliki langkah-langkah yang terstruktur dari mengamati pasienya satu-satu, melakukan observasi mendalam kemudian menganalisis barulah mendiagnosa si pasien berpenyakit.


Helmi Anita Ratuhanrasa, S.Pd.

SMAS KRISTEN YPKPM AMBON

Tantangan Menjalankan Merdeka Belajar

Kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggungjawab dan layak dalam peranannya sebagai pengelolah kelas (learning manager), guru hendaknya mampu mengelolah kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan Sekolah yang perlu diorganisasi. Pada awal pembelajaran suasana kelas diciptakan sebaik mungkin, agar siswa merasa tenang, nyaman serta rileks dalam menyepakati tujuan pembelajaran saat itu.

Tantangan saat mempraktekan merdeka belajar adalah siswa merasa kaku/canggung saat menyampaikan pendapat, sehingga sebagai guru kita harus berusaha untuk menciptakan suasana dimana guru adalah teman belajarnya siswa namun tetap ada pada batasan sebagai seorang guru dan siswa, dan banyak strategi lainnya.

Dari praktek merdeka belajar yang dilakukan, siswa yang awalnya merasa canggung menyampaikan pendapat, pada akhirnya sangat bersemangat dan mudah memahami topik yang dipelajari, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan kesepakatan bersama(tentunya bukan aspek kognitif saja yang dinilai tetapi juga ketrampilan, sikap dan moral). Karena berhasilnya suatu pendidikan bukan hanya diukur dari jumlah soal yang dijawab siswa benar tetapi, sikap, keterampilan serta moral siswa juga perlu dibentuk sehingga menjadi suatu pendidikan yang utuh. Kenyataan membuktikan bahwa siswa yang pada saat bersekolah hanya memprioritaskan kecerdasan intelektual saja tanpa dibekali dengan kecerdasan sikap dan moral kebanyakan kurang berhasil.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berhasilnya suatu pendidikan tidak semata-mata siswa mampu menyelesaikan soal-soal ujian tetapi juga disertai dengan sikap dan moral yang baik juga. Saran saya kita sebagai pendidik jangan selalu memaksa/mengharuskan siswa mengikuti tujuan pembelajaran yang kita rumuskan sendiri tetapi bagaimana cara kita merangkul siswa untuk dapat menyampaikan setiap pendapat/usul/saran terkait dengan tujuan pembelajaran tanpa ragu-ragu dan pastinya dengan sikap saling menghargai dan menghormati.



S2K104 – Mendongeng sebagai Strategi Mengajar

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara menggunakan dan mengembangkan dongeng sebagai strategi belajar

Dwi Widiyanti

TK Lebah Putih (School of Life Lebah Putih)

Bermain Peran dalam Dongeng

Mendengarkan cerita atau dongeng adalah salah satu hal yang sangat disukai anak, tapi ternyata tidak bagi semua anak. Padahal, kita sama-sama tahu, dengan dongeng atau cerita, anak bisa belajar banyak, mendapatkan gambaran jelas tentang berbagai hal yang mungkin bermanfaat baginya dan akan selalu terkenang sampai kapan pun. Tapi duduk mendengarkan, itu tidak “merdeka” bagi anak-anak yang mempunyai gaya belajar lain dari yang lain. Menyiasati hal tersebut, saya biasanya mengajak langsung anak-anak terlibat dalam cerita atau dongeng. Saya menyebutnya dengan “It’s Show Time” atau istilah umum “Bermain Peran”.

Di awal kelas, saya akan membuka kelas dengan pertanyaan tentang tema yang mau diambil, misal tentang, binatang kelinci. Apa yang kalian ketahui tentang kelinci? Biasanya anak langsung mengeluarkan pendapatnya. Saya akan tuliskan apa yang diketahui anak-anak di papan tulis. Lalu saya akan menanyakan kembali, apa yang ingin mereka ketahui lebih jauh tentang kelinci. Dan mereka akan menyebutkan, beberapa anak ada yang diam, munkin berpikir, mungkin juga karakter anak ketika ditanya bingung mau bertanya apa?. Nah ini tantangannya.

Lalu saya mengajak anak-anak, bermain (salah satu hal yang paling tidak bisa ditolak anak; main). Bermain “Cerita si Kelinci”. Anak-anak akan antusias, mereka akan mengajukan segala sesuatu yang terlibat dalam satu cerita, siapa saja tokohnya, apa latarnya, bahkan alur cerita mereka yang akan dengan senang hati membuatnya. Disini tantangan dimulai. Bagaimana menentukan tujuan belajar bersama anak-anak, apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, bagaimana jika tujuan tidak tercapai, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung, materi dan karakter yang mau kita sampaikan akan dapat dengan mudah masuk tanpa anak sadari. Karena biasanya ketika menentukan tokoh, saya akan memancing anak, tentang karakter baik dan keren, lalu ketika menentukan alur, anak terpancing mencari sumber belajar untuk beberapa hal yang mereka tidak tahu, misalkan bagaimana cara kelinci berinteraksi, makan, atau seperti apa rumah kelinci itu, apa saja yang bisa menjadi makanannya selain wortel (hanya itu yang biasanya diketahui anak), atau daging, kulit kelinci bisa dimanfaatkan untuk apa. Semua yang diusulkan anak saya tulis sebagai penghargaan mereka mau berpendapat, lalu disepakati bersama.

Banyak pembelajaran disini, sejak dini anak belajar berani menyampaikan pendapat dan menghargai pendapat lain. Saat bermain pun, saya hanya sebagai fasilitator. Anak berperan sesuai mereka mau, mereka belajar tentang kelinci tanpa saya dikte. Itulah merdeka belajar, bagi anak-anak, dan juga saya sebagai guru.


Dina Irdhina

Sekolah Cikal

Bercerita Melalui Matematika

Matematika adalah keterampilan dasar yg dibutuhkan setiap orang dalam kehidupannya. Mulai dari yang sederhana seperti keterampilan menghitung barang dan uang ketika berbelanja, keterampilan tentang rentang waktu saat merencanakan jadwal sehari-hari, bahkan saat memasak pun kita juga akan memerlukan kemampuan dalam mengukur. Lewat matematika kita dapat bercerita tentang kehidupan kita.

Tetapi apakah hal ini sudah dirasakan oleh anak didik kita? Apakah anak didik kita menunjukkan antusiasme di pelajaran matematika? Mitos matematika sebagai pelajaran yang sulit dan menyeramkan masih menjadi masalah di anak didik kita. Saat ini matematika masih dianggap sebagai momok bagi mereka.Mereka seringkali mengaitkan matematika sebagai rangkaian angka yang tidak bermakna.

Lalu bagaimana mengubah mitos tersebut? Bagaimana membuat matematika tidak hanya sekedar angka dan bermanfaat? Daripada hanya meminta anak menyelesaikan soal matematika, kita dapat meminta anak mengaplikasikan keterampilannya untuk membuat karya cerita.

Astri Budi Yusniati dan Dewi Caturwulandari

GagasCeria Preschool

Permainan “Pada Suatu Hari” Sebagai Media untuk Menumbuhkan Kemampuan Bercerita

Bahasa sebagai alat komunikasi baik lisan maupun tulisan memiliki peran yang kuat dalam membentuk pemikiran seperti yang diungkapkan oleh Santrock, 2007. Mengacu pada teori Vygotsky, 1962 menyebutkan bahwa pada rentang usia anak usia 5-6 tahun dapat memiliki kosa kata rata-rata 10.000 kata dan mereka juga bisa membangun kalimat sederhana.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemampuan verbal anak-anak dalam rentang usia 5-6 tahun dan untuk meningkatkan kemampuan bercerita mereka. Secara metodologis dilakukan pengamatan kualitatif terhadap kelas terpilih dengan karakteristik anak yang memiliki kebutuhan gerak tinggi, fokus pendek, dan imajinatif.

Pada awalnya dramatisasi menggunakan tokoh menjadi media untuk menumbuhkan kemampuan bercerita. Saat kegiatan tersebut dilakukan, 18 dari 20 anak mengalami kebingungan untuk mencari kalimat awal cerita dan kebingungan juga saat membuat kesinambungan antar kalimat sehingga cerita yang dihasilkan belum beralur.

Terinspirasi dari permainan “pemilik kursi” yang biasa dimainkan saat perayaan ulang tahun, kami memodifikasi cara bermainnya. Terbentuk permainan berjudul “Pada Suatu Hari.” Setelah pengamatan berulang dan melakukan diskusi dengan anak-anak, hasilnya adalah anak-anak lebih mudah membuat kalimat cerita dan antar kalimat dengan temannya memiliki hubungan sehingga alurnya lebih mudah dipahami. Selain itu, anak-anak menjadi lebih percaya diri dalam mengekspresikan gagasan mereka melalui percakapan dan menggunakan kalimat yang lengkap. Kata kunci: Prasekolah, pengembangan bahasa, permainan, taman kanak-kanak, pengisahan cerita, kosakata


Riztia Hidayani

Alifa Kids

Berdongeng sambil Menggambar

Didalam kondisi kelas yang masih kurang kondusif dimana biasanya didalam proses belajar terlebih dahulu adalah membuat anak bersemangat untuk menyambut kegiatan yang akan dilakukan yaitu lovely morning. Nah, diawal kondisi kelas yang berisikan ananda yang masih belum fokus karena masih mudah terpengaruh oleh teman-teman disekitarnya, disinilah saya akan memulai melakukan strategy yaitu berdongeng sambil menggambar. Tujuan essensial dari kegiatan ini adalah agar ananda mampu melatih motorik halusnya melalui kegiatan menggambar dan agar ananda mampu lebih fokus serta mengerti makna dan pesan moral yang terdapat di dalam cerita.

Ananda yang berada diusia 3-4 tahun adalah masa di mana ananda memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan imajinasi yang tinggi namun rasa emosionalnya masih belum terkontrol. Nah, disinilah tantangan saya bagaimana ananda bisa fokus dan dapat menarik kegiatan mereka sebelum kegiatan dimulai dengan menciptakan suasana yang kondusif dengan berbagai bentuk suara dalam berdongeng sambil menggambar.

Nah, di dalam tantangan ini, saya akan melakukan suatu aksi yaitu berdongeng sambil menggambar. Dimulai pada awal kegiatan saya mengajak ananda sepakat untuk mendengarkan cerita dengan bersungguh-sungguh, dengan duduk yang rapi dan tanpa mengobrol dengan teman. Lalu saya akan berdongeng dengan ekspresi serta mimik wajah yang sesuai dengan judul cerita sambil menggambarkan suasana didalam cerita di kertas karton berdasarkan alur cerita yang disampaikan. Lalu diakhir cerita saya mengajak ananda untuk belajar menggambar dengan menirukan gerakan tangan saya untuk menirukan karakter yang terdapat di dalam dongeng tersebut.

Setelah menerapkan strategy ini saya melihat perubahan semangat belajar ananda lebih bersemangat dari biasanya, terutama pada saat kegiatan menggambar ananda terlihat lebih kreatif dan terinspirasi dalam menciptakan suatu karya dengan percaya diri dan mandiri.



S2K105 – Mengembangkan Minat Belajar

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara mengembangkan minat siswa pada pelajaran

Susiana Manisih

MAN 14 Jakarta

Media Kisah Sukses Pelaku Ekonomi untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa

Kelas X IPS 2 adalah kelas yang siswa-siswanya cenderung pasif dan kurang fokus dalam belajar. Bahkan dengan jumlah siswa sebanyak 35 (17 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan), kelas ini agak ramai. Sementara dari kuisioner minat yang diedarkan, mereka menganggap pelajaran ekonomi tidak menarik (14%), biasa saja (80%) dan menarik (6%). Dalam pandangan mereka, pelajaran ekonomi adalah pelajaran yang banyak menghafal dan menghitung. Juga, waktu masih di SMP/MTs, metode mengajar guru IPS (ekonomi) yang mereka terima membosankan.

Dengan latar belakang tersebut, penulis berusaha untuk membangun minat siswa belajar ekonomi. Bagi penulis, Ekonomi adalah pelajaran tentang kehidupan sehari-hari yang semestinya menarik. Menghadirkan pelaku ekonomi (produsen/pengusaha), ke dalam kelas-kelas ekonomi diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa. Pelaku ekonomi (produsen/pengusaha) adalah buku hidup yang darinya siswa dapat mengambil pelajaran tentang masalah pokok ekonomi.

Media pembelajaran kisah sukses pelaku ekonomi membuka mata dan fikiran siswa, bahwa masalah pokok ekonomi adalah riil. Masalah pokok ekonomi dihadapi oleh semua manusia, kapanpun, dimanapun. Kesadaran tersebut menggugah siswa untuk lebih antusias dalam belajar ekonomi. Demikian juga pemahaman siswa terhadap konsep masalah pokok ekonomi, meningkat.


Campin Veddayana

SMKN 5 Malang

PENGEMBANGAN STRATEGI AREMANIA (AMATI, RENCANAKAN, MAJU, DAN NILAI) DALAM PEMBELAJARAN MEMBAWAKAN ACARA

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan strategi AREMANIA (Amati, Rencanakan, Maju, dan Nilai) untuk pembelajaran membawakan acara di SMP. Penelitian pengembangan ini menggunakan prosedur Research and Development. Uji produk dilakukan terhadap relevansi, keefektifan, dan visibilitas strategi. Hasil penelitian ini adalah strategi pembelajaran membawakan acara yang dikemas dalam buku panduan pelaksanaan strategi dan mendapat rata-rata uji yang menunjukkan bahwa stretegi pembelajaran dapat diimplementasikan. Kata kunci: strategi AREMANIA, pembelajaran membawakan acara


Wahyu Hidayat

SMA Negeri 2 Pekalongan

Nilai Mutlak : Game and Dance

Nilai mutlak, mendengar katanya sudah membuat merinding. Apalagi kalau sudah masuk materi. Tetapi, sebelum masuk materi, saya melakukan refleksi terhadap apa yang sudah saya lakukan pada saat perkenalan di hari pertama. Rata-rata siswa ingin belajar dengan suasana yang menyenangkan, tidak tegang dan guru tidak galak. Materi bab pertama adalah nilai mutlak. Seperti biasanya saya menjelaskan materi, memberikan contoh dan bertanya apakah semua siswa sudah paham? Kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Akan tetapi tidak ada satu pun yang menjawab. Saya anggap semua paham.

Pertemuan selanjutnya, banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas rumah karena tidak paham. Aku pun melakukan evaluasi, ternyata diamnya mereka bukan karena paham dengan materi. Akhirnya aku memikirkan strategi yang dapat membuat siswa memahami materi dan pembelajaran menjadi menyenangkan. Kemudian, timbulah ide ice breaking nilai mutlak. Dalam ice breaking ini, semua siswa terlihat senang, dengan strategi bertanya dan ice breaking, siswa lebih memahami konsep nilai mutlak, karena mereka langsung mempraktekan dan mencari konsepnya sendiri.

Pertemuan berikutnya pembelajaran dilakukan secara berkelompok melalui permainan puzzle. Kelompok dibuat dengan cara yang menarik dan adil. Dalam kelompok, setiap siswa bermain menyusun puzzle yang berisi permasalahan nilai mutlak dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kelompok mempunyai permasalahan yang berbeda. Sehingga setiap kelompok akan mempresentasikan hasil diskusinya masing-masing. Dalam kegiatan refleksi, siswa merasa senang dan paham dengan materi yang didapat.

Setelah bermain dengan puzzle, pertemuan selanjutnya membentuk kelompok yang baru untuk lebih mematangkan konsep nilai mutlak, yaitu dengan permainan jembatan nilai mutlak. Setiap kelompok menbuat medianya sendiri di rumah. Kemudian belajar sambil bermain disaat jam pelajaran. Permainan ini dapat dilakukan oleh 2 sampai 4 orang. Pada saat permainan berlansung, saya menyiapkan beberapa lagu. Ketika saya menyetel musiknya, semua siswa wajib menari dan menghentikan permainannya. Setelah musiknya saya matikan, semua kembali belajar dan bermain. Terkadang waktu 2 x 45 menit terasa kurang untuk bermain. Sehingga beberapa siswa ada yang menggunakan medianya untuk bermain di saat jam istirahat.


NANA SUTARNA

Sekolah Masjid Terminal (Master)

“MELALUI SIMULASI BELAJAR (SAR) DAPAT MEMBANTU SISWA MEMPERSIAPKAN UJIAN NASIONAL KELAS VI DI SEKOLAH MASJID TERMINAL (MASTER) DEPOK

Simulasi Belajar (SAR) di dalam Pesawat terbang merupakan manajemen kelas dimana siswa diajak untuk mengasumsikan kelas tempat mereka belajar layaknya peswat terbang yang siap mengantarkan siswa untuk terbang. Tujuan diadakannya kegiatan ini dalam rangka mempersiapkan siswa agar siap untuk menghadapi ujian nasional, memotivasi siswa agar lebih giat datang ke sekolah.

Lingkungan yang kondusif, serta motivasi yang tinggi harusnya terwujud ketika siswa mempersiapkan untuk menghadapi ujian nasional. Akan tetapi sebaliknya siswa malas untuk belajar, enggan untuk datang ke sekolah serta lingkungan kelas yang tidak kondusif, membuat siswa tidak optimal dalam belajar dan mempersiapkan ujian nasional. Diperlukan strategi yang tepat dalam menghadapi keadaan tersebut. Simulasi belajar di dalam pesawat merupakan pendekatan berbeda kepada siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Di harapkan akan menambah motivasi belajar siswa.

Metode balajar ialah cara yang digunakan untuk menyampaikan materi dengan prosedur tertentu dalam upaya mencapai tujuan kurikulum (Hamalik: 2010). Sebagian besar sekolah-sekolah kita masih menerapkan metode belajar konvensional yang mengabaikan proses, belajar hanya untuk mengejar angka kelulusan (learning for exam). Sekolah dengan model belajar seperti ini miskin pengalaman belajar karena belajar hanya dianggap sebagai kegiatan mentransfer ilmu dari guru ke murid. Sementara pendekatan lainnya adalah pendekatan yang mengacu kepada siswa atau pendekatan proses (learning for experience). Dalam pendekatan ini, belajar diartikan sebagai kegiatan mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar dalam diri siswa supaya menemukan dan mengelola hasil penemuannya atau belajar bagaimana belajar, sehingga tujuan belajar menjadi lebih luas, yaitu belajar untuk mencari pengalaman. Sekolah demikian melahirkan siswa-siswa yang kritis tandanya siswa tidak malu mengemukakan pemikiran-pemikiran kritis, gemar “melahap” buku-buku sumber ilmu pengetahuan, memiliki rasa ingin tahu yang besar.

Dengan diterapkannya metode simulasi belajar ini, siswa menjadi bersemangat untuk datang kesekolah, tingkat kelulusan menjadi besar, selain itu pengalamn belajar siswa menjadi lebih kaya, kemampuan – kemampuan siswa bisa terfasilitasi dengan program – program yang ada di dalam simulasi belajar di dalam pesawat tersebut. Kata kunci : Simulasi Belajar, pembelajaran imajinasi



S2K106 – Menjadi Orangtua Berdaya

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang peran orangtua yang berdaya dalam mendidik anak

Musdalfah, S.Pd, M.Pd

Sekolah Madania Makassar

Efektivitas Semester outline/Silabus dan Aplikasinya pada Rapat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Program ini bertujuan berbagi pengalaman tentang pengaplikasian kurikulum dengan membuat semester outline dan mengaplikasikannya pada setiap rapat RPP setiap minggunya di Sekolah Madania Makassar. Pada pengaplikasian kurikulum, guru telah memaparkan secara garis beras pembelajaran yang akan berlangsung selama satu semester. Dengan demikian, siswa dan orang tua dapat mempersiapkan diri dan telah memiliki gambaran hal-hal apa saja yang akan dilakukan selama satu semester. Semester outline meliputi minggu pembelajaran, topik, aktivitas siswa berdasarkan topik, tujuan pembelajaran siswa, dan hala-hal detail lainnya. Selain pembuatan semester outline untuk membuat lebih spesifik dan agar para guru selalu siap dan inovatif dalam mengajar maka setiap minggunya atau setiap dua kali satu bulan kami melakukan rapat RPP bersama dimana semua guru kelas dan subjek berkumpul membahas rencana pembelajaran, mendiskusikan kesulitan mengajar dan menyesuaikan hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran. Hal ini dilakukan dalam rangka mengatasi kesulitan belajar siswa dan menarik minat siswa dalam belajar. Pada rapat RPP koordinator atau guru lain bisa mengusulkan kepada guru mata pelajaran lain untuk menggunakan metode tertentu dalam mengajar bahkan dapat berkolaborasi dalam projek-projek yang akan dikerjakan siswa. Berdasarkan hasil penelitian, para guru setuju bahwa rapat RPP sangat membantu mereka dalam membuat desain pembelajaran dengan berbagai macam metode pembelajaran berdasarkan kebutuhan siswa. Misalnya pada pembelajaran Bahasa Inggris, siswa mempelajari penulis klasik dan kemudian membaca salah satu karyanya yang kemudian di dramakan. Adapun projek drama ini akan dilaksanakan juga pada kelas teater.


Khairun Nissa

Homeschooling

Pengalaman Menjadi Orangtua Homeschooling

Ketika putra saya memasuki usia 4tahun,dimana ibu Dari teman-temannya sudah mulai semangat memilih sekolah..entah saya merasa belum menemukkan sekolah yang pas untuk anak saya…

Sulung yang aktif dan Hobby bercerita sudah sering dilabeli cerewet dan tidak mau diam oleh teman-teman saya,beberapa keluarga dan tetangga.. apa jadinya nanti kalau ini ia terima sampai besar kelak?ia yang aktif bertanya,tiba-tiba diharuskan diam dan pasif?saya tidak bisa membayangkan apa jadinya kelak kalau ia diharuskan diam,dan tidak menjadi dirinya sendiri..saya ingin anak saya menjadi dirinya sendiri dengan segala keunikan yang dia miliki,memulai segala sesuatunya dengan hati,dan merdeka dalam belajar.

Saya menemukan kata kuncinya “homeschooling” tapi bagaimana?apa bisa,dengan minimnya ilmu yang saya punya? Saya coba ikhtiari dengan membaca beberapa buku,bertanya dengan para senior Hs,berdoa dan mencoba..!!

Awal memulai tanpa jadwal, apa yang jadi kebiasaan kami sebisa mungkin konsisten dilakukan(bangun sebelum subuh,tadarus bersama,sarapan buah dll)saya ingin memulainya dengan mengalir tanpa membuat anak-anak terbebani.. semoga dengan membangun kebiasaan baik, anak-anak menjadi pribadi yang sehat, berakhlaqul karimah dan semangat menjadi pembelajar sepanjang hayatnya..

Tantangannya? Karena anak-anak masih kecil dimana dunianya adalah bermain,maka saya harus membuat mereka semangat melakukan,membuat permainan yang menyenangkan..tidak membuatnya pasif dan apa yang sedang mereka sukai itu saya jadikan tema untuk bermain..semisal “pesawat” jadi kami belajar membuat pesawat dari kardus, mengenal warna dari pesawat,belajar bermacam-macam alat transportasi dimulai dengan membahas pesawat,mengobrolkan aneka macam profesi dimulai dari pesawat, mengerjakan worksheetpun dengan teman pesawat. malam sebelum tidur kami obrolkan lagi kita bahas apa besok kak?kamu sedang ingin tahu tentang apa? biasanya itu saya jadikan teman untuk proses belajar Esok harinya..

Alhamdulillah anak-anak mulai nyaman dengan proses belajar ini…melibatkan mereka menentukkan tema,membuat mereka bersemangat menjalani hari…jadi belajarpun menjadi menyenangkan. Saya bersyukur menjadi teman mereka bertumbuh.. Tanpa disadari, saya belajar banyak dari anak-anak(menjadi lebih disiplin&lebih konsisiten), menikmati proses demi proses yang kami lalui..mengobrolkan apapun saat dijalan,dipasar,dimasjid.. menjadikan segala sesuatu sebagai bahan pembelajar..kelak apapun jadinya nanti saya hanya berdoa mereka tumbuh sehat dengan adab yang baik,menjadi hamba yang patuh dan bermanfaat untuk orang banyak.

Anak-anak seharusnya didik sesuai kecenderungan&ketrampilan mereka,mungkin mendidik anak dirumah adalah yang terbaik (John Nash, Nobel Prize Economics)


Yulia Indriyati

Keluarga Kita

Praktik Pendidikan Keluarga dalam Program Rangkul

Teman Seperjalanan Keluarga Indonesia

Tidak ada orangtua yang sempurna. Semua orangtua besar cintanya pada anaknya, namun perlu pemahaman yang baik tentang bagaimana mengasuh anak agar dapat mencintai dengan lebih baik. Yayasan Rangkul Keluarga Kita adalah organisasi pendidikan keluarga yang menyusun kurikulum pengasuhan berbasis data, bukti dan riset. Ada 3 Kurikulum Keluarga Kita yaitu: Hubungan Reflektif, Disiplin Positif dan Belajar Efektif, 3 kompetensi dasar yang kami yakini perlu dimiliki oleh orangtya agar dapat menjalankan perannya dengan baik. Keluarga Kita juga menginisiasi Program Rangkul, yaitu program pendidikan keluarga di 47 kabupaten/kota di Indonesia. Keluarga Kita membuka kesempatan kolaborasi untuk para guru dan sekolah yang ingin menjalankan program pendidikan keluarga. Temui kami di sesi ini, para guru akan mendapatkan informasi bagaimana program pendidikan keluarga dirancang agar dapat mendukung peran guru di sekolah melalui penguatan peran orangtua di rumah.


S2K107 – Menciptakan Lingkungan Positif di Sekolah

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara mengembangkan lingkungan positif di sekolah yang bisa mencegah terjadinya perundungan (bullying)

Adelia Octoryta

Rumah Sekolah Cendekia

Membangun Kebiasaan untuk Mencegah Perundungan

Melihat dampak yang diakibatkan dari perundungan di masa sekolah dasar bisa terekam bahkan dapat memicu korban menjadi pelaku di masa sekolah menengah maupun di perguruan tinggi. Sangat penting di mulainya pembiasaan anak menyelesaikan masalah yang dialaminya di sekolah.

Pembiasaan menyelesaikan masalah bisa dalam bentuk :

  1. Kesepakatan Aturan kelas
  2. Kekonsistenan Penerapan aturan bersama
  3. Memfasilitasi dengan membentuk organisasi siswa di sekolah yang bertujuan mengayomi warga sekolah

Awal dari pembiasaan ini, dibutuhkan peran guru untuk memahamkan ke anak bagaimana menjadikan sekolah nyaman untuk belajar dan bermain, menyisipkan pembelajaran bagaimana merespon kejadian disekeliling dengan cara yang benar. Guru juga menjadi patron bagaimana bersikap saat menghadapi masalah. Pembelajaran mengenai bagaimana merespon yang benar, yang dilakukan dikelas akan lebih menyenangkan nelalui bermain peran tentang kejadian yang umum dialami anak disekolah.

Hal ini membuat anak merasa betah dan nyaman belajar di sekolah. Proses belajar mengajar lebih mudah tertangani meskipun ada masa guru perlu menyisihkan waktu belajar untuk membantu anak menyelesaikan masalah dengan teman. Ikatan kekeluargaan antar teman maupun antara murid dan siswa lebih dekat. Komunikasi antara guru dan orang tua pun terjalin tanpa canggung.


Karunianingtyas Rejeki

Sanggar Anak Alam

Dukungan Positif Untuk Mengelola Konflik di Kelas

Awal

Kehilangan sandal, adalah peristiwa yang beberapa kali terjadi di sekolah kami, termasuk di kelas 3. Entah itu hilang sepasang, atau hanya hilang bagian kanan atau kirinya saja. Peristiwa ini tentu saja membuat yang kehilangan merasa kesal, beberapa diantaranya menangis. Hilangnya sandal bisa terjadi karena beberapa hal, bisa karena sembarangan menaruh dan kemudian lupa, bisa karena dipinjam teman lain dan tidak dikembalikan ke tempatnya, atau bisa juga hasil dari keusilan teman-teman yang entah hanya ingin becanda atau merupakan bagian dari konflik-konflik yang umum terjadi pada anak-anak. Apapun penyebabnya, peristiwa ini perlu diolah menjadi sarana belajar bersama.

Tantangan

Beberapa hari yang lalu peristiwa kehilangan sandal terjadi lagi pada salah satu teman kecil di kelas 3. Fasilitator kelas sebetulnya sudah memiliki dugaan bahwa ada salah seorang temannya yang sengaja menyembunyikan sandal tersebut, meskipun belum terkumpul bukti-bukti kuat. Tantangannya adalah bagaimana mengungkap data-data tanpa menuduh, menghakimi, atau memojokkan anak yang diduga melakukannya. Dan bagaimana membangun suasana yang tetap positif di kelas, sehingga ketika data dan fakta telah terungkap anak-anak lain tidak memberikan respon yang memojokkan yang justru akan memberi pengalaman tidak menyenangkan buat “si pelaku” ketika dia mengungkap kejujuran.

Aksi

Agenda membahas “sandal” hilang dimasukkan oleh fasilitator dalam rencana belajar hari itu dan dituliskan di whiteboard kelas, selain pembahasan lain seperti masalah sampah dan perkembangan proyek riset menanam bunga di sekolah. Anak-anak membaca apa yang ditulis fasilitator tersebut. Beberapa detik kemudian tampak seorang anak gelisah dan tanpa meminta ijin, dia langsung keluar. Tak lama dia masuk lagi dan memanggil anak yang kehilangan sandal, serta mengatakan bahwa ia tahu di mana sandal si anak tersebut berada. Fasilitator mengikuti dua anak tersebut dari belakang, menuju ke suatu tempat tersembunyi, dan disitulah sandal tersebut “ditemukan”. Ketika fasilitator mencoba ngobrol untuk mengumpulkan data, anak ini sempat melemparkan kesalahan ke anak lain yang dia sebut “anak-anak kampung” – sebutannya untuk anak-anak di sekitar lingkungan sekolah. Pembahasan ini berlanjut ke diskusi di kelas, anak ini diminta menceritakan kejadian yang dia ketahui tentang sandal yang hilang. Si anak tampak gelisah, berbagai alasan dia ungkapkan, termasuk alasan untuk ke kamar mandi. Fasilitator tetap memberikan dukungan positif, supaya dia mau memulai bercerita. Sedikit demi sedikit dia mulai bercerita meskipun ceritanya berputar-putar kemana-mana. Berkali-kali dia ragu akan menceritakan inti ceritanya, dan kemudian mengajukan permintaan supaya fasilitator dan teman-temannya tidak marah kalau dia berbicara jujur. Fasilitator dan teman-teman sepakat, bahkan akan memberikan apresiasi berupa tepuk tangan. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menunggu hal itu, dan memang tak mudah bagi anak tersebut untuk menceritakan perbuatannya di depan teman-teman dan fasilitatornya, tapi akhirnya bisa. Dan betul, tepuk tanganlah yang didapatnya hari itu, untuk keberaniannya mengakui kesalahan.

Perubahan/Pelajaran.

Yang menakjubkan dan tidak disangka, anak-anak lain yang pernah membuat kesalahan serupa, bahkan yang sudah berlalu setahun lamanya, turut mengakui perbuatannya tanpa diminta. Mereka sudah merasa aman dan nyaman bercerita, karena ternyata bukan hukuman yang diperoleh. Ya, anak-anak kadang memilih untuk tidak bercerita atau bahkan memilih mengarang cerita bohong karena takut atau tidak nyaman pada respon orang dewasa, respon marah biasanya. Padahal dalam situasi seperti itu – menyimpan kesalahan yang sama dengan mengalami masalah – anak justru butuh dukungan orang dewasa yang mendampinginya. Bukan berarti kita melakukan pembiaran-pembiaran pada kesalahan, namun penerimaan adalah syarat utama untuk dapat membuka “kran” bercerita. Selanjutnya tentu saja kita dapat mengolah cerita-cerita tersebut menjadi diskusi-diskusi bersama anak yang dapat menumbuhkan perilaku baiknya.

Kelas Kompetensi :
Belajar Dari Peristiwa : Merancang Daur Belajar

Persoalan yang ingin diselesaikan

Banyak orang ketika sudah selesai belajar tentang sesuatu tidak tahu untuk apa teori atau konsep yang sudah dipelajari, sehingga ilmu yang mereka peroleh hanya sekedar untuk melewati saja mata pelajaran yang harus ditempuh. Kenapa begitu? Hal ini disebabkan karena proses belajar yang dilakukan tidaklah dekat atau berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, tidaklah berawal dari peristiwa. Sehingga kesannya “ujug-ujug” harus belajar, tanpa mengerti apa manfaatnya. Ketika seseorang belajar dengan dipaksa tanpa pernah memahami konsep, tanpa pernah menjumpainya secara riil, tanpa bisa mengaitkannya dengan peristiwa, maka pelajaran tersebut hanya akan terima sebagai “pengetahuan sambil lalu” yang dihafalkan saja. Padahal ciri orang yang hanya sekedar menghafal adalah cepat lupa, sehingga bila pelajaran tersebut sudah lewat maka lupa pula apa yang telah “dipelajari”. Lain halnya ketika proses belajar berangkat dari peristiwa sehari-hari, yang dijumpai di lingkungan sekolah atau lingkungan rumah maka akan membantu seorang pembelajar dalam memahami konsep yang riil, tidak ngawang-awang. Selain itu dengan mengakrabkan diri belajar dari kehidupan sehari-hari, akan membuat pembelajar mengerti bagaimana mengaplikasikan apa yang telah dipelajarinya dan bagaimana menggunakannya untuk menghadapi permasalahan nyata di dalam kehidupan.

Tujuan dan manfaat bagi peserta kelas

Tujuan dan manfaat kelas kompetensi ini adalah peserta kelas mulai belajar dan akhirnya terbiasa untuk melakukan aktivitas belajar bersama yang dimulai dari sebuah peristiwa.

Kompetensi yang dipelajari

• Kemampuan mengolah peristiwa menjadi sumber belajar
• Kemampuan mengembangkan proses belajar melalui pertanyaan-pertanyaan
• Kemampuan bertanya yang mendorong lagi rasa ingin tahu anak, bukan untuk mengetes

Gambaran proses belajarnya

• Paparan singkat materi yang berisi tentang : Mengapa penting menerapkan proses belajar yang berawal dari peristiwa, Apa manfaat belajar dari peristiwa, Bagaimana mengaitkan peristiwa menjadi sumber belajar, dan bagaimana pengembangannya.
• Workshop kecil dalam kelompok untuk merancang pembelajaran yang dimulai dari peristiwa.


Nurwahdah

SMP Islamiyah Ciputat – IslamEdu

MENDIDIK DENGAN KASIH SAYANG

Terjadinya penyimpangan ajaran agama di kalangan remaja sekarang ini telah menjadi fenomena, yang dapat dilihat dari perilaku keagamaan mereka. Hal tersebut disinyalir karena pendidikan agama tidak terinternalisasikan dengan baik menjadi karakter kepribadiannya. Pendidikan agama yang diberikan oleh para guru kepada peserta didik kurang menarik dari sisi materi, apalagi metode yang digunakannya. Untuk mencapai tujuan pendidikan agama yang diharapkan, yaitu pribadi yang bertaqwa dengan Aqidah yang benar, memiliki komitmen beribadah dan berakhlak mulia maka penting bagi guru memilih metode yang digunakan. Di dalam Al-Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat tentang pendidikan yang berhubungan dengan tujuan maupun metode pemelajaran, diantaranya dapat ditelaah dari al-Qur’an surat al-Rahman ayat 1- 4.

(1) Dalam al-Qur’an surat al- Rahman ayat 1 – 4, terkandung nilai-nilai metodologis bahwa seorang pendidik dituntut memiliki sifat-sifat kasih sayang, murah hati, sabar, lemah lembut, santun, menguasai materi, mampu membaca dan memahami al-Qur’an dengan baik, serta harus jelas dalam menyampaikan pelajaran.

(2) Metode-metode pemelajaran Agama Islam yang dapat dipahami dari ayat tersebut maupun munasabahnya antara lain: metode kasih sayang, lemah lembut, membaca, tabyin, kisah, keteladanan, pembiasaan, perhatian, tanya jawab, dan ceramah.

Dengan menggunakan metode-metode tersebut maka dapat dilihat perubahan yang terjadi pada remaja berupa kedisiplinan dalam pelaksanaan shalat fardhu, terjadinya perubahan perilaku dari ketidak peduliannya terhadap lingkungan menjadi sedikit lebih peduli ataupun pemilihan kosa kata yang diucapkan.

Ini yang kami peroleh dari Living Qur’an atau Islam edu sekarang, semoga perlahan tapi pasti kami bersama Islam Edu dapat memberikan pencerahan kepada siswa/I dilingkungan sekolah kami.


Rahma Paramita, M.Psi

Theraplay Indonesia

Pentingnya Membangun Hubungan Positif dengan Murid.

Sejalan dengan teori attachment (Ainsworth, 1982; Bowlby, 1969), hubungan yang positif antara guru dan murid akan membuat murid merasa aman dan nyaman dalam lingkungan belajar serta menjadi jalan untuk tercapainya keterampilan sosial dan akademik yang penting (Baker et al., 2008; O’Connor, Dearing, & Collins, 2011; Silver, Measelle, Armstron, & Essex, 2005 dalam Gallagher 2017). Guru yang mendukung murid-muridnya dengan lingkungan belajar yang positif, akan berpengaruh positif juga terhadap perkembangan sosial dan hasil akademik murid. Hal ini akan berdampak sepanjang kehidupan sekolah bahkan sampai kehidupan pekerjaan murid (Baker et al., 2008; O’Connor et al., 2011; Silver et al., 2005 dalam Gallagher 2017).

Yang dimaksud hubungan guru-murid yang positif adalah adanya kedekatan, kehangatan, dan nilai-nilai positif (Hamre & Pianta, 2001 dalam Gallagher 2017). Dengan adanya hal tersebut, guru menjadi “tempat aman” sehingga murid dapat bebas bereksplorasi di kelas maupun sekolah, menghadapi tantangan akademik dan mengembangkan keterampilan sosial-emosinya. Hal ini juga akan mempengaruhi hubungan pertemanan serta membangun kepercayaan diri dan membentuk konsep diri. Melalui hubungan yang “aman”, murid akan belajar mengenai perilaku yang tepat, memahami tuntutan akademik dan bagaimana cara memenuhi tuntutan tersebut (Hamre & Pianta, 2001 dalam Gallagher 2017).

Bagaimana cara menjalin hubungan yang positif antara guru dan murid?
Salah satu cara yang paling dekat dengan murid adalah melalui “bermain”. Mengutip Friedrich Froebel: “Bermain adalah pekerjaan anak”. Bermain adalah cara dan bahasa yang dipahami oleh manusia di semua usia. Selain itu bermain terbukti dapat menciptakan “situasi tenang” pada anak sehingga dapat mengoptimalkan proses belajar di kelas dan dalam situasi sosial (Porges, 2015).

Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah Theraplay. Theraplay merupakan sebuah intervensi menggunakan media bermain, bertujuan membangun dan meningkatkan attachment, kepercayaan diri, kepercayaan kepada orang lain dan keterlibatan yang menyenangkan. Theraplay dapat dilakuan dalam kelompok dan memiliki bentuk khusus yang dapat diterapkan didalam seting kelas, disebut sebagai Sunshine Circle.



S2K108 – Manajemen Pendidikan: Menerjemahkan Visi Sekolah

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang kepemimpinan dan cara menerjemahkan visi sekolah menjadi aksi nyata

Intani Prajaswari

Kinderfield School Cirebon

Tantangan menjadi Kepala Sekolah

Kebanyakan Kepala Sekolah merasa lelah, capek, overwhelmed dan sendirian dalam mengemban tugasnya sebagai pelaksanan pelayanan pendidikan di lembaganya. Memang tidak bisa ya menjadi Kepala Sekolah tapi bisa cool tapi komitmen?

Diperlukan Survival Skill atau Survival Kit untuk menjadi Kepala Sekolah TK dan SD, agar Kepala Sekolah bisa mengerjakan tugasnya dengan baik, bertahan untuk terus konsisten menjadi nakhoda tangguh yang membawa dan menjaga “kapal”nya.

Sebenarnya survival kit-nya hanya satu, yaitu : KESADARAN. Kesadaran bahwa tugas Kepala Sekolah itu melekat dan tidak main-main walaupun sebenarnya judul awal Kepala Sekolah adalah “Tambahan Tugas” dari tugas utama yaitu sebagai guru. Jadi semua kompetensi Guru harus bisa dikuasai. Tidak mungkin seoarang manager tidak tau prosedur anak-buahnya bekerja.

Kesadaran bahwa Komunikasi positif dan efektif sangat penting dalam menjalankan tugas terutama kepada: Guru, Orangtua dan Yayasan. dan ceria ketika menyambut Awal tahun ajaran. Menjadi Kepala Sekolah adalah menjadi “the patty of the burger” yang merupakan bagian ter-juicy tetapi juga bagian yang “dihimpit” atas dan bawah, artinya Kepala Sekolah harus bisa menyelesaikan masalah/konflik, komplen orangtua, negosiasi dengan yayasan dan membimbing guru dalam semua kompetensi guru.

Dengan guru, Kepala Sekolah harus bisa memberikan waktu dan ruang untuk mereka terus belajar. Ketika guru bergairah untuk belajar mereka akan memberikan yang terbaik untuk sekolah karena merasa di”dukung” oleh Kepala Sekolahnya.

Dengan Orangtua, Kepala sekolah harus bisa memilah feedback yang konstruktif dan destruktif, kemampuan komunikasi sangat diperlukan terutama ketika ada masalah yang terjadi, atau berhadapan dengan orangtua yang marah

Dengan Yayasan, Kepala Sekolah bisa sebagai “evaluator” dan “adviser” terhadap program sekolah, bukan hanya sekedar “inisiator” sehingga bisa bersinergi.

Terakhir, kesadaran bahwa tugas Kepala Sekolah setiap tahun selalu komplek dan berkembang terus sesuai dengan jaman. Sehingga amunisi yang paling tepat adalah Kesadaran bahwa tugas ini adalah amanah. Akhir tahun ajaran selalu bahagia mengantar siswa selesai menyelesaikan satu tahapan kelas dan selalu bersemangat. Kesadaran bahwa menjadi Kepala Sekolah adalah tidak berhenti belajar.


Widya Ayu Ningsih

Alifa Kids

Peggunaan KPI untuk Pengembangan Guru

Awal: salah kaprah yang terjadi dalam pengembangan diri guru selama ini adalah guru beranggapan bahwa karir guru hanya menjadi kepala sekolah. padahal pilihan karir guru bukanlah seperti sebuah tangga yang hanya memiliki satu ujung melainkan seperti pohon yang memiliki banyak cabang. seorang guru dapat berkarir sebagai desainer kurikulum, sebagai pelatih bagi guru lainnya, sebagai penulis, dan lain-lain. di Alifa Kids, kami menggunakan KPI sebagai salah satu alat bantu untuk mendampingi guru dalam mengembangkan karir. melalui KPI ini, diharapkan bahwa guru mampu menciptakan suatu karya melalui mading guru yang di dalamnya berisikan tulisan yang menambah pengetahuan guru lainnya. Tantangan : mungkin guru bernggapan bahwa KPI hanya alat ukur semata dan kadang terpersepsi negatif untuk menakuti tim dalam bekerja sehingga menghambat guru untuk memiliki karir dan menciptakan karya. aksi : membuat suatu karya melalui mading guru.


ABDUL AZIS

SMK MUHAMMADIYAH BLIGO

Memotivasi Murid dengan Slogan Sekolah

Memotivasi peserta didik dengan tagline sekolah SMK Muhammadiyah Bligo “Wujudkan Mimpimu, GO! For It.” Langkah awal proses belajar yaitu membagi kelas menjadi beberapa kelompok dimana satu kelompok terdiri dari 4-5 siswa. kemudian kelompok diberi selembar kertas yang bertuliskan tagline sekolah “ Wujudkan mimpimu, GO! For It.” Sebagai bahan diskusi selama 10 menit. Diskusi diawali dengan menyuruh siswa untuk mendiskripsikan apa maksud yang terkandung dalam tulisan terebut. Hasil dari diskusi tersebut dipresentasikan oleh perwakilan dari masing-masing kelompok. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran ini adalah memotivasi siswa agar mempunyai mimpi yang akan dicapai sebagai orientasi masa depan. Metode diskusi dan presentasi bertujuan untuk melatih mental peserta didik untuk menumbuhkan rasa percaya diri.

Setelah diskusi kelompok kecil selesai hasilnya dipresentasikan oleh perwakilan masing-masing kelompok. Dalam diskusi ini tantangannya adalah masih ada beberapa siswa yang masih malu dan minder untuk berbicara dan menyampaikan dikelas, bahkan hanya dengan membaca hasil diskusi. Kemudian beberapa siswa masih senang membully atau mengejek peserta didik yang sedang presentasi atau siswa lain. Disini ada satu penekanan dalam diskusi yaitu siswa berhak dan merdeka untuk berbicara namun juga mempunyai kewajiban untuk mendengarkan dan menghargai orang sedang presentasi atau berbicara didepan tanpa adanya ejekan atau membully serta meyakinkan siswa yang masih minder ketika presentasi didepan kelas.

Diskusi berjalan seru, beberapa ada yang minder dan yang lain sudah terlihat percaya diri berbicara didepan kelas. Ada satu perwakilan siswa yang kelihatan diam namun ternyata dia mampu untuk berbicara didepan kelas bahkan tanpa teks, bukan hanya itu, apa yang disampaikan pun berisi materi yang sedang didiskusikan. Terdapat kesamaan persepsi siswa dalam mendiskripsikan tagline sekolah yaitu tentang mewujudkan cita-cita dan pencapaian kesuksesan masa depan.

Setelah diskusi, ada beberapa penekanan dan rangkuman diskusi yaitu siswa diharapkan mempunyai mimpi, mempunyai rencana masa depan yang konkrit untuk diwujudkan kemudian raihlah, bersama SMK Muhammadiyah Bligo mewujudkan mimpi. Di akhir pertemuan ada beberapa siswa yang sudah berani tampil untuk mengajukan pertanyaan. Salah satunya adalah bagaimana kita bisa mewujudkan mimpi agar tidak putus asa ditengah jalan. Ini merupakan respon postive dari siswa dalam pembelajaran dimana siswa sudah bisa menangkap apa yang diharapkan dalam pembelajaran.


Fatma Puri Sayekti, M. Psi., Psikolog

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri

Pengalaman Menjalankan Studi Lapangan

Saya mengajar di Program Studi Psikologi Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri, Jawa Timur. Dan kelas yang akan saya ceritakan adalah kelas Mata Kuliah Psikologi Perkembangan, yang secara umum memelajari perkembangan manusia sepanjang hayat. Mulai dari sebelum lahir hingga menjelang ajal. Mulai dari perkembangan fisik, kognisi, sosioemosional, dan konteks yang melingkupinya. Pemrograman minat studi mahasiswa awalnya baru dilakukan pada semester tujuh, yaitu apakah mahasiswa lebih minat pada konsentrasi Psikologi Perkembangan dan Pendidikan, atau Psikologi Klinis, atau Psikologi Industri dan Organisasi, atau Psikologi Sosial. Hal ini mengakibatkan mahasiswa masih banyak yang bingung ketika akan menentukan judul skripsi. Dan sebenarnya dampak utama adalah mahasiswa ketika akan lulus masih gamang dalam menentukan ia ingin menjadi ahli di bidang Psikologi apa, atau ingin bekerja dalam setting Psikologi yang seperti apa. Apakah di sekolah, rumah sakit, lembaga masyarakat, perusahaan, instansi pemerintah, atau berwirausaha. Tujuan praktik mengajar saya berupa kuliah lapangan kali ini adalah mengidentifikasi sejak dini minat studi Psikologi masing-masing mahasiswa, yang ketika itu duduk di semester dua. Harapan saya, agar mahasiswa mampu mengenali minatnya dan menentukan sejak awal ingin menekuni bidang Psikologi apa selama 3 tahun ke depan.

Tantangan yang saya rasakan sebagai dosen pengampu adalah ketika akan menentukan lokasi kuliah lapangan. Kampus belum banyak memiliki jaringan dengan lembaga yang saya bayangkan. Saya membayangkan mahasiswa perlu tiga lokasi untuk kuliah lapangan dan pengambilan data, berupa observasi dan wawancara. Untuk mewakili beberapa konsentrasi psikologi, saya mencari tempat yang menyediakan “subjek” usia kanak-kanak, remaja, dan lanjut usia. Untungnya untuk subjek anak-anak, salah satu teman saya memiliki Sekolah Alam pada jenjang playgroup dan TK. Untuk subjek remaja, saya ingin mencari yang unik, tapi masih sulit aksesnya. Misalnya ke penjara, komunitas punk, atau yang lain. Untuk lanjut usia, saya mencari panti jompo, tapi tidak mudah juga. Ada Vihara dan pondok lansia dekat rumah saya, tapi belum cukup menarik. Setelah bertanya kesana-kemari, akhirnya saya mendapatkan akses (yang lagi-lagi ternyata teman saya sendiri) yang keluarganya memiliki sebuah yayasan besar. Salah duanya adalah Pondok Singgah Sapu Jagad yang merehabilitasi pecandu narkoba dan orang-orang dengan gangguan jiwa serta Pondok Lansia berbasis ajaran thariqat yang berisi puluhan nenek dan kakek yang memutuskan menghabiskan sisa hidupnya untuk beribadah di sana. Lokasi keduanya di Pare, Kabupaten Kediri. Masalah terpecahkan.

Persiapan pertama yang kami lakukan di kelas adalah pembagian kelompok. Mahasiswa saya minta memilih salah satu lokasi untuk kuliah lapangan sesuai dengan minatnya. Yang minat berinteraksi dengan anak-anak bisa memilih mengunjungi playgroup dan TK Ramadhani. Yang minat melihat dan mewawancarai para pecandu narkoba dan orang dengan gangguan jiwa bisa memilih mendatangi Pondok Singgah Sapu Jagad. Dan yang minat menggali lebih dalam soal motif dan kondisi para lansia yang puluhan tahun mondok dan terpisah dari anak cucunya, dapat melihatnya di Pondok Lansia Roudlotul Ulum. Mahasiswa merdeka menentukan pilihan belajarnya. Mereka juga belajar untuk menghadapi konsekuensi masing-masing. Misal ketika berhadapan dengan anak kecil harus lebih sabar. Jika menghadapi pecandu narkoba harus membawa satu pak rokok dan menyisihkan ketakutannya, bersikap santai dan senormal mungkin. Jika berkomunikasi dengan para lansia harus terampil berbahasa Jawa halus dalam bertanya dan menanggapi, serta menghindari kalimat-kalimat yang sensitif yang berpotensi melukai hati beliau-beliau ini. Kedua, mahasiswa mendaftar pertanyaan yang relevan dengan studi yang sedang kami bahas, kemudian merangkumnya dalam sebuah format observasi dan wawancara yang siap dipakai untuk turun ke lapangan. Ketiga, pelaksanaan di lokasi masing-masing dengan segala dinamikanya.

Terakhir, minggu berikutnya ketika kami bertemu kembali di kelas, kami melakukan refleksi terhadap proses dan hasil kuliah lapangan. Ada beberapa umpan balik yang saya dapatkan dari mahasiswa dan saya sangat senang mengetahuinya. Misal mahasiswa mengatakan waktunya terlalu singkat untuk menggali informasi; juga waktunya terlalu panjang karena mulainya molor; kealpaan saya meminta mereka membawa makan siang padahal jam melewati Dhuhur; dan ada satu dua subjek yang karakteristiknya tidak sesuai dengan sasaran kegiatan awal. Secara positif, ada yang mengatakan mereka sangat senang “terbebas” dari rutinitas kuliah yang menjemukan di kelas sepanjang satu semester dengan mengikuti kuliah lapangan ini. Mereka juga mendapat insight bahwa mungkin ketika orangtuanya nanti sudah lanjut usia, akan dimasukkan ke pondok itu. Ada juga yang bersikeras tidak akan memasukkan ke pondok lansia karena kasihan. Mereka juga dapat mengevaluasi bahwa penanganan terhadap santri dengan gangguan jiwa belum optimal, belum ada tenaga profesional, sehingga di situlah letak kebutuhan para ahli dan lulusan Psikologi di masyarakat. Dan di sekolah alam yang konsepnya masih awam untuk mahasiswa, mereka mendapat banyak tambahan informasi mengenai apa itu sekolah alam, bagaimana anak-anak dimerdekakan dalam belajar, melihat suasana sekolah dengan halaman kebun yang sangat luas, memanfaatkan segala potensi alam yang ada untuk pembelajaran, dan sebagainya. Refleksi dari diri saya pribadi sebagai dosen, saya menjadi tahu ragam minat masing-masing mahasiswa dalam belajar Psikologi. Dan hal itu salah satu poin kecil tolok ukur keberhasilan pengajaran bagi saya.



S2K109 – Guru Menulis, Guru Berkarya

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang cara menulis buku dan upaya menularkan kegemaran menulis di komunitas guru.

Eka Wardana

SDIT AL QUDS

Menularkan Kegemaran Menulis Pada Guru

Biasanya yang menular konotasinya penyakit. Namun tak ada salahnya menularkan kebaikan, yakni kegemaran menulis pada guru. Mengapa kegemaran menulis ini perlu ditularkan kepada guru? Jelas menulis banyak manfaat yang bisa dipetik oleh guru. Sebab itu perlu upaya agar kegemaran menulis hadir pada diri guru. Sehingga setidaknya guru dapat merasakan sendiri manfaat menulis, bukan hanya sekadar cerita.

Dimulai dengan kelas menulis TPN tahun 2016, kegemaran menulis itu terasa getarnya. Dari yang paling sederhana seperti menemukan ide, mengolahnya menjadi tuisan yang enak dibaca. Atau bermain dengan puisi dan cerita pendek. Seperti anak-anak yang mencoba bermain dengan mainan baru, para guru suka dengan kegiatan yang menyenangkan ketika menulis. Kadang menguji apakah ide yang dikembangkannya mendapatkan respon dari teman-temannya? Atau dianggap biasa-biasa, semua berproses menjadi hal yang dirasa wajar.

Setelah muncul kepercayaan diri untuk menulis, selanjutnya mengasahnya menjadi terampil. Bagaimana caranya? Yang perlu dibangun adalah keberanian untuk mencoba. Sehingga tidak perlu takut salah. Semakin sering mencoba maka bertambah keterampilannya. Guru perlu merasakan sendiri perkemabangan menulisnya. Apakah telah mengalami perubahan-perubahan? Pergeserannya seperti apa? dengan demikian proses pembelajaran tentang menulis bisa berlangsung dalam diri guru.

Jika kepercayaan diri sudah ada, keberanina unutk mencoba menulis semakin bertambah maka tahap berikutnya adalah mengenalkan guru pada jenis-jenis tulisan yang ingin dikembangkan. Memang betul, semua jenis tulisan adalah bagian dari sarana untuk ekspresi. Baik pemikiran, perasaan, maupun tindakan. Namun guru perlu mengetahui bahwa rupa mengekspresikan itu bisa beragam. Menyampaikan curahan hati bisa mengunakan puisi, cerpen atau novel. Akan kurang tepat menyampaikan curahan hati dengan mengunakan karya tulis ilmiah atau bahkan jurnal.

Selain itu semua, guru butuh wadah untuk menuangkan hasil tulisannya. Kini, dengan perkembangan teknologi yang pesat, dengan mudah guru menyampaikan hasil karyanya melalui ruang rumpi, sosial media atau bahkan mengirimkan karyanya ke koran. Cara ini membantu guru untuk konsisten menulis. Ibarat seorang perenang, membutuhkan kolam untuk terus berenang agar keterampilannya terasah.


Ida Widaningsih

SMPN 160 Jakarta

Asyiknya Menulis Buku

Orang pintar banyak, tetapi orang nulis sedikit. Hasil riset menyatakan bahwa judul buku tiap tahunnya sangat sedikit. Salah satunya banyak juga yang belum paham cara menulis dan menerbitkan buku gimana. Di kelas karier ini saya ingin berbagi tips menulis. Jangan sampai tulisan kita hanya menjafi prasasti di laptop. Karya saya dibuku remaja permasalahannya menjelaskan bagaimana peran orang tua, guru, dan masyarakat dalam menanggulangi kenakalan remaja. Setidaknya menjafi inspirasi buat guru yang belum menulis Profil saya ida widaningsih. Guru agama islam smpn 160 jakarta. Sudah menrbitkan dua buku secara self dan buju ketiga diterbitkan oleh campustaka. Terbit agustus. Saat ini sedang penyelesaian tesis.

Perihal menampilkan karya ini pengaruhnya cukup besar bagi keberlangsungan menulis dikalangan guru. Satu sisi memang betul guru butuh pengakuan, baik dari kolega maupun publik. Di sisi lain mereka juga menunjang karir sebagai guru. Jika guru ANS bisa mendapatkan angka kredit setiap kali menulis dan dimuat dimedia massa. Sementara guru swasta bisa mengembangkan bakatnya sebagai penulis lepas yang bebas berkreasi. Sebab itu, membuat karya bersama semacam bunga rampai sangat membantu guru untuk mengaktualisasikan diri dalam menulis.

Kualitas tulisan guru jangan disangka tak memadai. Bahkan banyak ide-ide cemerlang yang dikupas guru. Semisal masalah-masalah pendidikan yang sedang hangat, seperti sertifikasi, uji kompetensi guru, kekerasan di sekolah, tawuran pelajar, periodisasi kepala sekolah, atau gerakan literasi. Ditulis dengan pengembangan gagasan yang cair namun tetap memikat. Perkembangan ini menarik, karena pandangan yang beredar bahwa guru hanya bisa mengajar, mana mungkin bisa berwacana hal yang sifatnya strategis kebijakan? Anggapan ini perlahan terkikis menjadi sebuah keyakinan bahwa jika ada kemauan ada jalan menanti disana untuk berubah.

Dengan keterampilan menulis ini, guru tidak saja menyerahkan nasibnya kepada para pengamat atau mengambil kebijakan, namun mereka bisa bersuara sendiri melalui tulisan-tulisanya. Melalui tulisan yang beragam itu, menggunakan narasi, argumentasi yang bernas, atau mengekspos hal yang tersembunyi guru bisa menyuarakan nasibnya agar bisa lebih didengar. Guru lebih bisa menyarakan hatinya secara lebih tertata sehingga dapat dimengerti oleh banyak pihak, bukan hanya teman dan guru sejawat namun masyarakat luas, pemerintah dan ujungnya bisa merubah kebijakan yang memihak guru.

Menularkan kegemaran menulis pada guru bukan semata mengajarkan bagaimana menulis dengan baik, pada hakekatnya memberikan “kail” bagi guru untuk bisa lebih berdaya. Dan dengan kail itu, guru yang gemar menulis itu akan banyak menebar manfaat. Termasuk di dalamnya menyuarakan nasibnya.



S2K110 – Belajar Seni dan Musik

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara belajar pada pelajaran seni dan musik, yang bisa digunakan polanya pada berbagai pelajaran.

JC Pramudia Natal

Sekolah ACG Jakarta

Merdeka Ber(Gubah)-Musik.

Melalui kelas ini narasumber ingin berbagi bagaimana peserta didik usia sekolah dasar (kelas 2 – kelas 6) dapat diasah intuisi musikalnya melalui aktifitas menggubah musik. Intuisi musikal peserta didik yang disasar mencakup kepekaan panca-rasa (hening, bunyi, titinada, waktu, dan ruang). Dengan meningkatkan intuisi musikal melalui kepekaan panca-rasa peserta didik dapat mengalami perkembangan fisik dan psikologis yang lebih menyeluruh.

Aktifitas menggubah musik itu sendiri dapat bermula dari: 1) interpretasi gerak terhadap musik (pengembangan kepekaan dwi-rasa; waktu-ruang), 2) interpretasi ritmis terhadap fenomena (pengembangan kepekaan catur-rasa; hening-bunyi-waktu-ruang), dan 3) interpretasi musikal terhadap fenomena (pengembangan kepekaan panca-rasa; hening-bunyi-titinada-waktu-ruang).

Dengan mengikuti kelas ini diharapkan peserta dapat: 1) memperoleh informasi pemaparan musik yang sangkil di dalam kelas terkait pengembangan tata-kelola motorik kasar 2) memperoleh informasi mengenai metode gubahan lagu yang secara psiko-kognisi tepat digunakan di kelas musik secara khusus, dan dalam mapel lain secara umum dalam konteks kurikulum terpadu 3) mengaplikasikan metode terberi poin 2. 4) memperkaya metode yang dibagi dengan berbagi pengalaman kelas masing-masing.


Nino Aditya Rajasa

Jakarta Multicultural School

Pendekatan Pelajaran Musik Dengan Cara Baru.

Sebagai murid, dulu pasti anda pernah belajar teori musik. Apalagi apabila anda pernah belajar musik formal dengan mengambil les musik. Apakah anda familiar dengan notasi musik? Apakah anda yang tidak familiar dengan notasi musik bisa memainkan alat musik? Anda ingat dulu pernah baca not balok sewaktu belajar memainkan suling? Apa fungsi notasi musik? Apabila Mozart atau Beethoven hidup dimasa kini, apakah mereka akan menggunakan notasi musik sebagai alat dokumentasi? Apakah dengan adanya teknologi, seperti alat rekam, atau komputer, atau ipad, mereka akan tetap masih memakai lembar notasi musik?

Kalau anak-anak kita belajar formal seperti ini, waktu mereka belajar musik akan habis dengan belajar teori. Sampai untuk bisa bermain musik pasti akan lama sekali.

Bagaimana kalau kita merubah pola belajar menjadi: bermain musik dulu, mencoba alat musik dulu, dengan lagu-lagu yang mereka sukai, baru belajar teori musik atau notasinya belakangan? Bagaimana kalau kita merubah sistem belajar menjadi terbalik, bermain dulu, baru belajar teori?

Demikian konsep belajar musik terkini, dari Musical Future, program belajar musik dengan cara menyenangkan, menggunakan teknologi dan cara belajar yang berbeda.


Nyoman Aria Negara Kardha

Sekolah Cikal Cilandak

Belajar Melalui Seni

Segala bentuk kegiatan apresiasi seni secara umum bertujuan untuk mendidik siswa memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Tidak hanya sekedar untuk bidang seni sendiri akan tetapi pengalaman apresiasi seni pada usaha untuk mengembangkan pola pikir peserta didik. Secara umum, ada tiga bentuk pembelajaran seni di dalam konteks pendidikan yaitu; Belajar tentang Seni, Belajar dengan Seni dan Belajar melalui Seni.

Kegiatan pembelajaran seni secara umum dibagi menjadi 2, yaitu seni visual dan seni pertunjukan, yang tanpa kita sadari kedua disiplin seni tersebut sangat erat kaitannya dengan disiplin ilmu lainnya. Seperti belajar menulis lagu sambil belajar tentang suku kata di dalam pelajaran Bahasa Indonesia, belajar membuat maket di seni rupa sambil belajar geometri di dalam pelajaran matematika dan masih banyak lagi kegiatan berkesenian lainnya yang bisa saling melengkapi pembelajaran yang lain.

Akhirnya, karena belajar seni selalu menyenangkan, maka mari kita buat pembelajaran lain menjadi menyenangkan dengan cara “Belajar Melalui Seni”.


Dr.H.Hasyim, M.Pd

SMA Negeri 2 Tenggarong

Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran Seni Budaya SMA di Kabupaten Kutai Kartanegara. Samarinda

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Seni Budaya Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Kutai Kartanegara, dengan menggunakan model evaluasi CIPP (Contect, Input, Process, Product). Metode penelitiannya adalah gabungan, teknik pengumpulan datanya menggunakan kuisioner dan obeservasi, serta wawancara. Jumlah populasi dan sampel sebanyak 33 guru SMA yang mengajar mata pelajaran Seni Budaya pada 18 Kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konteks (context) pelaksanaan pembelajaran seni budaya SMA di Kabupaten Kutai Kartanegara (meliputi: landasan, visi dan misi, serta kurikulum) belum relevan dengan Standar Pendidikan Nasional, disebabkan belum terpenuhinya kualifikasi dan kompetensi guru seni budaya.

Input (input) dalam pelaksanaan pembelajaran seni budaya SMA di Kabupaten Kutai Kartanegara (meliputi: tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan), belum relevan dengan Standar Pendidikan Nasional, disebabkan belum terpenuhinya tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan di sekolah.

Proses (process) dalam pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran seni sudaya (yang mencakup perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan), belum relevan dengan Standar Pendidikan Nasiobal, khususnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses, khususnya pada aspek kemampuan guru dalam mengajar.

Produk (product) dalam pembelajaran mata pelajaran seni budaya SMA di Kabupaten Kutai Kartanegara (meliputi: penilaian dan kompetensi lulusan, pengetahuan, sikap, keterampilan), belum relevan dengan Standar Pendidikan Nasional, hal ini disebabkan karena belum terpenuhinya komponen standar kompetensi lulusan. Kata kunci: Evaluasi Program, Pembelajaran Seni Budaya, CIPP.



S2K111 – Pengembangan Media Belajar

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara memperluas pilihan media belajar untuk memperkaya proses belajar di kelas.

Amelia Sari Tauresia Kestuma

Madrasah Aliyah Negeri Salatiga

Efektivitas Dagang Game pada Pelajaran IPS

“Penelitian Homan (2013) mengungkapkan, akuntansi termasuk pelajaran yang sulit menurut siswa, persepsi siswa mengenai sulitnya mempelajari akuntansi diduga karena proses belajar belum dilakukan secara aktif, padahal keaktifan siswa dalam proses belajar dapat menjadikan belajar lebih bermakna. Makna dalam hal ini merupakan hasil bentukan siswa sendiri yang bersumber dari apa yang mereka lihat, rasakan dan alami (Aunurrahman, 2009). Pra penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil belajar mata pelajaran akuntansi 84,37 % atau 27 dari 32 siswa masih berada dibawah KKM 75 dengan nilai rata rata 45,63.
Kondisi rendahnya hasil belajar siswa, mendorong penulis untuk membuat media simulasi yang memudahkan siswa belajar akuntansi usaha dagang. Media pembelajaran ini disebut dengan Dagang Game 2014, sebuah media simulasi yang dibuat berdasarkan pada aturan-aturan dalam permainan Monopoly, tetapi disesuaikan dengan aturan transaksi usaha dagang sesuai kompetensi dasar yang harus dipahami siswa. Media simulasi modifikasi dari permainan Monopoly.

Dengan menggunakan permainan ini terbukti siswa meningkat kemampuannya, permainan simulasi Dagang Game 2014 ini membuat siswa mengalami sendiri, apa yang terjadi pada setiap transaksi usaha dagang. Kebingungan mereka tentang akun akun yang timbul saat transaksi, juga pencatatan di Jurnal Umum dan Jurnal Khusus dapat dipahami dengan lebih mudah. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan rerata skor hasil belajar dari kondisi pra penelitian 45,63 dengan jumlah siswa tuntas 15,63, kemudian pada siklus 1 skor hasil belajar memiliki rerata 71,88 dengan siswa tuntas 59,38% dan siklus 2 skor hasil belajar memiliki rerata 81,56 dengan siswa tuntas 78,13%”


Ratno Kumar Jaya

SMK Muhammadiyah Pekalongan

Memecahkan Masalah dengan Media Benang

Tujuan kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) di antaranya adalah menumbuhkan perilaku positif dan mengembangkan interaksi positif antarsiswa dan warga sekolah lainnya. Adapun salah satu materinya yakni Problem Solving/ permasalahan yang sering dihadapi di sekolah dan cara menyelesaikannya. Namun, penyampaian materi problem solving yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk menumbuhkan perilaku positif dan memberikan pengalaman siswa dalam menyelesaikan permasalahan di lingkungan sekolah belum mengena. Proses penyampaian materi mengenai problematika sekolah cenderung teoritis, tidak melibatkan siswa, dan tidak memberi kesempatan siswa untuk mencoba menyelesaikan permasalahannya sendiri. Hal tersebutlah yang menyebabkan siswa kurang kreatif dan gagap dalam menyelesaikan permasalahan di sekolah, sehingga mempengaruhi perilaku dan sikap siswa dalam mengambil keputusan saat diterpa permasalahan di sekolah.

Kemudian saya menemukan cara agar penyampaian materi problematika permasalahan di sekolah bisa lebih memaksimalkan peran siswa sebagai pelaku dalam berbagai permasalahan di sekolah yang selanjutnya siswa coba selesaikan masalah tersebut yaitu dengan menggunakan media benang. Adapun konsepnya, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, selanjutnya diberikan sebuah permasalahan dalam bentuk cerita/ naratif dan masing-masing anggota berperan menjadi tiap tokoh dalam cerita tersebut lalu berdiskusi untuk menyelesaikan masalah. Benang di sini berfungsi untuk membentuk pola/ alur dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh siswa. Dengan strategi unik ini, saya yakin siswa akan lebih mandiri, kreatif, dan percaya diri dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi di sekolah.

Cerita pertama saya sisipkan nilai kepedulian/ solidaritas, saya mulai bercerita dan siswa pun menyimak. Saat cerita itu selesai siswa langsung membangi perannya masing-masing menjadi siapa, kemudian mereka pun membentuk pola/ alur dalam menyelesaikan masalah. Dari kegiatan tersebut mulai tampak kreativitas siswa, dari pola yang disajikan bentuknya berbeda-beda, ada yang membentuk pola bintang, persegi, limas, dsb. Saat mencoba membentuk pola merka juga berkerja sama dan berpikir kritis, apakah alurnya sudah tepat atau belum, dan sesekali tampak mereka mengaruk-garuk kepalanya (ekspresi beripikir). Begitu juga dengan cerita berikutnya, ekspresi mereka riang gembira saat berusaha menyelesaikan masalah.

Pada tiap bagian permasalahan yang sudah diselesaikan siswa mencoba menyimpulkan dan menyamakan persepsi agar apa yang sudah didiskusikan oleh kelompok peserta PLS masing menjadi resolsui dalam memecahkan masalah tersebut. Seperti halnya ketika ada permasalahan ada teman yang sakit di kelas, kelompok 1 dan kelompok 3 memiliki persepsi yang berbeda. Kelompok 1 menjelaskan yang seharusnya mengantar siswa sakit pulang ke rumah itu satpam, tetapi kelompok 3 memiliki pendapat yang berbeda, jika satpam meninggalkan sekolah terus siapa yang jaga sekolah. Kemudian mereka mencoba membuat resolusi bersama sehingga solusi yang muncul itu merupakan buah pemikiran dan diskusi mereka. Dengan demikian apabila siswa kelak menghadapi permasalah siswa akan lebih bisa berpikir sistematis, mandiri, dan bertangunng jawab dengan keputusan yang dibuatnya.


VIRANDY PUTRA

SMA NEGERI 1 SIJUK

RESONATOR : INOVASI ALAT PERAGA RESONANSI BUNYI UNTUK SISWA TUNANETRA

Siswa tunanetra mengalami hambatan dalam memperoleh informasi secara visual karena keterbatasan pada indera pengelihatannya. Dalam proses belajar siswa tunanetra memaksimalkan indera lain yang masih berfungsi pada dirinya untuk membantu memperoleh informasi dan pengetahuan saat belajar. Siswa tunanetra membutuhkan kompensasi berupa media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Menurut Ishartiwi (2008 : 6) pemanfaatan media pembelajaran merupakan salah satu prinsip layanan pendidikan bagi siswa tunanetra.

Pendidikan di sekolah inklusi atau di sekolah luar biasa (LB) menerapkan kurikulum pembelajaran yang sama sebagaimana sekolah lain pada umumnya. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan pelajaran yang wajib dipelajari pada jenjang pendidikan SMP/MTs termasuk di sekolah inklusi atau di sekolah luar biasa. Salah satu unsur utama dalam pembelajaran IPA adalah prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah yang meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen, evaluasi, pengukuran dan penarikan kesimpulan (Wahono dkk, 2013: 2). Didalam pembelajaran IPA siswa membangun pengetahuan bagi dirinya. Pengetahuan tersebut bersifat dinamis dan selalu berkembang dari yang bersifat konkret menuju abstrak. Menurut Wahono dkk (2013: 3) pada jenjang pendidikan SMP/MTs siswa berada pada tahap perkembangan peralihan dari operasional konkret menuju operasional formal. Berdasarkan hal tersebut maka siswa SMP/MTs telah mampu untuk diajak berpikir secara abstrak, namun untuk berpikir secara abstrak harus dimulai dari situasi yang nyata terlebih dahulu. Untuk mendapatkan pengetahuan yang nyata diperlukan kegiatan praktikum dan pengamatan, oleh karena itu, kegiatan praktikum dan pengamatan memegang peran penting dalam pembelajaran IPA, agar pembelajaran IPA tidak sekedar hafalan.

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menghasilkan alat peraga tabung resonansi bunyi sebagai media pembelajaran IPA untuk siswa tunanetra (2) Mengetahui kualitas alat peraga tabung resonansi bunyi sebagai media pembelajaran IPA untuk siswa tunanetra (3) Mengetahui respon siswa dan keterlaksanaan alat peraga tabung resonansi bunyi sebagai media pembelajaran IPA untuk siswa tunanetra.

Penelitian ini merupakan penelitian R&D menggunakan model prosedural. Prosedur penelitian pengembangan ini mengacu pada prosedur pengembangan model 4-D yang melibatkan 4 langkah utama yaitu (1) Define (2) Design (3) Develop (4) Disseminate. Penelitian ini dilakukan sampai pada tahap Devolop pada bagianQuantitative testing (uji coba luas). Instrumen penelitian berupa lembar validasi, lembar penilaian, lembar respon siswa. Penilaian kualitas produk menggunakan 4 skala yang dibuat dalam bentuk checklist. Respon siswa menggunakan skala Guttman berupa pernyataan Ya dan Tidak. Sedangkan keterlaksanaan produk menggunakan deskriptif kegiatan praktikum.

Hasil penelitian ini yaitu:(1) Dikembangkan alat peraga tabung resonansi bunyi sebagai media pembelajaran IPA untuk siswa tunanetra (2) Kualitas alat peraga tabung resonansi bunyi pada aspek isi (konten), teknis dan kontruksi dinilai sangat baik oleh ahli materi, ahli media dan guru IPA. (3) Pada uji coba terbatas persentase keidealan respon siswa terhadap alat peraga yaitu 91,5%. Pada uji coba luas persentase keidealan respon siswa terhadap alat peraga yaitu 100%. keterlaksanaan alat peraga secara keseluruhan pada uji terbatas dan uji coba luas sudah terlaksana dengan baik. Saran dari penelitian ini adalah agar media pembelajaran berupa alat peraga tabung resonansi (resonator) dapat digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah inklusi atau sekolah luar biasa dan peneliti mengharapkan adanya penelitian lebih lanjut terhadap media pembelajaran yg telah dikembangkan.



S2K112 – Menghargai Keberagaman Anak

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara menghargai keunikan anak dan menggunakannya untuk mengembangkan proses belajar yang efektif.

Risa Faradisa

SMP Insan Semesta Comal Kabupaten Pemalang

Kemerdekaan dalam Kemajemukan Pembelajaran

Beberapa permasalahan dalam pembelajaran seringkali dianggap spele oleh sebagian guru-guru kita. Pencapaian nilai siswa menjadi tolok ukur keberhasilan oleh sebagian guru, padahal hal tersebut sangatlah keliru. Terkadang aspek tujuan dan proses pembelajaran itu sendiri sering diabaikan, yang dikejar hanya nilai akhir. Hal tersebut yang menyebabkan beberapa guru ketika mengajar hanya stagnan tanpa adanya perkembangan sama sekali, selain itu ketika siswa merasa tidak nyaman dengan pembelajaran yang sering terjadi pasti guru menyalahkan dan menuduh bahwa siswa itu tidak serius dalam belajar. Bahkan jarang sekali guru berpikir tentang cara atau gaya mengajarnya selama ini apakah pas atau kurang yang menyebabkan siswa kurang responsif terhadap materi yang disampaikannya.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa setiap kelas memang memiliki karakter yang berbeda-beda, hal ini saya rasakan khususnya ketika mengajar bahasa indonesia di SMP Insan Semesta yang secara umum siswanya berasal dari berbagai penjuru kota. Hal itulah menjadikan guru harus menyajikan proses pembelajaran yang menarik dan kreatif. Karena dari berbagai macam latarbelakang siswa tersebut tentunya gaya belajar mereka pun berbeda-beda. Sebelum saya mempraktikkan strategi kecerdasan majemuk tersebut tentunya kondisi kelas tidaklah semenarik setelah saya menggunakan strategi tersebut. Kelas yang saya datangi cenderung lebih pasif, tidak terlihat suatu yang berbeda (diferensiasi). Hal tersebut sebenarnya bertentangan dengan hati kecil saya yang menginginkan proses pembelajaran itu menyenangkan dan tidak membuat siswa merasa tertekan.

Inilah yang menjadi awal saya merasa tertantang untuk memikirkan bagaimana menyikapi hal tersebut, agar pembelajaran yang saya lakukan itu dapat dirasakan menyenangkan di hati siswa. Setelah beberapa saat mengalami gejolak batin tentang persoalan tersebut, akhirnya saya mencoba menerapkan strategi Multiple Intellegencess (kecerdasan majemuk). itu pun sebelum saya melakukan strategi tersebut saya terlebih dahulu memahami semampu saya, memang saya tahu, tantangan lainnya adalah bahwa idealnya srategi itu akan berjalan dengan sempurna apabila diterapkan menyeluruh satu sekolahan. Akan tetapi mau tidak mau saya harus percaya diri dengan menerapkan strategi Multiple Intellegencess perkelas dan hanya mata pelajaran bahasa indonesia.

Sebelum saya mengaplikasikan strategi tersebut dalam pembelajaran, langkah pertama yang saya lakukan tentunya menganalisis tipe-tipe murid yang terdapat didalam kelas. Selanjutnya saya mengelompokkan mereka sesuai dengan kecerdasannya masing-masing. Kemudian langkah kedua saya ajak mereka untuk mendalami secara lebih terkait masing-masing kecerdasan yang mereka miliki agar mereka memahami apa bakat yang sebenarnya mereka miliki. Ini sangat penting, karena jika setiap murid mengetahui potensi kemampuan yang mereka miliki, otomatis mereka akan merasa percaya diri dan semangat dalam mengikuti proses pembelajaran. Adapun untuk pelaksanaan tes potensi kemajemukan saya lakukan diawal semester atau tahun ajaran baru. Jenis tes tersebut adalah tes tertulis dengan menjawab beberapa pertanyaan singkat yang didalamnya mengakomodir pertanyaan seputar delapan kecerdasan majemuk.

Misal, yang pertama untuk mengetahui kecerdasan linguistik, kecerdasan ini adalah kemampuan anak dalam bertutur kata atau tulis menulis. Anak-anak yang tergolong dalam kecerdasan ini biasanya lebih aktif dalam hal vokal di kelas, entah itu sering menyela ketika guru sedang menerangkan atau senang bercerita dengan teman sejawat. Dalam kecerdasan ini saya menggunakan pertanyaan “Apakah kamu senang bercerita”, “Jika kamu berbicara di depan apakah merasa minder atau gerogi”. Yang kedua untuk mengetahui anak yang memiliki kecerdasan Logis Matematis, kecerdasan ini adalah kemampuan anak dalam hal hitung menghitung. Hal ini ditunjukkan dengan kegemarannya pada mata pelajaran tertentu misal matematika. Dalam kecerdasan ini Saya menggunakan pertanyaan “Apakah kamu senang dengan berhitung”, “Jika kamu berjalan apakah terkadang menghitung lantai atau keramik yang kamu injak”. Yang ketiga adalah kecerdasan visual spasial, untuk kecerdasan ini saya menggunakan pertanyaan “Apakah kamu lebih suka membaca atau melihat gambar dan video”, “Manakah yang lebih kamu suka antara penjelasan dan praktik”. Kecerdasan yang keempat adalah musikal, kecerdasan ini adalah kemampuan anak dalam hal dunia seni, khsusnya musik. Anak ini biasanya senang dengan salah satu alat musik tertentu dan dapat memainkannya dengan mudah. untuk mengetahui kecerdasan ini saya menggunakan pertanyaan “Apakah kamu senang bermain alat musik”, “Apakah kamu senang bernyanyi”.

Yang kelima adalah kecerdasan kinestetik, kecerdasan ini adalah kemampuan anak dalam mengekspresikan gerak-geriknya, biasanya anak ini senang berolahraga, menari atau hal-hal yang berkaitan dengan kemapuan olah tubuh. pertanyaan yang saya gunakan dalam kecerdasan ini misalnya “Apakah kamu senang berolahraga”, “Apakah kamu senang menari”. Selanjutnya yang keenam adalah kecerdasan interpersonal, kecerdasan ini adalah kemampuan anak dalam berkomunikasi dengan teman sejawat, biasanya anak ini senang bersosialisasi dan berorganisasi. untuk mengetahui kecerdasan ini saya menggunakan pertanyaan “Apakah kalian senang menyendiri”, “Ketika di sekolahan apakah kamu senang berorganisasi”. Yang ketujuh adalah kecerdasan intrapersonal, kecerdasan ini adalah kemampuan anak dalam memaksimal potensi dan keinginan dirinya tanpa campur tangan orang lain, anak ini biasanya senang melakukan sesuatu secara sendiri. dalam kecerdasan ini saya menggunakan pertanyaan “jika kamu mendirikan usaha, apakah ingin mendirikan sendiri atau mendirikan bersama teman-teman”, “Jika dalam menyelesaikan sebuah tugas apakah kamu senang dibuat sendiri atau dibuat bersama teman-teman atau kelompok”. Dan yang terakhir kedelapan kecerdasan naturalis, kecerdasan ini adalah kemampuan anak dalam hal mencintai dan menghargai lingkungan sekitar, biasanya anak ini senang berpetualang atau memelihara hewannya di rumah. dalam kecerdasan ini saya menggunakan pertanyaan “apakah kamu di rumah senang memelihara hewan”, “Manakah yang paling menyenangkan, pergi liburan ke mall atau ke tempat wisata alam”.

Beberapa contoh pertanyaan di atas adalah salah satu cara untuk mengetahui kecerdasan majemuk yang dimiliki setiap siswa tataran SD-SMA. Hasil jawaban dari pertanyaan tersebut kemudian saya simpulkan dengan cara melihat hasil jawaban tiga terbanyak. Selanjutnya dengan hasil tersebut saya jadikan sebagai patokan dalam mengembangkan metode atau media dalam melaksanakan proses pembelajaran. Tentunya dari penerapan model strategi itu saya dapat menyimpulkan sendiri, bahwa pembelajaran yang saya lakukan mengalami diferensiasi, karena dengan mengetahui tipe-tipe kecerdasan setiap siswa yang berbeda saya sebagai pendidik mulai mengerti kemampuan dan keinginan yang dirasakan setiap siswa saya dalam proses pembelajaran.


Sari Utami Handayani, S.Pd

Sekolah Cikal

Penyesuaian Belajar buat Anak Berkebutuhan Khusus

Sekolah Cikal yang mengusung kurikulum IB dan berbasis Kompetensi 5-Star, membuat kurikulumnya menjadi tantangan tersendiri untuk siswa-siswa dengan kebutuhan khusus. Keterbatasan mereka dalam berbagai segi (atensi, lamban belajar, keterbatasan fisik) membuat mereka sulit untuk mencapai kriteria penilaian yang ada di kelas. Beberapa dari mereka mampu mengikuti pelajaran lain seperti siswa regular lainnya. Namun demikian, kesulitan biasanya terjadi di mata pelajaran utama seperti Matematika, Science, IPS dan bahasa.

Untuk mengatasi tantangan yang malah dapat membuat mereka semakin tertinggal dan tidak maksimal berkembang, saya dan tim mengembangkan program penyesuaian. Penyesuaian ini dilakukan dalam beberapa area, di antaranya: kriteria penilaian, materi atau topik pelajaran cara atau strategi belajar, dan memberikan keterampilan yang sesuai dengan minat dan kemampuan siswa dengan kebutuhan khusus.

Perubahan yang terjadi adalah siswa dengan kebutuhan khusus mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuan mereka. Mereka lebih bersemangat belajar karena apa yang mereka pelajari di “penyesuaian” ini cukup membuat mereka tertantang sekaligus dapat mengalami perasaan berhasil. Hal ini dapat terjadi karena apa yang diajarkan disesuaikan dengan minat, kebutuhan dan kemampuan mereka. Pencapaian secara akademik juga dapat terlihat dengan adanya kriteria yang dibuat untuk mereka.

Strategi penyesuaian tersebut membuat guru tertantang dalam menyusun kriteria penilaian, memilih materi dan membuat metode atau strategi pengajaran. Pelajaran yang membuat guru menjadi kreatif dan peka terhadap kemampuan siswa.



S2K113 – Pendidikan Kebangsaan dan Keragaman

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara belajar pendidikan yang menumbuhkan sikap kebangsaan dan menghargai keragaman, yang polanya bisa digunakan di berbagai pelajaran.

Vini Quamilla

Yayasan Pendidikan Jayawijaya

Penguatan Pendidikan Pancasila

Awal: Bagaimana memulai Pendidikan Pancasila untuk anak-anak yang duduk di kelas 1 SD? Tujuan akhir pelajaran ini adalah anak-anak dapat menggambarkan serta menceritakan secara sederhana tentang perilaku yang menunjukkan perwujudan sila-sila dari Pancasila.

Tantangan:

  1. Ada sebagian dari mereka yang belum bisa membaca dan menulis
  2. Bagaimana cara menghafal sila-sila dari Pancasila

Aksi:

  1. Membagikan simbol dari Pancasila dalam 5 kelompok, anak-anak diminta memberikan pendapat mereka tentang arti simbol-simbol tersebut.
  2. Mengurutkan simbol-simbol tersebut menurut pemahaman mereka
  3. Mampu memasangkan sila dan simbolnya sesuai urutan yang benar
  4. Membahas perilaku sederhana yang menunjukkan perwujudan sila-sila dari Pancasila
  5. Mempraktikkan perilaku sederhana tersebut

Perubahan/Pelajaran.

Refleksi guru-guru kelas 1: Dengan memahami simbol dan warna suatu gambar akan mempermudah pemahaman anak-anak kelas 1 tentang urutan sila-sila dalam Pancasila.


Rezki Intan Permata Dewi

SBGG

Pendidikan Cinta Tanah Air dan Toleransi

Sekarang ini, siswa mulai kehilangan makna toleransi. Rasa bangga sebagai anak Indonesiapun perlahan mulai memudar. Bahkan, ada siswa yang berpendapat bahwa “All things come from the West is the best.” Oleh karena itu, saya sebagai salah satu pendidik berniat untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan toleransi – menghormati, menerima dan menghargai kekayaan keragaman di Indonesia.

Menumbuhkan rasa cinta tanah air dan toleransi tidaklah mudah. Siswa sering merasa bosan jika guru hanya menjelaskan secara ceramah. Jika mereka merasa bosan, maka rasa cinta tanah air dan toleransi yang sedang ditumbuhkan tidak akan bisa tercapai.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, saya meminta siswa melakukan tindakan akan hal yang saya ingin mereka capai. Saya membiarkan siswa untuk mencari sendiri pengetahuan mengenai toleransi dan cinta tanah air. Saya juga memanfaatkan teknologi seperti media sosial (instagram). Hasilnya, sebagian besar siswa saya tidak merasa bosan ketika kami belajar mengenai cinta tanah air dan toleransi.



S2K114 – Saatnya Anak Bicara

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang pentingnya memberikan kesempatan berbuat keliru pada anak untuk mengembangkan kepercayaan diri.

KARNOTO

MA Wahid Hasyim Petarukan

Menanamkan Keberanian Berbicara

“Berdongeng sambil Menggambar
Didalam kondisi kelas yang masih kurang kondusif dimana biasanya didalam proses belajar terlebih dahulu adalah membuat anak bersemangat untuk menyambut kegiatan yang akan dilakukan yaitu lovely morning. Nah, diawal kondisi kelas yang berisikan ananda yang masih belum fokus karena masih mudah terpengaruh oleh teman-teman disekitarnya, disinilah saya akan memulai melakukan strategy yaitu berdongeng sambil menggambar. Tujuan essensial dari kegiatan ini adalah agar ananda mampu melatih motorik halusnya melalui kegiatan menggambar dan agar ananda mampu lebih fokus serta mengerti makna dan pesan moral yang terdapat di dalam cerita.
Ananda yang berada diusia 3-4 tahun adalah masa di mana ananda memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan imajinasi yang tinggi namun rasa emosionalnya masih belum terkontrol. Nah, disinilah tantangan saya bagaimana ananda bisa fokus dan dapat menarik kegiatan mereka sebelum kegiatan dimulai dengan menciptakan suasana yang kondusif dengan berbagai bentuk suara dalam berdongeng sambil menggambar.
Nah, di dalam tantangan ini, saya akan melakukan suatu aksi yaitu berdongeng sambil menggambar. Dimulai pada awal kegiatan saya mengajak ananda sepakat untuk mendengarkan cerita dengan bersungguh-sungguh, dengan duduk yang rapi dan tanpa mengobrol dengan teman. Lalu saya akan berdongeng dengan ekspresi serta mimik wajah yang sesuai dengan judul cerita sambil menggambarkan suasana didalam cerita di kertas karton berdasarkan alur cerita yang disampaikan. Lalu diakhir cerita saya mengajak ananda untuk belajar menggambar dengan menirukan gerakan tangan saya untuk menirukan karakter yang terdapat di dalam dongeng tersebut.
Setelah menerapkan strategy ini saya melihat perubahan semangat belajar ananda lebih bersemangat dari biasanya, terutama pada saat kegiatan menggambar ananda terlihat lebih kreatif dan terinspirasi dalam menciptakan suatu karya dengan percaya diri dan mandiri.”


EKI NURWULANDARI

KGB Pekalongan

Permen Asem

Kelas permen asem ini sangat efektif untuk pembelajaran bahasa. Untuk belajar bahasa, diperlukan praktek berbicara. Kadang untuk menyusun kata yang akan diucapkan, tidak semudah jika tertulis. Terlebih pada kelas bahasa asing. Akan timbul ‘ketakutan’ dalam mengucapkan bahasa asing secara aktif. Takut salah adalah salah satu alasan paling sering yang mengakibatkan orang sulit mempraktekan bahasa asing secara lisan. Kelas permen asem datang sebagai salah satu solusi melatih belajar berbicara tanpa ‘ketakutan’ lagi. Penggunaan kata permen dirasa tepat menggambarkan kelas ini karena permen identik dengan rasa manis. Namun disisi lain, permen juga berasal dari singkatan kata ‘Permainan English’, yang sesuai dengan mata pelajaran yang dipraktekan. Kemudian kata ‘Asem’ yang ditambahkan setelah kata ‘permen’ menggambarkan bahwa tidak semua yang asem itu tidak enak. Digambarkan dengan permen asem, meskipun asem, tetap saja ada manis -manis nya, dan yang pasti enak.
Intinya, Belajar bahasa Inggris dengan Permen Asem, adalah belajar dengan tanpa takut salah. Karna kesalahan pada pembelajaran ini pun akan menjadi tontonan yang cukup menyenangkan.
Siswa bisa berkomunikasi/ berdialog dengan teman nya menggunakan bahasa Inggris, dialog itu akan di adegan kan, lalu di video. Adegan yang benar akan dikumpulkan menjadi sebuah film pendek, dan kesalahan- kesalahan dalam setiap adegan akan menjadi behind the scene. Dengan seperti itu, siswa tidak akan lagi takut salah dalam belajar bahasa Inggris/ bahasa asing lainnya.


Umi Rukailah

Getme; Komunitas Gerakan Terus Membaca, SMA Negeri Ambulu, Jember, KGB Jember

Merdeka Berekspresi! Saya mengkolaborasikan kelas saya dengan kegiatan-kegiatan yang berupa partnership dengan Program Teacher Global Classroom, Program Overseas Community Service, dan IGlow dan IBRO Camp. Hal ini adalah salah satu bukti bahwa kita guru guru sangat bisa belajar dari sesama dan tidak harus menunggu dan hanya belajar dari ahli, para expert nara sumber, pakar dari pusat, lalu berseminar di hotel berbintang. Saya akan berbagi tentang bagaimana “MERDEKA BEREKSPRESI” dalam berjejaring dan berinspirasi dengan guru-guru dari berbagai Negara.



S2K115 – Membuat Media Belajar Inovatif

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang cara mengembangkan berbagai media belajar inovatif sekalipun di kondisi terbatas

Niken Emiria Faradella

Komumitas Guru Belajar Pekalongan

Bermain Monopoli Dalam Pelajaran Bahasa Inggris Untuk Menyiasati Sistem SKS UKBM (Sistem Kredit Semester – Unit Kegiatan Belajar Mengajar) di tingkat SMA

Awal semester tahun ini, kami dikejutkan oleh berita bahwa sekolah kami harus menggunakan sistem sks dengan UKBM (Unit Kegiatan Belajar Mengajar) yang mana mengharuskan siswa tetap belajar dalam satu kelas tapi dikelompokkan berdasarkan nilai dan kecepatan menyelesaikan unit-unit pelajaran yang diberikan guru. Siswa yang cepat akan terus diberikan ukbm dan mempelajarinya secepat mungkin kemudian meminta ulangan untuk penilaian pada guru. Memang, keputusan ada di tangan siswa sendiri untuk memilih apakah ingin cepat menyelesaikan atau tidak, tapi di awal perjalanan banyak siswa yang merasa stress walaupun kami baru saja mulai. Hal ini disebabkan karena siswa-siswa ini sangat berorientasi pada nilai. Jika nilai besar dan tuntas, guru akan segera memberikan ukbm baru terus seperti itu sampai semua ukbm habis.

Kebosanan dan tingkat stress siswa mulai meningkat saat mulai pertengahan ukbm ke 1, apalagi sistim ini mengharuskan siswa dengan kecepatan biasa saja melihat siswa dengan kecepatan luar biasa yang berusaha terus mengejar nilai demi nilai. Mereka menjadi merasa rendaah diri dan tertekan. Keemudian dari keadaan ini ide bermain walaupun kondisi kelas seperti ini muncul. Pertama saya berikan ukbm-ukbm semester ini pada siswa dengan kecepatan tinggi dan nilai tertinggi, setiap kelas jumlahnya berbeda sekitar 5 – 10 anak, seperti biasa anak-anak ini mempelajari ukbm-ukbm tersebut (perlu diketahui materi kelas x masih tergolong mudah karena hanya mengulang dari smp). Kemudian siswa-siswa tersebut membuat kartu-kartu pertanyaan dan jawaban yang kemudian saling ditukar sesama teman untuk saling merefleksi. Kemudian saya memberikan mainan monopoli biasa yang harga-harga nilai uangNya diganti oleh poin sesuka mereka. Saya juga memberikan papan monopoli ini untuk siswa dengan kecepatan sedang dan lambat. Tetapi untuk siswa middle dan low kartu pertanyaan dan jawaban yang digunakan adalah kartu dari siswa yang high karena siswa kelompok high sudah menyelesaikan ukbm lebih cepat dan materi mereka mencakup ukbm siswa low dan middle.

Setelah persiapan selesai, semua siswa bermain bersama. Biasanya pembelajaran tiap kelompok berbeda. Kelompok low akan meminta saya untuk menerangkan , middle dan high mengerjakan tugas ukbm, dan sungguh suasana seperti itu tidak nyaman. Tapi setelah ada monopoli, semua siswa melakukan kegiatan yang sama, walau dengan board yang berbeda. Atmosfir berubah menjadi ceria, semua merasa sama. Tidak ada lagi rasa rendah diri, tersisihkan dan stress. Karena semua sedang bermain dan dengan permainan yang sama. Belajar serasa bermain.


Titis kartikawati, S.Pd

SDN 09 Sanggau

Ayo Berinovasi: Pengalaman dari Sanggau

Seiring dengan perkembangan zaman yag semakin modern, tingkat kecerdasan dan pengetahuan siawa juga semakin bertambah, guru dituntut untuk selalu berinovasi dalam menyajikan setiap materi pembelajaran. Memfasilitasi siswa sesuai kebutuhan bakat dan kecerdasan masing-masing dengan berbagai metode dan permainan.

Siswa bukanlah seorang robot yang bisa kita atur dengan remote control untuk melakukan semua perintah kita. Tapi mereka adalah insan yang unik, yang butuh perhatian dan butuh bergerak sesuai perkembangan fisik dan mentalnya. Untuk itu perlunya kreatifitas dan inovasi dalam pembelajaran sehingga menarik dan tujuan pembelajaran bisa tersampaikan dengan menyenangkan.

Saya selalu senang dengan hal-hal yang berbau unik, aneh dan kreatif, tahun lalu saya mengikuti kelas “ 3 langkah menjadi kreatif” di TPN, sesampainya di daerah saya terutama dikelas saya menerapkan ilmu yang saya dapat kemaren dengan menciptakan beberapa permainan untuk mempermudahkan penyampaian materi. Diantaranya adalah Mistar angry bird, Maze Intergritas, Monopoli SPOK dan yang terakhir adalah Pangsuma Games.

Jika saya terpilih menjadi pembicara di TPN 2017, saya akan membagikan tips berinovasi dan membagikan hasil karya saya tersebut kepada teman-teman yang sama-sama senang belajar.



S2K116 – Merdeka Belajar pada Berbagai Konteks

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang penerapan merdeka belajar pada beragam konteks.

Zulfikar Fahmi, M.P.Fis

MA U Amanatul Ummah Program Akselerasi CI – Excellent

Merdeka Belajar pada Sekolah Pondok

Saat ini saya mengajar di salah satu sekolah pondok, yaitu di MA Unggulan Amanatul Ummah program CI-Excellent. Lembaga ini adalah sekolah akselerasi, dimana materi pelajaran di sekolah yang harusnya diselesaikan dalam 3 tahun, harus selesai dalam 2 tahun. Program Cerdas Istimewa (CI) merupakan program akselerasi murni 2 tahun dengan input siswa ber-IQ 130. Sedangkan siswa yang tidak diterima di CI kemudian diarahkan ke program Excellent, dimana materi harus selesai juga dalam 2 tahun dengan tambahan Dauroh (Bimbingan Belajar) selama 1 tahun. Hal ini menyebabkan Guru harus menyiapkan materi sepadat mungkin dengan drilling materi dan soal sebanyak-banyaknya. Sayangnya, tidak semua siswa di program Excellent memiliki kemampuan akademis sebaik siswa di program CI, sehingga banyak siswa di program ini kesulitan mengikuti proses belajar.

Karakteristik santri putri juga kebanyakan pemalu karena kurang percaya diri. Hal ini ditunjukkan saat awal masuk kelas, saya meminta mereka untuk menceritakan dirinya secara sendiri-sendiri, namun mereka menolak. Akhirnya mereka bercerita saling berkelompok. Dari sini, saya ingin melatih keberanian mereka, agar lebih percaya diri, melalui presentasi kepada teman sekelas. Agar mereka mendapatkan bekal, maka sebelum presentasi, saya mengkondisikan siswa untuk belajar bersama dalam satu kelompok.

Pengalaman saya mengikuti pelatihan Guru Merdeka Belajar saat Pesta Pendidikan di Jogjakarta coba saya terapkan di kelas. Awal pembelajaran, setelah membentuk kelompok, saya membagi materi menjadi tiga bab dan membuat pertanyaan pancingan mengenai materi yang harus dipelajari. Kemudian, saya mengajak siswa untuk membuat kriteria penilaian yang mencakup kemampuan membuat catatan, berdiskusi dengan teman sekelompok, dan kemampuan presentasi. Setelah siswa melakukan diskusi kelompok dan presentasi, siswa diberi pertanyaan refleksi. Selama proses pembelajaran, saya melakukan pendampingan bergantian ke semua kelompok.

Pelajaran yang saya dapatkan dari proses pembelajaran ini adalah, apresiasi kecil yang diberikan kepada siswa, ternyata dapat meningkatkan rasa percaya diri. Rasa percaya diri ini terbentuk karena siswa merasa bisa mengenai apa yang dia pahami. Selain itu, siswa ingin menunjukkan karya terbaiknya saat presentasi setelah diberi tantangan yang jelas. Banyak siswa yang berusaha melakukan sebaik mungkin, mulai dari latihan berbicara, menghias poster, dan memastikan materi yang akan disampaikannya baik.


Dinda Jayanti Safitri

Erudio School of Art

Pendekatan Demokratis sebagai Kunci Pembelajaran Efektif

Meski pendekatan pembelajaran demokratis mungkin asing di telinga kita, sebenarnya pendekatan ini sudah diterapkan di Indonesia sejak pra-kemerdekaan Indonesia dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara. Pendekatan ini menitikberatkan pada memerdekakan pikiran peserta didik dan melibatkan peserta didik dalam mengambil keputusan.

Didasari pendekatan pembelajaran demokratis ini pulalah Erudio School of Art melakukan penelitian berupa survei kepada semua peserta didik untuk mengetahui (1) tingkat kepuasan mereka terhadap program belajar, sistem belajar dan interaksi antar warga sekolah, (2) menganalisa kebutuhan belajar mereka. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Juliana Sarangih (2016) pada mahasiswa baru Universitas Sumatera Utara, disimpulkan bahwa memberi kesempatan pembelajar mengidentifikasi kebutuhan mereka sendiri sangatlah menentukan motivasi, kemandirian dan kreatifitas pembelajar dalam proses belajarnya. Di sisi lain, identifikasi kebutuhan ini juga sangat bermanfaat untuk institusi pendidikan sebab dengan mengetahui kebutuhan-kebutuhan dalam diri seseorang, maka karakteristik individu dan pola perilakunya bisa diprediksi sehingga proses pembelajaran dapat berjalan optimal. Oleh sebab itu, Erudio School of Art menjadikan testimoni peserta didik landasan dalam merancang kurikulum dan program baru. Hasil dari survei ini lalu dilaporkan pada seisi sekolah, lalu diolah menjadi sebuah program yang disebut “Reformasi Kurikulum”.

Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa peserta didik membutuhkan kesempatan untuk memilih mata pelajaran yang ingin didalaminya. Selain itu, kesempatan untuk mendiskusikan hasil penilaian tugas dengan guru juga dirasa perlu agar peserta didik dapat memahami dengan jelas poin-poin yang perlu diperbaiki. Sehubungan dengan gaya belajar visual-kinestetik yang dimiliki oleh mayoritas peserta didik di Erudio School of Art, pendidik juga disarankan untuk memvariasikan metode pengajaran agar dapat diikuti dengan lebih baik oleh peserta didik. Selain itu, kebutuhan untuk mendalami minat dan terjun ke dunia organisasi, seni maupun hobi juga menjadi ajuan peserta didik.

Berangkat dari data yang didapat dari survei tersebut, pihak sekolahpun mulai menyusun program baru yang terangkum dalam reformasi kurikulum. Reformasi ini meliputi beberapa ini, antara lain; mata pelajaran tidak diberikan sepanjang tahun, melainkan sesuai dengan siklus/tahapan belajarnya (discovery-exploration-presentation-personality-achievement). Dihadirkan pula sebuah mata pelajaran baru, Life Skill, yang mengasah kemampuan siswa untuk bertahan di lingkungan luar sekolah, misalnya; menggunakan transportasi publik, membuat dokumen diri, atau mendaftar ke perguruan tinggi. Perubahan yang paling signifikan terjadi di jumlah hari kehadiran siswa di sekolah; dari lima hari seminggu, menjadi empat hari seminggu karena hari Jumat didedikasikan untuk siswa dan juga pegawai belajar di luar sekolah untuk menekuni minat dan bakat masing-masing dan perkembangannya dilaporkan setiap tiga minggu sekali pada wali kelas dan atasan.

Dalam sesi kemerdekaan dalam Temu Pendidikan Nusantara kali ini, kami ingin berbagi dan mendengarkan proses memerdekakan peserta didik dengan seluruh peserta agar dapat menjadi pembelajaran bersama. Selain itu, kami juga akan melaporkan tanggapan dan capaian peserta didik setelah reformasi kurikulum ini diberlakukan di sekolah kami untuk mengkaji efektifitas program.


Irmayanti

SMA Annurmaniyah

Pengalaman Mempraktikkan Merdeka Belajar

Setiap siswa terlihat enggan melakukan sebuah kegiatan yang tidak terkait dengan Ujian Nasional, saya selalu merasa ada yang salah. Namun saya tidak mengira bahwa masalahnya ada di proses belajar yang saya jalankan selama ini bersama para siswa. Baru ketika berkenalan dengan konsep Merdeka Belajar, saya bisa melihat gambaran yang dengan lebih jelas. Siswa tidak melihat tujuan belajar selain untuk lulus ujian. Saya sebagai guru tidak membantu mereka untuk melihat tujuan yang lebih panjang dan bermakna.

Maka hal paling awal yang saya lakukan sebelum masuk ke materi belajar adalah mendampingi siswa membuat tujuan-tujuan belajar mereka. Hal ini bukan tanpa tantangan. Saya bisa melihat kebingungan di wajah para siswa. Kegiatan apa ini? Kenapa kita tidak juga masuk ke materi pelajaran?

Meski demikian, saya bertahan menjalankan langkah demi langkah meski menghabiskan beberapa kali pertemuan. Kami menggali manfaat dari keterampilan2 yang akan kami pelajari, bagaimana keterampilan ini bermanfaat di berbagai bidang kehidupan mereka kelak. Siswa juga melakukan refleksi untuk mengukur titik awal perjalanan mereka. Sampai akhirnya mereka punya target masing2 yang ingin dicapai selama setahun ini.

Dua bulan berlalu sejak para siswa menentukan tujuan belajar mereka. Saya melihat bahwa motivasi belajar masih tinggi. Ada satu dua siswa yang tampak lelah, tapi tujuan belajar yang tertulis tampak menjadi salah satu cara untuk kembali meningkatkan motivasi. Karena mereka tahu kenapa mereka harus belajar.



S2K117 – Mengembangkan Kemampuan Berpikir

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara mengembangkan kemampuan berpikir murid melalui metode inkuiri. Hafalan sudah usang dan tidak memadai bagi anak dalam menghadapi masa depan.

KOMSINAH MU’AWANAH

SDN KEMUNINGSARI KIDUL 01

“KEMERDEKAAN: Penggunaan Metode Inkuiri pada Pembelajaran Integratif untuk Menumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir siswa sebenarnya selalu berkembang. Perkembangan ini tentunya bersesesuaian dengan kesiapan belajar siswa itu sendiri. Awalnya mungkin belum mengenali, tapi karena adanya potensi keingintahuan maka dalam diri setiap siswa akan selalu ada dorongan untuk mencari tahu.

Selama ini, seringkali pembelajaran yang digunakan hanya mengacu pada hasil ujian sebagai tujuan akhir. Siswa hanya dibiasakan mengerjakan latihan soal yang bersifat pilihan atau hafalan. Pembelajaran seringkali jauh dari realita permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Harapannya, yang penting siswa mampu menjawab soal. Sehingga kemampuan berpikir kritis jalan di tempat. Siswa juga tidak menguasai penalaran utuh terhadap setiap hal yang dipelajari. Karena itulah, saya menggunakan metode inkuiri untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Kegiatan ini dilakukan selama tiga minggu. Penerapannya dilakukan di kelas 4 dengan jumlah siswa 33. Pengumpulan datanya secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan sistem rotasi yang meliputi: perencanaan-pelaksanaan-evaluasi-refleksi, secara berulang selama tiga minggu. Proses pengumpulan datanya menggunakan sistem lembar kerja dan tes tulis. Selain itu juga melibatkan partisipasi siswa dalam mengevaluasinya.

Setelah dikumpulkan, ternyata diperoleh hasil yang menggembirakan. Sebagian besar siswa, sekitar 80% sudah mampu menggunakan penalarannya dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi. Sehingga nilai hasil belajar nya juga meningkat.”


Ita Octavia Rahayu Kurniasih, M.Pd.I.

SMPN 3 Tarogong Kidul

Mengembangkan High Order Thinking Skills

“Higher Order Thinking Skills (HOTS) merupakan salah satu kompetensi yang dituntut oleh –bukan saja oleh kurikulum, akan tetapi juga merupakan tuntutan kemajuan peradaban manusia saat ini. Dan untuk mencapai pada pada kompetensi tersebut masih sangat sulit. Peserta didik kami di kelas 9 SMPN 3 Tarogong rata-rata belum memiliki kemampuan bertanya yang baik, menemukan jawaban yang tepat untuk sebuah pertanyaan, serta belum memiliki kemapuan mengkomunikasikan pikirannya dengan baik, apatah lagi untuk berpikir tingkat tinggi. Dengan kondisi yang seperti itu tentu saya tidak menargetkan kemampuan yang tinggi di semester 1 ini. Karena keterampilan berpikir tinggi ini tidak dapat dicapai dalam waktu yang singkat, maka tujuan pembelajaran semester pertama saya bagi ke dalam 2 tahap. Tahap pertama, yang saya harapkan dapat dicapai oleh peserta didik di setengah dari semester pertama adalah (1) mampu bertanya dengan baik, (2) mampu menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang telah dibuat, (3) mampu mengkomunikasikan hasil kerja di depan kelas dengan jelas. Tahap ke dua, saya harapkan peserta didik mampu (1) menanya dengan baik, (2) mencari informasi dari berbagai sumber dan merumuskan jawaban dengan tepat, dan (3) mengkomunikasikan pikirannya dengan jelas baik dan lantang.
Oleh karena itu, untuk dapat mencapai kompetensi tersebut, saya membuat langkah-langkah untuk mereka di setiap awal materi baru berupa (1) latihan membuat pertanyaan sekaligus menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut, (2) mempresentasikannya di depan kelas (individu), (3) diskusi kelompok, (4) presentasi kelompok (semua anggota kelompok mendapat bagian untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok). Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan peserta didik akan mampu memiliki kompetensi berpikir tingkat tinggi. Hanya saja tantangan yang saya hadapi di hampir semua kelas saya adalah merumuskan kalimat tanya dengan benar. Masih saja ada yang membuat kalimat tanya dengan kalimat pernyataan atau seperti membuat soal kuis. Dan tantangan lain adalah lemahnya kemampuan presentasi. Mereka masih malu-malu berbicara di depan kelas dan kalimat yang mereka pilih saat mempresentasikan dapat dikategorikan kurang baik (untuk pelajar selevel mereka). Hanya beberapa orang saja yang masuk dalam organisasi sekolah yang mampu berbahasa lebih baik. Dan tantangan yang paling berat adalah melakukan diskusi dengan baik. Mereka masih sama-sam kerja, bukan kerjasama. Proses dialog dalam mendiskusikan sebuah tema masih sulit untuk dilakukan. Tantangan ini bagi saya adalah ibarat penyakit yang harus saya obati sedikit demi sedikit.
Pada awal pertemuan saya menyampaikan langkah-langkah pembelajaran yang akan saya terapkan di kelas mereka dan bagaimana cara melakukannya. Saya jelaskan pula pada mereka, untuk langkah presentasi individu akan dibagi dalam 2 sesi, yaitu sesi tanpa ditunjuk yang akan mendapatkan poin lebih besar sebagai reward atas keberaniannya, dan sesi 2 adalah sesi presentasi dengan cara ditunjuk. (Saya pahami betul bahwa dengan adanya poin membuat mereka menjadi pembelajar yang belum merdeka, mereka belajar karena reward. Tetapi saya melihat dari sisi lain. Para siswa yang belum berpengalaman berbicara di depan umum akan berjuang keras untuk meredakan rasa “”deg-degan”” mereka. Dan saya juga meyakini, jika mereka sudah mencoba berjuang berkali-kali memerdekakan diri dari cengkraman rasa grogi, kelak mereka akan mampu tampil sebagai pembelajar yang merdeka, belajar bukan karena poin. Perjuangan mereka itu harus saya apresiasi, dan salah satunya adalah dengan reward berupa poin.) Di pertemuan berikutnya, mereka mulai melaksanakan langkah-langkah tersebut. Pada mulanya, sebagian besar mereka hanyalah melakukan langkah pertama, yaitu membuat pertanyaan. Itupun masih banyak yang keliru. Lalu saya membimbing mereka bagaimana membuat pertanyaan dengan benar. Dan sebagian kecil lainnya mampu melakukan langkah 2 (presentasi individu) dengan baik. Di materi ke 2, rasa malu-malu ketika melakukan presentasi mulai berkurang. Sebagian dari mereka sudah berani presentasi di depan kelas, bahkan berebut untuk mendapat giliran.
Alhamdulillah baru sampai pada awal materi ke 2, yang berarti pula kesempatan kedua bagi mereka untuk melakukan presentasi individu, perubahan mulai nampak. Rasa malu yang biasa menghantui mereka ketika akan presentasi sudah mulai berkurang. Mereka menjadi lebih percaya diri, meski belum sampai pada level presentasi yang baik.”


Dra. Titin Rostika

SMP NEGERI 1 LEMBANG

Melatih Keterampilan Berpikir Kritis Melalui Analisa Tokoh dalam Dongeng

Mempelajari Narrative Text di SMP kelas IX, biasanya dengan membahas cerita atau dongeng. Cerita atau dongeng yang dibahas adalah cerita rakyat Indonesia maupun cerita atau dongeng dari mancanegara. Tujuannya, selain siswa diharapkan mampu menguasai struktur teks, fungsi sosial, dan unsur kebahasaan dari teks narrative tersebut. Pada umumnya pembelajarannya melalui dua siklus yaitu siklus lisan dan tulis dengan melibatkan empat keterampilan berbahasa, yaitu listening, speaking, reading dan writing.

Kebanyakan dari kita setuju bahwa cerita atau dongeng merupakan cara yang ampuh untuk mendidik peserta didik tentang moral secara halus, tidak menggurui. Karena lewat cerita kita dapat menyentuh kalbu mereka agar mereka belajar untuk berempati atau mendapat nilai moral dari cerita tersebut. Namun jika kita ingin meningkatkan kemampuan ‘critical thingking’ para peserta didik melalui kegiatan menganalisa tokoh dalam cerita, kita bisa!

Mencoba melakukan sesuatu, adalah keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Begitu pula ketika kita belajar untuk melatih peserta didik dalam berpikir kritis. Usahakan ada persiapan yang cukup sebagai bekal kita, seperti: menyiapkan beberapa pertanyaan untuk memancing peningkatan cara berpikir para peserta didik, mengidentifikasi masalah-masalah dan kemungkinan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, mencari bukti-bukti, mengevaluasi argumen-argumen yang muncul, menyimpulkan dengan baik. Berikut yang biasa diajukan untuk menganalisa cerita adalah sebagai berikut:

– Who did what to whom?

– Who said what to whom?

– What happened first (rising action), second (climax)?

– What happened at the end (the resolve)?

– Where were you in this story?

– What was the context (the setting, industry, history, and future)?

Hal baru yang ditambahkan adalah penerapkan metoda penganalisaan terhadap tokoh dalam cerita, yang diikuti sesi mengkritisi tokoh dan refleksi dengan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti:

– If you were Malin Kundang, what would you do?

– Would you kick your own mother?

– Why?

– Do you think that Malin Kundang’s mother is a cruel mother?

– Would you curse your own son?

– If you were Malin Kundang’s wife, what would you do?

– Dan lain-lain.

Setelah menganalisa tokoh dan mengkritisi serta mereflesikannya,para peserta didik mendapatkan kedalaman makna dari ceritera atau dongeng yang dibahas. Adapun jawaban dari pertanyaan yang diajukan tersebut mendapat respon yang sangat positif. Hampir seua peserta didik terlibat dalam pembelajaran. Jawaban-jawaban yang dilontarkan sangat bervariasi, misalnya:

  1. Jika saya menjadi Malin Kundang, saya akan mengakui ibu saya dan tidak akan menendangnya, tapi saya akan merangkulnya. Saya tidak akan malu mengakui bawha ibu itu adalah benar-benar ibu saya.
  2. Menurut saya, ibunya Malin Kundang itu termasuk ibu yang kejam, karena tidak berusaha mendo’akan anaknya agar menjadi anak yang sholeh dan memberi kesempatan untuk bertaubat.
  3. Kalau saya menjadi ibunya Malin Kundang, saya tidak akan mengutuk anak saya menjadi batu.
  4. Jika saya menjadi istrinya Malin Kundang, saya akan menendang suami saya, karena dia telah menendang ibunya.
  5. Kalau sayaakan menceraikannya.
  6. Tidak, kalau saya ingin menasehatinya.
  7. Dan lain-lain.

Keterampilan menganalisa dan mengkritisi tokoh cerita atau dongeng, diharapkan dapat terus diasah melalui diskusi yang didesain sedemikian rupa sehingga aktivitasnya menyenangkan dan bermakna buat para peserta didik maupun bagi pendidiknya, karena kadang kita juga dapat belajar banyak dari mereka.


Indriati satya widyasih

SMKN 3 Linggabuana Purwakarta

Pertanyaan High Order Thinking Skills

Berpikir kritis siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris di SMKN 3 Linggabuana Purwakarta masih mengalami kendala. Mereka cenderung pasif dalam menggunakan daya analisis dan lemah dalam berpikir metakognitif. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis HOTS merupakan salah satu alternatif yang dapat dipakai untuk meningkatkan daya berpikir kritis siswa khususnya dalam pembelajaran ‘reading’.

Oleh karena itu, timbul beberapa pertanyaan dalam penelitian ini, antara lain:

  1. Apakah dapat HOTs questions meningkatkan daya berpikir kritis siswa dalam aktivitas “”reading”” mata pelajaran Bahasa Inggris?
  2. Dapatkah HOTs question dikombinasikan dengan teknik pembelajaran Jigsaw?

Berdasarkan kegiatan penelitian yang telah dilakukan, ternyata HOTS question yang dikolaborasikan dengan teknik pembelajaran jigsaw mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam kegiatan “reading”. Hal ini dibuktikan oleh peningkatan nilai pretest dan post test siswa yang semakin baik.



S2K118 – Ragam Strategi Belajar Matematika

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara belajar matematika yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Hj. YULIANI,S.Pd, M.Pd

SMA Negeri 1 Sinjai

STRATEGI DIFERENSIASI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Praktik pembelajaran ini dilakukan untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika yang rendah (sekitar 55 % Siswa mendapat nilai di atas KKM, selebihnya tuntas melalui program Remidial) karena pelajaran matematika dianggap sulit oleh siswa dapat ditingkatkan dan proses pembelajaran matematika yang menegangkan juga menjemukan bagi siswa karena siswa banyak diam mendengarkan penjelasan materi dari guru dapat dikondisikan menjadi pembelajaran matematika yang aktif dan menyenangkan . Strategi Diferensiasi dilakukan dengan tujuan untuk mengakomodasi kebutuhan belajar siswa sesuai dengan keinginannya agar pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna dan efektif. Praktik Pembelajaran matematika ini menggunakan model pembelajaran kelompok dengan kelompok ahli dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas kegiatan belajar siswa dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan.

Praktik ini dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa setelah guru merespon kebutuhan belajar siswa, membuat kesepakatan dalam kesiapan siswa dan kegiatan penyemangat, game sebagai strategi pengelompokan siswa secara heterogen, proses pembelajaran dengan model pembelajaran kelompok, dan presentasi tugas kelompok sebagai wujud kreativitas belajar mandiri.

Praktik ini saya bagi atas 4 tahap kegiatan yang saya beri nama: tahap perkenalan, tahap belajar dalam kelompok, tahap presentasi dan tahap evaluasi, dengan durasi setiap tahap adalah satu kali tatap muka atau 2 jam pelajaran. Total praktik ini 4 kali pertemuan untuk menyelesaikan satu materi pelajaran atau 2 Kompetensi Dasar yang mencakup kompetensi pengetahuan dan kompetensi ketrampilan.

TAHAP PERKENALAN. Pada pertemuan pertama di awal tahun pelajaran setelah berdoa saya menyapa siswa dan saling berkenalan. Kami membuat kesepakatan bahwa saat saya menyapa siswa menjawab sapaan saya dengan sebuah kalimat yang sama, serempak dan semangat Saya beri kesempatan siswa untuk membuanya selama 10 – 15 menit. Kegiatan ini saya beri nama sapa penyemangat. Selanjutnya saya beri pertanyaan ke siswa dan siswa menuliskan jawaban pada kertas kecil yang saya bagikan, ada dua macam pertanyaan yang dijawab di dua lembar kertas yang berbeda. Jawaban ditempel di tembok kelas kemudian saya baca . Ini saya lakukan untuk mengidentifikasi karakter siswa dan kebutuhan belajarnya. Selanjutnya saya lakukan pengelompokan siswa secara heterogen dengan game/bermain membuat sebuah barisan dengan syarat tertentu. Di ahkir pertemuan saya sampaikan materi pertemuan berikutnya dengan kesepakatan siswa menyiapkan peralatan , buku-buku atau sumber belajar lainnya .

TAHAP BELAJAR DALAM KELOMPOK. Pertemuan kedua , setelah pendahuluan dengan menyampaikan salam , doa, sapa penyemangat, dan cek kehadiran ,saya menulis Tujuan Pembelajaran KD 3.1,kemudian siswa baca buku sumber atau ada yang mencari literasinya dengan buka laptop atau hp android nya. Setelah beberapa siswa menanya ,siswa pindah duduk sesuai dengan kelompok yang telah dibentuk sebelumnya, kemudian pada setiap kelompok menentukan nomor keanggotaan masing-masing siswa mulai siswa no 1 sampai dengan siswa no. terakhir. Ketika itu saya menyiapkan meja dan beberapa kursi kelompok ahli. Saya memberi soal sebanyak siswa dalam setiap kelompok.Setiap siswa mengerjakan satu soal sesuai nomor keanggotaannya. Setelah waktu yang ditetapkan untuk mengerjakan soal habis, saya memanggil orang pertama dalam setiap kelompok ke tempat kelompok ahli untuk mendiskusikan penyelesaian soal pertama dengan bimbingan saya, kemudian siswa kembali ke kelompok asal untuk menerangkan kepada teman kelompoknya tentang soal no satu tersebut. Selanjutnya diundang orang kedua untuk cari solusi dalam diskusi kelompok ahli , demikian seterusnya.Diakhir pertemuan kami membuat kesimpulan, refleksi dan saya memberikan apresiasi pada kelompok yang paling bagus pada pembelajaran hari itu. Sebelum menutup pelajaran, saya memberikan tugas kelompok untuk dipresentasikan pada pertemuan berikutnya.

TAHAP PRESENTASI. Pada pertemuan ketiga setelah pendahuluan dengan menyampaikan salam , doa, sapa penyemangat, dan cek kehadiran , saya undi urutan presentasi kelompok. Dengan kreativitas penggunaan media dan penampilan masing-masing kelompok mempresentasikan di depan kelas. Pertemuan diakhiri dengan apresiasi kelompok terbaik, refleksi dan informasi Tes pada pertemuan berikutnya.

TAHAP EVALUASI. Pada pertemuan ini siswa mengerjakan soal secara individu dengan 4 paket soal yang berbeda tetapi indikator soal sama.

Kondisi setelah praktik penerapan strategi diferensiasi dalam pembelajaran matematika di kelas XII MIPA SMA NEGERI 1 Sinjai menunjukkan kreativitas siswa dengan adanya beragam penggunaan media yang dibuat siswa dalam presentasi. Ada kelompok yang menggunakan papan tulis, Chart, Power Point dengan bermacam asesoris dan video. Hasil tes pada materi KD 3.1 menunjukkan bahwa 83 % siswa mendapat nilai di atas KKM.


TUR MAUDAH

SMP ISLAM AL-UMM MALANG

MESEM (Mengakrabkan Emosi antar Siswa dEngan Matematika)

Saat ini banyak sekolah formal swasta yang menggunakan sistem boarding school. Salah satunya yaitu sekolah yang saya ajar. Kali ini kelas yang saya angkat menjadi bahan diskusi yaitu kelas 7 SMP. Seperti biasa setelah bel berbunyi anak-anak mulai masuk kelas kemudian mempersiapkan pelajaran yang akan dipelajari. Kali ini matematika mendapatkan jam pertama hingga jam ketiga, harapannya siswa masih dalam keadaan fresh saat menerima pelajaran eksak dipagi hari. Seperti biasa kelas diawali dengan berdoa yang dipimpin oleh ketua kelas kemudian siswa menyiapkan buku paket beserta alat tulis. Hal lain yang perlu diketahui yaitu waktu tempuh dari tempat siswa ini tinggal hanya memerlukan waktu 2 menit mengingat jarak gedung tempat mereka tidur hanya beberapa meter. Hal menarik yang menjadi ciri khas kelas ini yaitu terdiri dari perempuan semua. Jadi dalam kelas matematika ini, terdiri dari 34 siswa yang notabene berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda dengan budaya dan pola asuh berbeda. Masing-masing siswa berasal dari berbagai daerah yang tersebar dai seluruh Indonesia. Ada yang dari Bangil, Pasuruan, Blitar, dan masih banyak kota yang lainnya. Di sekolah boarding school ini mereka menyatu untuk menjalankan satu visi dan misi sehingga ada beberapa hal yang harus mereka sesuaikan. Masing-masing siswa memiliki karakter yang berbeda dan cenderung membawa bekal dari rumahnya masing-masing.

Keadaan di atas menjadi tantangan untuk guru dalam mengelola kelas. Kali ini ada satu siswa yang memiliki karakter spesial. Sebut saja anak tersebut sebagai siswa A. Siswa ini cenderung memiliki ego yang tinggi. Siswa ini kadangkala marah dengan temannya ketika di kelas dan juga di asrama tanpa sebab sehingga membuat teman yang lain tersulut emosinya. Rata-rata usia siswa kelas 7 ini adalah 12-13 tahun. Pada umur-umur ini menurut ahli psikologi memang saatnya memasuki masa pubertas sehingga dianulir ada pengaruh dari perubahan psikologinya. Pada saat guru menerapkan stategi pembelajaran kooperatif hal ini menjadi salah satu kendala yang serius. Mengapa?. Bagaimana akan berjalan lancar pembelajaran jika ada salah satu siswa yang menjadi bomerang bagi kebanyakan siswa lainnya. Artinya ada beberapa siswa yang menolak siswa A untuk melakukan kegiatan diskusi, menanggapi, dan menerima pendapat. Sebenarnya sederhana, hanya perlu pengakrab an antar siswa pada saat proses pembentukan karakter. Hal menarik dari karakter siswa A ini, ketika siswa yang lainnya merasa tidak menerima kehadirannya di kelas dia menunjukkan bahwa dia mampu melakukan semua kegiatan yang dihibahkan oleh guru dengan mengandalkan dirinya sendiri tanpa membutuhkan orang lain.

Pada saat memutuskan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif disini siswa harus dengan legowo menerima kelompok yang diberikan dengan tujuan untuk saling berbagi ilmu dan berlatih besosial. Disini siswa tetap dikelompokkan dengan komposisi kemampuan yang sudah dipertimbangkan oleh guru. Guru mengajak siswa untuk melakukan eksplorasi berkelompok dengan menggunakan media di luar kelas. Pada pembelajaran kali ini yaitu menentukan luas permukaan untuk benda yang tidak beraturan. Guru dapat mengarahkan siswa untuk keluar ruangan mencari dedaunan yang ada disekelilingnya misal. Dalam hal ini siswa dapat mencari media secara mandiri dengan kelompoknya dengan memanfaatkan lingkungan sekitar kelas. Adapun siswa A yang cenderung dijauhi temannya, sesekali guru memberikan sapaan natural atau didekati dari hati ke hati. Misalnya saja dengan menanyakan hal sederhana, misalnya bagaimana A apa sudah menemukan daun? Mengapa bajumu kotor nak? Sesekali di sela-sela semua siswa melakukan eksplorasi guru mencoba masuk dalam sosial siswanya. Selain itu guru juga sesekali menanyakan, bagaimana dengan kelompokmu?. Sesekali teman kelompoknya juga diarahkan untuk peka terhadap setiap anggotanya dengan meminta siswa menanyakan apa yang telah dilakukan teman lainnya dalam kelompok. Guru dapat meminta masing-masing siswa mencari teman sehingga berpasangan dalam berdiskusi bertukar hasil pekerjaan. Dalam masa ini guru harus peka dan mendampingi siswa A dengan tidak mengecualikan yang lainnya. Guru juga harus mengorek informasi dari teman sebaya yang mana banyak berperan penting dalam penyembuhan keadaan sosial siswa A. Selain dari siswa juga harus menyelami informasi siswa A tersebut pada pengasuh asrama agar mengetahui latar belakang dari siswa tersebut. Ternyata siswa A ini dalam keluarganya penurut tetapi dengan perintah bukan dari hati nuraninya sendiri. Hal ini yang mungkin menjadi alasan mengapa anak tersebut mudah emosi di kelas.

Mesem, dalam bahasa jawa senyum. Tetapi pada kasus yang terjadi di kelas yang saya ajar berikut bukan hanya tebar senyum kepada setiap siswa. Namum memberikan stimulus kepada siswa yang memiliki karakter spesial untuk menjadikan keadaan yang lebih baik dan mengarahkan emosin siswa melalui pembelajaran matematika. Siswa A menjadi semakin open terhadap guru karena merasa memiliki sahabat untuk bertanya bahkan mau bercerita mengenai uneg-uneg yang disimpannya dalam hati. Saat guru berjalan melewati siswa A kemudian guru dengan sengaja duduk disampingnya untuk menanyakan kegiatannya saat itu, siswa A merasa senang. Siswa A merasa bahwa dia ada yang memperhatikan dan semakin bersemangat ketika saya beri pertanyaan sapaan sedang menghafalkan apa?. Dia menjawab dengan panjang. Hal ini menunjukkan kenyamanan siswa dalam bercerita. Jadi keakraban guru dan pembimbingan guru terhadap anak yang spesial seperti ini akan berdampak pada emosi masing-masing anak serta keakraban anak terhadap teman sekelas.


Indhira Dewi

TK Celik

Ragam Strategi Mengajar Matematika SD

Awal : Awal thn dgn posisi yang baru di sekolah dasar . SD swasta ini mengunakan kurikulum negara tetangga. Dan dipertengahan tahun ajaran mendadak guru matematika kelas 3 diberhentikan oleh yayasan. Hal ini menyebabkan saya turun ke kelas untuk mengajar matematika

Tantangan: 80% nilai matematika dibawah KKM. Tugas tambahan saya adalah anak anak harus diatas kkm. Diawal masuk kelas … Mayoritas siswa ketika saya ulang ttg materi terakhir yg diajarkan… Hmm mereka hanya menatap saya … Dengan tatapan kosong. Ada beberapa yg membutuhlan bimbingan lebih krn mereka belajar dgn cara berbeda

Aksi :

  1. Saya ubah posisi duduk menjadi berkelompok kecil
  2. Selalu saya mulai dengan permainan (ini menyebabkan anak anak senang ketika saya masuk kelas. Selalu muncul pertanyaan ,’kita main apa hari ini?’
  3. Awal materi diberikan selalu saya tutup buku. Intinya mereka paham dulu
  4. Sesi kedua : diskusi soal dan pengerjaan. Ini memberikan kesempatan bagi yg selesai untuk mengajarkan yg blm mengerti dgn bahasanya. Cara kedua ini banyak membantu mereka baik yg sdh selesai maupun blm selesai
  5. Saya adakan mini workshop matematika per level
  6. Sebelum class test, saya berikan beberapa soal latihan

Konten / riset

  1. Nilai akhir hanya 10% dibawah kkm
  2. Salah satu siswa yg sprech delay mulai menunjukkan berkurangnya tingkat stress, tidur dikelas dan mulai mengungkapkan pendapatnya
  3. Riset memberikan input buat saya ketika anak selesai mengerjakan soal dan si anak menjelaskan ke pada temannya , hal ini memberikan pengetahuan yg dia dapat tidak saja masuk ke memory jangka pendek namun juga ke memory jangka panjang
  4. Dengan anak menjelaskan ke temannya sesuai dgn bahasa anak…. Anak anak yg awalnya blm paham dapat terbantu menjadi paham.

ILA MAYA SUPRAPTI, S.Pd.SD

SDN MARON WETAN 1

” Pelajaran yang masih dianggap sulit di kelas 4 SDN Maron Wetan 1 adalah matematika. Pada awal pembelajaran bilangan bulat, 17 siswa dari 22 siswa tidak bisa mengerjakan soal. Mereka bingung penggunaan pengurangan/penjumlahan dengan tanda positif/negatif.
Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, maka dicarilah sebuah cara yang dapat dengan mudah diterima siswa. Juga membantu siswa memahami dengan cara mereka sendiri melalui metode inkuiri terbimbing.
Untuk mempermudah, dibuatlah alat peraga yang mudah didapat dan ada disekitar siswa. Selain hemat biaya, juga mengajarkan siswa kreatif untuk memanfaatkan barang bekas di sekitar mereka menjadi hal yang bermanfaat. Alat peraga tersebut sepakat diberi nama STICO. Stik es krim warna.
Penggunaan peraga STICO digabungkan dengan metode inkuiri bukan hanya meningkatkan hasil belajar siswa. Bahkan siswa mulai menyukai matematika sebagai permainan. Mereka juga mampu membuat soal sederhana sendiri, kemudian ditukar dengan temannya.”



S2K119 – Belajar Membaca, Belajar Berkarya

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara mengembangkan kemampuan membaca melalui cara berkarya

AJUN PUJANG ANOM

SDN PANDAN 2

Mengajar Baca-Tulis Dengan Kambing

Tentunya pembelajaran akan sulit dilakukan, jika masih ada anak yang tidak mampu membaca dan menulis. Padahal sudah menginjak kelas 2 sekolah dasar. Dan ini saya alami, separuh siswa kesulitan membaca dan seperempatnya kesulitan dalam menulis. Jadi ada yang lancar membaca, namun kesusahan saat menulis. Atau lancar menulis, tetapi membaca dengan terbata-bata. Dalam prosentase ini, hanya satu anak yang benar-benar kesulitan di kedua hal tadi. Tentunya berbagai upaya sudah saya lakukan, seperti membuat jadual bimbingan baca-tulis sesudah jam pelajaran usai, selama 15 menit. Hasilnya tidak signifikan.

Akhirnya saya membuat terobosan dengan mengenalkan “kambing”. Kambing ini bukanlah binatang. Kambing ini kependekan dari karangan terbimbing. Karangan terbimbing ini maksudnya adalah anak-anak mengarang cerita berdasarkan tema yang disepakati bersama, dengan kerangka karangan yang saya berikan. Karangan terbimbing atau kambing ini, dalam pelaksanaannya terdiri atas beberapa tahap, yaitu:

  1. Tahap awal

Saya membacakan sebuah cerita dan menanyakan kepada anak-anak, bagaimana jika cerita ini berlanjut. Disini anak, diminta menjawab pertanyaan tersebut dalam satu-dua kata.

  1. Tahap pemahaman

Setelah anak dianggap mampu dalam tahap awal, dilanjutkan ke tahap ini. Anak diminta menceritakan secara lisan lanjutan cerita tadi.

  1. Tahap aksi

Pada tahap ini, anak dibimbing untuk menuliskan apa yang diceritakan secara lisan tadi. Setelah jadi sebuah karangan. Anak-anak disuruh membuat ilustrasi cerita lanjutan sesuai dengan imajinasi mereka.

Tentunya tahapan-tahapan ini dilakukan di waktu pelajaran Bahasa Indonesia. Apalagi mata pelajaran Bahasa Indonesia porsinya seminggu 3 kali, jadi cukup membuat anak-anak lebih cepat menyerap. Dan khusus hari Jum’at, saya adakan kegiatan Jum’at Bercerita, meski tidak ada mata pelajaran Bahasa Indonesia, namun ada materi Pengembangan Diri. Di sinilah jam Pengembangan Diri, saya gunakan untuk kegiatan itu. Pada Jum’at Bercerita ini, anak membacakan hasil karangannya kepada anak-anak. Dan teman-temannya, bisa saling mengomentari tentang apa isi dari karangannya tersebut.


Juliawati, S.Pd

SD Negeri 8 Sanggau

Asyiknya Belajar dengan LiPerPow (Literasi perpustakaan dan power point)

Proses pembelajaran di kelas hendaknya di dukung oleh proses pembelajaran yang ideal yaitu pembelajaran yang aktif, interaktif, kreatif, dan menyenangkan. Untuk mengaplikasikan pembelajaran ideal tersebut seorang guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi pembelajaran dan menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar yang sesuai dengan kondisi kelas. Siswa akan mudah bosan dan mulai ribut jika belajar sudah tidak menarik dan menyenangkan lagi bagi mereka sehingga tujuan belajar yang ingin dicapai tidak berhasil.

Ini menjadi tantangan bagi guru bagaimana membuat pembelajaran di kelas menjadi aktif dan menyenangkan serta membuat siswa juga bisa mengembangkan hasil pembelajaran dengan kreatif. Pembelajaran yang bisa dikembangkan di kelas adalah dengan memanfaatkan lingkungan belajar di luar sekolah. Belajar tidak hanya di kelas saja tetapi bisa juga di luar kelas. Salah satunya dengan memanfaatkan perpustakaan daerah, di mana siswa bisa belajar dan memahami keberadaan perpustakaan sebagai akses untuk mendapatkan informasi dan menjadi pengalaman belajar bagi siswa.

Selain menjadikan perpustakaan daerah sebagai sarana belajar, guru juga bisa memanfaatkan berbagai media yang disebut multimedia, yaitu penyediaan informasi pada komputer yang menggunakan suara, grafika, animasi, dan teks. Dalam hal ini menggunakan aplikasi microsoft power point sebagai media belajar bagi siswa. Strategi mengajar yang saya kembangkan adalah “Asyiknya Belajar dengan LiPerPow (Literasi perpustakaan dan power point)”. Yaitu, dengan mengajak siswa mencari buku-buku atau bahan yang berkaitan dengan materi pelajaran di perpustakaan daerah dan membuat ringkasan dari materi tersebut. Kemudian hasil ringkasan itu di buat bahan tayangnya dengan menggunakan aplikasi microsoft power point, dan masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya secara bergantian.

Dengan strategi mengajar tersebut menunjukkan hasil yang positif dalam pembelajaran, siswa sangat antusias berkunjung ke perpustakaan daerah sehingga diharapkan dapat menumbuhkan minat baca siswa, siswa juga bisa membuat ringkasan dari buku yang sudah dibaca, dan mampu mempresentasikan hasilnya di depan kelas dengan menggunakan aplikasi microsoft power point sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.



S2K120 – Ragam Strategi Belajar Membaca

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin menemukan inspirasi tentang ragam cara belajar membaca

SEKAR AYU ADHANINGRUM

SEKOLAH KEMBANG

Menyusun Rencana Belajar Berdasarkan Novel

Salah satu fenomena yang sering muncul saat ini adalah anggapan bahwa membaca adalah hal yang membosankan dan memberatkan. Serangkaian tulisan yang ditulis berlembar-lembar dan minim gambar membuat anggapan tersebut semakin kuat. Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat juga tampak ‘menggeser’ pilihan membaca, khususnya membaca buku, sebagai salah satu aktivitas yang dapat dipilih. Fenomena ini sedikit banyak memberikan pengaruh yang cukup signifikan pada kebiasaan membaca pada anak-anak usia sekolah.

Common Core State Standards (CCSS) di Amerika menekankan pada pentingnya paparan cerita/literatur fiksi kepada anak-anak sekolah. Kegiatan membaca melatih keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah,serta kemampuan analisis . Ketiganya sangat dibutuhkan untuk membantu anak dapat berhasil di jenjang perguruan tinggi, dunia pekerjaan, serta dalam menjalani tantangan kehidupan.

“The Common Core asks students to read stories and literature, as well as more complex texts that provide facts and background knowledge in areas such as science and social studies. Students will be challenged and asked questions that push them to refer back to what they’ve read. This stresses critical-thinking, problem-solving, and analytical skills that are required for success in college, career, and life.”

Di Sekolah Kembang, kami menjumpai beberapa tantangan keterampilan berbahasa pada murid-murid. Mulai dari penguasaan kosakata yang kurang beragam, penyusunan kalimat yang tidak runtut maupun efektif, sampai kepada penggunaan tanda baca yang kurang tepat. Dalam hal tingkat kemampuan berpikir, kami juga merasa perlu meningkatkan kemampuan mereka untuk berpikir kritis serta mengasah keterampilan analisis. Masalah-masalah seperti itu membuat para murid kesulitan memahami isi teks maupun instruksi lisan dan tulisan. Mereka juga belum dapat membuat kalimat lengkap yang jelas dan bermakna sehingga hasil tulisan mereka terkadang kurang dapat dipahami dengan baik. Murid juga masih menganggap kebiasaan membaca adalah kebiasaan yang membosankan. Salah satu penyebabnya adalah mereka belum menemukan buku yang menarik serta belum menjadikan aktivitas membaca sebagai salah satu rutinitas. Para guru juga mengalami kesulitan untuk menyampaikan materi belajar karena adanya keterbatasan keterampilan berbahasa tersebut.

Mulai dua tahun lalu, Sekolah Dasar Kembang menjadwalkan kegiatan Membaca-Menulis dan Matematika sebagai kegiatan rutin yang dilakukan setiap pagi, masing-masing selama 40 menit. Dalam kegiatan Membaca-Menulis, murid-murid kelas 3 sampai 6 SD akan membaca satu buku novel fiksi sepanjang satu kuartal. Tantangan yang paling jelas terlihat di kelas adalah pada murid-murid yang belum terbiasa membaca novel. Mereka terlihat bosan dan sulit memahami isi cerita. Sebagian besar murid kelas 3 juga belum dapat membaca dengan intonasi yang benar, maka guru masih sering membacakan buku secara lantang untuk satu kelas. Tujuannya adalah untuk memberikan contoh kepada para murid tentang cara membaca yang benar dan supaya mereka dapat lebih memahami isinya dengan lebih baik. Tantangan lainnya adalah merancang kegiatan bahasa yang sesuai dengan tema buku atau dengan standar kompetensi yang dituju.

Selain membaca buku, para guru juga merancang beragam kegiatan lanjutan untuk mengembangkan materi maupun keterampilan yang hendak dituju. Kegiatan lanjutan biasanya seputar diskusi mengenai isi bab yang sedang dibaca, mengerjakan lembar kerja, menjawab pertanyaan, atau mencatat kosakata baru.

Saat ini, kegiatan belajar berdasarkan novel fiksi masih terus dijalankan di Sekolah Dasar Kembang. Beberapa novel yang pernah dibaca adalah seri Harry Potter pertama dan kedua, Matilda dan Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib karangan Roald Dahl, seri Percy Jackson, dan Wonder. Kami mengamati bahwa kini para murid sudah lebih senang membaca atau mulai menjadikan kegiatan membaca sebagai aktivitas rutin mereka. Kemampuan berpikir kritis mereka juga berkembang. Mereka lebih mudah memahami informasi maupun menyampaikan sesuatu. Kosakata yang bertambah membuat mereka dapat berkomunikasi lisan maupun membuat tulisan yang jauh lebih tepat dan bermakna. Dampak serupa juga dirasakan oleh orang tua murid. Mereka senang karena anak-anak mereka kini lebih memilih membeli buku dibandingkan mainan. Mereka juga sudah dapat mengajak orang tuanya berdiskusi mengenai cerita di buku dan mengaitkannya dengan masalah lain. Di pelajaran lain, mereka juga bisa memahami isi teks bacaan dengan lebih mudah dan tepat.

Menyusun kegiatan belajar berdasarkan novel fiksi membantu guru memetakan kemampuan berbahasa murid, khususnya membaca. Titik berat atau fokus keterampilan murid juga menjadi lebih jelas, misalnya kosakata, pemahaman bacaan, cara menyusun kalimat, belajar imbuhan, dan lain sebagainya. Fokus yang lebih jelas memudahkan para guru untuk merancang kegiatan karena targetnya lebih terukur.

Beberapa hal yang perlu dibenahi oleh guru adalah soal pemilihan buku, yang mungkin tidak selalu bisa cocok untuk semua anak, misalnya dari genre atau tingkat kesulitannya. Tantangan lainnya adalah kami harus merancang kegiatan lanjutan dan pertanyaan diskusi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kemampuan murid.


Evi Selviawati

Yayasan Dian Didaktika

Efektivitas Silent Reading

“Kemerdekaan:

Di beberapa tahun terakhir pemerintah sedang giat menggalakkan “”gerakan literasi sekolah”” untuk meningkatkan minat baca anak usia sekolah. Salah satu metode yang diterapkan untuk mendukung gerakan literasi sekolah adalah silent reading. Dengan waktu 15-20 menit yang disediakan, siswa dapat membaca buku yang mereka suka sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

Namun, seberapa efektifkah silent reading diterapkan di setiap jenjang pendidikan? Lalu bagaimana agar silent reading efektif untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi siswa?

Silent reading bertujuan agar setiap siswa membaca buku secara mandiri. Hal ini akan menjadi sulit jika siswa masih dalam tahap awal membaca karena mereka masih perlu bimbingan guru. Belum lagi jika ada siswa yang betul-betul kurang motivasi membaca. Maka tak heran jika ada siswa yang tidak menggunakan waktu silent reading dengan maksimal. Mereka justru terlihat bosan, melakukan aktivitas lain, atau malah membuat kelas gaduh.

Permasalahan lain adalah bagaimana bentuk kontrol guru perihal kemampuan literasi siswa. Seberapa paham siswa atas apa yang mereka baca? Lalu, bagaimana agar menjaga konsistensi siswa untuk terus membaca? Untuk itulah, perlu beberapa cara agar silent reading menjadi efektif untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi siswa.”

S3K201 – Merancang Desain Belajar Pelajaran Pancasila melalui Backward Design

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang desain belajar pelajaran Pancasila. Penguasaan kompetensi ini bisa digunakan juga di berbagai pelajaran yang lain

Vini Quamilla

Yayasan Pendidikan Jayawijaya

Hari Sabtu tanggal 12 Agustus 2017, saya menonton berita di televisi tentang unit kerja Presiden yang berfokus pada penguatan Pendidikan Pancasila. “Seperti apa bentuknya?” itulah pertanyaan besar saya. Saya pikir, pertanyaan itulah yang mendorong saya untuk menulis abstrak ini. SD YPJ Kuala Kencana telah memetakan pelajaran PPKn dalam unit inkuiri mulai tahun pelajaran 2014/15, tetapi, apakah pelajaran tersebut sudah dipetakan pada unit inkuiri yang sesuai? Bagaimana mendesain pelajaran tersebut dalam unit inkuiri? seperti apa praktik Pendidikan Pancasila yang sesuai untuk tiap kelas? Ketiga persoalan tersebut telah dilalui dengan baik di tahun pertama, diperbaiki lagi di tahun kedua dan telah dikembangkan dengan lebih baik lagi di tahun ketiga.

Saya bertujuan untuk membagikan pengalaman memetakan pelajaran PPKn yang berfokus pada praktik Pendidikan Pancasila pada para peserta dengan harapan agar kita (khususnya guru-guru SD) dapat saling memahami, melaksanakan, mempraktikkan, memperkuat dan memperkaya pelajaran ini untuk anak-anak dengan efektif. Efektif yang saya maksudkan adalah: komunikasi dua arah, perhatikan gaya belajar anak, kerja kelompok yang sesuai dan diferensiasi. Jika berhasil, saya harap kita dapat membuat dan melihat kontinum perkembangan penguatan pendidikan Pancasila pada anak secara nyata.

Proses belajar di kelas ini adalah dengan metode backward design:

  1. Saya akan memulai dengan memperlihatan foto dan video anak-anak SD YPJ KK yang berasal dari berbagai suku bangsa yang sedang melakukan praktik belajar Pendidikan Pancasila di dalam/luar kelas.
  2. Memperlihatkan proses kolaborasi yang dilakukan oleh guru-guru kelas SD YPJ KK dalam memetakan kurikulum.
  3. Membagikan pemetaan indikator Pendidikan Pancasila SD YPJ KK dan membahasnya bersama-sama
  4. Peserta akan melakukan diskusi dalam kelompok kecil agar mereka dapat saling berbagi pemetaan yang berlaku di sekolah masing-masing dan memulai melakukan perubahan pemetaan agar pelajaran Pendidikan Pancasila dapat dipraktikkan di sekolah masing-masing dengan lebih baik lagi (saya akan berkeliling untuk memberi tanggapan dan masukan).


S3K202 – Mengembangkan Keterampilan Bertanya

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi bertanya melalui berbagai strategi untuk mengembangkan kualitas belajar di kelas. Kelas ini cocok buat guru yang bingung menghadapi kelas yang sunyi setelah ditanya “Apa ada pertanyaan?” di akhir pelajaran

Pia Adiprima

Sekolah Cikal

Ternyata bertanya dengan benar tidak semudah itu untuk dilakukan. Lebih mudah membuat pertanyaan dalam bentuk tertulis daripada bertanya langsung. Padahal sebagai pendidik, kita tahu bahwa bertanya adalah strategi yang sangat efektif dalam proses belajar mengajar. Belum lagi kita harus memastikan pertanyaan yang kita ajukan membantu anak untuk berpikir atau hanya untuk mengafirmasi bahwa kita sudah mencakup pembelajaran tertentu.

Jadi apa sih yang harus dilakukan dalam bertanya saat mengajar? Beberapa strategi berhasil akan dibahas dalam kelas ini dimana peserta akan simulasi berlatih bertanya dengan peserta lain strategi-strategi yang dibahas selama kelas berlangsung baik dalam pasangan maupun kelompok kecil.



S3K203 – Peran Teknologi dalam Metode Pembelajaran Berbasis Inkuiri

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi bertanya khususnya melalui pemanfataan teknologi untuk memancing rasa ingin tahu anak. Percayalah, peran teknologi lebih dari sekedar untuk mengunduh konten

Marsaria Primadona (Pima)

PYP Coordinator Sekolah Cikal Cilandak

Apple Distinguished Educator

@pimaaditya

Metode pembelajaran inkuiri adalah metode pembelajaran yang berangkat dari pertanyaan, atau dari suatu permasalahan. Namun tidak hanya itu, inkuiri adalah mengenai keingin tahuan. Dan memancing keingin tahuan anak, jauh lebih penting dan lebih rumit, dibandingkan dengan pemberian konten pengetahuannya itu sendiri. Pemberian konten pengetahuan dari guru, yang biasanya disampaikan dengan cara ceramah, atau sekedar bacaan buku dan informasi.

Namun sebenarnya inkuiri tidak serumit itu juga, malah seharusnya memudahkan guru, karena tugas guru yang tadinya sebagai pusat informasi, bisa dibagi kepada murid, dengan memberikan otoritas pembelajaran kepada murid, pembelajaran yang bisa menjadi milik bersama.

Namun, ketika guru bertanya, ‘Apa yang ingin kamu pelajari?’ Seringkali jawaban ‘Aku tidak tahu’ lah yang keluar dari murid. Ketertarikan dan antusiasme, memang tidak datang begitu saja, harus dipancing, dibakar, dan dinyalakan oleh guru dengan cara-cara tertentu.

Teknologi, adalah alat yang bisa menjadi api untuk menyalakan ketertarikan dan antusiasme. Anak-anak pelajar abad 21, sangat dekat dengan teknologi. Smartphone, komputer, dan gawai-gawai lainnya yang dari kecil mereka tahu sudah bisa menjadi alat bermain. Guru harus pintar memanfaatkan situasi ini. Gawai yang biasa dipakai untuk bermain, sangatlah bisa menjadi alat belajar, alat menulis, alat untuk mengembangkan kreativitas.

Tujuan dari kelas kompetensi ini adalah agar guru memahami pentingnya menyalakan keingintahuan anak, agar guru mengetahui cara-cara memancing keingin tahuan anak melalui teknologi, dan membedah satu persatu proses inkuiri dengan memakai teknologi.

Di kelas kompetensi ini akan dimulai dari strategi bertanya, membuat pertanyaan yang memunculkan ketertarikan anak. Kemudian belajar observasi dengan kamera dan mengisi Y-chart. Diskusi online dengan menggunakan Padlet. Pemberian informasi dengan QR Code. Dan contoh-contoh pembelajaran dengan teknologi dalam bentuk dokumentasi film dari pembelajaran dengan teknologi yang pernah dilakukan oleh pembicara.

Manfaat dari kelas kompetensi ini, peserta akan mendapat keterampilan dalam memulai tahapan-tahapan dalam proses inkuiri, mempunyai daftar perangkat yang bisa digunakan seperti menggunakan telepon genggam sebagai alat pembelajaran, dan perangkat-perangkat lainnya yang digunakan untuk eksplorasi, observasi, kolaborasi dan produksi.



S3K204 – Pendekatan Pelajaran Musik Dengan Cara Baru

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi belajar musik dengan pendekatan belajar dari pengalaman. Penguasaan kompetensi ini bisa digunakan juga di berbagai pelajaran yang lain

Nino Aditya Rajasa

Jakarta Multicultural School

Sebagai murid, dulu pasti anda pernah belajar teori musik. Apalagi apabila anda pernah belajar musik formal dengan mengambil les musik. Apakah anda familiar dengan notasi musik? Apakah anda yang tidak familiar dengan notasi musik bisa memainkan alat musik? Anda ingat dulu pernah baca not balok sewaktu belajar memainkan suling? Apa fungsi notasi musik? Apabila Mozart atau Beethoven hidup dimasa kini, apakah mereka akan menggunakan notasi musik sebagai alat dokumentasi? Apakah dengan adanya teknologi, seperti alat rekam, atau komputer, atau ipad, mereka akan tetap masih memakai lembar notasi musik?

Kalau anak-anak kita belajar formal seperti ini, waktu mereka belajar musik akan habis dengan belajar teori. Sampai untuk bisa bermain musik pasti akan lama sekali.

Bagaimana kalau kita merubah pola belajar menjadi: bermain musik dulu, mencoba alat musik dulu, dengan lagu-lagu yang mereka sukai, baru belajar teori musik atau notasinya belakangan? Bagaimana kalau kita merubah sistem belajar menjadi terbalik, bermain dulu, baru belajar teori?

Demikian konsep belajar musik terkini, dari Musical Future, program belajar musik dengan cara menyenangkan, menggunakan teknologi dan cara belajar yang berbeda.



S3K205 – Cara Praktis Membuat Penelitian Tindakan Kelas

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi membuat penelitian tindakan kelas yang praktis sehingga bisa dilakukan di tengah kesibukan guru yang padat.

Intan Irawati, S.Pd., M.Si.

MAN 15 Jakarta

Kompetensi:

Cara Praktis Membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Persoalan yang ingin diselesaikan

Banyak guru yang merasa kurang kompeten dalam memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya guru yang tidak dapat melanjutkan pangkat/golongannya ke jenjang yang lebih tinggi karena tidak dapat membuat Karya Ilmiah (KI) khusunya PTK.

Sudah bukan rahasia lagi jika ada sebagian guru yang demi meluluskan jenjang karirnya ‘terpaksa’ menjiplak KI orang lain. Padahal tuntutan Permendikbud No 16/2009 terkait dengan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) adalah KI dalam bentuk PTK. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan bentuk KI yang terbilang mudah dan sederhana. Mudah karena tidak menuntut perhitungan statistik yang rumit dan sederhana karena tidak menuntut sampel dan populasi yang banyak. Subyek penelitian dalam PTK adalah murid. Semua guru pasti bisa melaksanakannya. PTK merupakan penelitian reflektif guru yang tidak saja membantu guru menyelesaikan amsalah pembelajaran tapi juga meningkatkannya. PTK pun tidak akan mengganggu jalannya KBM karena dilakukan saat KBM berlangsung. Tapi mengapa guru enggan melakukan PTK? Kendala inilah yang perlu dicarikan solusi nya.

Tujuan dan manfaat bagi peserta kelas

Kelas ini akan memberikan motivasi dan panduan praktis bagi guru untuk melakukan PTK serta membuat laporan PTK

Kompetensi yang dipelajari

  1. Memahami perbedaan PTK dan penelitian lainnya
  2. Mampu melakukan PTK untuk memecahkan masalah di kelas
  3. Mampu menafsirkan hasil PTK untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Gambaran proses belajarnya

  • Motivasi untuk melakukan penelitian
  • Paparan singkat syarat-syarat melakukan PTK dan sistematika PTK
  • Workshop kecil dalam kelompok untuk merancang PTK.
  • Membuat proposal PTK secara individu


S3K206 – Belajar dari Peristiwa: Merancang Daur Belajar

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi mengembangkan proses belajar dari kejadian sehari-hari yang ditemui murid. Belajar di mana saja, belajar kapan saja.

Karunianingtyas Rejeki

Sanggar Anak Alam

Persoalan yang ingin diselesaikan

Banyak orang ketika sudah selesai belajar tentang sesuatu tidak tahu untuk apa teori atau konsep yang sudah dipelajari, sehingga ilmu yang mereka peroleh hanya sekedar untuk melewati saja mata pelajaran yang harus ditempuh. Kenapa begitu? Hal ini disebabkan karena proses belajar yang dilakukan tidaklah dekat atau berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, tidaklah berawal dari peristiwa. Sehingga kesannya “ujug-ujug” harus belajar, tanpa mengerti apa manfaatnya. Ketika seseorang belajar dengan dipaksa tanpa pernah memahami konsep, tanpa pernah menjumpainya secara riil, tanpa bisa mengaitkannya dengan peristiwa, maka pelajaran tersebut hanya akan terima sebagai “pengetahuan sambil lalu” yang dihafalkan saja. Padahal ciri orang yang hanya sekedar menghafal adalah cepat lupa, sehingga bila pelajaran tersebut sudah lewat maka lupa pula apa yang telah “dipelajari”. Lain halnya ketika proses belajar berangkat dari peristiwa sehari-hari, yang dijumpai di lingkungan sekolah atau lingkungan rumah maka akan membantu seorang pembelajar dalam memahami konsep yang riil, tidak ngawang-awang. Selain itu dengan mengakrabkan diri belajar dari kehidupan sehari-hari, akan membuat pembelajar mengerti bagaimana mengaplikasikan apa yang telah dipelajarinya dan bagaimana menggunakannya untuk menghadapi permasalahan nyata di dalam kehidupan.

Tujuan dan manfaat bagi peserta kelas

Tujuan dan manfaat kelas kompetensi ini adalah peserta kelas mulai belajar dan akhirnya terbiasa untuk melakukan aktivitas belajar bersama yang dimulai dari sebuah peristiwa.

Kompetensi yang dipelajari

  • Kemampuan mengolah peristiwa menjadi sumber belajar
  • Kemampuan mengembangkan proses belajar melalui pertanyaan-pertanyaan
  • Kemampuan bertanya yang mendorong lagi rasa ingin tahu anak, bukan untuk mengetes

Gambaran proses belajarnya

  • Paparan singkat materi yang berisi tentang : Mengapa penting menerapkan proses belajar yang berawal dari peristiwa, Apa manfaat belajar dari peristiwa, Bagaimana mengaitkan peristiwa menjadi sumber belajar, dan bagaimana pengembangannya.
  • Workshop kecil dalam kelompok untuk merancang pembelajaran yang dimulai dari peristiwa.


S3K207 – “Gamifying Lesson”: How to Make Your Classroom Truly Engaging

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang proses belajar berdasarkan prinsip permainan (gamifikasi) sehingga belajar bukan saja menyenangkan tapi juga bermakna.

Bagus Putra Wahyu Santoso

Sekolah Cikal Surabaya

Game-based Learning (GBL) merupakan strategi mengajar penulis untuk mengajarkan perkalian dengan cara memasukkan unsur – unsur bermain games pada pembelajaran sehingga pembelajaran terasa lebih interaktif, lebih seru, lebih menantang, dan edukatif . Strategi ini diterapkan oleh penulis ketika menghadapi siswa kelas 5 SD yang tidak suka dengan pelajaran Matematika dan tidak bisa perkalian di sekolah terpencil, fasilitas terbatas, dengan jumlah peserta didik sebanyak 52 siswa dalam 1 kelas.

Langkah pertama yang dilakukan penulis adalah mengenalkan konsep perkalian, penjumlahan berulang, dan seterusnya. Setelah mengetahui konsep perkalian, siswa diajarkan bagaimana cara menghitung cepat dengan metode jarimatika maupun mengahafal tabel perkalian tergantung gaya belajar yang disukai oleh siswa (differensiasi). Ketika siswa sudah memahami maka dimulailah permainan X-games.

Permainan X-games merupakan salah satu bentuk permainan GBL yang menerapkan sistem level dan leaderboard. Yakni, Level 1 berarti siswa mampu mengerjakan perkalian 1 digit dengan 1 digit (contoh : 5×6, 7×9), Level 2 berarti pekalian 2 digit dengan 2 digit (contoh : 12×34, 45×63), Level 3 berarti perkalian 3 digit dengan 3 digit, dan seterusnya. Serunya dalam permainan ini adalah guru menyusun meja dengan deret level, jadi apabila siswa mampu menjawab 10 pertanyaan level 1 maka siswa tersebut berhak duduk di bangku level (deret) 1, jika mampu menjawab 5 pertanyaan level 2 maka berhak duduk di bangku level 2, dan seterusnya. Apabila siswa telah mencapai level 3 maka dia akan mendapatkan gelar ( emblem ) Challenger, jika mencapai level 4 maka dia bergelar Climber, apabila siswa telah mencapai level 5 maka siswa tersebut akan mendapat gelar Master dan berkesempatan menjadi mentor bagi temannya yang kesulitan dalam mengerjakan perkalian.

Tujuan utama dari metode GBL ini adalah untuk meningkatkan antusias / minat belajar siswa dan membantu untuk mengatasi kesulitan belajar siswa terutama pada pelajaran yang dianggap paling sulit bagi mereka.

Adapun manfaat yang akan didapat oleh guru dengan menerapkan Games-based Learning (GBL) antara lain :

  1. Guru mampu meningkatkan antusias dan minat belajar siswa
  2. GBL membantu guru dalam memetakan sekaligus menangani siswa yang mengalami kesulitan belajar
  3. GBL meningkatkan kreatifitas guru dalam mengembangkan strategi mengajar yang menyenangkan (engaging), interaktif, menantang, dan edukatif.


S3K208 – Menggunakan Dagang Game untuk Belajar Akuntansi

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi menggunakan permainan dagang games untuk mengembangkan kemampuan murid.

Amelia Sari Tauresia Kestuma

Madrasah Aliyah Negeri Salatiga

Kompetensi : Belajar dengan Boardgame

Persoalan yang ingin diselesaikan

Kendala Pembelajaran yang banyak hafalan dan teoritis biasanya, waktu perminggu yang hanya satu dua jam pelajaran dan materi yang cukup padat, jika disampaikan dengan penjelasan dan diskusi waktunya tidak cukup, dan tentu saja membosankan, oleh karena itu dicari bagaimana agar materi semua tersampaikan dan anak anak tidak bosan. Salah satu tuntutan Kurikulum 2013 adalah bagaimana guru dapat mengkondisikan siswa sebagai pusat belajar. Pembelajaran berbasis proyek adalah pembelajaran yang paling familiar dilakukan untuk Kurikulum 2013. Pembelajaran model ini dilakukan untuk mengkondisikan siswa sebagai pusat belajar, meningkatkan kreativitas dan hasil belajar, proyek yang dilakukan disebut FUN WITH Boardgame. Sebelum meminta siswa membuat boardgamenya, peserta diminta membuat dan merancang sendiri boardgame mengenai topik yang berbeda untuk setiap kelompok. Proyek FUN With Boardgame ini, mengintegrasikan pendekatan boardgame modern dengan elemen-elemen pembelajaran klasik (yaitu, demonstrasi, observasi, refleksi, diskusi dan pengalaman berulang). Manfaat bagi peserta adalah menambah variasi model pembelajaran sebagai alternatif untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar yang banyak hafalan dan teori. Meningkatkan keterampilan mengelola kegiatan belajar mengajar.

Tujuan dan manfaat bagi peserta

FUN With Boardgame diharapkan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan materi hafalan dan teoritis, yang harus mereka pahami, permainan yang mereka buat ini selain dapat dimainkan saat pembelajaran di kelas yang hanya 45 menit, juga dapat dilaksanakan kapan saja, seperti saat istirahat di sekolah atau jam kosong. Sehingga secara menyenangkan dan tanpa beban siswa tidak merasa sebenarnya mereka sedang mengkaji bahasan materi, yang harus mereka pahami. Project ini, membuat siswa berkembang kreativitasnya, berpikir kritis dan terampil menyelidiki, menyimpulkan materi, serta menghubungkan dengan masalah dunia nyata, sehingga materi tersampaikan dengan baik. Sebelum menerapkannya pada siswa, peserta diharapkan membuat boardgamenya sendiri terlebih dahulu.

Target : Peserta secara berkelompok dapat merancang dan membuat draft gambar Boardgamenya

Gambaran proses belajarnya

Prosedur operasional project Fun With Boardgame kelas kompetensi ini adalah sebagai berikut :

  1. Guru memetakan materi pelajaran atau bahasan yang harus mereka pahami
  2. Peserta dibagi menjadi 7 kelompok, masing masing 5 – 6 peserta, setiap kelompok membahas pokok bahasan yang berbeda
  3. 7 pokok bahasan tersebut, dijadikan materi Boardgame untuk masing masing kelompok
  4. Peserta diberi kebebasan untuk menerjemahkan satu materi pokok bahasannya untuk menyelesaikan project Boardgame
  5. Guru memperlihatkan contoh contoh gambar boardgame yang ada, peserta juga diberi kebebasan mencari sendiri inspirasi dalam membuat Boardgame-nya
  6. Guru memberikan timeline proses project ini, dari konsultasi draft, hingga jadi satu Boardgame, waktu yang diberikan

Kepercayaan dan motivasi yang diberikan kepada peserta, adalah kunci keberhasilan project ini, peserta menjadi lebih percaya diri untuk mengembangkan kreativitasnya



S3K209 – Disiplin Positif: Peran Guru dalam Menumbuhkan Kedisiplinan Murid

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi mengelola kelas berdasarkan disiplin yang tumbuh dari kesadaran murid. Pelajari peran dan keterampilan guru yang penting dalam menumbuhkan disiplin positif.

Indriyati Herutami

Sekolah Cikal

Kompetensi: Membangun Disiplin Diri Melalui Restitusi.

Penerapan disiplin merupakan sesuatu yang rumit. Ada anggapan2 tertentu seperti:

  • anak-anak tidak memiliki disiplin diri, maka mereka perlu diberi batasan-batasan agar bisa disiplin
  • anak-anak zaman sekarang tidak punya kesadaran, selalu mengulangi kesalahan
  • jika anak2 berkonflik maka permintaan maaf sudah cukup menjadi konsekuensi ( akibatnya setelah minta maaf anak2 akan kembali mengulangi kesalahan yang sama)
  • Orang tuanya banyak yang tidak mengajarkan disiplin sehingga anak2 menjadi bebal dan lembek

Kelas kompetensi ini berisi pendekatan Restitusi dari Dianne Gossen yang bertujuan untuk membangun kesadaran akan nilai kebajikan dan orientasi pada tindakan untuk memperbaiki. Kegiatan2 yang dilakukan berupa renungan ( refleksi) sebagai pendidik untuk menyadari cara “mendisiplinkan” yang sering kita gunakan. Akan dilakukan juga berbagai simulasi dan kegiatan berbasis pengalaman untuk membuat peserta merasakan emosi sebagai pelajar.

Tujuan dari kelas ini adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai pendekatan yang berbeda yaitu menjadi seorang pendidik dengan kompetensi sebagai manajer; menumbuhkan kesadaran dan menciptakan lingkungan positif , bukan sekedar memerangi perilaku indispiliner secara generic.



S3K210 – Service Learning: Metode Belajar yang Memberdayakan Konteks Komunitas

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang desain belajar yang memfasilitasi murid belajar dengan memberdayakan komunitas. Belajar yang menyelaraskan tujuan belajar dan kepedulian sosial, yang bahkan bisa dimulai sejak anak usia dini.

Windy Hastasasi dan Ahmad Farhan Wahab

Sekolah Cikal

Service learning bukan sekedar kerja sukarela atau pelayanan komunitas, tapi merupakan sebuah metode untuk menumbuhkan pembelajaran dan perkembangan siswa melalui partisipasi aktif dalam pelayanan yang direncanakan untuk memenuhi kebutuhan dari komunitas. Service learning melibatkan siswa dari berbagai jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA bahkan universitas) dan tiap anggota dalam komunitas.

Peserta pelatihan akan memahami bahwa service learning masuk ke dalam proses belajar mengajar dan bukan bagian yang terpisah. Peserta juga akan memahami bahwa masalah yang diangkat berasal dari lingkungan terdekat dan berusaha diselesaikan/dilanjutkan dalam jangka waktu tertentu agar berkelanjutan.

Peserta pelatihan akan diajak untuk menjalani fase service learning dengan memberikan contoh-contoh kegiatan (mini lesson) yang dapat dilakukan di kelas. Contohnya pada saat investigasi, peserta pelatihan bisa diajak berkeliling lingkungan terdekat (community walk) untuk melihat permasalahan apa yang bisa diangkat, lalu menindaklanjuti permasalahan tersebut.



S3K211 – Merancang Pembelajaran Individual dalam Pendidikan Inklusi

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang desain belajar individual yang dibutuhkan pada semua kelas, terlebih pada kelas inklusi.

Purwani Vinaltri

Sekolah Cikal Cilandak

Seruan International Education For All (EFA) yang dikumandangkan UNESCO sebagai kesepakatan global hasil World Education Forum di Dakar, Senegal tahun 2000, penuntasan EFA diharapkan tercapai pada tahun 2015. Program ini memungkinkan anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh ilmu pengetahuan di sekolah umum sebagaimana yang diperoleh anak-anak normal yaitu di sekolah inklusif. Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Hal ini sesuai dengan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pada pasal 32 dan Permendiknas nomor 70 tahun 2009 yaitu dengan memberikan peluang dan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh pendidikan disekolah reguler. Keberhasilan penyelenggara pendidikan inklusi tergantung kepada kerja guru dan orang tua.

Pendidikan inklusi membutuhkan penerapan program pembelajaran individu atau IEP/PPI yang dirancang sesuai dengan kebutuhan anak. Sampai saat ini diduga masih banyak sekolah-sekolah inklusif yang belum mengembangkan dan mengelola Program pendidikan Individual bagi siswa berkebutuhan khusus, sehingga mereka harus mengikuti program pendidikan secara umum tanpa adanya tindakan khusus untuk membantu mengoptimalkan kemampuannya.

Oleh karena itu dalam kelas kompetensi ini, penyaji ingin menambah kompetensi kerja guru dalam merancang pembelajaran individual (IEP) yang tepat bagi siswa ABK untuk dapat mengoptimalkan potensi akademiknya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya sehingga siswa tersebut mendapatkan hak yang sama mengikuti pembelajaran di sekolah.



S3K212 – Theraplay: Menjalin hubungan positif antara guru dan murid

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi membangun hubungan positif dengan murid melalui permainan. Bukan sekedar bermain, tapi bermain yang berdampak pada peningkatan kualitas relasi guru – murid.

Rahma Paramita dan Astrid W.E.N

Theraplay Indonesia

Sejalan dengan teori attachment (Ainsworth, 1982; Bowlby, 1969), hubungan yang positif antara guru dan murid akan membuat murid merasa aman dan nyaman dalam lingkungan belajar serta menjadi jalan untuk tercapainya keterampilan sosial dan akademik yang penting (Baker et al., 2008; O’Connor, Dearing, & Collins, 2011; Silver, Measelle, Armstron, & Essex, 2005 dalam Gallagher 2017). Guru yang mendukung murid-muridnya dengan lingkungan belajar yang positif, akan berpengaruh positif juga terhadap perkembangan sosial dan hasil akademik murid. Hal ini akan berdampak sepanjang kehidupan sekolah bahkan sampai kehidupan pekerjaan murid (Baker et al., 2008; O’Connor et al., 2011; Silver et al., 2005 dalam Gallagher 2017).

Yang dimaksud hubungan guru-murid yang positif adalah adanya kedekatan, kehangatan, dan nilai-nilai positif (Hamre & Pianta, 2001 dalam Gallagher 2017). Dengan adanya hal tersebut, guru menjadi “rumah aman” sehingga murid dapat bebas bereksplorasi di kelas maupun sekolah, menghadapi tantangan akademik dan mengembangkan keterampilan sosial-emosinya. Hal ini juga akan mempengaruhi hubungan pertemanan serta membangun kepercayaan diri dan membentuk konsep diri. Melalui hubungan yang “aman”, murid akan belajar mengenai perilaku yang tepat, memahami tuntutan akademik dan bagaimana cara memenuhi tuntutan tersebut (Hamre & Pianta, 2001 dalam Gallagher 2017).

Bagaimana cara menjalin hubungan yang positif antara guru dan murid?

Salah satu cara yang paling dekat dengan murid adalah melalui “bermain”. Mengutip Friedrich Froebel: “Bermain adalah pekerjaan anak”. Bermain adalah cara dan bahasa yang dipahami oleh manusia di semua usia. Selain itu bermain terbukti dapat menciptakan “situasi tenang” pada anak sehingga dapat mengoptimalkan proses belajar di kelas dan dalam situasi sosial (Porges, 2015).

Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah Theraplay. Theraplay merupakan sebuah intervensi menggunakan media bermain, bertujuan membangun dan meningkatkan attachment, kepercayaan diri, kepercayaan kepada orang lain dan keterlibatan yang menyenangkan. Theraplay dapat dilakuan dalam kelompok dan memiliki bentuk khusus yang dapat diterapkan didalam seting kelas, disebut sebagai Sunshine Circle.

Melalui kelas ini peserta akan:

  1. Mengetahui landasan teori dan prinsip dalam Theraplay yang dapat digunakan untuk menciptakan hubungan guru-murid dan sesama murid yang positif.
  2. Memahami pentingnya atmosfer kelas yang hangat, penuh kasih sayang, melibatkan murid dan juga menantang.
  3. Mengetahui beberapa kegiatan permainan yang dapat digunakan untuk menjalin hubungan dengan murid di kelas dan menciptakan lingkungan kelas yang hangat, penuh kasih sayang, melibatkan serta menantang murid-murid.

Kelas akan diawali dengan penjelasan mengenai pentingnya menjalin hubungan antara guru dan murid. Sejarah mengenai Theraplay, dimensi Theraplay kemudian contoh permainan untuk setiap dimensi. Peserta akan mencoba permainan secara berpasangan. Setelah itu akan dilanjutkan dengan penjelasan Sunshine Circle (Kegiatan Theraplay yang dimodifikasi untuk dilakukan dalam setting kelas). Peserta akan melakukan bermain peran di dalam kelompok (dua orang sebagai guru dan sebagian lainnya sebagai murid). Kelas ditutup dengan tanya jawab dan refleksi belajar yang berisikan rencana kegiatan yang akan dilakukan di kelas, sekolah atau komunitasnya.



S3K213 – Making Thinking Visible ( Memperlihatkan Proses Berfikir )

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang desain belajar yang memfasilitasi beragam minat, kebutuhan, cara belajar dan kemampuan murid.

Aranya Nadia Darmawan

Sekolah Cikal

Sebagai pendidik, mengajar siswa bukanlah suatu hal yang mudah. Mengajar bukanlah sekedar memberi instruksi dan menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa, tapi bagaimana kita menciptakan situasi yang dapat menimbulkan rasa ingin tahu siswa dan membuat mereka ingin terus belajar. Belajar juga bukan semata-mata untuk mencapai hasil akhir, tetapi juga mengawal dan menghargai proses belajarnya. Sebagai pendidik kita harus peka, kapan waktunya memberikan pertanyaan, kapan kita harus jeda sejenak, kapan pula waktunya berefleksi.

Untuk menciptakan situasi semacam itu, dibutuhkan perencanaan yang matang serta variasi strategi belajar yang sesuai dengan karakteristik siswa di kelas. Pada kelas ini, peserta akan mengenal dan mendalami berbagai strategi belajar yang dapat memperlihatkan proses berpikir siswa (making thinking visible). Peserta juga akan mendapatkan pengalaman bagaimana menggunakan strategi berpikir tersebut di kelas, yang nantinya akan dapat diterapkan di tempat peserta bertugas.



S3K214 – Pengembangan Karier Guru

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi manajemen pendidikan khususnya dalam pengembangan karier guru

Satryo Soemantri Brodjonegoro

Najelaa Shihab

Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan

Banyak guru yang terpaku pada jalur tunggal karier sebagai pejabat struktural (kepala sekolah, pengawas, kadis dll) yang terbatas kesempatan dan masa berlakunya. Padahal pilihan karier guru beragam, lebih banyak pilihan dibandingkan kebanyakan profesi yang lain. Salah kaprah ini membuat banyak guru yang di tengah perjalanan kariernya kehilangan makna kariernya sebagai guru.

Di kelas kompetensi ini, guru difasilitasi untuk menyadari salah kaprah karier guru, pemahaman tentang konsep karier, wawasan mengenai ragam jalur karier guru, dan penguasan model 4 kunci pengembangan karier guru.



S3K215 – Belajar Menjadi Jagoan Literasi Finansial

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang desain belajar untuk mengembangkan kompetensi literasi finansial murid.

FDV Wulansari & Jerry A. Pessiwarissa

Quamma Project

Quamma Project adalah program pendidikan bagi guru, murid, buruh dan kaum perempuan dengan akses terbatas pada literasi finansial.

Tahukah bahwa pengambilan keputusan dalam menggunakan uang bagi anak remaja dan dewasa dipengaruhi oleh pendidikannya di keluarga dan masa sekolah.

Quamma dengan program Menjadi Jagoan Finansial mengajak para guru untuk membuat project di sekolahnya dengan konsep MBBM (Menghasilkan uang, Belanja, Berbagi dan Menabung) untuk anak didiknya.

Kelas akan berlangsung selama 3 jam, dengan metode sharing session dan praktik. Sesi pertama pembicara akan menjelaskan pentingnya pengelolaan keuangan bagi diri pribadi dan keluarga, kemudian pengenalan fungsi uang kepada anak. Pembicara akan mengajak guru untuk membuat contoh project yang bisa diterapkan di sekolah. Anda berbagi ilmu finansial dan bermanfaat untuk orang lain, Anda adalah JAGOAN FINANSIAL



S3K216 – Pengembangan kompetensi siswa melalui kegiatan berbasis minat dan bakat

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang kegiatan belajar berbasis minat dan bakat murid, yang terkait dengan tujuan belajar secara umum.

Fajar Cahya Nugroho

Sekolah Cikal

Sebagai pendidik, kita tentu berharap agar anak didik kita bisa meraih kompetensi yang diharapkan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Harapan semua pendidik tentunya, misalkan, dari 10 kompetensi yang dicanangkan sebisa mungkin semua kompetensi tercapai. Meskipun kita bisa ‘bermain’ dengan standar kompetensi yang diharapkan agar di atas kertas semua kompetensi bisa tercapai. Tapi, bagi pendidik, cara-cara seperti itu akan merugikan pendidik dan perserta didik itu sendiri, karena kenyataan dalam kehidupan akan membuktikan kompetensi yang sesungguhnya.

Oleh karena itu perlu dipikirkan cara-cara untuk meraih kompetensi tersebut dengan memanfaatkan semua potensi yang dimiliki oleh sekolah. Kita mengenal kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Sekolah perlu memetakan kemungkinan kegiatan yang bisa menjadi sarana agar siswa meraih kompetensi yang sudah dicanangkan.

Dalam kelas ini, pembicara akan memfokuskan usaha pencapaian kompetensi melalui kegiatan ekstrakurikuler. Seperti kita pahami bersama, kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah yang berdasarkan minat dan bakat siswa.

Kegiatan ekstrakurikuler bukanlah sekedar kegiatan tambahan, apalagi sarana guru untuk mencari ‘tambahan’. Sesungguhnya kegiatan ekstrakurikuler memberikan ruang yang banyak untuk siswa bisa mencapai kompetensi dan mengembangkannya. Hal ini harus bisa dilihat oleh guru sebagai peluang dalam mencari cara agar siswa bisa meraih kompetensinya.

Para guru harus menyadari hal ini sehingga ia bisa melakukan observasi terhadap minat dan bakat siswa di kelasnya untuk selanjutnya diberikan arahan agar mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan minat dan bakatnya, tentunya sudah disesuaikan dengan pemetaan kompetensi yang ada.

Dengan begitu, kegiatan ekstrakurikuler menjadi sangat penting untuk dijalankan, sehingga perhatian siswa, guru, sekolah, dan juga orangtua terhadap ekstrakurikuler akan meningkat. Pada akhirnya, ekstrakurikuler yang berbasis kompetensi akan sangat diharapkan kehadirannya.



S3K217 – Pembuatan Alat Belajar Sains dengan Memanfaatkan Barang Bekas

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang alat belajar sains dengan barang bekas sehingga memperkaya proses belajar sains dengan biaya terjangkau.

Mujahidin Agus

SMA Negeri 3 Palopo

Alat belajar adalah kebutuhan dasar guru dalam mengajarkan sains kepada siswa. Akan tetapi tidak semua sekolah dapat memenuhi kebutuhan guru tersebut. Kendala paling sulit yang dihadapi adalah apabila alat yang dibutuhkan tidak tersedia di pasaran. Hal ini seringkali dialami oleh guru sains, khususnya geografi/geosains. Banyak alat belajar yang dibutuhkan tetapi sulit ditemukan atau harganya sangat mahal. Alat yang dimaksud terkait pembelajaran tentang fenomena alam yang tidak mudah diamati secara langsung. Kejadian angin, pembentukan awan dan hujan, peristiwa tornado, arus laut, geyser, letusan gunung berapi, gerakan lempeng tektonik, arus konveksi pada gas, elastisitas gas, dan tekanan udara adalah beberapa contoh materi ajar yang dimaksud.

Pada dasarnya masalah tersebut dapat diatasi apabila guru mampu berkreasi dan berinovasi. Jadi alat belajar, misalnya alat praktikum dan alat peraga yang dibutuhkan tidak selamanya dipenuhi dengan membeli. Pemanfaatan barang bekas dapat menjadi alternatif jalan keluarnya. Dengan kreativitas, guru dapat membuat alat yang dibutuhkannya dengan biaya murah, mudah dibuat (bahkan oleh siswa di kelas), dan praktis. Bilamana ini dapat dilakukan maka tentulah kelangkaan alat peraga di sekolah baik di kota maupun di pelosok desa dapat dikurangi.

Melalui Kelas Kompetensi, peserta dapat dilatih membuat alat peraga sederhana menggunakan barang bekas seperti botol dan toples plastik, kertas, serbuk gergajian kayu, abu gosok, dan lain-lain. Di samping itu, peserta juga dapat terpicu semangat dan daya kreasinya untuk membuat dan menggunakan alat belajar karya sendiri sesuai kebutuhannya. Bahkan sangat diharapkan peserta dapat menghasilkan alat belajar inovatif lain yang boleh jadi jauh lebih sempurna. Sebagai hasil akhir, selain peserta dapat memiliki kompetensi dan semangat yang lebih baik, juga dapat mengatasi masalah kekurangan alat belajar di sekolahnya.

Proses belajar yang akan dilaksanakan adalah setiap peserta secara langsung membuat alat belajar sains tahap demi tahap setidaknya satu-dua jenis (durasi 1-2 jam sesuai kemampuan peserta). Setelah alat belajar selesai dibuat, maka akan dilaksanakan praktik penggunaannya (durasi maksimal 1 jam). Tentu saja, setiap peserta atau kelompok (2-3 orang anggota) harus disediakan alat dan bahan yang dibutuhkan, baik untuk pembuatan alat maupun untuk penggunaannya. Bilamana masih ada waktu yang tersisa maka akan disajikan presentasi pembuatan alat belajar lainnya dengan PowerPoint.



S3K218 – Bermain dengan Matematika

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang kegiatan bermain yang membangun dasar kemampuan matematika anak.

Puti Almirsha Hamid 

Sekolah Cikal

Dua puluh tahun lalu, NRC (National Research Council, 1989:1) dari Amerika Serikat telah menyatakan pentingnya Matematika dengan pernyataan berikut: “Mathematics is the key to opportunity”. Matematika adalah kunci ke arah peluang-peluang. Bagi seorang peserta didik, keberhasilan mempelajarinya akan membuka pintu peluang yang lebih besar.

Selama ini, banyak anggapan bahwa matematika itu hanya berkaitan dengan angka-angka dan berbagai jenis rumus yang kaku. Padahal, sejatinya tidak demikian. Di samping berhubungan dengan angka-angka, ternyata Matematika lebih dari sekedar itu. Terdapat banyak kompetensi di dalamnya karena mata pelajaran ini dapat membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Selain itu, kita juga sering melupakan bagian yang paling penting dari pengalaman belajar peserta didik, yaitu menyediakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna untuk mereka.

Sesi kelas kompetensi ini akan memberikan gambaran bagi peserta pelatihan dalam memahami konsep dasar matematika, yaitu keterampilan sebelum angka, konsep angka dasar dan aritmatika dengan cara yang menyenangkan. Sesi ini juga dapat memberikan perspektif baru dalam belajar Matematika dan bagaimana kami para pendidik dapat melakukannya di dalam kelas untuk menyediakan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. Peserta pelatihan akan diberikan beberapa contoh kegiatan Matematika dalam kelas dengan tujuan melihat kompetensi berpikir logis peserta didik dalam kelas Matematika.

Mari kita ubah perspektif bahwa Matematika itu tidak menyeramkan, malah menyenangkan! :)”



S3K219 – Guru Merdeka Belajar (Sesi 1)

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merdeka belajar baik untuk diterapkan di ruang kelas maupun untuk pencapaian cita-cita dan karier guru. Ini adalah sesi pertama dari dua sesi. Pastikan Anda memilih sesi kedua di Kelas Kompetensi Sesi Ke-4

Chusnul Chotimah

Kampus Guru Cikal

Setiap tahun ajaran, guru menjumpai murid dan orang tua murid yang berbeda. Setiap tahun ajaran, guru menemui dinamika kelas yang berbeda. Pada rentang waktu tertentu, guru menghadapi perubahan peraturan dan kurikulum. Pada kala tertentu, guru menghadapi perubahan pemimpin sekolah dan rekan guru. Setiap waktu, guru terimbas perubahan situasi kondisi sosial, politik, lingkungan dan teknologi. Guru memang salah satu profesi dengan tuntutan dan tekanan yang tinggi.

Banyaknya tuntutan dan tekanan tersebut seringkali membuat guru lupa niat awal menjadi guru. Semangat yang semula berkobar sedikit demi sedikit digantikan rasa lelah. Guru akhirnya berhenti belajar. Situasi yang menjadi salah satu alasan Kampus Guru Cikal menginisiasi Pelatihan Guru Merdeka Belajar. Pelatihan tersebut bertujuan membantu guru untuk merawat kemerdekaan belajar buat diri sendiri sekaligus mempraktikkan merdeka belajar di ruang kelas. Merdeka Belajar adalah pondasi pengembangan diri guru sekaligus kunci proses belajar yang bermakna buat para murid.

Ini adalah sesi pertama dari dua sesi. Pastikan Anda memilih sesi kedua di Kelas Kompetensi Sesi Ke-4



S3K220 – Seni-Budaya Pintu Masuk untuk Memahami Keragaman

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi.

Prof. Endo Suanda

Lembaga Pendidikan Seni Nusantara.

Untuk bisa mengakui dan menghargai keberagaman diperlukan pertemuan dengan kasus-kasus yang memiliki nilai kebenaran/kebaikan yang berbeda atau bahkan bertolak belakang dengan pandangan kelompok atau diri kita sendiri. Keberbagaian kesenian dan kebudayaan yang terdapat di tiap pelosok Indonesia merupakan realitas par excellence untuk menunjukkan keberbedaan nilai-nilai tersebut. Dalam dua sesi workshop akan terungkap kepelbagaian nilai tersebut melalui presentasi audiovisual, diskursus gagasan, serta pengalaman praktis dalam merasakan ruang, tubuh, dan irama.

S4K201 – Menulis dan Menerbitkan Buku dengan Cara Mudah, Mudah dan Menyenangkan

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi menulis dan menerbitkan buku dengan cara yang telah terbukti.

Sri Sulistiyani

SMAN Balung Jember

Menulis dan menerbitkan buku dengan mudah, murah dan menyenangkan.

Persoalan yang ingin diselesaikan:

Hingga saat ini masih banyak guru yg belum bisa menulis, belum terbiasa menulis, atau tidak tahu bagaimana cara menerbitkan tulisannya dalam bentuk buku. Padahal buku memegang peranan yg sangat penting dalam dunia pendidikan. Setiap hari kehidupan guru selalu terkait dengan buku. Guru membaca dan menggunakan buku baik dlm proses pembelajaran di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Namun sayangnya kebanyakan guru adalah sebatas pengguna buku, belum banyak guru yg menjadi penulis buku. Guru sebagai pelaksana pendidikan mempunyai banyak sekali pengalaman, momen-momen spesial, serta praktek-praktek baik dalam proses pembelajaran. Setiap guru di berbagai tempat mempunyai gagasan-gagasan cemerlang dan upaya-upaya untuk memajukan pendidikan yangg telah dan akan dipraktekkan. Semua hal tersebut jika dapat dituangkan dalam tulisan atau buku akan menjadi dokumentasi yg dapat menginspirasi guru2 yg lain. Yang akan bisa memperluas dan mempercepat menyebarnya praktek2 baik dlm proses pendidikan. Dan tentu saja memperkaya dunia keilmuan kita.

Tujuan dan manfaat bagi peserta kelas:

Kelas ini untuk calon penulis atau penulis pemula atau untuk guru2 yg ingin mengajak murid-muridnya menulis.

Dengan mengikuti kelas ini guru-guru akan:

  • mempunyai pengalaman memulai menulis
  • mempunyai pengetahuan tentang bagaimana tahapan-tahapan dalam menerbitkan buku dengan cara yg mudah, murah dan menyenangkan

Kompetensi yg dipelajari:

  • bagaimana memulai menulis dengan tehnik auto writing,
  • alternatif-alternatif yang bisa ditempuh dalam menerbitkan buku: melalui major label, indie label, Print on demand (POD), self publishing,
  • cara mendapatkan ISBN dam barcode.

Gambaran proses belajarnya:

  • Peserta akan diajak untuk menemukan apa tujuan menulis buku
  • Peserta akan diajak mempraktekkan tehnik menulis auto writing
  • Diskusi tentang alternatif yang bisa ditempuh dlm menerbitkan buku: melalui major label, indie label, Print on demand (POD), self publishing,
  • Informasi tentang cara mendapatkan ISBN dan barcode
  • Peserta akan berkolaborasi untuk menulis sebuah buku.


S4K202 Menuju pendidikan inklusif yang efektif: Apa yang dapat dilakukan?

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merinstis kelas dan sekolah inklusi di sekolahnya

Vitriani Sumarlis

Sekolah Cikal

Setiap anak berhak memperoleh pendidikan. Pendidikan yang dapat mengarahkan mereka untuk dapat terlibat dalam proses belajar, bersosialisasi, dan berkembang dengan optimal sesuai dengan potensi mereka masing-masing. Dalam praktek pembelajaran, tidak dapat dipungkiri, bahwa setiap individu adalah unik, beragam dengan kebutuhan yang beragam pula. Oleh karena itu, agar setiap anak dapat terlibat dalam proses belajar, maka perlu dilakukan perubahan cara pandang mengenai filosofi pendidikan, yaitu meniadakan hambatan setiap anak untuk belajar melalui penerapan sistem pendidikan inklusif.

Pendidikan inklusif memberikan beberapa manfaat sekaligus tantangan dalam penerapannya. Efektifitas dari penerapan pendidikan inklusif sangat tergantung pada kebijakan sekolah yang mendukung penerapan pendidikan inklusif. Kebijakan yang memberikan pengaruh kepada kebijakan seluruh sekolah. Selain itu yang juga perlu diperhatikan adalah peranan kerja kolaboratif antar seluruh tim yang berada dalam sekolah, maupun kerja kolaboratif dengan pihak-pihak yang terkait di luar sekolah. Siapa sajakah tim yang dapat membantu mendukung efektivitas penerapan pendidikan inklusif? Bagaimana cara membangun kerja kolaboratif dengan pihak-pihak di dalam dan di luar sekolah? Yuk, kita identifikasi bersama.



S4K203 – Laundry Emosi untuk guru (Tahap Dasar)

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi mengelola emosi diri sehingga bisa tumbuh menjadi pribadi pendidik yang lebih baik.

Dien Fakhri Iqbal

Selama ini pelatihan guru yang dilakukan pemerintah masih bersandar pada paradigma mencerdaskan guru dengan menitikberatkan pada tataran kognitif yaitu menjejali berbagai macam bimbingan teknis kurikulum atau mata pelajaran dengan iming-iming kombinasi reward mendapatkan sertifikat dan uang pengganti transport. Tanpa sadar arah pelatihan peningkatan mutu guru perlahan berjalan dikondisikan dengan sistem pelatihan berbasis reward sehingga motivasi belajar bisa jadi bukan karena gairah belajar yang didorong kebutuhan mengembangkan diri sebagai pembelajar merdeka, tetapi karena mengejar reward yang dikaitkan dengan syarat kenaikan pangkat yang membelokan tujuan sejati mencerdaskan bangsa.

Menjadi pendidik dengan jiwa merdeka sulit terjadi tanpa mampu membuka kesadaran untuk merubah diri tanpa tekanan untuk patuh pada instruksi pihak penguasa. Tapi guru-guru di sekolah negeri hidup dalam ekosistem sistem aturan kepegawaian PNS yang sangat menekankan loyalitas pada atasan, yang bertolak belakang dengan ruh pendidikan untuk memerdekakan mental guru. Kendala mental lainnya, seringkali guru yang berstatus PNS dibebani aturan dan kewajiban memenuhi format administrasi dari pemerintah yang sering membelenggu kreativitas karena takut melanggar regulasi yang mengikat, sering ditekan oleh banyak orangtua agar melayani anak mereka di sekolah.

Guru seolah tidak boleh salah. Tapi di satu sisi guru juga manusia, punya keterbatasan tenaga dan serangan emosi bisa berupa cedera psikologis maupun keletihan fisik menahun dalam keseharian tapi terabaikan. Guru menghadapi puluhan siswa di ruang kelas setiap hari dan tahun terus berganti mendidik siswa baru tanpa ada pendampingan intensif yang mengurus mentalnya untuk menyalurkan serangan emosi maupun keletihan fisik akhirnya emosi negatif mengkristal dan tidak tahu cara menyalurkan yang konstruktif. Padahal kunci keberhasilan prestasi siswa bukan semata pada aspek kognitif tetapi kuncinya ada pada RELASI antara pendidik dan siswa. Guru yang tidak antusias akan sulit membuat siswa bahagia dan bersemangat belajar di sekolah. Bagaimana guru bisa antusias jika guru merasa sebagai pribadi tidak bahagia karena tidak bisa merdeka menjadi dirinya sendiri?

Sebagai produk abad 20 yang lebih banyak mendapatkan pengalaman belajar dengan hafalan dan doktrin, tantangan guru-guru kita adalah mengantarkan siswa yang akan menghadapi abad 21. Dunia sudah berubah. Paradigma berpikir sebagai produk abad 20 harus berubah juga mendidik siswa menghadapi abad 21. Banyak model pendidikan di paruh kedua abad ke-20 yang menitikberatkan pada keberhasilan akademik (baca, tulis, hitung) telah membuat anak-anak lebih individualistik mengejar rangking, kurang memiliki empati dan sulit bekerjasama dalam tim. Sedangkan keterampilan abad 21 mempersyaratkan keterampilan siwa untuk mampu kolaborasi, berpikir kritis, kreatif, komunikasi, ditambah dua yang terbaru, kewargangeraan dan karakter.

Banyak guru yang ingin berubah untuk memahami siswa tapi tidak mudah mengubah mental dan mindset dogmatis puluhan tahun, tidak mudah menerapkan proses pembelajaran siswa sebagai subjek bukan objek, meskipun tahu konsepnya, masih takut jika pendapatnya berbeda dengan rekan sejawat dimana sistem pendidikan kita diwarisi alam berpikir feodal. Dalam mendampingi siswa, tidak berani membahas isu-isu sensitif seperti pendidikan seks karena dianggap tabu meskipun dalam ranah ilmiah, minim bekal penguasaan asesmen yang bermakna untuk menumbuhkan mental-growth siswa sehingga kembali mengulang ujian-ujian yang mengejar angka mati. Guru-guru kita sudah letih disalahkan karena secara mental selalu ingin memberikan yang terbaik buat siswanya tapi tidak tahu skill-nya sehingga sering bingung mulai darimana meningkatkan kualitas diri.

Untuk menjadi guru dengan mental pembelajar merdeka diperlukan desain pelatihan guru merdeka untuk betul-betul bisa mengubah kemauan untuk merubah diri, tidak tergantung teori text book namun bisa mengubah teori menjadi walk the talk. Kunci pertama membuka kesadaran adalah membuka blocking mental emosinya terlebih dulu bukan kognitifnya agar kapasitas kognitif dan kehidupan emosi guru bisa berjalan seimbang.

Setelah menyelesaikan modul ini guru, kepala sekolah, dan pengawas akan dapat:

  1. Mengenali jenis-jenis emosi positif dan negatif
  2. Mengenali jenis-jenis emosi yang sering terjadi pada diri sendiri
  3. Memiliki kemampuan menghubungkan sensasi tubuh yang dirasakan ketika mengalami emosi positif atau negatif.
  4. Memiliki kesadaran “Apakah selama ini masalah fisik yang dialami adalah betul-betul masalah fisik atau ada hubungannya dengan emosi?”

Metode yang digunakan: Pendekatan partisipatori dan reflektif dengan kombinasi metodologi seperti presentasi, diskusi, studi kasus, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, main peran (role play), gallery season dan body scanning.

Materi yang dipelajari

  1. Kekuatan emosi
  2. Jenis-jenis emosi positif dan negatif
  3. Cara kerja sensasi tubuh dan emosi
  4. Lembar ekspresi emosi
  5. Lembar kerja outlining tubuh
  6. Jurnal pribadi laundry emosi


S4K204 – Kurikulum Merdeka Belajar

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang kurikulum dan unit belajar yang memfasilitasi murid untuk merdeka belajar.

Najelaa Shihab

Kampus Guru Cikal

Kurikulum seringkali menjadi pembicaraan yang tidak ada habisnya bagi para guru. Banyaknya waktu yang dihabiskan untuk merencanakan, cakupan tujuan belajar yang selalu bertambah menjadi beban yang ditanggung dalam proses belajar mengajar. Belum lagi kurikulum yang sering berganti, seiring dengan pergantian Menteri.

Pertanyaan yang seringkali muncul adalah kurikulum apa yang paling baik untuk siswa? Bagaimana cara menyusunnya? Elemen apa yang sebaiknya dimasukkan ke dalam penyusunannya?

Kurikulum Merdeka Belajar adalah program belajar yang mengarah pada tujuan yang ingin dicapai dari proses belajar di sekolah dan berkaitan dengan hal-hal esensial sehingga menumbuhkan kemerdekaan belajar. Kelas ini membantu peserta untuk memahami miskonsepsi kurikulum, desain unit belajar, strategi dan alat asesmen, serta pengembangan kurikulum merdeka belajar di sekolah.

Kurikulum Merdeka Belajar diharapkan dapat membantu peserta guru dan atau kepala sekolah untuk nantinya dapat menyusun program belajar yang mengarah pada tujuan yang ingin dicapai dari proses belajar di sekolah dan berkaitan dengan hal-hal esensial sehingga menumbuhkan kemerdekaan belajar. Kurikulu merdeka belajar diharapkan dapat membantu siswa untuk menjadi merdeka belajar dan menjadi pelajar sepanjang hayat.



S4K205 – KPI sebagai Alat Bantu Mendampingi Karier Guru

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi manajemen pendidikan khususnya dalam pengembangan karier guru

Rahmi Salviviani

Alifa Kids

Seringnya karier guru dianggap hanya sebatas kepala sekolah sehingga untuk menjadi kepala sekolah, padahal banyak pilihan karir lainnya. Pertanyaannya, bagaimana agar berbagai pilihan karier itu dapat dicapai ? Apa alat bantu bagi guru agar tujuannya tercapai ? Apa alat bantu bagi manajemen sekolah agar turut mendampingi guru ke karier terbaiknya ?

Pencapaian karier sejatinya bukan pekerjaan satu malam melainkan proses harian yang berkelanjutan. Namun proses itu selayaknya dapat diukur oleh diri sendiri dan manajemen sekolah turut ambil bagian menyukseskan proses tersebut. Salah satu alat itu adalah KPI yang selama ini hanya dianggap sebagai alat menaku-nakuti guru dalam bekerja. Seolah menjadi target yang harus dipenuhi jika guru tak ingin karirnya berhenti.Padahal, jika mampu memandang fungsi lain dari KPI, ia justru menjadi alat yang bermanfaat bagi guru dan sekolah.

Di kelas nanti kita akan belajar bersama, mengganti persepsi tentang KPI dan praktik singkat bagaimana penggunaannya baik untuk guru dan bagi pihak manajemen sekolah.



S4K206 – Flexible Learning Classroom: Merancang Kelas untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Anak

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang kelas dan proses belajar yang sesuai kebutuhan dan aspirasi murid.

Lestia Primayanti

Sekolah Kembang

Merancang tampilan kelas adalah bagian yang penting dari manajemen kelas.Ruang tempat anak-anak belajar dan bermain bersama guru di sekolah mempengaruhi dinamika kelas, relasi antar murid, relasi murid dengan guru, serta bentuk kegiatan dan pencapaian tujuan belajar di kelas.

Benarkah susunan meja, kursi, papan tulis, dan perabot lain dalam kelas sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan belajar anak? Apa yang terjadi jika kita mendengarkan pendapat anak-anak ketika menata kelas? Bagaimana ruang kelas yang luwes berdampak pada perilaku anak dan proses belajar di kelas?

Saya akan berbagi tentang penerapan prinsip flexible learning classroom di Sekolah Kembang serta mengajak guru berpikir kreatif dan merancang ruang kelasnya dengan mempertimbangkan kebutuhan anak. Orang tua juga dapat memanfaatkan kelas ini untuk memperhatikan sudut pandang anak ketika menata area berkegiatan untuk anak di rumah.



S4K207 – Disiplin Positif: Mengembangkan Lingkungan Positif

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi manajemen kelas khususnya menciptakan lingkungan positif antar murid maupun antara murid dan guru melalui metode Disiplin Positif

Mia Savitri dan Elisabet Indah Susanti

Sekolah Cikal

Disiplin selalu menjadi pembahasan yang hangat dan menarik untuk didiskusikan, baik dalam konteks pendidikan di sekolah maupun pendidikan di dalam keluarga. Kesuksesan seseorang sering kali dikaitkan dengan kemampuan disiplin diri yang baik. Dalam kamus Bahasa Indonesia, disiplin diartikan sebagai; tata tertib, ketaatan atau kepatuhan kepada peraturan. Tidak heran selama ini masih banyak kesalahpahaman mengenai apa dan bagaimana menerapkan disiplin, termasuk kapan disiplin mulai dapat diajarkan kepada anak-anak. Disiplin menjadi identik dengan aturan dan hukuman, antara lain; jika murid salah, ia patut di hukum; murid harus takut kepada guru sebagai figur otoritas di dalam kelas; murid usia dini belum bisa memutuskan mana yang baik, sehingga guru perlu mengambil keputusan bagi dirinya; murid perlu di puji supaya mau melakukan apa yang guru minta. Akibatnya murid akan cenderung melakukan tindakan yang diharapkan bila ada pengawasan saja. Disiplin yang diharapkan tidak berlangsung secara permanen karena belum motivasi internal yang tumbuh dari dalam individu itu sendiri dan bukan dari pihak luar.

Melalui kelas Disiplin Positif ini, kami ingin berbagi pengalaman mengenai bagaimana menumbuhkan disiplin diri yang melibatkan motivasi internal dari dalam diri anak sendiri. Kami akan berbagi tips untuk melatih disiplin secara positif dengan menekankan pada penciptaaan lingkungan positif melalui pola komunikasi yang sifatnya membangun dan menguatkan.

Tujuan dari disiplin positif adalah:

  •      Menghentikan perilaku yang salah namun sekaligus mengembangkan perilaku positif yang bertahan untuk jangka panjang.
  •      Bukan sekedar mengembangkan kemampuan untuk patuh, tapi mengembangkan kemampuan mengelola diri dan tahan terhadap godaan/kesulitan.
  •      Mengembangkan disiplin melalui motivasi internal dengan dengan pembiasaan sejak dini melalui komunikasi dan lingkungan yang positif.

Di kelas ini, peserta akan diajak berdiskusi mengenai arti disiplin itu sendiri, bagaimana pengalaman menerapkan serta mengajarkannya kepada anak-anak. Peserta juga akan diberikan contoh kasus, serta bagaimana menyelesaikan kasus tersebut melalui simulasi penerapan disiplin positif.



S4K208 – Buddy system di Sekolah Inklusi

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang proses belajar di kelas inklusi dengan dukungan dari sesama murid

Yanuar Khaldun

Sekolah Cikal

Setiap individu memiliki perbedaan satu dengan lainnya, baik perbedaan keinginan, pandangan, kemampuan, ketrampilan dan pemikiran. Di sekolah inklusi, kita akan menemui banyak keberagaman, dari keberagaman tersebut akan tumbuh dan berkembang nilai dan sikap yang berbeda-beda dari warga sekolah tersebut. Di dalam kelas kompetensi ini saya akan membahas tentang “pengembangan program buddy system di sekolah inklusi” Buddy system adalah konsep bagaimana kita menolong dan mendukung satu sama lainnya. Hal utama bagi kita dan anak-anak untuk bisa merasakan merdeka belajar yaitu bagaimana setiap dari kita bisa merasa diterima dan didukung oleh satu sama lainnya.

Tujuan dari pelatihan ini adalah bagaimana kita bisa mengeksplore pemahaman tentang siapakah anak berkebutuhan khusus itu, kita bisa mengahargai dan merasakan ketika kita di kucilkan oleh orang lain dan mengidentifikasi pentingnya berkerja sama, saling mendukung satu sama lainnya.

Manfaat dari pelatihan ini yaitu :

  1. Guru memahami tentang bagaimana menjadi guru di sekolah inklusi melalui

pengalaman postif dan negatifnya ketika mengajar.

  1. Guru memiliki ketrampilan untuk mengidentifikasi kesulitan siswa dan mengembangkan

program dan melakukan evaluasi untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus

  1. Guru bisa mengidentifikasi anak ketika di dalam group ada yang menjadi menjadi

korban diskriminasi

  1. Guru bisa memahami bagaimana perasaan ketika kita di kucilkan atau dibedakan
  2. Guru bisa mengembangkan konsep dari perbedaan atau diversity

Kompetensi yang akan dipelajari:

  1. Menjelaskan pengalaman postif dan negatif ketika mengajar
  2. Menjelaskan pengertian anak berkebutuhan khusus
  3. Mejelaskan tentang apa itu perbedaan
  4. Menjelaskan buddy system di sekolah inklusi

Gambaran proses pembelajaran:

  1. Introduction dan warm up activity (15 menit)
  2. Pengalaman pribadi sebagai pendidik (20 menit)
  3. Siapakah anak dengan berkebutuhan khusus itu? (40 menit)
  4. Aktifitas tentang perbedaan (20 menit)
  5. Mengenalkan anak tentang perbedaan (20 menit)
  6. Buddy system (20 menit)
  7. Bagaimana sih teman yang baik itu? (15 menit)
  8. Helping hands (20 menit)
  9. Kesimpulan dan refleksi (10 menit)


S4K209 – Pengukuran Mandiri Numerasi dan Literasi Dasar PSPK

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi melakukan asesmen numerasi dan literasi dasar.

Chandra C. A. Putri

Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan

Bagaimana cara mengetahui kemampuan literasi dan numerasi anak?

Kelas ini berisi sharing dan simulasi materi terkait asesmen pendidikan, terutama asesmen literasi dan numerasi dasar yang dikembangkan oleh PSPK bernama PEMANTIK (Pengukuran Mandiri Numerasi dan Literasi Dasar PSPK). Manfaat instrumen selain untuk mengukur sejauh mana kematangan literasi dan numerasi dasar anak, yang pada dasarnya berguna untuk deteksi dini pada anak-anak yang memiliki kecenderungan hambatan belajar juga sebagai salah satu elemen pendukung impact assesment terutama terkait kualitas pengajaran guru di ruangan kelas. Selain dasar-dasar pengukuran, sejumlah aspek pendukung seperti tugas perkembangan anak (seperti perkembangan kognitif) juga akan dipaparkan dalam kelas sebagai bahan refleksi sehingga kebermanfaatan aktivitas asesmen akan dimaknai lebih dalam.



S4K210 – Belajar Membaca pada Anak Usia Dini

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang kegiatan belajar membaca yang sesuai dengan tahap perkembangan membaca anak usia dini.

Husnul Chotimah

Rumah Main Cikal Cilandak

Banyak kalangan yang masih pro dan kontra tentang mengajarkan membaca dan menulis pada anak usia dini. Sebagian menyatakan bahwa membaca dan menulis pada usia anak sebelum SD berarti memaksakan anak untuk memiliki kemampuan yang seharusnya baru diajarkan di SD. Hal ini mengakibatkan waktu bermain, yang seharusnya adalah aktivitas dominan di usia mereka akan berkurang atau bahkan terabaikan, sehingga dikhawatirkan akan menghambat perkembangan potensi dan kemampuan anak secara optimal dikemudian hari. Sebagian lain berpendapat, tidak masalah mengajarkan membaca dan menulis sejak anak usia dini. Biasanya yang memiliki pendapat untuk membolehkan anak diajarkan baca dan tulis dilatarbelakangi agar anaknya tidak mengalami kesulitan ketika masuk SD. Tuntutan masuk ke SD pada saat ini mensyaratkan bahwa anak sudah mampu untuk membaca dan menulis.

Dengan adanya polemik tersebut, tidak jarang membuat orangtua menjadi bingung, pendapat mana yang harus diikuti, karena masing-masing pendapat memiliki alasan yang cukup kuat.

Dalam menyikapinya, orang tua dan guru harus bersikap bijaksana dengan menentukan solusi terbaik. Disatu sisi kita sebagai orang tua atau guru tentunya menginginkan potensi dan kemampuan anak dapat tumbuh optimal melalui stimulasi pendidikan yang tepat yang akan kita ajarkan kepada mereka, tetapi tetap tidak mengurangi aktivitas dominan di usia mereka yaitu bermain.

Dalam kelas kompetensi ini, pembicara ingin berbagi pengalaman saat menerapkan rutinitas kegiatan pembelajaran/ memberikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran pra-membaca dan pra-menulis di kelas usia dini. Melalui pemaparan dan diskusi mengenai kegiatan pembelajaran dan strategi mengajar yang mendukung, diharapkan dapat membantu para pendidik dalam mengembangkan pemahaman terhadap kegiatan membaca dan menulis untuk anak usia dini berdasarkan tahapan perkembangan anak.



S4K211 – Assesment for Understanding

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang asesmen untuk mengetahui pemahaman (bukan hanya hafalan) murid secara beragam, bermakna dan menghargai keragaman anak.

Cholifah Yuniati

Sekolah Cikal Surabaya

Teachers in some schools use a test as a way to assess students’ understanding. They do not provide other strategies to facilitate the students with different learning styles, needs, and interest. The philosophy of a test in some of the schools in Indonesia is that the only way to assess students’ understanding. The consequence is that, if all the students do the same test some of them might fail. Teachers should give opportunity for the students to do different things, they probably prefer to create posters, drawing, make power point presentation, or do performances to share their understanding. It is dangerous if the teaching and learning process that happen at school has the specific purpose; for a test. Instead of having a test only to measure students’ understanding, the teachers can provide many other ways to assess the teaching and learning. Therefore, I would like to share about the different strategies to do assessment. Assessment is an essential part of curriculum. It helps the teachers to provide information about the students’ progress and achievements during teaching and learning. Through assessment, the teachers will also be able to recognize the students’ understanding. Teachers can document the learning process as well as collecting the evidence of what the students can do. A variety of strategies can be used when doing the assessment and the teachers can also apply different tools to record the information about students’ learning.

Furthermore, the teachers can choose the appropriate strategies as well as the tools during assessment process. To get the evidence about students’ learning, the teachers can document by using photos, videos, audio, make the written notes about the students’ comments, explanations and conversations inside or outside the classroom.

There are some strategies that can be used by the teachers to assess students’ understanding. Assessment can be done through observation as the students will be observed regularly. The students can do different tasks with the criteria that are created by the the teachers as well as the students. They can also have tests or quizzes, do open ended tasks, for example: doing presentation, drawing, making diagram, etc. For the tools, the teachers and the students together can set up the rubrics for rating the students. Teachers can also use written notes based on observations of students, checklist, continuum, and sample of students’ works. Before designing the assessment, the teachers should consider the learning outcomes that they plan to report.

The purposes of implementing the different strategies and tools are the teachers can do the assessment more effectively as it allows the teachers to consider different learning styles, multiple intelligence, and abilities of every student. Furthermore, it also support the students not to be stressful when facing the test as it gives the students opportunity to demonstrate their knowledge, skills and understanding as well.



S4K212 – Pendekatan Positif dalam Belajar Pelajaran Agama

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang proses belajar pelajaran agama melalui pendekatan pemahaman konsep, pendekatan positif, metode aktif dan relevan dengan siswa.

Dyah Wahyuningsih

Islam Edu, Pusat Studi Al-Quran

Agama yang sejatinya merupakan petunjuk bagi manusia untuk menjalankan kehidupan yang berkualitas, seringkali dipahami hanya dalam bentuk simbol-simbol dan ritual belaka.Tidak heran bila kemudian nilai-nilai agama tidak muncul di masyarakat. Agama kerap dijadikan kambing hitam dalam konflik-konflik horizontal di masyarakat. Terorisme, radikalisme, dan ekstremisme muncul akibat dari kurangnya pemahaman akan nilai-nilai ajaran Islam.

Islam Edu adalah divisi dari Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) yang berupaya untuk memperkenalkan pemahaman Islam secara utuh, sesuai dengan tahapan perkembangan anak dan remaja. Menggunakan pendekatan pemahaman konsep, pendekatan positif, metode aktif dan relevan dengan siswa, Islam Edu mengajak para guru agama untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam isu-isu yang relevan, erat dengan kehidupan keseharian.

Tujuan dan manfaatnya bagi peserta diharapkan dapat memberikan wawasan keagamaan yang moderat, komprehensif dan relevan dengan keseharian, untuk menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya, sebagai rahmat bagi semesta alam, memberikan bekal bagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tentang metode pembelajaran PAI yang menyenangkan dengan menggunakan kekhasan Kurikulum Islam Edu melalui pemahaman konsep, pendekatan positif, metode aktif dan relevan dengan siswa.



S4K213 – Keterampilan Observasi pada Guru Pendidikan Anak Usia Dini

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi melakukan observasi pada anak usia dini untuk mengoptimalkan perkembangannya.

Rathasya Marvelarani

Dengan melakukan observasi yang tepat, guru di PAUD dapat membantu anak dalam mencapai perkembangan yang optimal. Akan tetapi, metode observasi yang tepat harus dapat diketahui oleh semua guru PAUD. Dengan demikian, diharapkan setelah mengetahui cara dan tujuan observasi yang tepat, guru dapat membantu anak-anaknya di PAUD untuk mencapai perkembangannya secara optimal.

Tujuan dan Manfaat program bagi guru :

– Guru dapat memahami manfaat dari observasi anak di PAUD

– Guru dapat melakukan observasi yang tepat

– Pemahaman pentingnya akan perbedaan antara observasi dan persepsi

– Pemahaman cara menghubungkan dan menggunakan hasil observasi dengan teori perkembangan anak dan mengoptimalkan perkembangan anak

Peran / posisi serta kompetensi yang dipelajari

– Kelompok peserta yang ikut hadir diharapkan adalah kelompok peserta guru PAUD (usia 0-8 tahun)

– Peserta akan berperan langsung dalam pembelajaran yang akan disajikan dalam bentuk presentasi power point dan video ataupun gambar

– Peserta akan lebih memahami tema melalui presentasi teori yang akan dilakukan melalui presentasi power point yang akan dilanjutkan dengan “hands-on activities” yang sangat memerlukan peran serta para peserta

– Peserta akan diberi contoh-contoh yang valid akan materi yang diajarkan dan diharapkan juga berperan aktif dalam bertanya atau memberi masukan dalam sesi Tanya-jawab dan diskusi.

– Pada akhir acara, para peserta diharapkan untuk dapat benar-benar memahami tema dan mampu untuk dapat mencoba mengaplikasikannya pada kegiatan belajar-mengajar sehari-hari.

Gambaran aktivitas

– Sesuai dengan tema, yaitu cara observasi yang tepat. Acara presentasi akan dimulai dengan suatu gambar pada judul, yang pada slide pertama setelah judul, akan ditanyakan apakah ada yang mengobservasi gambar judul (sebagai Ice –breaker)

– Melakukan observasi tema umum pada slide kedua-ketiga

– Menuju ke tema obserrvasi pada anak pada slide selanjutnya dengan jenis-jenis observasi dan kegunaannya, dan sesi teori sekitar 5-10 slide.

– Pembagian kelompok untuk games observasi.

– Pemutaran video, pemberian gambar – gambar sebagai salah satu peralatan pengajaran

– Sesi Tanya – jawab dan diskusi



S4K214 – Cara Praktis Membuat Video Pelajaran

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi membuat video belajar yang asyik dan membantu murid belajar secara optimal.

Rizqy Rahmat Hani & Baja Seto

Kampus Guru Cikal

Di era sekarang video menjadi kebutuhan banyak orang. Video bisa dijadikan sumber inspirasi, sumber belajar, digunakan sebagai media pembelajaran dan juga untuk hiburan.

Pengalaman  menjadi guru dan memvideokan suasana kelas, serta metode yang digunakan, ternyata berguna bagi guru. Setelah diunggah di Youtube, beberapa guru di berbagai daerah mengaplikasikan metode tersebut. Menurut penuturanya video tersebut membantunya belajar.

Dari fenomena ini , kami membayangkan jika banyak guru yang melakukan hal yang serupa (memvideokan kelasnya), dengan berbagai metode, strategi pengajaranya, akan banyak guru yang akan mendapat kebaikan video tersebut.

Banyak guru yang bisa belajar dari video-video tersebut. Bisa menduplikasikan metode belajar dari daerah lain dan disesuaikan dengan daerahnya. Kebaikan akan lebih bisa tersebar. Oleh karena itu, sebagai modal awal, saya ingin mengajak, dan mengajari guru-guru untuk bisa videografi.



S4K215 – Pembelajaran dengan pendekatan DIFERENSIASI

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang desain belajar yang memfasilitasi beragam minat, kebutuhan, cara belajar dan kemampuan anak usia dini.

Irene Puti Damayanti

Rumah Main Cikal Bintaro

Kegiatan belajar pada anak usia dini hendaknya menjadi sebuah awal dari pengalaman yang menyenangkan dan berpotensi untuk mengembangkan ketrampilan anak pada aspek perkembangan selanjutnya. Untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dalam belajar di kelas, guru memiliki peran yang penting dalam proses penyusunan/merancang kegiatan dan strategi pengajaran.

Saat menyusun kegiatan dan strategi pengajaran, umumnya guru-guru mampu menentukan tujuan kegiatan dan kemudian mencari ide kegiatan yang dirasa akan menyenangkan apabila dilakukan oleh anak-anak. Selanjutnya kegiatan-kegiatan yang direncanakan dapat diimplementasikan di kelas dengan menggunakan sumber-sumber belajar yang sesuai dan beragam.

Ada kasus-kasus di kelas dimana guru menjalankan kegiatan yang sama untuk semua siswanya, bersifat klasikal, dengan tujuan untuk mempermudah guru dalam melakukan persiapan kelas dan melihat hasil belajar anak. Namun ternyata yang ditemui selanjutnya A tidak mampu berhitung dan lebih memilih berlarian di dalam kelas; sedangkan B lebih tertarik memainkan potongan kertas dari pada menempel bentuk di lembar kerjanya.

Kegiatan belajar klasikal cenderung mengabaikan kebutuhan belajar atau ketertarikan anak-anak tertentu sehingga seringkali menjadi pemicu munculnya masalah perilaku oleh individu-individu tersebut ketika belajar di kelas.

Sebagai solusi untuk kebutuhan ini, strategi diferensiasi ditawarkan dalam situasi dan kondisi kelas yang berbeda-beda. Diferensiasi adalah salah satu proses mengidentifikasi kekuatan pembelajaran individu, dengan melakukan pengembangan serta implementasi kurikulum pembelajaran yang mengacu pada kesiapan, minat, dan profil belajar siswa (Heacox, 2002:14, Tomlinson, 2006:6, 33-35). Dalam kesempatan Kelas Kompetensi ini, kami akan berbagi cara melakukan pre-assessment yang efektif untuk membantu guru mengetahui pemetaan kebutuhan belajar para siswanya di dalam kelas; kemudian bersama-sama melalui kegiatan studi kasus akan menemukan strategi diferensiasi yang sesuai untuk bermacam-macam kebutuhan belajar.



S4K216 – Menulis Prakik Pembelajaran

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi menulis praktik pembelajaran baik sebagai cara berefleksi maupun untuk diterbitkan.

Eka Wardana

SDIT Al Quds

Banyak guru yang menganggap kegiatan menulis kurang mendapatkan ruang dalam proses peningkatan kemampuan mengajar. Padahal kini pemerintah melalui peningkatan mutu guru diantaranya menekankan keterampilan menulis.

Tujuannya bukan hanya terampil menyusun tulisan ilmiah namun lebih jauh mampu melakukan refleksi mengajar dan membagi praktik pembelajaran terbaik. Sehingga guru bisa belajar melalui tulisan-tulisan mengenai pembelajaran atau topik berkaitan dengan pendidikan.

Di kelas menulis, yang pertama kali digugah adalah memantik ide, mengalirkan gagasan dan kemudian menyajikan dalam tulisan yang padu dan bermakna. Peserta akan diperkenalkan dengan teknik-teknik praktis menulis yang gampang dicerna dan mudah dipraktikan.



S4K217 – Hubungan Reflektif: Kompak Mengasuh Anak

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi pengasuhan anak dengan merefleksikan kualitas relasi dengan pasangan dan relasi dengan anak.

Yulia Indriati

Keluarga Kita

Hubungan yang baik antar orang dewasa di sekitar anak dan hubungan baik antar orangtua dan anak adalah dasar dari penumbuhan perilaku yang mendukung tercapainya tujuan pengasuhan. Hubungan Reflektif adalah salah satu dari tiga Kurikulum Keluarga Kita yang membahas segala hal yang yang memperkuat hubungan. Diawali dengan pemahaman atas pola pengasuhan masa lalu, mengenali keunikan sifat dan temperamen anggota keluarga lain yang kemudian berhubungan kemampuan mengelola emosi, dan pemahaman tentang manajemen waktu. Selain memahami hal-hal tsb, di kurikulum ini peserta juga akan mempraktikkan berbagai teknik yang dapat dipraktikkan sehari-hari, antara lain: tkknik komunikasi efektif, cara mengatasi konflik, juga interaksi lainnya yang menyenangkan dan penting dalam keluarga.

Sesi Hubungan Reflektif akan dipandu oleh fasilitator dari Keluarga Kita didampingi oleh Rangkul (Relawan Keluarga Kita) yang memiliki pengalaman membagikan materi ini di berbagai wilayah dan situasi keluarga yang berbeda-beda. Cerita dan pengalaman Anda para peserta akan memperkaya sesi ini, dan sekaligus Anda dapat membawa sesuatu yang dapat dibagikan ke orangtua di tempat Anda bertugas.



S4K218 -Merancang Masa Depan: Unit Pembelajaran “Preparation for Progression In Art and Design”

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merancang proses belajar yang berpijak pada tujuan belajar murid.

Robin Valentino Hadi

Erudio School of Art

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu. Ki Hadjar Dewantara

Kutipan tersebut mengungkapkan bahwa, sebagai pendidik seyogyanya mampu memberikan ruang agar peserta didik mampu menemukan dirinya secara mandiri. Menemukan diri yang dimaksud ialah bagaimana individu mampu memahami tujuan personal yang ingin dicapai sehingga mampu menentukan langkah selanjutnya guna mencapai tujuan tersebut. Realitanya, hal ini tidak mudah dilakukan. Rendahnya empati dan campur tangan orang dewasa dalam penemuan jati diri peserta didik sangat sulit ditakar.

Berangkat dari kesadaran bahwa sekolah memiliki fungsi untuk menumbuhkan kodrat tiap murid-muridnya tanpa dipaksakan, ESoA memodifikasi unit pembelajaran yang ada agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Unit yang diadaptasi dari kurikulum BTEC Foundation Diploma in Art and Design ini, Unit 3 – Preparation and Progression in Art and Design, membantu siswa mengeksplorasi serta mengidentifikasi tujuan hidup masing-masing. Peserta didik lalu dibimbing untuk membuat rencana aksi dan mewujudkan karya yang sesuai dengan minat diri dan tujuan tersebut. Dengan mengetahui tujuan hidupnya, diharapkan peserta didik dapat menumbuhkan motivasi intrinsik dalam proses belajar. Dalyono (2005) menyatakan bahwa motivasi berperan penting dalam tercapainya tujuan belajar sebab motivasi belajar sama halnya dengan kekuatan mental yang mendorong pembelajar mengawali proses belajar.

Maka dari itu, unit pembelajaran Preparation and Progression in Art and Design ini menjadi unsur yang sangat krusial dalam pembelajaran peserta didik. Alur belajar di unit ini diawali dengan mengajak siswa untuk menilai diri (self-assessment) mengenai minat, karakteristik, tujuan serta potensi yang dimiliki. Metode eksplorasi diri yang diterapkan disesuaikan dengan karakteristik siswa tiap angkatan, seperti penulisan obituari, meditasi dan soul drama. Empati tinggi pengampu unit pembelajaran ini sangat krusial karena pendidik diharuskan mengiringi langkah peserta didik melewati semua prosesnya namun dengan campur tangan minim dalam pengambilan keputusan; berpikir, mencari, menentukan tujuan hidup, sampai akhirnya membuat rencana aksi.

Bentuk kelas kompetensi yang kami ajukan terdiri dari tiga sesi, meliputi pengenalan mengenai Erudio School Of Art (ESoA) & unit pembelajaran yang ada, lalu dilanjutkan dengan sesi pelatihan peserta dan terakhir yaitu sesi diskusi. Sesi pertama akan diawali dengan pemutaran video mengenai ESoA dan Unit belajar yang ada. Kedua, peserta akan diajak untuk melalui metode eksplorasi diri seperti yang diterapkan pada siswa ESoA, antara lain obituari, meditasi dan soul drama. Terakhir, peserta diberikan kesempatan untuk saling berdiskusi, agar pemateri maupun peserta dapat saling memberikan masukan dan saran terkait dengan metode pembelajaran yang telah disampaikan. Melalui tiga sesi tersebut, diharapkan para pendidik bisa bertukar pikiran tentang bentuk pendampingan yang efektif untuk membantu peserta didik menemukan jati diri dan meraih cita-citanya.



S4K219 – Guru Merdeka Belajar (Sesi 2)

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi merdeka belajar baik untuk diterapkan di ruang kelas maupun untuk pencapaian cita-cita dan karier guru. Ini adalah sesi kedua dari dua sesi. Pastikan Anda memilih sesi pertama di Kelas Kompetensi Sesi Ke-3

Chusnul Chotimah

Kampus Guru Cikal

Setiap tahun ajaran, guru menjumpai murid dan orang tua murid yang berbeda. Setiap tahun ajaran, guru menemui dinamika kelas yang berbeda. Pada rentang waktu tertentu, guru menghadapi perubahan peraturan dan kurikulum. Pada kala tertentu, guru menghadapi perubahan pemimpin sekolah dan rekan guru. Setiap waktu, guru terimbas perubahan situasi kondisi sosial, politik, lingkungan dan teknologi. Guru memang salah satu profesi dengan tuntutan dan tekanan yang tinggi.

Banyaknya tuntutan dan tekanan tersebut seringkali membuat guru lupa niat awal menjadi guru. Semangat yang semula berkobar sedikit demi sedikit digantikan rasa lelah. Guru akhirnya berhenti belajar. Situasi yang menjadi salah satu alasan Kampus Guru Cikal menginisiasi Pelatihan Guru Merdeka Belajar. Pelatihan tersebut bertujuan membantu guru untuk merawat kemerdekaan belajar buat diri sendiri sekaligus mempraktikkan merdeka belajar di ruang kelas. Merdeka Belajar adalah pondasi pengembangan diri guru sekaligus kunci proses belajar yang bermakna buat para murid.

*Ini adalah sesi kedua dari dua sesi. Pastikan Anda memilih sesi pertama di Kelas Kompetensi Sesi Ke-3



S4K220 – Manajemen Kelas: Merancang Kelas yang Efektif

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin mengembangkan kompetensi manajemen kelas agar suasana kelas kondusif untuk proses belajar yang efektif.

Itje Chodidjah

Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK)

Sebagai guru, ada tiga aspek penting yang tidak dapat dipisahkan yaitu kemampuan mendidik, ketrampilan mengajar, dan memimpin. Ketiga hal tersebut tidak cukup didapatkan melalui jenjang pendidikan formal. Diperlukan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat melalui pengayaan pengetahuan, peningkatan berbagai ketrampilan serta peningkatan kualitas beringkah laku dan bertutur kata.

Inilah wujud bahwa memilih profesi guru menuntut kesadaran untuk bertanggung jawab atas kemampuan dirinya agar dapat memampukan anak didiknya. Salah satu keterampilan guru yang diperlukan saat mengajar adalah manajemen kelas yang merupakan usaha yang dilakukan oleh guru untuk mengkondisikan siswanya menuju keadaan yang efektif dan kondusif untuk melakukan pembelajaran.

Dalam kelas ini peserta akan diberikan modul secara sederhana dan mudah dipahami. Materi yang diberikan secara teori, simulasi, dan memberikan contoh/praktik baik. Manajemen kelas yang efektif merupakan salah satu kunci keberhasilan pembelajaran bagi guru dalam mendorong cita-cita peserta didik.

S5K301 – Mengembangkan Literasi Melalui Media Film

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi dalam menggunakan film untuk meningkatkan literasi murid

Anggun Piputri

Sinema Edukasi (Sinedu.id)

Sinedu.id adalah sebuah platform online yang menyediakan film sebagai alternatif media belajar guru dan orangtua. Sinedu.id menyediakan film dan modul yang akan memudahkan para guru ataupun orangtua yang menggunakannya kepada siswa. Film yang terdapat di website www.sinedu.id adalah bentuk kontribusi film untuk pendidikan dan diakses secara gratis.

Sebagai sebuah gerakan Sinedu.id hadir untuk menciptakan penonton cerdas Indonesia yang kritis dan melek film. Kolaborasi antara film maker, pendidik dan orangtua untuk menjadikan film sebagai sebuah media yang efektif bukan sekedar jadi tontonan hiburan semata. Oleh karena itu salah satu program untuk mewujudkan tujuan tersebut, Sinedu.id hadir dengan mengadakan pelatihan media dan film literasi #IndonesiaMelekFilm, adalah berupa workshop yang dilengkapi dengan simulasi penggunaan modul film, dilaksanakan khusus untuk guru dan orangtua dalam menunjang ketrampilan memaknai film sebagai media belajar yang baru dan menarik.

Peserta workshop akan diberikan pemahaman mengenai film yang ditinjau dari 4 aspek; aspek produksi, aspek representasi, aspek bahasa dan aspek publik. Keempat aspek diatas akan disatukan dengan simulasi bagaimana modul film digunakan dengan mudah oleh guru maupun orangtua sebagai pedoman menonton film. Selain itu peserta juga diajak untuk menonton salah satu film yang dimiliki oleh Sinedu.id. dan mendiskusikannya untuk digunakan sebagai pembelajaran.



S5K302 – Menyiapkan Murid dalam Berkarier

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi dalam membantu murid mengenali potensi, mengenali berbagai jurusan di ribuan perguruan tinggi dan membuat rencana karier yang efektif.

Shanti Nurfianti Andin

Youthmanual

Youthmanual.com adalah platform persiapan kuliah dan karier online berbasis data, didukung oleh teknologi People Science © untuk membantu siswa dalam merancang dan mempersiapkan masa depan mereka.

Dikembangkan menggunakan riset ilmiah, Youthmanual mengukur 7 dimensi profil siswa sebagai landasan dalam rekomendasi, perencanaan kuliah dan karier yang terintegrasi, berkesinambungan dan menyeluruh.

Youthmanual juga menyediakan dashboard untuk sekolah yang membantu guru menyimpan dan menganalisis data siswa. Dengan dashboard ini, guru dan sekolah dapat mengakses data siswa yang mencakup biodata, preferensi jurusan kuliah dan perguruan tinggi, minat, kepribadian, kemampuan dan personal values. Data ini sayang bermanfaat untuk mengenali siswa dan membantu mereka mengembangkan diri dan merencanakan masa depan.

Mulai akhir tahun ini, Youthmanual akan memiliki program pelatihan yang dapat diakses siswa secara online untuk mengembangkan soft skills yang akan membantunya menjadi versi terbaik diri sendiri dan berkarya dengan optimal di bidang yang dipilihnya di masa depan.



S5K303 – Menjadi Penggerak Pendidikan Islam Edu

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi menyebarkan agama Islam sebagai ramah bagi semesta alam melalui pendidikan agama yang diajarkan menggunakan pemahaman konsep, pendekatan positif, metode aktif dan relevan dengan siswa.

Agus Rachmanto

Pusat Studi Al-Quran – Islam Edu

Islam Edu adalah divisi dari Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) yang menyediakan alternatif kurilulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dan memiliki visi untuk membumikan Al-Quran di tengah masyarakat plural. Islam Edu berupaya untuk memperkenalkan pemahaman Islam secara utuh, sesuai dengan tahapan perkembangan anak dan remaja. Menggunakan pendekatan positif, Islam Edu mengajak kita untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam isu-isu yang relevan, erat dengan kehidupan keseharian.

Salah satu faktor terpenting dari keberhasilan sebuah kurikulum adalah guru. Bagaimana kualitas implementasi sebuah kurikulum sangat ditentukan oleh pemahaman guru terhadap kurikulum, wawasannya mengenai materi yang hendak disampaikan serta cara penyampaiannya. Oleh karena itu, pembekalan bagi guru sangatlah diperlukan.

Dengan latar belakang di atas, Islam Edu bermaksud untuk menawarkan kolaborasi kepada guru-guru Agama Islam untuk melakukan kolaborasi dengan Islam Edu dengan menjadi guru penggerak Islam Edu. Program Guru Penggerak Islam Edu bertujuan untuk menggerakkan para guru agama agara terlibat dalam sosialisasi pentingnya wawasan keagamaan Islam yang moderat, komprehensif dan relevan dengan keseharian, untuk mengkampanyekan misi dari Islam Edu untuk menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya, sebagai rahmat bagi semesta alam kepada guru-guru agama, serta memberikan bekal bagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tentang metode pembelajaran PAI yang menyenangkan dengan menggunakan kekhasan Kurikulum Islam Edu melalui pemahaman konsep, pendekatan positif, metode aktif dan relevan dengan siswa. Guru penggerak diharapkan juga ikut berperan dalam menggerakkan guru agama agar dapat membentuk generasi Bangsa Indonesia yang ber-akhlaaqul kariimah.

Kompetensi yang diharapkan dari Guru Penggerak adalah memiliki kesamaan visi dengan Islam Edu untuk membumikan nilai-nilai Al-Quran di tengah masyarakat plural, memiliki pertemanan yang luas dengan guru-guru agama di wilayahnya, memiliki keterampilan komunikasi dan kepemimpinan yang baik, serta bersedia menggelar pertemuan Lingkar Pendidik Islam Edu dan Pelatihan Kurikulum Islam Edu selama 3 (3 hari) di wilayahnya.



S5K304 – GuruBerbudi: Membuat Video Belajar yang Keren

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi menjadi pembuat dan penyebar video pelajaran untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi semua anak Indonesia.

IniBudi.org

GuruBerbudi adalah salah satu program partisipasi bagi mereka yang ingin menjadi pengajar di video Inibudi. Inibudi yakin bahwa berbagi ilmu tentang materi pelajaran sekolah tidak hanya bisa dilakukan oleh guru. Bukan hanya yang berprofesi sebagai guru, tapi siapa saja yang memiliki kompetensi dalam materi pelajaran sekolah dapat menjadi GuruBerbudi.



S5K305 – Berlayar Jauh, Kembali Tangguh

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi mengembangkan potensi murid melalui program berbasis minat dan bakat.

Priyono Emiliarto Sutrasno

Erudio School of Art

Guru, karyawan dan murid sejatinya merupakan keluarga besar yang semuanya mempunyai peran penting di dalam lingkungan sekolah. Seperti halnya sebuah keluarga, seluruh anggotanya bisa jadi punya ketertarikan berbeda-beda dan cara penyelesaian masalah bermacam-macam pula namun setiap hari mereka belajar untuk menyelaraskan langkah untuk meraih tujuan bersama. Filosofi keluarga inilah yang diterapkan oleh Erudio School of Art (ESoA). ESoA adalah sekolah dengan visi menginspirasi perbaikan kehidupan manusia melalui pendidikan seni. Misi dari ESoA adalah untuk merangsang terciptanya lingkungan belajar melalui dunia seni yang mendorong kreatifitas untuk menemukan jati diri, di dalam maupun di luar sekolah. Sejalan dengan misi tersebut, ESoA lalu menginisiasi sebuah program bernama SAIL; Share-Act-Inspire-Love (berbagi, bertindak, menginspirasi, cinta).

SAIL muncul sebagai jawaban atas keresahan anggota keluarga ESoA akan ketiadaan waktu dan tenaga untuk mengeksplorasi minat dan bakat masing-masing di luar rutinitias yang biasa dilakukan di sekolah. “Sail” yang artinya berlayar, mengambil analogi dari skenario orang berlayar sendirian. Berlayar memerlukan tidak hanya pemahaman teoritis yang baik, tapi juga kecerdikan berinisiatif dalam menyelesaikan masalah yang ada dengan menggunakan sumber daya yang ada.

Sebagai suatu program yang ditujukan untuk seluruh keluarga ESoA (guru, karyawan, murid) ini mendukung setiap anggota keluarga untuk menekuni suatu kegiatan di luar sekolah, pada jam sekolah (setiap Jumat). Manfaat SAIL dapat dirasakan oleh kedua belah pihak; baik sekolah maupun peserta. Manfaat bagi sekolah antara lain; (1) merefleksi norma – norma di ESoA yang disepakati bersama tetap kontekstual dengan perkembangan zaman, (2) memperluas jejaring ESoA dan (3) memperkaya koleksi kemampuan ESoA secara keseluruhan. Sedangkan manfaat untuk peserta adalah; (1) menentukan proses belajar secara mandiri, (2) berkolaborasi atau kerjasama dengan berbagai pihak, (3) mencapai prestasi tertentu dan (4) menikmati atau mengalami kesenangan dalam melakukan sesuatu.

Seperti halnya berlayar, program SAIL harus dipersiapkan dengan baik dan melewati lima tahapan. Tahapan tersebut adalah: (1) investigasi dan persetujuan, dimana identifikasi minat, keahlian dan bakat peserta yang dapat berguna dalam pengembangan diri dilakukan, (2) persiapan (rigging), dimana penentuan peran, tanggung jawab dan hal – hal yang diperlukan selama berlayar dituangkan dalam rencana kerja, (3) berlayar, dimana gagasan dan rencana diimplementasikan, (4) refleksi, dimana peserta diharapkan dapat mengevaluasi pengalamannya dan akhrinya (5) demonstrasi (Sailor Festival), dimana peserta mempresentasikan hal – hal yang telah didapat setelah berlayar.

Melalui sesi berbagi dalam kelas kolaborasi ini, besar harapan kami untuk mendapatkan umpan balik dan juga kami mengajak sesama pendidik untuk mencoba menerapkan program serupa di institusi pendidikan masing-masing agar manfaatnya dapat terasa oleh khalayak lebih luas.

Belajar tidak cukup hanya di sekolah, belajar itu bertualang.



S5K306 – Berkolaborasi bersama KinaryaGagas dan Sekolah GagasCeria

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi mengembangkan kemampuan mengajar dan literasi.

Karin Karina

KinaryaGagas dan Sekolah GagasCeria

Visi sekolah GagasCeria adalah sekolah inovatif pilihan yang berkembang bersama seluruh komponen sekolah dan lingkungan agar sadar belajar dan berkembang utuh sehingga dapat berkontribusi untuk kehidupan Indonesia yang lebih bermakna. Dari visi ini, seluruh keomponen sekolah, khussnya guru GagasCeria mempunyai kemauan kuat untuk berbagi. Hal ini didukung juga dengan permintaaan-permintaan untuk berbagi pengetahuan di berbagai tempat, sehingga membuat kami merasa perlu untuk membentuk suatu divisi agar kegiatan guru berbagi ini dapat terfasilitasi dan lebih terorganisir.

KinaryaGagas lahir sabagai divisi di bawah naungan Yayasan Anak Indonesia, melengkapi sekolah GagasCeria yang telah lahir sebelumnya. Divisi ini dibentuk dengan visi menjadi partner terpercaya dunia pendidikan untuk belajar, berbagi dan maju bersama. Sedangkan misi KinaryaGagas adalah: melaksanakan kegiatan belajar, berkarya dan berbagi, membangun jaringan dan komunitas peduli pendidikan, dan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk keberhasilan pendidikan anak bangsa. Harapan kami, seluruh komponen sekolah pada umumnya dan guru sekolah GagasCeria khususnya, dapat mengembangkan seluruh potensinya, terus belajar sepanjang hayat dan berbagi serta kemudian dapat berkolaborasi dengan para pendidik di seluruh nusantara.

Visi dan misi ini kemudian diwujudkan dalam berbagai kegiatan sejak tahun 2014. Kami memotivasi para guru untuk mengembangkan kariernya seperti misalnya sebagai pembicara, penulis dan atau peneliti. Kami fasilitasi pengembangan karier ini dengan mengadakan berbagai workshop, seminar yang melibatkan guru sebagai peserta atau nara sumber yang berbagi untuk masyarakat umum. Misalnya workshop persiapan literasi untuk guru PGTK, workshop display dan manajemen kelas, magang guru pgtk, magang guru matematika, magang pustakawan, dll. Untuk menulis, buku Inspirasi Mengajar Pembelajar Sejati menjadi buku kumpulan tulisan guru mengenai pengalaman melaksanakan Lesson Study, serta buku Menjaring Makna yang diterbitkan UPI, berisi kumpulan tulisan beberapa guru GagasCeria dan guru sekolah lain.

Untuk kolaborasi, kami mengajak beberapa narasumber pendidik berkolaborasi dalam beberapa kegiatan berbagi, seminar literasi SD, seminar Sistem Komunitas Pendidik Berbasis Riset, Diskusi Telisik Kelas (Distkas). Harapan kami, semakin banyak kolaborasi dapat dilakukan bersama-sama dalam berbagai kegiatan berbagi, karena kami yakin, semakin banyak yang bergerak dengan niat belajar demi pendidikan Indonesia yang lebih baik, semakin baik kualitas generasi masa depan bangsa Indonesia.



S5K307 – Berkolaborasi Membangun Jejaring Relawan Pendidikan

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi dalam jejaring relawan pendidikan untuk memperluas akses pendidikan berkualitas.

Wulan Indriani

Ruang Berbagi Ilmu

Deskripsi Program

Ruang Berbagi Ilmu (RUBI) adalah gerakan kerelawanan yang mengajak para profesional dari pelbagai latar belakang, untuk terjun langsung dalam usaha peningkatan kualitas tenaga pendidik berupa training for trainers di seluruh Indonesia. Kami memiliki visi untuk Bersama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas penggerak pendidikan di seluruh Indonesia.

Misi dari gerakan ini diantaranya adalah

(1) Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk aktif terlibat dalam upaya memajukan pendidikan Indonesia

(2)Meningkatkan kualitas penggerak pendidikan sesuai dengan karakteristik lingkungannya

(3)Mendorong para penggerak pendidikan untuk terus mengembangkan dan saling berbagi ilmunya kepada rekan sejawatnya

(4)Membangun jejaring relawan yang peduli terhadap pendidikan Indonesia

Tujuan dan Manfaat Bagi Guru

(1) Membuka interaksi baru antara guru dengan tenaga pendidik di pelosok daerah.

(2) Bersama-sama mengembangkan ilmu serta wawasan dengan saling menginspirasi, berbagi ilmu serta berbagi metode ajar kepada tenaga pendidik di daerah.

(3) Menciptakan kerumunan positif yang peduli akan pendidikan

Peran/ Posisi serta kompetensi yang dibutuhkan:

Kami akan mengajak Bapak/Ibu guru untuk berbagi ilmu menjadi narasumber di materi yang dibutuhkan oleh tenaga pendidik di daerah. Pilihan materi yang pernah RuBI bawakan sebelumnya antara lain:

(1) Motivasi Guru

(2) Coaching

(3) Manajemen Kelas

(4) Manajemen Berbasis Sekolah

(5) Multiple Intelligence

(6) Brain Based Teaching

(7) Metode Belajar Kreatif

(8) Positive Discipline

(9) Pengelolaan Taman Baca

(10) Manajemen Kepemimpinan

(11) Metode Belajar Anak Berkebutuhan Khusus

(12) Penerapan Kurikulum 13 yang Efektif

Gambaran aktivitas peran narasumber dalam pelaksanaan program:

Narasumber akan berangkat ke daerah sasaran RuBI selama 2-3 hari untuk menyampaikan materi yang dibutuhkan di daerah pelaksanaan dengan membayar 3 iuran dan menjalankan 6 sikap dasar RuBI.

Tiga iuran: Waktu, ide, dan biaya selama berangkat ke daerah

Enam Sikap dasar RuBI

(1) Tulus

(2) Mandiri

(3) Siap Belajar

(4) Bebas Kepentingan

(5) Siap Kolaborasi

(6) Kontribusi Langsung



S5K308 – Membangun Desa Melalui Gerakan 1000 Rumah Membaca

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi dalam mengembangkan rumah membaca di berbagai pelosok desa.

Tunggul Harwanto

Rumah Literasi Banyuwangi

Gagasan tentang Gerakan 1000 Rumah Baca adalah sebuah inisiatif kecil di tingkat local dalam bidang pendidikan khususnya untuk memperbaiki budaya membaca. Gerakan 1000 Rumah Baca mencoba untuk menyesuaikan gagasan tentang pentingnya pendidkan karakter yang telah lama diprakarsai oleh para tokoh pendidikan nusantara. Hanya dengan kecakapan ilmiah, kesiapan dan integritas mental dalam kepribadian Indonesia akan diperhitungkan. Karena itu, pendidikan menjadi pilar fundamental menuju tujuan itu. Ini untuk diingat bahwa perubahan hanya mungkin dengan dukungan sumber daya yang berkualitas. Oleh karena itu, sains menjadi tak terelakkan lagi. Tokoh manusia Indonesia sudah lama dikenal memiliki etos kerja dan produktivitas yang tinggi, namun tetap berpedoman pada nilai nilai timur untuk membedakan kualitas sumber daya manusia Indonesia di hadapan negara lain.

Sejumlah upaya perbaikan telah dan terus dilakukan, namun tetap menempuh perjalanan panjang menuju cita-cita. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sejumlah perkembangan terkini dan dinamika sosial menunjukkan bahwa impian para pendahulu tentang kemajuan bangsa mereka, masyarakat sejahtera dan kerendahan budayanya masih harus melalui sejumlah tantangan, terutama yang menyangkut kesiapan sumber daya manusianya. Jika disederhanakan ada beberapa hal penting yang menjadi konsisi nyata di masyarakat yang bisa dijadikan titik awal untuk melakukan perubahan melalui Gerakan Membaca Rumah 1000.

Pertama, tidak ada keraguan bahwa, ke depan, tidak ada negara yang bisa bersembunyi dari globalisasi. Era dimana dunia hubungan sosial semakin terbuka sehingga tidak hanya mendatangkan keuntungan tapi juga tidak sedikit diikuti oleh dampak yang terkadang sulit dikendalikan. Masa depan menjadi semakin sulit ditebak dan terkadang kejutan memberikan kejutan yang bisa mengancam kehidupan manusia baik dari dimensi politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Kedua, situasi yang tak kalah menyedihkan adalah gejala penurunan tingkat independensi anggota masyarakat. Berbagai masalah berkembang dalam kompleksitas, baik yang sudah tua maupun yang baru, mulai dari jumlah penduduk pra-sejahtera yang sulit ditembus, hingga usaha ekonomi berkelanjutan yang beredar ke kelompok lingkaran tertentu, pasar kerja terus-menerus tidak pernah seimbang dengan pertumbuhan Jumlah pekerja Perlu diserap setiap tahun dan masih banyak sektor kebutuhan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari subsidi karena jika dicabut akan beresiko melonjaknya angka kemiskinan sejak awal sudah tinggi.

Ketiga, di sektor yang sangat strategis seperti pendidikan, keterbatasan Pemerintah dalam pelayanannya juga sangat memprihatinkan. Pragmatisme dunia pendidikan kita baik dari penyelenggara maupun dari para peserta melahirkan generasi atau keluaran pendidikan yang tidak memiliki gagasan dan inisiatif untuk membuka lahan bisnis ekonomi baru, untuk diserap oleh pasar kerja tidak ada yang bisa menjamin.

Sisi substansi kemanusiaan seperti inovasi, kreativitas, integritas, visioner kurang diperhatikan dalam sistem pendidikan kita. Kalaupun ada beberapa institusi yang memperhatikannya, tentunya dengan kompensasi “Biaya Mahal” yang hanya bisa diraih hanya sedikit keluarga saja. Kurangnya Perhatian pada Pendidikan Karakter membuat sistem pendidikan kita produktif hanya mampu tapi tidak berpengalaman, mampu meniru tapi tidak mampu membuat generasi baru yang memuaskan menjadi penonton, namun tidak pernah menyadari potensi dirinya sendiri. Tinggal menunggu untuk digunakan tapi tidak memiliki kemampuan untuk mengambil inisiatif perubahan. Jadi melalui Gerakan 1000 Rumah Baca, diharapkan bisa memberi ruang bagi generasi muda dalam mengembangkan potensinya, termasuk menjaga kearifan lokal sebagai sumber daya yang bisa mensejahterakan masyarakat. Karena perubahan harus dimulai dari diri melalui generasi literati.



S5K309 – Memperluas Wawasan Murid melalui Kelas Inspirasi

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi menyebarkan inspirasi di berbagai sekolah

Syaifullah Godi Ismail

Berbagi Inspirasi lewat profesi untuk Anak Negeri

Kelas Inspirasi (KI) adalah gerakan yang dilakukan para profesional mengajar selama satu hari dan berinteraksi di Sekolah Dasar (SD). Selanjutnya para profesional ini disebut Relawan Pengajar. Kelas Inspirasi merupakan sebuah program yang dicetuskan oleh Indonesia mengajar. Indonesia Mengajar merupakan sebuah inisiatif gerakan dibidang pendidikan yang merekrut, melatih, dan mengirimkan lulusan terbaik untuk mengajar sekolah dasar di daerah pelosok Indonesia selama 1 tahun. Indonesia Mengajar telah secara aktif berkontribusi pada perbaikan dunia pendidikan di tanah air sejak pertengahan tahun 2010. Salah satu misi utama dari gerakan ini adalah mengajak berbagai pihak, termasuk masyarakat umum, untuk turut terlibat aktif dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan bangsa. Salah satunya yaitu Kelas Inspirasi (KI)
Relawan pengajar berinteraksi di sekolah untuk berbagi cerita dan pengalaman kerja dan memberi motivasi untuk meraih cita-cita bagi para siswa. Harapannya, cerita tersebut akan menjadi bibit untuk para siswa bermimpi dan merangsang tumbuhnya cita-cita tanpa batas pada diri mereka dan selanjutnya para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar. Interaksi relawan pengajar dengan warga sekolah dilakukan untuk membuka ruang komunikasi dan kolaborasi antar keduanya melalui pengalaman mengunjungi, dan mengajar, dan berinteraksi selama hari inspirasi termasuk masa persiapannya. Sehingga akan menjadi lebih banyak gagasan dan kegiatan yang melibatkan kontribusi kaum profesional.
Kelas Inspirasi (KI) pertama diselenggarakan secara serentak di 25 SD yang berada di seluruh wilayah DKI Jakarta pada tanggal 25 April 2012. KI terus tumbuh di berbagai kota di Indonesia. Kelas Inspirasi Salatiga adalah sebuah inisiatif lokal yang berangkat dari semangat Kelas Inspirasi, dengan mengunjungi dan selama sehari mengajar di beberapa SD yang tersebar di kota Salatiga.
Tujuan awal dari KI adalah menjadi gerbang keterlibatan para profesional dengan realita dunia pendidikan dasar di lingkungannya, serta Indonesia pada umumnya.

Tujuan Kelas Inspirasi
KI memiliki dua sasaran utama, yaitu untuk relawan yang merupakan profesional dari berbagai profesi dan untuk siswa-siswa yang diajar oleh para relawan. KI menjadi wahana bagi sekolah dan siswa untuk belajar dari para profesional, serta agar para profesional, khususnya kelas menengah secara lebih luas, dapat belajar mengenai kenyataan dan fakta mengenai kondisi pendidikan di Indonesia.
Relawan :
1.Memberikan pengalaman mengajar dan belajar di depan kelas.
2.Membangun sensitivitas para relawan terhadap realita kualitas pendidikan.
3.Mengaktivasi semangat volunterism untuk mengatasi masalah di sekitar kita tanpa harus menunggu orang lain terlebih dahulu dan tanpa menyalahkan pihak manapun.
4.Membangun jejaring antar relawan.
5.Membangun interaksi lebih lanjut dengan pihak sekolah.

Siswa :
6.Memperluas wawasan mereka akan pilihan profesi yang bisa dijadikan cita-cita.
7.Memberikan motivasi untuk terus melanjutkan pendidikan.
8.Menanamkan empat nilai moral positif utama (kejujuran, kerja keras, pantang menyerah dan kemandirian).
9.Menyadarkan amat pentingnya sikap menghormati orang tua dan guru.

Sekolahan :
Menyediakan wahana bagi guru, kepala sekolah serta pemangku kepentingan lain di sekolah untuk membangun jejaring dengan kalangan luas yang dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan demi kemajuan sekolah.

7 Sikap Dasar Kelas Inspirasi
Ada 7 sikap yang selalu terlihat di antara pegiat Kelas Inspirasi, yaitu :
1.Sukarela
2.Bebas Kepentingan
3.Tanpa Biaya
4.Siap Belajar
5.Terjun Langsung
6.Siap Bersilaturahmi
7.Tulus



S5K310 – Mengembangkan Kualitas Belajar Melalui Media Sosial Qlevers

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi memanfaatkan teknologi belajar untuk memperluas akses pendidikan berkualitas.

Marko Rasuandi

Qlevers

Qlevers adalah aplikasi media sosial yang mempermudah murid, guru, atau siapa saja untuk berinteraksi, berbagi, dan saling belajar ilmu pengetahuan di mana pun, dan kapan pun.

Fitur dalam Aplikasi

TAWAB. Tawab adalah kependekan dari Tanya Jawab. Dalam fitur ini, para pelajar ataupun kalangan umum dan profesional dapat mengajukan pertanyaan seputar pelajaran serta pengetahuan. Pertanyaan akan dijawab oleh pengajar ataupun profesional sesuai bidangnya.

NGOBAR. Fitur Ngobar atau kepanjangannya Ngobrol Belajar digunakan untuk diskusi real time yang dikelompokkan dalam topik-topik unik.

Peran dan Manfaat bagi Guru

– Sarana berbagi pengetahuan dengan seluruh anak Indonesia

– Sarana mengenal karakteristik pelajar di luar sekolah untuk keperluan pendekatan metode mengajar yang lebih baik

– Sebagai solusi bagi siswa di daerah yang kekurangan guru



S5K311 – #ObatManjur: Undangan Memperluas Pendidikan Antikorupsi

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi memperluas pendidikan antikorupsi di berbagai daerah.

Sandri Justiana

Pusat Edukasi Antikorupsi KPK

“*A. Persoalan*:

Dalam Kurikulum 2013, ada kompetensi sikap sosial yang terkait dengan pembentukan peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan sikap sosial adalah kemampuan menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam, dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya. Saya melihat ada kaitan erat/irisan antara KI Sikap Sosial dengan Pendidikan Antikorupsi yang harus dilaksanakan Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai salah satu strategi pemberantasan korupsi. Irisan tersebut terdapat pada kosa kata jujur, disiplin, tanggung jawab, dan peduli, di mana keempat nilai tersebut merupakan nilai-nilai antikorupsi. Jadi, dengan menerapkan KI Sikap Sosial, sebenarnya guru telah mengimplementasikan Pendidikan Antikorupsi. Nah yang menjadi persoalan, bagaimana cara mengimplementasikan hal tersebut? Apa bahan ajar yang digunakan?

*B. Deskripsi Program*: Saya menawarkan sebuah program bernama #ObatManjur sebagai salah satu solusi pengimplementasian Pendidikan Antikorupsi (bisa juga disebut Pendidikan Karakter) melalui metode permainan. #ObatManjur merupakan singkatan dari “”Orang Hebat Main Jujur””, di mana dalam program ini, guru dapat menggunakan beragam boardgame (permainan papan) bertema integritas dan antikorupsi sebagai media pembelajaran. Ada sekitar 4-5 boardgame yang cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas, untuk jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA. Dalam pelaksanaannya, boardgame ini dikombinasikan dengan media pembelajaran antikorupsi lainnya seperti buku, film, dan lagu.

*C.Tujuan dan Manfaat Program bagi Guru*: Guru dapat menyampaikan materi KI Sikap Sosial sekaligus menumbuhkan nilai-nilai antikorupsi dengan cara menyenangkan, sesuai dengan motto #ObatManjur “”Belajar, Bermain, Berbagi””.

*D. Peran/Posisi serta Kompetensi yang dibutuhkan*:

Dalam #ObatManjur, guru berperan sebagai fasilitator sekaligus pelatih.

*E. Gambaran Aktivitas Peran/Posisi*:

Sebagai fasilitator, guru memfasilitasi murid untuk melakukan pembelajaran melalui boardgame dengan tahapan IDE + DO IT.

*””I””*: Identifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam boardgame, lalu ajak murid untuk bermain.

*””D””*: Diskusikan insight/hikmah/point of learning setelah melakukan permainan. Pada tahap ini, guru dapat melakukan penilaian level 1.

*””E””*: Eksplorasi untuk menindaklanjuti hikmah permainan dengan beragam kegiatan lainnya yang sesuai dengan minat anak, seperti bikin drama, gambar, puisi, tulisan, film, dsb. Pada tahap ini, guru dapat melakukan penilaian level 2.

*””Do””*: Dokumentasikan karya/aktivitas eksplorasi anak dalam bentuk portofolio untuk dipentaskan dan/atau dipamerkan. Pada tahap ini, guru dapat melakukan penilaian level 2.

*””I””*: Implementasikan hal-hal baik yang ditemukan anak dalam pembelajaran tersebut di kelas/sekolah. Misalnya, jika dalam permainan tersebut ditemukan/disepakati bahwa membuang sampah pada tempatnya adalah sikap yang bertanggung jawab, maka guru dan murid sepakat membuat media kampanye ajakan tidak buang sampah sembarangan dan aturan jika ada yang melanggar. Pada tahap ini, guru dapat melakukan penilaian level 3.

*””T””*: Teladan. Guru harus menjadi teladan bagi murid dalam menerapkan nilai-nilai tersebut.

Adapun sebagai pelatih, guru berperan melatih murid sebagai agen #ObatManjur yang mengajak teman-temannya untuk melakukan hal yang sama.



S5K312 – Bersama Mencegah dan Menangani Kekerasan Seksual terhadap Anak

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi mencegah dan menangangi kekerasan seksual terhadap anak di sekolahnya.

Sri Sulistiyani

Gerakan sekolah aman dari kekerasan seksual terhadap anak.

Deskripsi program:

Program ini adalah gerakan bersama dalam upaya menciptakan lingkungan sekolah yg aman bagi anak, tanpa kekerasan seksual terhadap anak.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) menetapkan th 2016 sbg kondisi darurat nasional kejahatan seksual terhadap anak. Tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia merupakan kondisi yg sangat memprihatinkan. Kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja bahkan di sekolah.

Misi gerakan:

Memastikan agar sekolah menjadi tempat yg aman untuk anak, tanpa ancaman kekerasan seksual.

Tujuan dan manfaat bagi guru:

– Mempunyai pemahaman tentang cara mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual terhadap anak di sekolah

– Terbuka kesempatan untuk menjadi relawan pendamping anak

– Terbuka kesempatan untuk berjejaring dengan lembaga pengada layanan di seluruh Indonesia.

– Memungkinkan guru untuk menginisiasi lingkungan sekolah yg aman tanpa kekerasan seksual.

Peran/ posisi dan kompetensi yang dibutuhkan:

– Peran/ posisi yang dibutuhkan : relawan pendamping anak

– Kompetensi yang dibutuhkan: Pemahaman terkait relawan pendamping anak (akar masalah terjadinya kekerasan seksual, pencegahan, penanganan kasus, pemulihan survivor)

Gambaran aktivitas peran narsum dalam pelaksanaan program adalah memfasilitasi peserta untuk:

– Brain storming tentang bentuk-bentuk kekerasan seksual yang terjadi di sekolah

– Diskusi untuk memetakan akar masalah dari kekerasan seksual terhadap anak di sekolah

– Diskusi tentang upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak di sekolah.

– Diskusi tentang pendampingan pemulihan survivor

– Berjejaring dengan lembaga atau individu pengada layanan.



S5K313 – Serunya menjadi Penggerak Komunitas Guru Belajar

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi menjadi penggerak perubahan pendidikan melalui Komunitas Guru Belajar’

Lany Rh
Kampus Guru Cikal

Sebagai guru, kita memiliki kebutuhan untuk selalu belajar. Belajar terasa ringan diucapkan tapi ketika bertemu tuntutan pekerjaan jadi terasa berat. Karena itu, guru butuh teman belajar seperjalanan dalam sebuah komunitas. Kebutuhan guru tersebut yang mendorong Kampus Guru Cikal menginisiasi Komunitas Guru Belajar yang berkembang pesar dalam dua tahun ini.

Perkembangan pesat tersebut berkat peran aktif Penggerak Komunitas Guru Belajar dalam menularkan semangat, kemauan mendengar, kesabaran mendampingi dan ketekunan mengkoordinasikan komunitas di daerahnya. Mereka mewujudkan semangat belajar dengan meluangkan waktu, tenaga, dan pemikirannya untuk menggerakkan komunitasnya.

Apa saja serunya menjadi Penggerak Komunitas Guru Belajar? Apa manfaat yang didapatkan penggerak sehingga bersedia menggerakkan komunitas? Apa peran penggerak dalam perubahan pendidikan Indonesia? Kami undang para guru untuk mengkuti Kelas Kolaborasi Serunya menjadi Penggerak Komunitas Guru Belajar. Di kelas ini juga, Anda bisa mengetahui lebih jauh mengenai berbagai program Komunitas Guru Belajar.



S5K314 – Undangan Mengembangkan Komunitas Suara Anak

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi memfasilitasi anak-anak menceritakan pengalaman mengembangkan bakat melalui kegiatan non kompetisi.

Andrie Firdaus

TemanTakita.com

Suara Anak adalah sebuah forum bagi anak untuk menceritakan pengalamannya menekuni suatu kegemaran, karya, atau misi sosial yang berdampak pada masyarakat dalam waktu 5 – 15 menit. Suara Anak diselenggarakan oleh relawan dan pemerhati pendidikan di berbagai kota di Indonesia. Suara Anak terdekat yang akan diselenggarakan adalah Suara Anak ke-10 di Jakarta pada bulan September mendatang. Pada kesempatan kali ini, TemanTakita ingin mengajak guru, orangtua, dan pendidik untuk ikut serta dalam forum ini agar Suara Anak dapat terus berkembang.



S5K315 – Menghadirkan Pop Up Museum di Sekolah

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi mengdayagunakan museum sebagai media belajar yang kaya dan bermakna.

Dewi Soeharto

Sekolah Cikal

MENGHADIRKAN KOLEKSI MUSEUM SEBAGAI SARANA PEMBELAJARAN SEKOLAH

Sekolah Cikal Pop Up Museum adalah salah satu sarana dan fasilitas pembelajaran Sekolah Cikal melalui presentasi karya seni dan budaya. Dengan menghadirkan sebagian koleksi museum, galeri dan instansi terkait yang disesuaikan dengan pembelajaran siswa, Pop Up Museum berupaya menjembatani museum dan sekolah.

Tujuan dan Manfaat Menghadirkan Museum di Sekolah :

Menampilkan koleksi museum, galeri, pameran publik, dan instansi terkait yang lebih terfokus dalam materi pembelajaran.

Mendukung program pembelajaran siswa.

Menginspirasi siswa untuk mencintai dan berperan aktif serta terlibat dalam kegiatan museum.

Mengundang komunitas sekitar untuk berperan aktif menghidupkan museum setempat.

Memperkenalkan budaya setempat dan Nusantara kepada komunitas siswa, juga memperkenalkan dan mengangkat profil budayawan daerah.

Tujuan Mengikuti Kelas Kolaborasi :

Menyadari pentingnya hal tersebut di atas, Sekolah CIkal Pop Up Museum ingin membagikan pengetahuan dan pengalamannya dalam menghadirkan koleksi museum ke sekolah, dimulai dari menghubungi museum atau instansi terkait sampai kurasi dan penataan ruangan museum dan program pembelajaran untuk siswa.

Diharapkan dengan mengikuti kelas ini, peserta terinsirasi dan mempunyai pengetahuan dasar dalam menghadirkan musuem ke dalam kegiatan sekolah.



S5K316 – Program Rangkul, Belajar dari Sesama Orangtua

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi melibatkan dan melakukan pendidikan orangtua dalam pendidikan anak

Yulia Indriati

Keluarga Kita

Program RANGKUL, Belajar dari Sesama Orangtua

Menjadi orangtua tidak ada sekolahnya, namun kebutuhan orangtua untuk belajar pengasuhan sangat krusial untuk mencapai tujuan pengasuhan yaitu anak yang bahagia, mandiri dan cerdas. Yayasan Rangkul Keluarga Kita menginisiasi sebuah program pemberdayaan orangtua yaitu program RANGKUL (Relawan Keluarga Kita). Dalam program ini, para orangtua yang menjadi Rangkul mendapatkan pembekalan Kurikulum Keluarga Kita, yaitu: Hubungan Reflektif, Disiplin Positif dan Belajar Efektif. Selain mendapatkan materi substansi pengasuhan, Rangkul juga mendapatkan pembekalan untuk menjalankan program Rangkul agar dapat menjadi fasilitator belajar pengasuhan bagi orangtua di wilayah sekitar Rangkul berada.

Rangkul saat ini tersebar di 47 Kabupaten/Kota di berbagai wilayah Indonesia. Para Rangkul menjalankan sesi Berbagi Cerita Rangkul, yaitu sesi belajar pengasuhan dari sesama orangtua dengan panduan Kurikulum Keluarga Kita. Dalam Kelas Kolaborasi ini, para Rangkul yang telah menjalankan program ini akan bercerita berbagai pengalaman di lapangan seputar belajar pengasuhan. Para guru dapat memperoleh informasi seputar program Rangkul di kelas ini. Sampai bertemu!



S5K317 – Bantu Guru Belajar Lagi

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin berkolaborasi melibatkan berbagai pihak di daerah untuk melakukan perubahan pendidikan

Farli Sukanto

Bantu Guru Belajar Lagi

Persoalan yang Ingin Diselesaikan

  1. Miskonsepsi bahwa tugas guru hanya mengajar dan pendidikan hanya menjadi tanggung jawab guru, kepala sekolah, Dinas Pendidikan (Pemerintah) atau penggerak Pendidikan saja.
  2. Ketersediaan program pelatihan dan pendampingan guru yang mumpuni bagi guru.

Deskripsi Program

Bantu Guru Belajar Lagi adalah inisiatif yang dikerjakan oleh lintas pemangku kepentingan Pendidikan untuk menyediakan program pelatihan dan pendampingan guru yang berkualitas. Para pemangku kepentingan Pendidikan terdiri dari pemerintah, korporasi, praktisi Pendidikan serta publik luas dengan berbagai sumber daya yang mendukung terlaksananya pelatihan dan pendampingan guru yang berkualitas di suatu daerah.

Proyek pertama Bantu Guru Belajar Lagi dimulai pada tahun 2017, dan direncanakan untuk berlangsung selama 5 tahun untuk 50 guru yang terdapat di Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantar Gebang, Bekasi. Sekolah yang menjadi sasaran antara lain SDN Sumur Batu 01, 02, 04 dan Sekolah Alam Tunas Mulia.

Tujuan Program

Menciptakan Pendidikan berkualitas bagi peserta didik yang dilakukan dengan cara:

  1. Meningkatkan kesadaran publik untuk bekerja secara bersama-sama untuk Pendidikan
  2. (Untuk guru) meningkatkan kesadaran guru untuk terus belajar (mengembangkan kapasitas)
  3. (Untuk guru) meningkatkan kompetensi guru

Manfaat Program

  1. Membuka kesempatan kolaborasi guru dengan guru lain serta dengan pemangku-pemangku kepentingan lain yang memiliki berbagai sumber daya yang dapat mendukungnya
  2. Membuka kesempatan guru untuk mendapatkan pelatihan dan pendampingan guru yang berkualitas

Peran/Posisi serta Kompetensi yang Dibutuhkan

Kami mengajak kelompok/komunitas/organisasi bapak/ibu guru di daerah mana pun yang terdapat di Indonesia, yang siap menjadi pengelola jalannya program Bantu Guru Belajar Lagi di daerahnya dan berkoordinasi dengan pengelola program Bantu Guru Belajar Lagi di pusat (Jakarta) untuk mendaftarkan dirinya. Program Bantu Guru Belajar Lagi mencari mitra yang dapat mengelola secara mandiri program pelatihan dan pendampingan Guru di daerah sasaran baru.

Beberapa keahlian mengelola program Bantu Guru Belajar Lagi yang harus dimiliki antara lain:

  • Manajemen dan Strategi Proyek
  • Komunikasi (terutama online)
  • Monitoring dan Evaluasi
  • Pengelolaan komunitas

Gambaran Aktivitas Peran/Posisi

  • Bersama-sama menjalankan rencana penggalangan dana melalui berbagai aktivasi (baik online maupun offline)
  • Berkoordinasi dengan pihak pemerintah (Dinas Pendidikan) dan sekolah, serta pihak lain (donator, sponsor, dll) khususnya yang berada di daerah untuk menjamin kelancaran pelaksanaan program
  • Melakukan publikasi dan dokumentasi program
  • Mengelola komunitas guru yang menjadi peserta dalam program
  • Menuliskan cerita tentang berjalannya program yang dapat meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya peningkatan kompetensi guru dan kolaborasi dalam mengembangkan Pendidikan.


S5K318 Kelas Menulis dan Menerbitkan Buku bersama KAGUM

Kelas ini ditujukan bagi guru yan ingin belajar menulis dan menerbitkan buku.

Catur
Komunitas Gemar Menulis dan Membaca (KAGUM)

“Orang boleh pintar setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, maka namanya akan ditinggalkan oleh sejarah””. Cuplikan kalimat di atas yang dilontarkan Pramudya Ananta Toer nampaknya masih relevan saat ini.

Banyak guru pintar, guru hebat, namun jejaknya seperti tak berbekas. Mengapa? Karena ia tidak menuangkan pengalamannya, gagasannya, ide cemerlangnya ke dalam tulisan, maka namanya hilang tak berbekas.

Guru tentu memiliki banyak sekali pengalaman yang ditemuinya di kelas, di lingkungan sekolah, dan di lingkup kehidupan sosialnya. Pengalaman ini tentu akan bermanfaat apabila dibagikan kepada sesama guru, siswa, maupun masyarakat melalui tulisan yang dibukukan.

Hal yang perlu disadari bahwa kekuatan tulisan sangat besar dalam mempengaruhi pembaca. Tulisan mampu menggerakkkan pikiran, perasaan seseorang. Inspirasi seseorang yang timbul dari bacaan yang positif mampu membuatnya tergerak melakukan perubahan dan perkembangan ke arah yang lebih baik.

Dari pemikiran di atas, Komunitas Gemar Menulis dan Membaca (KAGUM) hadir membantu untuk menggerakkan guru-guru mengembangkan potensi diri menulis hingga menerbitkan karya buku sebagai artefak abadi membangun peradaban bangsa. KAGUM berkiprah di bidang literasi guru dan siswa, telah membantu guru meningkatkan kepercayaan dirinya dalam menulis. Ratusan guru, kepala sekolah, dan pengawas telah merasakan menulis yang menyenangkan bersama KAGUM. Puluhan diantaranya bahkan telah difasilitasi KAGUM sehingga percaya diri menerbitkan buku. Menurut KAGUM, Guru yang keren itu, guru yang menulis dan menerbitkan buku.



S5K319 Kelas Menulis dan Menerbitkan Buku bersama Lentera Hati 

Kelas ini ditujukan bagi guru yan ingin belajar menulis dan menerbitkan buku.

Muhammad Husnil
Pemimpin Redaksi Lentera Hati.

Tak bisa disangkal lagi, guru merupakan salah satu ujung tombak penggerak positif negeri. Tak terhitung sudah para guru yang telah melahirkan murid-murid cerdas dan tangkas yang telah membawa kemajuan bagi Indonesia. Itu karena mereka menjadi guru yang inspiratif dan menggerakkan.

Jika di depan kelas saja mereka bisa menyuntikkan inspirasi dan menggerakkan, tentu tak terbayangkan bila para guru juga penulis andal. Sudah barang tentu, perubahan yang akan dia tularkan bukan hanya terjadi di depan kelas melainkan juga di khalayak ramai.

Jika itu terjadi maka pada gilirannya, Indonesia akan segera meraih takdir sebagai negeri para penggerak.

Manfaat Program
1. Mengenal teknik menulis
2. Mengetahui cara mengatasi kebuntuan dalam menulis
3. Mengasah kemampuan menulis

Lentera Hati
Penerbit yang memfokuskan kepada penerbitan buku-buku berkualitas tema keislaman, umum, orang tua, dan anak. Berpegang pada semangat: tepercaya, mencerahkan, inspiratif.



S5K320 – Kelas Cerdas Digital

Kelas ini ditujukan untuk guru yang peduli terhadap perkembangan literasi digital yang dapat berdampak pada siswa.

Tari Sandjoyo dan Ainun Chomsun

Dunia digital dan Internet adalah bagian dari kehidupan anak-anak kita saat ini dan akan menjadi semakin penting serta dominan di masa depan. Berbeda dengan generasi pendidik, orangtua, maupun guru, anak-anak kita bahkan tidak ingat dan tidak pernah mengalami kehidupan tanpa gawai, tanpa akses ke segala penjuru dunia. Sayangnya, kenyataan bahwa anak-anak kita adalah manusia digital menjadi fakta yang sering harus ditanggalkan saat mereka masuk ke ruang kelas atau bahkan ke ruang keluarga.Ketidaktahuan (gaptek: gagap teknologi) atau ketidakmautahuan, ketiadaan waktu atau kurangnya komitmen pada prioritas, beban kurikulum dan pengasuhan yang sudah banyak sering kali menjadi alasan bagi guru dan orangtua untuk menafikan pentingnya kecerdasan digital. Semua faktor eksternal di atas, ditambah kondisi internal, seperti kekhawatiran, ketidakenakan dan konformitas, menjadi faktor penghambat pencapaian tujuan.

Kami mengajak Anda terlibat menjadi publik pemimpin perubahan pendidikan. Kita bersama akan bergerak. Dimulai dari Hari Pertama Sekolah menuju interaksi sepanjang tahun ajaran, dimulai dari satu jam yang singkat dengan 1 guru dan 1 kelas menuju integrasi Cerdas Digital ke kompetensi lintas-kurikulum di segala jenjang usia. Kalau Anda orangtua, ajak guru di sekolah anak Anda untuk terlibat. Kalau Anda guru, jalin komunikasi dengan orangtua masing-masing murid Anda untuk mencoba. Kalau Anda anak, ceritakan hal ini dan pengalaman digitalmu pada guru dan orangtua

Ketidaktahuan (gaptek: gagap teknologi) atau ketidakmautahuan, ketiadaan waktu atau kurangnya komitmen pada prioritas, beban kurikulum dan pengasuhan yang sudah banyak sering kali menjadi alasan bagi guru dan orangtua untuk menafikan pentingnya kecerdasan digital. Semua faktor eksternal di atas, ditambah kondisi internal, seperti kekhawatiran, ketidakenakan dan konformitas, menjadi faktor penghambat pencapaian tujuan.

Kami mengajak Anda terlibat menjadi publik pemimpin perubahan pendidikan. Kita bersama akan bergerak. Dimulai dari Hari Pertama Sekolah menuju interaksi sepanjang tahun ajaran, dimulai dari satu jam yang singkat dengan 1 guru dan 1 kelas menuju integrasi Cerdas Digital ke kompetensi lintas-kurikulum di segala jenjang usia. Kalau Anda orangtua, ajak guru di sekolah anak Anda untuk terlibat. Kalau Anda guru, jalin komunikasi dengan orangtua masing-masing murid Anda untuk mencoba. Kalau Anda anak, ceritakan hal ini dan pengalaman digitalmu pada guru dan orangtua.



S5K321 Kelas Wardah Inspiring Teacher 

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin tahu dan terlibat dalam program Wardah Inspiring Teacher

Suci Hendrina – Public Relation Wardah

Bidang pendidikan menjadi salah satu fokus Wardah dalam menggerakkan berbagai kegiatan positif di masyarakat, kali ini dalam bentuk program Wardah Inspiring Teacher. Wardah Inspiring Teacher adalah bentuk apresiasi Wardah untuk para guru di Indonesia. Bagi Wardah, meningkatkan kualitas pendidikan generasi mendatang adalah salah satu cara untuk berkontribusi dalam membangun Indonesia. Hal ini bisa dicapai di antaranya dengan lebih mengapresiasi peran guru sebagai pejuang yang mendidik dan mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Program dari Wardah Inspiring Teacher adalah berupa pelatihan untuk guru . Kegiatan ini sudah dilakukan di Yogyakarta . Dalam program ini kami mengundang partisipasi masyarakat dalam proses pencarian sosok guru-guru yang inspiratif . Guru-guru inspiratif ini merupakan hasil rekomendasi dari para siswa/mahasiswa dan alumni, komunitas, serta sekolah. Guru inspiratif ini kemudian menjalani pelatihan soft skill dan hard skill yang ditujukan untuk peningkatan kualitas dan keahlian yang nantinya akan diterapkan dalam proses belajar mengajar di sekolah masing-masing.

Dalam kesempatan kelas kolaborasi di TPN ini, kami ingin memperkenalkan program ini kepada Bapak / Ibu guru sekaligus mengajak untuk berpartisipasi untuk mewujudkan program ini dapat hadir di kota – kota lainnya.



S5K322 Mengajar Kolaboratif bersama Yayasan Sukma

Kelas ini ditujukan bagi guru yang ingin tahu dan terlibat dalam program mengajar kolaboratif bersama Yayasan Sukma

Khairil Azhar
Kepala Divisi Pelatihan di Direktorat Riset dan Publikasi Yayasan Sukma serta menyelesaikan pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (S1) dan University of Tampere dalam bidang Teacher Education, Finlandia.

Jamaknya, pembelajaran bertumpu pada satu guru yang mengajar satu mata pelajaran dalam rentang jam pelajaran tertentu. Seorang guru matematika, sebagai contoh, biasanya cenderung fokus mengajar matematika saja. Hal ini, dengan demikian, menafikan berbagai irisan antar mata pelajaran dan betapa materi-materi pelajaran dari bidang yang dikerat-kerat dengan berbagai nama itu pada kenyataannya juga beririsan dalam dunia nyata. Seiring dengan itu, pola satu guru satu mata pelajaran ini cenderung membentuk sekat-sekat antar guru dan berbagai kosekuensi logis yang kontradiktif dengan konsep mengajar sebagai tindakan kolaboratif. Dalam hubungannya dengan dunia nyata, pembelajaran yang terpusat pada guru ini cenderung juga mengabaikan kemungkinan pelibatan orang tua, kalangan profesional, tokoh masyarakat, atau lapisan masyarakat lain dalam pembelajaran serta kecenderungan menjadikan “ruang kelas” yang terbatas itu sebagai lokasi belajar utama.

Seiring dengan itu, berdasar pada realitas dunia yang multi-faceted dan sangat dinamis, selain keharusan memiliki keterampilan berkolaborasi, baik bagi para guru maupun siswa, yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan melihat fenomena atau masalah dari berbagai sisi dan menghadirkan solusi yang tepat. Di sini, kita terpapar pada keharusan untuk menggunakan berbagai bidang pengetahuan yang berbeda untuk menganalisis dan bertindak, di mana itu hanya mungkin ketika adanya keterlatihan untuk melakukannya. Dalam konteks praksis pendidikan, di mana sekolah dikukuhkan sebagai wahana pendidikan utama, mengasah keterampilan menganalisis secara holistik dan bertindak tepat itu tentu saja sampai taraf signifikan menjadi tanggung-jawab para guru.

Dalam pengalaman Sekolah Sukma, mengajar kolaboratif, kooperatif atau team-teaching, pada dasarnya adalah pembelajaran yang bisa dilakukan secara bersama-sama oleh sesama guru, bersama siswa, dengan orang tua, bersama profesional, dengan menghadirkan tokoh masyarakat, atau bersama sumber belajar lainnya. Materi belajar juga tidak lagi melulu berupa pengetahuan diskursif seperti yang ada dalam buku-buku teks, tetapi mencakup berbagai hal yang terdapat dalam dunia nyata dan pengalaman riil siswa. Secara pedagogis, pembelajaran menjadi lebih kaya dan konstruktif karena tidak lagi semata-mata berpola deduktif, tetapi lebih jauh didorong untuk bersifat induktif, di mana para siswa difasilitasi untuk membangun rumah pengetahuan mereka dengan adanya dialektika antara fakta, pengalaman orang lain dan pribadi serta pengetahuan yang sudah melekat di benak mereka.


Dalam konteks yang melampaui sekat satu sekolah dengan satu lingkungan sosialnya, pembelajaran kolaboratif bisa dilakukan oleh guru-guru dari dua atau lebih sekolah yang berbeda. Dalam pengalaman Sekolah Sukma, guru-guru bisa menjadi guru tamu di Sekolah Sahabat Sukma dan bekerjasama dalam mengelola kelas mereka. Begitu juga, dengan adanya program pertukaran guru, mengajar kolaboratif oleh satu tim dengan latar belakang sekolah berbeda menjadi mungkin.

Bagi para guru yang terlibat dalam program-program mengajar kolaboratif, selain dimungkinkannya proses berbagi ilmu dan pengalaman akademis dan pedagogis, perkembangan kompetensi kepribadian dan sosial mereka menjadi lebih mungkin terjadi. Sebab kegiatan bekerjasama mensyaratkan penggunaan dan pengembangan kecerdasan intelektual, emosional dan behavioral.
Untuk deliberasi dan inisiasi program pembelajaran kolaboratif dalam Kelas Kolaborasi TPN ini, setiap guru yang berminat tentu saja bisa mengikuti. Sebab, kelas kolaborasi sejatinya bersifat lintas disiplin, budaya, umur, kompetensi, posisi struktural maupun fungsional.

Setiap guru yang mengikuti program ini diharapkan mampu memunculkan gagasan-gagasan inspiratif dan jika memungkinkan melahirkan berbagai rancangan dan rencana awal bagi tindakan mengajar kolaboratif untuk 1 (satu) tahun. Ketika kehadiran fisik sampai taraf tertentu telah bisa diwakili oleh kehadiran virtual menggunakan aplikasi semacam Skype, kolaborasi pembelajaran bisa dirancang dengan lebih mudah, murah dan menarik.

S6K401 – Belajar Membuat Media Belajar

Upaya memfasilitasi murid belajar bisa menjadi kesempatan bagus bagi guru untuk menciptakan media belajar. Murid bisa asyik belajar sekaligus jadi media belajar yang bisa digunakan guru yang lain. Bila mau menekuninya, pembuat media belajar bisa menjadi alternatif pengembangan karier buat guru. Jadi mari belajar lika-liku pembuat media belajar dari para guru yang telah berkarya

Pemanfaatan Barang Bekas untuk Pembuatan Alat Belajar Sains
Mujahidin Agus

Dagang Games untuk Belajar Akuntasi
Amelia Sari Tauresia Kesuma

Matematika Keajaiban Bilangan 9
Sri Sulistiyani

Resonator: Alat peraga Resonansi Bunyi Untuk Siswa Tunanetra
Virandy Putra


S6K401 – Seru Jadi Penulis Buku

Menjadi guru tidak mengajar melulu, tapi juga bisa berkarya, salah satunya melalui buku. Kelas karier ini akan menghadirkan 4 guru yang telah menerbitkan buku. Anda bukan saja mendapatkan penjelasan buku karya mereka, tapi juga kisah rahasia dibalik penerbitan buku mereka. Apa kebiasaan unik mereka? Apa yang mereka dapatkan sebagai penulis buku?

Revolusi Mengajar Berbasis Neurosains
Dian Rosdiana Rahayu – SD Islam Al Azhar 1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

ADDICTED TEACHING : Membuat Guru Keranjingan Mengajar
Intan Irawati – MAN 15 Jakarta

OMG, Selama ini Mengajarku Salah
Buku ketiga dari seri BEHIND THE SCHOOL: Refleksi Seorang Guru yang Membebaskan
Eka Wardana – SDIT Al Quds

Menumbuhkan Kemerdekaan di Ruang Kelas
Seri Pertama Guru Merdeka Belajar

Pilih Kelas Anda…